A Working Man, Garis Tipis Menakutkan Antara Fiksi dan Realitas

Ilustrasi/primevideo.com
Lampu kelab malam tidak pernah benar-benar terang. Ia berkedip, berdenyut, membuat wajah-wajah terlihat sebentar lalu hilang lagi, seperti sesuatu yang sengaja tidak ingin diingat terlalu jelas. Di sudut ruangan, seorang pria mengangkat ponsel—bukan untuk bersenang-senang, bukan untuk mengabadikan momen, tapi untuk memilih. Lensa kecil itu menyapu wajah-wajah perempuan yang menari, tertawa, atau sekadar berdiri sambil memegang gelas yang sudah mulai hangat. Tidak ada yang merasa sedang dipilih untuk sesuatu yang buruk.

Dalam A Working Man, momen seperti itu bukan sekadar latar. Ia inti dari sesuatu yang lebih dingin daripada kekerasan fisik; sistem. Seorang gadis tidak diculik karena kesalahan, bukan karena konflik, bukan karena dendam. Ia diculik karena seseorang merasa tertarik. Itu saja. Ketertarikan menjadi titik awal dari rantai peristiwa yang berakhir pada hilangnya kebebasan. Rantai itu rapi. Terlalu rapi.

Sindikat dalam film tersebut bekerja dengan metode yang terdengar sederhana; memotret perempuan di tempat-tempat publik—kelab malam, bar, ruang sosial yang seharusnya aman dalam pengertian umum—lalu menawarkan foto itu kepada klien yang bersedia membayar. Pilihan dibuat seperti memilih barang katalog. Ketika ada yang “terpilih”, operasi dimulai. Pengintaian, penculikan, distribusi.

Kalau dilihat sepintas, itu terasa seperti fiksi yang dilebih-lebihkan. Tapi garis antara fiksi dan realitas di sini tidak terlalu tebal. Perdagangan manusia bukan konsep abstrak. Data dari lembaga internasional seperti UNODC tiba-tiba terasa nyata ketika melihat adegan di film ini.

Laporan dari United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC) secara konsisten menunjukkan bahwa eksploitasi seksual adalah salah satu bentuk paling umum dari human trafficking. Korban sering kali direkrut melalui penipuan, tekanan ekonomi, atau kekerasan langsung. Dalam beberapa kasus, mereka memang “dipilih” berdasarkan penampilan—melalui foto, media sosial, atau pengamatan langsung di ruang publik.

Yang mengganggu dari film ini bukan sekadar kekejamannya, tapi banalitasnya. Tidak ada ritual besar, tidak ada ideologi kompleks. Hanya mekanisme pasar yang diterapkan pada tubuh manusia.

Lalu kalimat si pelaku terdengar, hampir santai, seperti sesuatu yang sudah sering diulang, “Jika aku tidak melakukannya, orang lain akan melakukannya.”

Kalimat itu terasa seperti pelarian, tapi juga seperti pengakuan. Di kepala pelaku, tanggung jawab dipindahkan ke sesuatu yang lebih besar dan lebih kabur—“sistem”, “pasar”, “orang lain”. Individu jadi sekadar bagian kecil dari mesin yang sudah berjalan. Mesin itu, menurut logika mereka, tidak bisa dihentikan hanya dengan satu orang menolak ikut serta.

Masalahnya, mesin seperti itu tidak benar-benar ada tanpa orang-orang yang memilih untuk menyalakannya setiap hari.

Alasan semacam itu punya sejarah panjang. Dalam konteks yang berbeda, ia muncul dalam perang, dalam kejahatan korporat, dalam berbagai bentuk kekerasan yang dilakukan secara kolektif. Kalimatnya kadang sedikit berubah, tapi intinya sama; aku hanya bagian kecil, aku hanya mengikuti, aku hanya mengisi posisi yang akan diisi orang lain jika aku pergi.

Ada kenyamanan aneh di sana. Dengan menganggap diri sebagai bagian kecil, seseorang bisa mengurangi beban moral dari tindakannya sendiri.

Tapi ketika dilihat lebih dekat, logika itu rapuh. Jika semua orang berhenti dengan alasan yang sama—bahwa orang lain akan menggantikan mereka—maka tidak ada yang pernah benar-benar bertanggung jawab. Dunia berubah jadi ruang tanpa pelaku, hanya ada tindakan. Dan tindakan itu tetap terjadi.

