Sesuatu Dicapai Bukan Karena Siap, tapi Karena Dikerjakan
https://www.belajarsampaimati.com/2026/07/sesuatu-dicapai-bukan-karena-siap-tapi.html?m=0
![]() |
| Ilustrasi/penerbitdeepublish.com |
Hujan turun tipis di Stasiun Pekalongan, sore itu. Seorang mahasiswa berdiri cukup lama di depan papan keberangkatan kereta. Ransel hitamnya sudah penuh. Tiket sudah ada di saku. Ponsel sudah berkali-kali dibuka hanya untuk memastikan jam keberangkatan tidak berubah. Kereta menuju Jakarta masih dua puluh menit lagi. Ia tidak tampak seperti orang yang hendak bepergian. Wajahnya justru seperti orang yang sedang menunggu izin dari seseorang yang tidak pernah datang.
Ia baru saja mendapat kabar diterima bekerja di sebuah perusahaan di Jakarta. Teman-temannya mengucapkan selamat. Orang tuanya bangga. Dosen pembimbingnya mengatakan kesempatan seperti itu tidak datang dua kali. Semua terdengar sederhana sampai koper benar-benar harus ditutup.
"Kayaknya belum siap." Kalimat itu keluar begitu saja ketika ibunya menelepon.
Belum siap tinggal sendiri. Belum siap menghadapi kota sebesar Jakarta. Belum siap bekerja. Belum siap meninggalkan kos yang selama empat tahun menjadi rumah. Belum siap mengurus hidup tanpa ada warung langganan yang hafal pesanan nasi telur kecap setiap malam.
Yang membuat saya terus mengingat cerita itu bukan karena akhirnya ia berangkat. Ia memang berangkat. Hampir semua orang akhirnya berangkat ketika kereta sudah membunyikan peluit. Yang sulit dilupakan justru karena beberapa tahun kemudian ia mengaku satu hal yang terasa sangat jujur.
"Aku pikir suatu hari nanti bakal bangun tidur dan merasa siap. Ternyata hari itu nggak pernah datang." Kalimat itu jauh lebih berguna daripada puluhan buku motivasi yang menjanjikan keberanian.
Banyak orang diam-diam hidup dengan keyakinan bahwa kesiapan adalah sebuah perasaan. Mereka menunggu pagi ketika dada terasa ringan, pikiran jernih, keyakinan bulat, ketakutan menghilang. Padahal hidup berkali-kali menunjukkan pola yang berbeda. Perasaan sering berjalan paling belakang. Tindakan justru lebih dulu keluar dari rumah.
Lihat saja bagaimana orang menjadi ayah atau ibu. Tidak pernah ada ujian kelulusan sebelum bayi lahir. Rumah sakit hanya mengajarkan cara memandikan bayi beberapa menit. Setelah itu pintu rumah ditutup, malam pertama dimulai, tangisan bayi pecah pukul dua dini hari, mata perih karena kurang tidur, botol susu jatuh ke lantai, popok dipasang terbalik. Orang tua belajar ketika bayi sudah lebih dulu hadir. Tidak pernah sebaliknya.
Saya kadang gelisah memikirkan nasihat tentang kesiapan. Kesiapan memang penting kalau yang dibicarakan adalah menerbangkan pesawat, melakukan operasi jantung, atau membangun jembatan. Bidang-bidang seperti itu membutuhkan latihan panjang dan standar yang tidak boleh ditawar. Hidup sehari-hari memiliki aturan berbeda. Memulai usaha kecil, menulis buku pertama, pindah kota, melamar pekerjaan, belajar bahasa baru—semuanya tidak pernah benar-benar menyediakan titik ketika seseorang boleh berkata, "Sekarang saya sudah siap seratus persen."
Justru kalimat "belum siap" sering menjadi tempat persembunyian yang sangat nyaman. Orang mengira ia sedang berhati-hati, padahal sedang membeli waktu. Waktu itu terasa murah ketika diambil sehari. Besok saja. Minggu depan. Setelah Lebaran. Setelah bonus turun. Setelah kondisi ekonomi membaik. Setelah badan lebih sehat. Setelah rumah lebih tenang. Setelah anak lebih besar.
Kalender menerima semua alasan itu tanpa pernah membantah.
Di rak toko buku, saya pernah memperhatikan seorang laki-laki sekitar empat puluh tahun mengambil buku tentang menulis. Ia membaca sampul belakangnya cukup lama. Buku itu dikembalikan. Ia mengambil buku lain tentang menulis. Dikembalikan lagi. Hampir dua puluh menit ia berpindah dari satu rak ke rak lain. Seorang pegawai datang menghampiri dan bertanya pelan apakah ada yang bisa dibantu.
Laki-laki itu mengatakan, "Saya sebenarnya sudah lama mau nulis."
Tidak ada percakapan panjang. Saya tidak mengenalnya. Saya juga tidak tahu apakah akhirnya ia membeli buku itu. Yang tertinggal justru satu pemandangan kecil yang aneh. Tangannya sangat cepat membuka buku tentang cara menulis, tetapi mungkin sudah bertahun-tahun tidak pernah menyentuh halaman kosong.
Kita hidup di zaman yang menjual persiapan jauh lebih agresif daripada tindakan. Kursus tersedia untuk hampir semua hal. Video YouTube berjudul "10 Langkah Sebelum Memulai" jumlahnya mungkin lebih banyak daripada video orang yang benar-benar sedang memulai sesuatu. Aplikasi pencatat tugas bermunculan. Kalender digital semakin rumit. Notebook produktivitas dibuat dengan kertas premium, sudut melengkung, dan sampul kulit sintetis yang harum ketika pertama kali dibuka.
Lucunya, semua itu bisa menjadi hobi tersendiri. Mengatur sistem kerja terasa seperti sedang bekerja.
Ada orang yang menghabiskan hampir tiga minggu membandingkan aplikasi pencatat sebelum mulai menulis skripsinya. Ia hafal kelebihan setiap aplikasi, mengetahui fitur sinkronisasi, memahami warna label, bahkan mengikuti forum pengguna di Reddit. Bab pertama skripsinya masih kosong ketika semester baru dimulai.
Tidak ada yang benar-benar salah dengan semua persiapan itu. Persoalannya muncul ketika persiapan berubah menjadi ruang tunggu permanen. Orang duduk terlalu lama sampai lupa sebenarnya hendak pergi ke mana.
Catatan harian John Steinbeck ketika mengerjakan East of Eden menarik dibaca karena hampir setiap hari ia mengeluhkan dirinya sendiri. Ia merasa tulisannya buruk. Merasa pikirannya buntu. Merasa proyek itu terlalu besar. Keluhan semacam itu muncul berdampingan dengan halaman-halaman novel yang sekarang dianggap klasik. Ternyata seseorang bisa menghasilkan pekerjaan luar biasa sambil tetap merasa tidak siap.
Saya lebih percaya kepada orang-orang seperti Steinbeck daripada siapa pun yang mengaku selalu yakin.
Keraguan tampaknya bukan lawan dari tindakan. Keraguan sering ikut naik ke kursi penumpang.
Bunyi pengumuman keberangkatan di Stasiun Pekalongan sore itu masih teringat cukup jelas. Suaranya sedikit pecah karena pengeras suara tua. Mahasiswa tadi mengangkat ranselnya. Tangan kirinya memegang koper yang tampak terlalu berat. Ia sempat berhenti beberapa detik sebelum naik ke gerbong. Saya masih ingat cara ia menarik napas, pendek sekali, seperti orang hendak menyelam.
Kereta tetap berangkat pada jam yang sudah ditentukan.


