Merril Sandoval dan Kode Bahasa Perang: Catatan dari Iwo Jima
https://www.belajarsampaimati.com/2026/09/merril-sandoval-dan-kode-bahasa-perang.html
![]() |
| Ilustrasi milik BSM |
Di Iwo Jima, Merril L. Sandoval hampir dibunuh oleh orang-orang yang berada di pihaknya sendiri. Ia bersama seorang Code Talker (penerjemah sandi) lain berada di dekat garis depan ketika beberapa marinir Amerika mengira mereka tentara Jepang. Sandoval mengenakan seragam Amerika, tetapi, dalam kekacauan pendaratan, identitas tidak selalu terlihat dari seragam. Mereka hampir ditembak sampai beberapa perwira mengenali siapa mereka dan menghentikan anak buahnya.
Ironinya kasar sekali. Sandoval sedang menggunakan bahasa yang dibuat Amerika Serikat sebagai senjata rahasia untuk membingungkan Jepang, tetapi pada saat yang sama bahasa itu membuatnya terdengar seperti musuh bagi orang Amerika sendiri.
Ia lahir pada 1925 di dekat Kimbeto, New Mexico, dalam keluarga Navajo yang hidup dengan beternak domba. Bahasa pertamanya adalah Navajo. Sebelum masuk marinir, ia bersekolah di Navajo Methodist Mission School di Farmington. Ia baru berusia tujuh belas tahun ketika mendaftar pada 1943, dengan izin orang tuanya. Kakaknya, Samuel, sudah lebih dulu menjadi Code Talker, meskipun kedua bersaudara itu tidak pernah bertugas bersama selama perang.
Sandoval pergi dari New Mexico menuju dunia perang melalui pintu yang sangat biasa: kereta, kamp pelatihan, seragam, pemeriksaan kesehatan. Setelah boot camp di San Diego, ia mengikuti pelatihan komunikasi radio. Baru kemudian kemampuan bahasanya jadi bagian dari pekerjaan militer yang sangat khusus.
Orang sering menjelaskan Navajo Code Talkers dengan kalimat bahwa Jepang tidak mampu memecahkan kode mereka. Benar, tetapi kalimat itu menyembunyikan mekanisme yang jauh lebih menarik. Mereka tidak sekadar berbicara Navajo melalui radio lalu berharap Jepang kebingungan. Korps marinir membangun sistem kode dengan memanfaatkan kosakata Navajo dan memberikan arti militer khusus kepada kata-kata tertentu. Pesawat tempur, kapal perang, posisi, jenis senjata, dan istilah operasi, memperoleh padanan yang harus dihafalkan para operator. Mereka kemudian menerjemahkan pesan dari bahasa Inggris ke sistem tersebut dan kembali lagi ke bahasa Inggris di ujung komunikasi.
Sandoval ditempatkan di Headquarters Battalion, 2nd Marine Division, dan ikut dalam kampanye Saipan. Ia dipindahkan ke 5th Marine Division dan mengambil bagian dalam Pertempuran Iwo Jima. Tugasnya tidak selalu berarti berlari ke garis depan sambil membawa radio. Sebagian pekerjaan Code Talker dilakukan di belakang garis depan: menerima laporan, menerjemahkan pesan, mengirimkannya kembali kepada komandan, dan memastikan informasi yang bergerak melalui jaringan komunikasi tidak mudah dipahami pihak Jepang.
Bahasa yang dipakai di rumah berubah menjadi bagian dari mesin komando.
Perubahan semacam itu terasa aneh kalau kita berhenti sebentar. Navajo adalah bahasa komunitas Sandoval, bahasa yang ia bawa dari New Mexico. Dalam sejarah Amerika Serikat sendiri, bahasa-bahasa penduduk asli mengalami tekanan besar melalui sekolah asrama dan kebijakan asimilasi. Sandoval pernah bersekolah di lembaga misi yang mengajarkan bahasa Inggris dan mata pelajaran yang dimaksudkan untuk mengamerikankan anak-anak Navajo. Kemudian, beberapa tahun setelahnya, pemerintah Amerika membutuhkan bahasa yang justru tidak dipahami musuh dan menjadikan kemampuan berbahasa Navajo sebagai aset militer.
Perang memiliki selera humor yang kasar. Orang-orang yang sebelumnya didorong meninggalkan bahasa mereka kini dibayar untuk berbicara dalam bahasa tersebut melalui radio militer.
Jepang mendengarkan suara yang bagi mereka terdengar asing. Sandoval dan rekan-rekannya memahami persis apa yang sedang dikatakan. Di antara kedua pihak berdiri operator radio, headset, mikrofon, dan seperangkat istilah yang sengaja dirancang agar tidak berguna bagi telinga musuh.
Dalam wawancara yang disimpan Library of Congress, Sandoval bahkan mendemonstrasikan bahasa dan kode yang mereka gunakan. Rekaman itu pendek. Tidak ada musik. Tidak ada efek suara. Hanya seorang veteran tua yang mengucapkan kembali bahasa yang pernah ia gunakan ketika masih muda untuk mengirim pesan perang.
Mendengarnya sekarang memiliki efek yang ganjil karena kita mengetahui sesuatu yang tidak diketahui orang Jepang pada saat itu: suara tersebut tidak sedang bercakap-cakap. Ia sedang membawa informasi yang mungkin menentukan apakah artileri menembak, apakah pasukan bergerak, apakah sebuah unit meminta bantuan. Bahasa berubah menjadi lalu lintas militer.