Film seperti A Working Man memilih untuk melawan logika itu dengan cara yang sangat langsung; kekerasan dibalas dengan kekerasan. Levon Cade, karakter yang diperankan Jason Statham, tidak berdebat panjang tentang moralitas sistem. Ia bertindak. Ia mencari, menemukan, dan menghancurkan.

Pendekatan itu memuaskan secara emosional. Penonton diberi sesuatu yang sederhana; ada pelaku, ada korban, ada pembalasan. Rasa marah yang muncul dari melihat ketidakadilan menemukan jalannya.

Tapi setelah film selesai, sesuatu yang lain tertinggal. Sistem yang digambarkan dalam film tidak runtuh hanya karena satu orang bertindak, bahkan jika tindakan itu spektakuler. Dalam kenyataan, jaringan perdagangan manusia jauh lebih kompleks—melibatkan perekrut, pengangkut, penjaga, hingga klien di berbagai negara. Mereka beroperasi di celah-celah hukum, memanfaatkan kemiskinan, konflik, dan ketimpangan. Sulit menunjuk satu titik dan mengatakan, “Di sini semuanya bermula.”

Kembali ke kelab malam itu. Musik terlalu keras untuk percakapan yang serius. Orang-orang datang untuk melupakan sesuatu—pekerjaan, hubungan, atau sekadar rasa lelah. Dalam ruang seperti itu, ancaman tidak terasa nyata. Kamera ponsel terlihat seperti bagian dari suasana, bukan alat seleksi.

Perubahan konteks itu yang membuat semuanya terasa lebih mengganggu. Tidak ada batas yang jelas antara ruang aman dan ruang berbahaya. Seseorang bisa berdiri di tempat yang sama dengan dua niat yang sepenuhnya berbeda; satu ingin bersenang-senang, satu ingin memilih korban. Ketidaksimetrisan itu sulit diterima.

Film ini, meski dibalut aksi, sebenarnya memaksa penonton melihat sesuatu yang jarang dibicarakan secara jujur; bagaimana manusia bisa direduksi menjadi objek tanpa proses yang dramatis. Tidak perlu propaganda besar. Tidak perlu dehumanisasi yang eksplisit. Cukup dengan mengubah cara melihat—dari “orang” menjadi “pilihan”. Perubahan itu terjadi diam-diam.

Kalimat “orang lain akan melakukannya” juga menyimpan hal lain; pengakuan bahwa permintaan itu nyata. Selama ada orang yang mau membayar, selalu ada insentif untuk menyediakan. Itu bukan sekadar soal pelaku di lapangan, tapi juga tentang pihak-pihak yang berada di ujung lain rantai—yang mungkin tidak pernah melihat langsung kekerasan yang terjadi, tapi tetap menjadi alasan kenapa sistem itu hidup. Tanggung jawab menyebar, lalu mengabur.

Ada kecenderungan untuk menganggap pelaku sebagai “monster”, sesuatu yang sepenuhnya berbeda dari manusia biasa. Cara itu terasa nyaman karena menciptakan jarak. Tapi film ini, entah sengaja atau tidak, menunjukkan sesuatu yang lebih tidak nyaman; pelaku berbicara dengan logika yang bisa dipahami, bahkan jika tidak bisa diterima.

Mereka tidak selalu terlihat seperti penjahat dalam imajinasi klasik. Mereka bisa terlihat biasa, berbicara biasa, bahkan bercanda. Itu yang membuatnya lebih sulit untuk dihadapi.

Sementara itu, korban sering kali kehilangan suara dalam narasi. Mereka muncul sebagai titik awal konflik, lalu menghilang di balik aksi penyelamatan. Film mencoba mengembalikan fokus itu, tapi tetap saja, sebagian besar cerita bergerak mengikuti pelaku dan penyelamat.

Bagaimana rasanya berada di sisi lain? Tidak sebagai simbol, tapi sebagai orang yang tiba-tiba kehilangan kendali atas hidupnya sendiri. Pertanyaan itu tidak mendapat banyak ruang.

Ada sesuatu yang tersisa setelah film selesai—bukan adegan aksi, bukan dialog yang tajam, tapi perasaan bahwa batas antara dunia film dan dunia nyata tidak sekuat yang diharapkan. Metode yang ditampilkan mungkin disederhanakan, tapi logika di baliknya terasa terlalu akrab.

Dan kalimat itu terus terngiang, dengan nada yang hampir datar; “jika aku tidak melakukannya, orang lain akan melakukannya.”

Kalimat seperti itu tidak menghentikan apa pun. Ia hanya membuat semuanya terasa sedikit lebih mudah untuk dilakukan lagi.

Related

Entertainment 6449448847920315220

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

item