Yoshinori Ohsumi, Autophagy, dan Sel yang Memakan Dirinya Sendiri

Ilustrasi/nytimes.com
Perut kosong ternyata bukan cuma urusan lapar. Di laboratorium kecil di Tokyo, seorang ilmuwan Jepang melihat sesuatu yang lebih aneh; sel-sel tubuh mulai memakan bagian dirinya sendiri ketika makanan berhenti datang. Kalimat itu terdengar seperti cerita horor biologis.

Yoshinori Ohsumi duduk berjam-jam menatap ragi di bawah mikroskop. Bukan pekerjaan glamor. Tidak ada ledakan eksperimen. Tidak ada robot canggih seperti film sains Hollywood. Tahun 1980-an, sebagian besar ilmuwan menganggap mekanisme “autophagy” cuma proses sampingan yang tidak terlalu penting. Kata itu sendiri berasal dari bahasa Yunani; auto berarti diri sendiri, phagein berarti memakan. Tubuh memakan dirinya sendiri.

Banyak orang membayangkan tubuh manusia sebagai mesin yang stabil dan rapi. Kenyataannya jauh lebih brutal. Tubuh kita seperti kota yang terus membongkar bangunan rusak sambil mendaur ulang batanya menjadi gedung baru. Protein cacat dihancurkan. Organel tua dicabik. Sampah biologis dipotong-potong menjadi bahan bakar darurat. Di situlah Ohsumi masuk.

Ia bekerja di Tokyo Institute of Technology, sering pulang larut malam. Rambutnya mulai memutih ketika riset autophagy belum dianggap seksi. Dunia sains saat itu lebih tertarik pada genetika molekuler yang lebih “menjual”. Ohsumi malah berkutat dengan vakuola ragi—kantong kecil di dalam sel yang nyaris tidak menarik bagi orang awam. Kadang penemuan besar memang lahir dari sesuatu yang kelihatannya membosankan.

Eksperimen terkenalnya sederhana tapi radikal. Ia membuat sel ragi kelaparan. Ketika nutrisi dihentikan, tiba-tiba muncul gelembung-gelembung kecil di dalam vakuola. Sel mulai menghancurkan komponennya sendiri untuk bertahan hidup. Ohsumi lalu mengidentifikasi gen-gen yang mengendalikan proses itu. Puluhan gen autophagy ditemukan satu per satu. Pekerjaan itu memberinya Hadiah Nobel Kedokteran pada 2016.

Media sosial sekarang suka menyederhanakan cerita itu menjadi slogan: “Puasa bikin tubuh membersihkan diri.” Kalimat itu setengah benar sekaligus setengah menyesatkan. Tubuh memang mengaktifkan autophagy lebih kuat saat kekurangan nutrisi. Insulin turun. Jalur mTOR ditekan. Sistem daur ulang sel meningkat. Masalahnya, internet modern punya kebiasaan mengubah biologi rumit menjadi konten motivasi dengan musik cinematic.

Tubuh manusia bukan video TikTok berdurasi 45 detik. Autophagy bukan sulap. Ia bukan tombol rahasia anti-penuaan yang otomatis membuat orang sehat dan kurus. 

Banyak penelitian memang menghubungkan autophagy dengan perlindungan terhadap penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer atau Parkinson. Sel-sel yang rajin membersihkan sampah protein cenderung lebih stabil. Penelitian kanker juga penuh diskusi soal ini, meski rumit, karena autophagy kadang membantu sel sehat bertahan, kadang justru membantu sel kanker hidup lebih lama. Biologi jarang punya moral jelas. Semua serba abu-abu dan licin.

Tubuh manusia ternyata tidak terlalu menyukai kondisi kenyang terus-menerus. Itu bagian yang paling mengganggu dari seluruh cerita ini. Dunia modern membangun ekonomi berdasarkan konsumsi tanpa jeda; ngemil tengah malam, kopi gula literan, minuman boba ukuran ember, snack sambil rebahan pukul satu pagi. Lambung tidak pernah benar-benar sepi. Sel tidak pernah benar-benar diberi kesempatan memasuki mode “bertahan hidup”.

Ohsumi seperti membuka pintu kecil menuju fakta yang agak tidak nyaman; sedikit kelaparan mungkin memang bagian normal dari desain biologis manusia.

Saya teringat suasana minimarket 24 jam di kota-kota besar Indonesia. Rak penuh makanan ultra-proses. Aroma sosis bakar sintetis. Freezer es krim berdengung keras. Orang membeli makanan bukan karena lapar, tapi karena bosan, cemas, atau sekadar ingin mengunyah sesuatu sambil scrolling layar. Tubuh modern hidup dalam banjir kalori dan kekurangan istirahat metabolik. Perut manusia sekarang hampir tidak pernah benar-benar diam.

