Es Jeruk Rp50 Ribu di Hammersonic: Netizen Marah, Metal Berubah

Ilustrasi/halodoc.com
Keringat bercampur debu. Kaus hitam basah menempel di punggung. Di kejauhan, blast beat menghantam speaker line array raksasa seiring lampu LED menyapu langit PIK 2 seperti konser EDM korporat. Lalu seseorang mengunggah foto menu; es jeruk Rp50 ribu.

Dan mendadak internet Indonesia terasa lebih panas daripada circle pit.

Lucu juga. Festival bernama Hammersonic, yang selama bertahun-tahun membangun citra sebagai rumah musik keras, tempat orang datang untuk teriak, moshing, dan merasa “bebas” dari dunia yang penuh aturan, justru meledak gara-gara minuman paling proletar di negeri tropis; es jeruk.

Bukan wiski premium. Bukan craft beer impor Norwegia. Es jeruk.

Masalahnya memang bukan jeruknya. Orang tahu itu. Yang bikin banyak orang kesal adalah simbol yang menempel di gelas plastik itu. Harga Rp50 ribu terasa seperti pengingat bahwa kultur metal Indonesia pelan-pelan sedang pindah rumah—dari lapangan berdebu dan gigs bawah tanah menuju kawasan reklamasi dengan tenant mahal, sponsor korporat, cashless system, dan pagar-pagar eksklusif.

Metal dulu tumbuh dari tempat-tempat yang baunya campur aduk; rokok kretek, kabel amplifier panas, bir murah, kadang got mampet di belakang venue. Orang datang naik motor tua. Kaos band dicetak sablon seadanya. Tiket konser fotokopian. Sound system kadang kacau. Tetapi ada rasa bahwa semua orang di tempat itu berasal dari dunia yang sama; dunia orang-orang yang tidak terlalu cocok dengan versi “rapi” masyarakat.

Lalu sekarang coba lihat visual Hammersonic.

Panggung megah. Drone shot. Area festival luas di PIK 2 dengan lanskap yang terasa seperti hasil perkawinan antara konser metal dan pameran properti premium. Tidak salah, sebenarnya. Secara teknis, itu pencapaian besar. Indonesia bisa mendatangkan band-band internasional dengan produksi kelas dunia. Nama-nama besar tampil. Orang luar negeri datang. Media asing meliput.

Tetapi kultur tidak pernah cuma soal pencapaian teknis.

Begitu harga es jeruk muncul, orang langsung membaca sesuatu yang lebih besar daripada sekadar markup festival. Mereka membaca jarak sosial.

Metal punya sejarah panjang tentang permusuhan terhadap kemapanan. Dari Black Sabbath yang lahir dari kawasan industri Birmingham penuh asap pabrik, sampai thrash metal Bay Area yang tumbuh dari frustrasi anak-anak muda terhadap musik rock korporat era 1980-an. Musik keras selalu membawa aura anti-elite, meski kadang romantisasi itu berlebihan.

Lihat saja konser-konser underground metal di Indonesia era 1990-an atau awal 2000-an. Venue kecil. Poster ditempel di tembok pakai lem murahan. Anak-anak tongkrongan patungan biaya buat datang ke gigs. Banyak musisinya kerja siang hari lalu manggung malam dengan honor yang bahkan tidak cukup buat ganti senar gitar.

Metal dekat dengan gagasan “rakyat” bukan karena liriknya selalu politis. Banyak juga band metal yang liriknya absurd atau penuh fantasi. Kedekatan itu lahir dari rasa aksesibilitas. Orang miskin masih bisa masuk ke kultur itu. Masih bisa punya tempat.

Es jeruk Rp50 ribu terasa seperti alarm bahwa pintu mulai menyempit.

Promotor Hammersonic kemudian memberi klarifikasi. Harga itu disebut berasal dari vendor tertentu dan tidak mewakili keseluruhan festival. Bos promotor bahkan turun tangan karena isu ini telanjur liar di media sosial. Saya percaya mereka tidak menyangka respons publik akan sebesar itu. Buat sebagian orang industri event, harga makanan dan minuman mahal di festival sudah dianggap normal. Bahkan mungkin dianggap konsekuensi logistik.

Masalahnya, publik tidak bereaksi pada logistik. Publik bereaksi pada atmosfer kelas sosial yang muncul darinya.

PIK 2 bukan lokasi netral. Kawasan itu sendiri sudah membawa citra tertentu di kepala banyak orang Indonesia; mewah, steril, mahal, dekat dengan kapital besar, penuh tempat nongkrong estetik dengan parkiran mobil yang lebih mahal daripada rumah sebagian pengunjung konser metal generasi lama.

