Sejarah Cape Town: Dari Pendudukan VOC Menjadi Magnet Turisme
https://www.belajarsampaimati.com/2026/10/sejarah-cape-town-dari-pendudukan-voc.html
![]() |
| Ilustrasi milik BSM |
Dari atas Table Mountain, Cape Town hampir terasa seperti kota yang dirancang untuk kartu pos. Laut Atlantik membentang biru sampai garis cakrawala, Robben Island tampak kecil di kejauhan, Lion’s Head menonjol di samping, dan semenanjung yang berkelok membuat kota seolah sedang dipeluk oleh laut.
Di bawah sana terdapat V&A Waterfront, rumah-rumah mahal Camps Bay, kebun anggur Constantia, jalan-jalan yang dipenuhi turis, dan pantai yang dalam foto perjalanan hampir selalu terlihat sempurna. Angin di atas gunung bisa begitu kencang sampai telinga terasa penuh, sementara mata harus menyipit menghadapi cahaya yang memantul dari laut.
Turun beberapa puluh kilometer ke arah tenggara, pemandangannya berubah.
Cape Flats membentang di antara pegunungan dan False Bay sebagai dataran rendah yang luas. Di kawasan itulah Khayelitsha, Manenberg, Mitchells Plain, Gugulethu, dan sejumlah permukiman lain berkembang. Jaraknya tidak terlalu jauh jika dihitung di peta. Maknanya berbeda jika dihitung berdasarkan waktu tempuh, harga rumah, akses pekerjaan, kualitas transportasi, dan sejarah keluarga.
Cape Town mempunyai salah satu paradoks geografis yang paling mudah dilihat: kota yang menjual pemandangan sebagai kemewahan global dibentuk pula oleh sejarah panjang yang menentukan siapa yang boleh tinggal dekat dengan pemandangan tersebut.
Jan van Riebeeck tiba di Cape pada 1652 atas nama Vereenigde Oostindische Compagnie atau VOC. Tugas awalnya cukup praktis: mendirikan pos persinggahan untuk kapal yang berlayar menuju Asia, menyediakan makanan segar, air, dan kebutuhan lain. Dari pos kecil itu tumbuh Cape Town. Hubungan dengan tanah segera jadi persoalan kekuasaan. Khoikhoi kehilangan akses terhadap padang penggembalaan, sementara budak didatangkan oleh VOC dan ditempatkan dalam struktur sosial yang berbeda dari para pemukim Eropa. Peraturan mengenai gerak, tenaga kerja, tanah, dan kepemilikan, kemudian ikut membentuk kota.
Sejarah kolonial Cape Town karena itu tidak hanya tinggal di museum. Ia menempel pada peta.
Ketika kawasan kota berkembang, pemisahan berdasarkan ras semakin formal. Pada awal abad ke-20, otoritas kolonial sudah menggunakan kesehatan publik, perumahan, dan aturan kepemilikan tanah untuk mengendalikan tempat tinggal penduduk Afrika. Setelah wabah pes 1901, misalnya, penduduk Afrika di District Six dipindahkan secara paksa ke Ndabeni. Pemerintah menyebut persoalan kesehatan dan sanitasi; konsekuensi jangka panjangnya jauh lebih besar: sebuah pola pemindahan penduduk dari pusat kota menuju pinggiran mulai terbentuk.
Apartheid kemudian mengubah pola tersebut menjadi mesin administratif.
Group Areas Act 1950 membagi kawasan perkotaan menurut klasifikasi rasial. Kawasan yang dianggap menarik—dekat pusat kota, pantai, dan lingkungan suburban yang bernilai tinggi—secara sistematis dipertahankan sebagai kawasan kulit putih, sedangkan penduduk yang dikategorikan sebagai Black, Coloured, atau Indian, diarahkan ke wilayah yang lebih jauh. Cape Flats menjadi salah satu ruang utama untuk pemindahan tersebut.
District Six memperlihatkan kekejaman proses itu dengan cara yang sangat konkret. Kawasan tersebut berada dekat pusat Cape Town dan dihuni komunitas yang beragam, terutama masyarakat Coloured, bersama orang Afrika, India, dan kelompok lain. Pada 1966 District Six dinyatakan sebagai kawasan putih. Lebih dari 60.000 orang dipindahkan secara paksa, rumah-rumah dihancurkan, dan komunitas yang selama puluhan tahun hidup di sekitar jalan, toko, sekolah, masjid, gereja, dan rumah tetangga, tercerai-berai ke Cape Flats.
