Rhoma Irama dan Iwan Fals: Sebuah Catatan Budaya

Ilustrasi/industry.co.id
Rhoma Irama dan Iwan Fals adalah dua raksasa di dunia musik Indonesia, dengan parjalanan panjang, karya yang luar biasa, bahkan status legenda ketika mereka masih hidup. Sebegitu besar, sampai kita kadang tergoda untuk membandingkan keduanya.

Rhoma Irama dan Iwan Fals tentu memiliki pengaruh yang sama besar, meski bentuknya berbeda. Bagi saya, Rhoma Irama mungkin lebih besar sebagai figur kebudayaan, sementara Iwan Fals mungkin lebih dalam sebagai suara sosial.

Rhoma Irama membangun sebuah dunia. Iwan Fals membangun semacam ruang batin bersama.

Rhoma Irama bukan hanya penyanyi. Ia pencipta lagu, pemain film, pemimpin Soneta, penceramah, figur politik, simbol Islam populer, sekaligus wajah dangdut modern. Kajian Andrew Weintraub bahkan menempatkan Rhoma sebagai figur sentral dalam pembentukan gagasan dangdut sebagai musik “rakyat”; Rhoma bekerja bukan hanya melalui lagu, tetapi melalui penampilan, media, film, dan citra publik.

Iwan Fals jauh lebih sederhana secara perangkat. Gitar, suara, lirik. Tetapi justru karena perangkatnya sederhana, ia bisa masuk ke tempat yang berbeda. 

Rhoma Irama membuat orang merasa menjadi bagian dari massa. Iwan Fals membuat orang merasa sedang sendirian mendengar seseorang mengatakan sesuatu yang selama ini ada di kepalanya.  

Itu perbedaan yang besar.

Lihat misalnya Sarjana Muda, Wakil Rakyat, Tikus-Tikus Kantor, Ambulans Zig-Zag. Penelitian tentang karya Iwan pada masa Orde Baru bahkan mengkategorikan lagu-lagu seperti “Tikus-Tikus Kantor”, “Ambulans Zig-Zag”, dan “Suara Buat Wakil Rakyat” sebagai bentuk perlawanan simbolik terhadap korupsi, kesenjangan sosial, dan buruknya representasi politik.

Iwan Fals punya kemampuan yang agak ganjil: ia dapat membuat kritik politik terdengar seperti percakapan orang kampung, obrolan warung, keluhan mahasiswa, atau ocehan seseorang yang sudah terlalu lama melihat ketidakadilan. “Surat Buat Wakil Rakyat” bahkan begitu melekat dengan DPR sehingga judul lagunya sendiri nyaris terasa seperti sebuah kategori politik. 

Rhoma Irama bekerja dengan cara yang lebih besar, lebih terorganisasi, lebih teatrikal. Ia punya Soneta. Ia punya panggung. Ia punya kostum. Ia punya film. Ia punya slogan “Voice of Moslem”. Ia punya komunitas penggemar yang besar. Ia bahkan memiliki kemampuan mengubah konser dangdut menjadi peristiwa massa. Penelitian tentang sejarah dangdut menunjukkan bagaimana konsep “rakyat” memang secara aktif dibentuk melalui musik, media populer, dan figur Rhoma sendiri.

Jadi kalau kita menggunakan istilah zaman sekarang, Rhoma Irama sebenarnya sudah melakukan personal branding dalam skala yang hampir absurd sebelum orang Indonesia mengenal istilah itu. 

Rhoma Irama bukan sekadar nama orang. Rhoma Irama adalah nama penyanyi. Nama film. Nama lagu. Nama genre tertentu. Nama gaya berpakaian. Nama sikap keagamaan. Nama politik. Nama sebuah kerajaan kecil dalam kebudayaan pop Indonesia.

Dan sekarang kita sampai pada sesuatu yang menurut saya sangat penting ketika membandingkannya dengan Iwan Fals.

Iwan Fals tidak pernah benar-benar membutuhkan kerajaan semacam itu. Ia bahkan punya kekuatan karena terlihat seperti orang biasa. Gitaris dengan rambut gondrong, celana jeans, suara yang tidak dibuat terlalu gagah, lirik yang terasa berasal dari jalan. Persona Iwan Fals tidak dibangun dengan kemegahan. Ia justru memperoleh otoritas karena tampak tidak terlalu tertarik menjadi penguasa panggung. 

Karena itulah pengaruh Iwan Fals sangat sulit diukur.

Rhoma Irama bisa dilihat dari skala massa. Iwan Fals lebih tepat dilihat dari seberapa jauh kalimat-kalimatnya menetap dalam percakapan masyarakat. 

“Wakil rakyat seharusnya merakyat.” Kalimat semacam itu sudah melampaui lagu. Ia menjadi cara orang berbicara tentang DPR.

