Post-Truth, Literasi Media, dan Algoritma Paling Berbahaya
https://www.belajarsampaimati.com/2026/05/post-truth-literasi-media-dan-algoritma.html?m=0
![]() |
| Ilustrasi/suarabsdk.com |
Jempol bergerak lebih cepat daripada pikiran. Satu video lewat, lalu video lain. Seorang pria berteriak di TikTok soal konspirasi virus. Potongan pidato politisi muncul dengan musik tegang seperti trailer film perang. Seorang influencer tersenyum sambil berkata, “Media tidak akan memberitahukan ini pada kalian.” Kolom komentar penuh orang marah, orang takut, orang merasa baru saja menemukan “kebenaran tersembunyi”.
Lima menit kemudian, orang itu mungkin sudah percaya sesuatu yang bahkan belum pernah ia pikirkan pagi tadi.
Kita hidup di zaman ketika opini tidak lagi menunggu proses berpikir yang matang. Opini sekarang diproduksi seperti makanan cepat saji; panas, cepat, murah, bikin ketagihan.
Kata “post-truth” terdengar seperti istilah seminar kampus yang terlalu teoritis. Padahal bentuk nyatanya sangat sehari-hari. Grup WhatsApp keluarga. Potongan berita tanpa konteks. Thread anonim di X. Judul video YouTube dengan huruf kapital berlebihan. Konten TikTok dengan backsound dramatis dan subtitle kuning besar.
Saya sering merasa masyarakat modern bukan kekurangan informasi. Kita justru tenggelam di dalamnya, sampai kemampuan membedakan mana fakta, mana sugesti, mulai rusak pelan-pelan.
Algoritma tidak peduli kebenaran. Algoritma peduli perhatian. Kalimat itu penting sekali dipahami, tetapi banyak orang masih mengira media sosial bekerja seperti perpustakaan digital netral yang hanya “menampilkan apa yang ada”. Kenyataannya jauh lebih manipulatif. Platform seperti TikTok, YouTube, Instagram, atau X, terus mempelajari emosi pengguna; apa yang membuat mereka berhenti scrolling, apa yang membuat mereka marah, takut, terhibur, tersinggung, atau penasaran. Sistemnya dingin sekali sebenarnya.
Kalau kemarahan membuat orang bertahan lebih lama di layar, algoritma akan menyodorkan lebih banyak kemarahan. Kalau teori konspirasi bikin engagement naik, teori konspirasi akan tersebar lebih cepat daripada klarifikasi.
Di YouTube atau di TikTok, misalnya. Pernah memperhatikan bagaimana setelah menonton satu video politik tertentu, beranda langsung dipenuhi konten serupa? Itu bukan kebetulan. Mesin sedang membentuk lorong realitas pribadi untuk setiap orang.
Dulu masyarakat mungkin berbeda pendapat soal politik. Sekarang banyak orang bahkan hidup dalam “kenyataan” yang berbeda total.
Seseorang percaya pemilu dicurangi masif karena video TikTok berdurasi 43 detik. Orang lain percaya lawan politiknya agen asing hanya karena thread anonim dengan foto blur dan narasi meyakinkan. Fakta kehilangan daya saing melawan konten yang emosional.
Saya kadang ngeri melihat betapa mudahnya manusia modern merasa pintar hanya karena banyak mengonsumsi informasi. Padahal konsumsi informasi tidak otomatis menghasilkan pemahaman. Kadang justru menghasilkan ilusi pemahaman.
Seseorang pernah menunjukkan video YouTube kepada saya sambil berkata sangat yakin bahwa gempa bumi tertentu disebabkan “senjata cuaca”. Ia menyebut nama ilmuwan, menyebut teknologi rahasia, bahkan menyebut lokasi pangkalan militer. Semua terdengar detail. Semua terdengar runtut. Masalahnya, sebagian besar omong kosong.
Tetapi manusia punya kelemahan lama; kita gampang percaya sesuatu yang terdengar rumit dan meyakinkan. Era digital memperbesar kelemahan itu sampai skala industri.
Dulu, menyebarkan propaganda butuh koran, radio, atau televisi nasional. Sekarang cukup akun anonim dengan edit video agresif dan kemampuan memainkan emosi publik. Bahkan kualitas produksi tidak perlu bagus. Kadang video paling berpengaruh justru yang terlihat mentah dan amatir karena terasa “jujur”.
Lihat fenomena potongan video tanpa konteks. Satu kalimat dipotong dari pidato dua jam, lalu diunggah dengan caption provokatif. Dalam beberapa jam, jutaan orang marah pada sesuatu yang sebenarnya tidak pernah terjadi dalam bentuk utuh seperti itu.
Politik modern makin mirip industri trailer film; yang penting bukan keseluruhan cerita, tetapi potongan paling emosional.