Kalau pernah melihat foto District Six sebelum penghancuran, bagian yang mengganggu justru bukan ukuran bangunannya. Rumah-rumahnya sederhana. Jalanannya tidak seperti Camps Bay. Nilai tempat itu terletak pada kedekatannya dengan pusat kota dan pada kehidupan yang sudah terbentuk di sana. Setelah penghancuran, ruang kosong yang tersisa terasa seperti bukti bahwa penguasa dapat menghancurkan sebuah lingkungan tanpa harus menghancurkan setiap orang di dalamnya sekaligus. Cukup pindahkan mereka cukup jauh.
Khayelitsha dibentuk jauh kemudian dalam sejarah apartheid, pada 1980-an, sebagai bagian dari upaya pemerintah mengatur permukiman penduduk Afrika di Cape Peninsula. Namanya berasal dari bahasa Xhosa dan berarti “new home”. Pada awalnya permukiman itu bahkan dimulai dengan tenda. Pemerintah menyediakan kawasan yang sangat luas di tenggara kota, jauh dari pusat ekonomi.
Jarak menjadi alat politik yang sangat efektif karena ia tampak netral setelah generasi berganti.
Orang yang tinggal di rumah mahal dekat laut mungkin tidak pernah merasa sedang hidup di atas sejarah pemindahan paksa. Ia hanya melihat rumahnya, jalan yang bersih, restoran, sekolah, dan pemandangan. Orang yang tinggal jauh di Cape Flats melihat kota melalui ongkos perjalanan dan waktu yang habis setiap hari. Apartheid sudah berakhir, hukum rasialnya sudah dicabut, tetapi bentuk kota tidak ikut lenyap pada hari hukum tersebut berubah.
Pemerintah Kota Cape Town sendiri mencatat bahwa perencanaan apartheid menghasilkan struktur perkotaan yang dibangun berdasarkan ras, kontrol, dan ketimpangan, termasuk kawasan hunian yang ditempatkan jauh dari pusat sejarah kota.
Persoalannya semakin rumit karena Cape Town memang indah. Keindahan itu bukan propaganda. Table Mountain benar-benar spektakuler. Clifton benar-benar memiliki pantai yang cantik. Constantia memiliki sejarah perkebunan anggur yang panjang; bahkan pada abad ke-18 anggur Constantia sudah diekspor ke Eropa dan Amerika. Lanskapnya memang pantas menjadi magnet pariwisata.
Justru karena keindahan itu nyata, ketimpangannya terasa lebih tajam.
Kota itu bisa menawarkan makan malam di restoran dengan pemandangan Atlantik pada sore hari, kemudian beberapa kilometer dari kawasan wisata seseorang harus memikirkan ongkos menuju tempat kerja esok pagi. Industri pariwisata membutuhkan pekerja hotel, pelayan restoran, sopir, petugas kebersihan, pemandu, penjaga keamanan. Kota membutuhkan tenaga mereka setiap hari, sementara harga dan lokasi hunian menentukan bahwa banyak di antara mereka tinggal jauh dari kawasan yang dikunjungi wisatawan.
Cape Town juga mempunyai sejarah perlawanan yang panjang. Orang-orang yang dipindahkan tidak menghilang begitu saja. District Six menjadi memori politik. Cape Flats melahirkan kebudayaan sendiri, termasuk musik jazz yang terkait dengan nama Abdullah Ibrahim dan Basil Coetzee. Lagu “Mannenberg”, yang mengambil nama sebuah kawasan di Cape Flats, kemudian menjadi salah satu karya musik penting dalam sejarah budaya perlawanan Cape.
Itulah bagian Cape Town yang jarang masuk ke foto promosi pariwisata. Kota itu terlalu indah untuk disebut sekadar kota yang bermasalah, tetapi terlalu penuh sejarah untuk diperlakukan sebagai latar belakang indah bagi liburan.
Seorang wisatawan bisa naik cableway menuju Table Mountain, mengeluarkan ponsel, memotret laut dan rumah-rumah yang tampak kecil dari ketinggian. Dari sana batas administratif, klasifikasi rasial, pemindahan paksa, dan perjalanan dua jam menuju tempat kerja tidak terlihat. Yang terlihat hanya bentuk kota.
Turun kembali ke jalan, semuanya jadi lebih konkret: minibus, halte, jalan raya, rumah-rumah yang rapat, dinding, pagar, toko kecil, suara orang berbicara dalam bahasa yang berbeda. Gunung masih terlihat dari kejauhan. Ia tidak berpindah.
Cape Town menyimpan pemandangan yang membuat orang ingin tinggal di sana, sekaligus sejarah yang pernah menentukan siapa yang boleh tinggal dekat dengannya. Seorang turis dapat menghabiskan seminggu di kota itu tanpa pernah menginjak Cape Flats. Table Mountain tetap berdiri di tempat yang sama sepanjang waktu, menghadap laut, pusat kota, dan rumah-rumah di bawahnya.
Catatan terkait: London, Kota dengan Banyak Kehidupan dalam Satu Tubuh


