Apakah Nilai Itu Objektif atau Cuma Kesepakatan Manusia?

Ilustrasi/cbncindonesia.com
Saat ini, emas memiliki nilai mahal, salah satunya karena faktor kelangkaan. Jika suatu ketika pasokan emas berlimpah, nilainya kemungkinan turun. Jadi, “nilai” itu sebenarnya objektif atau cuma kesepakatan manusia?

Jawaban objektifnya, nilai itu campuran, dalam arti ada yang “nyata”, tapi banyak pula yang dibentuk manusia.

Secara sederhana, nilai adalah seberapa penting dan seberapa tinggi sesuatu diinginkan. Tetapi, “penting” dan “diinginkan” itu tidak berdiri sendiri, karena selalu melibatkan manusia.

Ada hal-hal yang terlihat punya nilai alami, misalnya air (karena penting untuk hidup), makanan (karena menjaga tubuh agar tetap sehat dan kuat), dan oksigen (karena mutlak dibutuhkan untuk bernapas). Contoh-contoh itu terlihat seperti nilai objektif, karena tanpa itu kita bisa mati. Tetapi bahkan seperti itu pun, nilai di dalamnya tidak sepenuhnya objektif. Misalnya, air sangat berharga di gurun tapi hampir “tak bernilai” di tempat yang melimpah. Artinya, nilai tetap tergantung pada kondisi dan konteks.

Emas bisa menjadi contoh yang bagus untuk memahami soal ini. Emas tidak bisa dimakan, dan tidak vital untuk bertahan hidup. Artinya, orang tidak akan mati meski tidak punya emas sama sekali. Tetapi, meski begitu, emas tetap memiliki harga tinggi. Kenapa? Karena langka, sulit didapat, dan disepakati sebagai simbol kekayaan.

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Contoh lain yang lebih jelas adalah uang. Sebenarnya, uang tidak memiliki nilai intrinsik besar. Uang kertas, yang biasa kita simpan dan kita gunakan untuk membeli banyak hal, secara fisik sebenarnya hampir tidak punya arti—wong cuma selembar kertas. Tapi kita percaya selembar kertas yang disebut uang itu “bernilai”. Kenapa? Karena ada kesepakatan kolektif.

Jadi, nilai biasanya terbentuk dari tiga hal. Yang pertama kegunaan (utility); seberapa berguna sesuatu. Kedua, kelangkaan (scarcity); seberapa sulit ia didapat. Dan ketiga, persepsi (perception); seberapa kuat manusia menginginkannya. Emas, sebagai contoh, kuat dalam poin kelangkaan dan persepsi. Dalam ekonomi modern, nilai sering kali tidak melekat pada benda, tapi hasil interaksi manusia dengan benda.


Kemudian, kalau nilai sebagian besar dibentuk oleh sesuatu, maka sesuatu itu bisa sangat berharga hari ini dan jadi tidak berharga di masa depan. Misalnya kerang. Di masa lalu, kerang pernah jadi alat transaksi yang mirip uang. Tapi sekarang, kerang hanya dianggap barang biasa. 

Tapi bukan berarti nilai itu “palsu”. Yang perlu dipahami, nilai memang dibentuk oleh manusia, tapi efeknya nyata. Contoh, uang sebenarnya “hanya kesepakatan”, tapi bisa menentukan hidup seseorang. Maksudnya, selembar uang itu sendiri bisa dibilang tidak bernilai, karena cuma selembar kertas. Tapi lembaran kertas yang disebut uang itu disepakati sebagai barang berharga, dan ia pun jadi berharga.

Jadi, yang disebut “nilai” tidak sepenuhnya objektif, tapi juga tidak sepenuhnya ilusi. Ia muncul dari kombinasi kegunaan, kelangkaan, dan persepsi manusia. Emas berharga bukan karena “harus berharga”, tapi karena manusia memberi nilai padanya. Uang berharga bukan karena “harus berharga”, tapi karena manusia menyepakati nilainya.

Hmm... ada yang mau menambahkan?

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Related

Iptek 2778439042201571368

Posting Komentar

emo-but-icon

Recent

Banyak Dibaca

item