Jadi ketika festival metal terbesar digelar di sana, lalu orang menemukan harga minuman seperti itu, narasinya langsung terbentuk sendiri tanpa perlu dijelaskan panjang-panjang.

Saya tidak sedang pura-pura romantis terhadap scene underground. Gigs kecil juga punya banyak problem; sound buruk, keamanan kacau, pembayaran musisi sering menyedihkan. Banyak orang di scene bawah tanah diam-diam bermimpi punya produksi sebesar Hammersonic. Tidak sedikit band metal Indonesia yang dulu anti-mainstream lalu senang ketika akhirnya bisa tampil di festival besar dengan backstage nyaman dan hotel bagus.

Manusia tidak sesederhana slogan.

Tetapi industri festival modern memang punya kecenderungan mengubah kultur menjadi pengalaman premium. Semua harus bersih, aman, instagrammable, mudah dijual ke sponsor. Musik berubah jadi bagian dari paket lifestyle. Penonton bukan lagi sekadar fans; mereka konsumen experience economy.

Dan metal ternyata tidak kebal terhadap itu.

Dulu orang mungkin membayangkan metal akan selalu berdiri di luar arus utama, menolak dijinakkan. Kenyataannya? Metallica bekerja sama dengan merek wiski. Iron Maiden punya bir sendiri. Festival-festival Eropa menjual tiket VIP ribuan euro. Bahkan black metal—genre yang dulu identik dengan hutan Norwegia, gereja terbakar, dan rekaman lo-fi seperti direkam di ruang bawah tanah lembap—kini punya merch eksklusif dengan harga absurd.

Kultur yang bertahan lama hampir selalu disentuh kapital.

Pertanyaannya bukan lagi apakah metal sudah dikomersialisasi. Itu sudah terjadi sejak lama. Pertanyaannya lebih tidak nyaman; apakah penggemar metal sendiri sebenarnya diam-diam menikmati proses itu selama mereka masih merasa “berbeda”?

Karena banyak fans metal suka membenci mainstream, sambil tetap mengejar validasi dari skala besar. Mereka ingin band favorit sukses, tetapi jangan terlalu sukses. Ingin festival megah, tetapi jangan terasa korporat. Ingin produksi internasional, tetapi harga makanan tetap warteg.

Kontradiksi itu tidak mungkin diselesaikan dengan bersih.

Saya membaca komentar-komentar media sosial tentang es jeruk Hammersonic dan sebagian terasa lucu, sebagian pahit. Orang membandingkan harga itu dengan upah harian buruh. Orang lain bilang, “kalau tidak mampu beli, ya jangan beli.” Kalimat terakhir itu sangat khas kelas menengah urban Indonesia; semua kritik dianggap iri atau ketidakmampuan finansial.

Padahal yang dipersoalkan banyak orang bukan sekadar mampu atau tidak mampu membeli minuman. Mereka sedang bereaksi terhadap perubahan identitas sebuah kultur.

Metal dulu memberi ruang bagi orang-orang yang merasa tidak cocok dengan dunia formal dan mapan. Anak-anak yang dicap berisik, urakan, terlalu keras, terlalu liar. Ketika kultur itu mulai terasa seperti event premium dengan barrier ekonomi makin tinggi, muncul rasa asing yang sulit dijelaskan.

Saya teringat footage konser-konser metal lama di Indonesia; pagar venue reyot, penonton desak-desakan, sepatu penuh lumpur. Kualitasnya jauh dari sempurna. Kadang malah berbahaya. Tetapi wajah-wajah di sana terlihat seperti benar-benar datang untuk musik, bukan untuk konten Instagram atau pengalaman festival mewah. 

Mungkin saya sedang terlalu sentimental. Bisa jadi generasi sekarang memang tidak peduli lagi soal romantisme anti-kemapanan itu. Mereka cuma ingin menonton band bagus dengan sound bagus, toilet bersih, dan tata lampu keren. Dan itu sah.

Tetapi tetap ada sesuatu yang terasa ganjil ketika musik yang dulu identik dengan kemarahan kelas pekerja kini berlangsung di kawasan super-premium sambil menjual es jeruk dengan harga yang membuat orang spontan membuka kalkulator di kepala.

Suara gitar tetap meraung dari panggung utama. Penonton tetap headbang. Merch tetap laku. Orang-orang tetap merekam video pendek untuk TikTok sambil meneriakkan lirik lagu tentang perlawanan terhadap sistem.

Di dekat area tenant makanan, seseorang mungkin berdiri menatap daftar harga sambil menelan ludah kering.

Related

Hoeda's Note 7002322623117414249

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

item