Hal serupa terjadi dengan “Bento”. Lagu itu tidak perlu menjadi manifesto politik resmi. Nama Bento sendiri sudah menjadi semacam karakter sosial: orang kaya, penguasa, pemilik modal, orang yang hidup dari sistem yang tidak pernah ia ciptakan sendiri tetapi ia nikmati.

Itu salah satu kekuatan Iwan Fals yang kadang luput ketika orang hanya menyebutnya “musisi kritik sosial”. Ia menciptakan tokoh. Bento. Sarjana Muda. Galang Rambu Anarki. Wakil rakyat. Tikus kantor. Tokoh-tokoh itu hidup di luar lagu.

Rhoma Irama melakukan hal serupa dalam skala berbeda. Ia menciptakan figur “Raja Dangdut” yang kemudian menjadi identitas kebudayaan. Bahkan penelitian mengenai politik dangdut menunjukkan bahwa popularitas Rhoma dan rasa keterwakilan penggemarnya membantu membentuk hubungan antara musik, “rakyat”, dan politik.

Ada satu perbedaan lain yang menurut saya sangat penting.  Rhoma Irama lebih institusional. Iwan Fals lebih subversif secara kultural.

Rhoma Irama akhirnya masuk politik secara nyata: PPP, Golkar, MPR sebagai utusan golongan seniman, kemudian Partai Idaman. Perjalanan itu membuat pengaruh Rhoma Irama bergerak dari kebudayaan menuju institusi. 

Iwan Fals tidak memperoleh kekuasaan dengan cara serupa. Ia tidak membangun partai. Ia tidak menjadi anggota parlemen. Ia tidak membutuhkan jabatan politik untuk membuat seorang anggota DPR merasa sedang ditunjuk. 

Itu membuat sejarah mereka berlawanan arah. Rhoma Irama membawa popularitas ke politik. Iwan Fals membawa politik ke dalam lagu populer. 

Saya kira itu kalimat yang cukup adil untuk membandingkan keduanya.

Ada ironi lain. Rhoma Irama sering dianggap sebagai figur yang sangat besar karena ia berhasil membuat dangdut menjadi sesuatu yang modern, massal, religius, politis, dan berkelas sekaligus. Iwan Fals justru tampak kecil ketika dilihat dari luar: seorang lelaki dengan gitar dan lagu-lagu. Tetapi ketika kita melihat berapa banyak idiom Iwan Fals yang masuk ke bahasa sehari-hari, ukurannya berubah.  

Pengaruh mereka mempunyai geometri yang berbeda. Rhoma Irama lebih menyerupai sebuah institusi kebudayaan yang kebetulan berbentuk manusia. Iwan Fals lebih menyerupai suara yang kebetulan memiliki tubuh manusia.

Dan kalau kita memaksa memilih siapa yang lebih besar, kita akan terjebak pada ukuran yang salah. Jumlah massa, penjualan rekaman, konser, film, pengaruh politik, jumlah penggemar—semua bisa dihitung. Tetapi bagaimana menghitung seorang anak SMA yang mendengar Sarjana Muda pada 1980-an, kemudian menjadi wartawan, aktivis, guru, pegawai negeri, atau politikus, dan selama puluhan tahun membawa cara pandang Iwan Fals terhadap kemiskinan dan kekuasaan tanpa pernah menyadarinya?

Begitu pula dengan Rhoma Irama. Orang bisa saja tidak membeli albumnya. Tidak datang ke konsernya. Tidak mengaku sebagai penggemar dangdut. Tetapi cara mereka memahami hubungan antara musik Melayu, Islam, kelas sosial, moralitas, cinta, laki-laki, perempuan, dan “rakyat” sudah disentuh oleh dunia yang dibangun Rhoma. Kajian akademik tentang dangdut memang menunjukkan posisi Rhoma yang sangat dominan dalam pembentukan sejarah dan makna genre tersebut.

Jadi saya melihat mereka sebagai dua jenis raksasa yang berbeda. Rhoma Irama membuat dirinya menjadi pusat orbit. Iwan Fals membuat lagu-lagunya keluar dari dirinya dan berkeliaran sendiri.

Mungkin karena itu, ketika orang menyebut “Rhoma Irama”, yang muncul adalah seorang tokoh. Ketika orang menyebut “Iwan Fals”, yang sering muncul pertama justru sebuah lagu. Dan itu mungkin salah satu perbedaan paling menarik di antara dua orang yang sama-sama berhasil membuat Indonesia bernyanyi tentang dirinya sendiri.


Related

Tokoh 5897739557519934224

Posting Komentar

Jangan menyisipkan link ke dalam komentar, karena akan ditandai sebagai spam.

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item