Sandoval sendiri tahu bahwa pekerjaan itu bisa membuat seseorang terbunuh. Dalam rekamannya, ia mengucapkan ancaman yang terdengar sangat langsung: “Leave our code talkers alone or we're going to kill you.” Library of Congress mencatat kalimat tersebut sebagai bagian dari wawancaranya.
Kalimat itu penting karena mengganggu gambaran populer tentang Code Talkers sebagai orang-orang yang sekadar duduk dengan radio dan “memecahkan kode”. Sandoval adalah marinir. Ia berada dalam perang. Ketika seorang Code Talker berada dalam bahaya, respons yang ia ceritakan bukanlah bahasa seorang penerjemah netral. Ia berbicara sebagai prajurit.
Itu juga membuat kejadian di Iwo Jima terasa lebih gila.
Ia hampir ditembak oleh marinir sendiri karena disangka Jepang. Beberapa menit sebelumnya, atau sesudahnya, orang yang sama mungkin sedang bekerja untuk menjaga komunikasi pasukannya tetap aman. Bahasa yang jadi alasan ia direkrut juga tidak membantu ketika peluru mulai beterbangan dan orang-orang harus mengenali kawan dalam hitungan detik.
Sandoval menceritakan bahwa kapal pendaratnya terkena tembakan ketika menuju Iwo Jima. Ia dan orang-orang dalam kapal terlempar ke laut dan harus berenang sekitar seratus yard menuju pantai. Setelah mencapai pulau, ia terjebak selama kira-kira 24 jam di bawah tembakan artileri Jepang yang terus-menerus.
Seratus yard di laut mungkin tidak terdengar banyak bagi seseorang yang duduk di kursi. Dalam air dengan perlengkapan militer, di tengah kekacauan pendaratan, jaraknya berubah. Radio, senjata, pakaian, dan tubuh sendiri, semuanya memiliki berat. Sandoval mengingat bagian tersebut sebagai salah satu pengalaman paling menakutkan dalam hidupnya. Putranya, Gary Sandoval, juga menceritakan bahwa ayahnya mengingat saat kapal pendarat terbalik, barang-barang mereka hilang, dan ia harus berenang menuju pantai.
Setelah perang, Sandoval tidak langsung berubah menjadi tokoh nasional. Ia kembali ke sekolah untuk menyelesaikan pendidikan menengahnya, kemudian belajar menjadi masinis di Haskell Institute di Lawrence, Kansas. Ia bekerja sebagai masinis di Kansas City dan Phoenix selama sekitar lima belas tahun. Setelah kembali ke wilayah Navajo, ia menjadi polisi suku selama tiga tahun, kemudian bekerja selama 23 tahun sebagai legal advocate. Setelah pensiun pun ia masih menjadi penerjemah di pengadilan suku.
Ada kesinambungan yang bagus di sana meskipun mungkin tidak dirancang sebagai kesinambungan. Setelah perang, Sandoval tetap bekerja dengan bahasa. Dulu ia menerjemahkan bahasa melalui radio untuk marinir. Kemudian ia menerjemahkan bahasa dalam lingkungan hukum Navajo.
Perbedaannya besar, tentu saja. Yang satu berkaitan dengan koordinat, artileri, pasukan, dan Jepang. Yang lain berkaitan dengan orang-orang yang datang ke pengadilan membawa persoalan nyata. Tetapi pekerjaan dasarnya tetap membutuhkan seseorang yang dapat bergerak di antara dua sistem bahasa tanpa kehilangan arti.
Rahasia Code Talkers baru dibuka pada 1968, ketika program mereka tidak lagi dianggap sebagai informasi militer yang perlu dirahasiakan. Selama bertahun-tahun setelah perang, Sandoval dan rekan-rekannya tidak bebas menceritakan apa yang sebenarnya mereka kerjakan. Bahkan keluarga mereka tidak selalu mengetahui pentingnya tugas tersebut.
Jadi selama bertahun-tahun, seorang veteran pulang dari Pasifik membawa pengalaman yang tidak bisa diceritakannya.
Kemudian ia mulai berbicara. Ia mendemonstrasikan bahasa itu. Ia mengucapkan kembali kata-kata yang pernah bergerak melalui radio militer.
Pada 2004, ketika diwawancarai untuk Arizona Historymakers, Sandoval mengatakan bahwa ia dan para Code Talker lebih suka berbicara kepada generasi muda tentang bahasa mereka dan meneruskan bahasa tersebut. Perang tetap berada dalam cerita, tetapi bukan seluruh cerita.
Merril Sandoval meninggal di Phoenix pada 9 Februari 2008, pada usia 82 tahun. Ia dimakamkan dengan penghormatan militer penuh di Flagstaff. Pada saat itu ia sudah menjadi salah satu wajah yang dikenal dari sejarah Navajo Code Talkers.
Yang tertinggal dari rekaman Library of Congress bukan hanya kisah tentang kode yang tidak dapat dipecahkan Jepang. Tertinggal pula suara seorang pria yang mengucapkan kembali bahasa masa mudanya setelah puluhan tahun berlalu, bahasa yang pernah ia gunakan ketika berada di pulau yang penuh asap, pecahan logam, radio yang berderak, dan orang-orang yang tidak selalu tahu siapa yang sedang berdiri di sebelah mereka.
Di Iwo Jima, ia hampir mati karena bahasa yang tidak dikenali. Di radio, bahasa yang sama menyelamatkan informasi Amerika. Beberapa dekade kemudian, ia duduk di depan mikrofon dan mengucapkannya lagi.
Kali ini tidak ada artileri yang menunggu terjemahannya.
Catatan terkait: Bernard Nutter dan Perang yang Masih Terdengar di Rekaman
.jpg)