Ada detail menarik tentang Ohsumi yang jarang dibahas. Ia dikenal pendiam dan tidak terlalu menikmati sorotan publik. Dalam beberapa wawancara, ia terdengar lebih seperti guru laboratorium ketimbang selebritas ilmiah. Saat Nobel diumumkan, wartawan berkumpul di luar rumahnya. Foto-fotonya menunjukkan lelaki tua sederhana dengan wajah lelah khas profesor Jepang yang terlalu lama hidup di bawah lampu neon laboratorium. Kontras sekali dengan budaya “biohacking” modern yang memonetisasi puasa sebagai gaya hidup premium.

Sekarang autophagy dijual di mana-mana. Influencer kesehatan bicara tentang fasting sambil mempromosikan suplemen mahal. Orang kaya Silicon Valley memamerkan hasil tes darah dan jadwal makan ekstrem. Ada yang puasa 16 jam. Ada yang minum air garam Himalaya sambil merasa seperti biksu digital. Tubuh manusia berubah menjadi proyek optimasi tanpa akhir.

Lucu juga. Penemuan tentang mekanisme bertahan hidup sel malah dipakai untuk industri gaya hidup.

Padahal rasa lapar sendiri sebenarnya pengalaman yang sangat fisik dan kadang menyebalkan. Hari kedua puasa panjang, biasanya kepala mulai ringan. Mulut terasa asam. Napas berubah bau metalik karena ketosis. Tangan sedikit dingin. Beberapa orang justru merasa fokusnya naik tajam; sebagian lain marah-marah karena otak mereka seperti kekurangan oli. Tubuh mulai membakar simpanan glikogen, lalu beralih ke lemak.

Ada sensasi aneh ketika lambung kosong terlalu lama; suara detak jantung terasa lebih jelas. Tubuh manusia ternyata jauh lebih adaptif daripada yang sering kita kira. Selama ribuan tahun, nenek moyang manusia tidak hidup dengan akses makanan konstan. Mereka gagal berburu, kelaparan, makan besar, kelaparan lagi. Ritme biologis kita dibentuk dalam kondisi fluktuatif, bukan dalam pola sarapan-siang-malam plus snack keju pukul sebelas malam. Makanya menarik melihat bagaimana dunia modern memperlakukan lapar seperti musuh absolut.

Iklan makanan bekerja hampir seperti propaganda emosional. “Jangan sampai telat makan.” “Perut kosong bikin maag.” “Sarapan wajib.” Sebagian memang punya dasar medis dalam konteks tertentu, terutama untuk anak-anak atau orang dengan kondisi kesehatan tertentu. Masalahnya, pesan itu berubah jadi budaya takut lapar. Sedikit rasa kosong di perut langsung dianggap ancaman. Tubuh sebenarnya punya bahasa yang lebih liar dari slogan iklan nutrisi.

Autophagy sendiri bukan proses romantis. Sel yang memakan dirinya sendiri bukan tindakan spiritual. Itu strategi darurat. Seperti kota yang mulai membakar furnitur lama demi bertahan di musim dingin. Ada kekerasan biologis di sana. Tubuh mengorbankan sebagian dirinya agar keseluruhan sistem tetap hidup. Keindahan biologi sering lahir dari sesuatu yang kasar.

Penelitian tentang autophagy terus berkembang. Ilmuwan sekarang mempelajari kaitannya dengan umur panjang, penyakit jantung, diabetes, sampai sistem imun. Di beberapa laboratorium, tikus-tikus dibiarkan puasa terkontrol sementara aktivitas sel mereka diukur. Bau kandang hewan laboratorium biasanya menusuk hidung—campuran serbuk kayu, urin, dan disinfektan. Sains tidak pernah sebersih foto-foto stok internet.

Orang sering lupa bahwa banyak pengetahuan medis lahir dari ruangan sempit, mata lelah, dan eksperimen yang gagal ratusan kali.

Tubuh manusia punya kecenderungan aneh; ia tumbuh kuat justru ketika sedikit ditekan. Otot rusak dulu sebelum membesar. Tulang menguat setelah menerima beban. Sistem imun belajar dari infeksi. Sel membersihkan diri ketika makanan berhenti datang. Kenyamanan terus-menerus kadang membuat sistem biologis jadi malas.

Di Tokyo, Yoshinori Ohsumi pernah berkata bahwa ia tertarik pada hal-hal yang belum dipahami orang lain. Itu kalimat yang sederhana sekali. Tidak terdengar heroik. Tidak seperti pidato motivasi CEO teknologi.

Malam hari di laboratorium Jepang biasanya sunyi. Mesin pendingin berdengung pelan. Cahaya monitor pucat. Bau alkohol steril tipis di udara. Seorang ilmuwan tua menatap sel-sel kecil yang sedang saling melahap bagian dirinya sendiri agar tetap hidup sampai pagi.

Related

Sains 6628818466914533036

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item