Skeptisisme sehat jadi penting, tetapi di sana juga ada jebakan. Banyak orang salah memahami skeptisisme sebagai kebiasaan tidak percaya apa pun. Akhirnya semua dianggap konspirasi. Semua media dianggap bohong. Semua institusi dianggap korup total. Itu juga berbahaya. Karena masyarakat yang tidak percaya apa pun akhirnya gampang percaya siapa saja yang terdengar paling yakin.
Lucunya, banyak influencer anti-media justru membangun “media” versi mereka sendiri dengan teknik manipulasi yang sama. Mereka menyerang media arus utama sambil memonetisasi kemarahan audiens lewat iklan, donasi, atau engagement.
Saya pernah melihat seorang konten kreator berteriak soal “melawan elite global” sambil menjual suplemen kesehatan dan membership eksklusif di akhir video. Rasanya seperti menyaksikan tukang sulap marah pada ilusionis lain karena merasa hanya dia yang berhak menipu penonton.
Orang-orang sering membayangkan manipulasi informasi sebagai operasi rahasia yang sangat canggih. Kadang kenyataannya jauh lebih sederhana; manusia suka mendengar hal yang menguatkan keyakinannya sendiri. Algoritma tahu itu.
Kalau seseorang sudah sedikit curiga pada kelompok tertentu, sistem akan memberi lebih banyak konten yang memperkuat kecurigaan tersebut. Sedikit demi sedikit pandangan jadi lebih ekstrem. Dunia terasa makin hitam-putih. Orang mulai berhenti melihat lawan politik sebagai manusia biasa dan mulai melihat mereka sebagai ancaman moral. Media sosial sangat pandai mengubah ketidaksetujuan menjadi kebencian personal.
Lalu muncul fenomena yang lebih aneh lagi; orang tidak lagi membaca berita untuk mencari tahu apa yang terjadi. Mereka membaca untuk mencari validasi emosional. Berita menjadi alat memperkuat identitas kelompok.
Kita tentu ingat suasana media sosial saat beberapa peristiwa politik besar di Indonesia beberapa tahun terakhir. Orang bahkan membagikan berita tanpa membuka artikelnya. Judul cukup. Thumbnail cukup. Emosi sudah terbentuk sebelum fakta dibaca. Kecepatan menjadi musuh berpikir.
Coba rasakan sendiri ritme internet modern. Notifikasi masuk terus. Timeline bergerak tanpa henti. Topik berubah tiap jam. Orang dipaksa bereaksi cepat terhadap semua hal. Dalam kondisi seperti itu, refleksi mendalam kalah telak dibanding kemarahan instan.
Sistem digital modern sebenarnya tidak dirancang untuk membuat manusia bijak. Ia dirancang untuk membuat manusia terus terhubung dan terus bereaksi.
Perusahaan teknologi mendapatkan uang dari perhatian. Perhatian paling murah didapat lewat emosi ekstrem. Makanya konten tenang sering tenggelam. Klarifikasi kalah cepat dibanding fitnah. Analisis panjang kalah viral dibanding video 19 detik dengan musik mencekam.
Lalu muncul AI generatif. Deepfake makin realistis. Suara bisa ditiru. Video bisa dimanipulasi. Foto bisa dibuat tanpa kamera. Dunia memasuki fase ketika bukti visual sendiri mulai kehilangan otoritasnya.
Dulu orang berkata, “Saya percaya kalau melihat dengan mata kepala sendiri.”
Sekarang bahkan itu tidak cukup.
Saya khawatir masyarakat belum benar-benar siap secara mental menghadapi situasi ini. Pendidikan kita terlalu lama fokus pada hafalan informasi, padahal tantangan modern justru memilah informasi. Anak-anak diajari menjawab soal ujian, bukan mendeteksi manipulasi narasi.
Literasi media akhirnya terdengar seperti istilah membosankan dari seminar pemerintah, padahal ia sudah menjadi keterampilan bertahan hidup sosial.
Mungkin bentuk skeptisisme paling sehat sekarang justru sederhana; memperlambat reaksi. Tidak langsung percaya video viral. Membaca lebih dari satu sumber. Curiga pada konten yang terlalu emosional. Curiga juga pada diri sendiri ketika merasa terlalu cepat marah atau terlalu cepat puas karena sebuah informasi terasa cocok dengan keyakinan pribadi.
Karena algoritma paling berbahaya bukan yang ada di server perusahaan teknologi. Yang lebih berbahaya ada di kepala manusia sendiri.
Malam ini seseorang mungkin sedang rebahan sambil scrolling video politik sampai pukul dua pagi, merasa dirinya sedang “melek informasi”. Padahal sebenarnya sedang digiring dari satu emosi ke emosi lain oleh sistem yang bahkan tidak mengenalnya sebagai manusia—cuma angka retensi layar dan pola perilaku.

.png)

