Indonesia Darurat Begal, Keamanan Warga Makin Menghilang
https://www.belajarsampaimati.com/2026/05/indonesia-darurat-begal-keamanan-warga.html?m=0
![]() |
| Ilustrasi/viva.co.id |
Lampu merah belum berubah hijau ketika seorang pengendara motor di Medan tiba-tiba menoleh ke kanan dan melihat parang. Bukan di film. Bukan di video dokumenter kriminal. Parang sungguhan, berkilat sebentar kena cahaya lampu jalan. Tangan yang memegangnya masih muda. Jaket hitam. Motor tanpa pelat nomor jelas. Detiknya cepat sekali. Tarik tas. Tendang motor. Orang jatuh. Kepala membentur aspal. Kendaraan lain tetap lewat.
Indonesia sudah terlalu terbiasa dengan cerita seperti itu.
Kata “begal” sekarang punya daya kejut yang berbeda dibanding sepuluh atau lima belas tahun lalu. Dulu orang lebih sering memakai istilah rampok, jambret, maling motor. “Begal” sekarang terdengar lebih liar. Lebih dekat ke kekerasan terbuka. Orang tidak cuma kehilangan motor atau tas, tapi juga bisa kehilangan kaki karena dibacok, kehilangan mata karena dihantam batu, atau kehilangan nyawa hanya karena melawan refleks.
Dan yang paling mengganggu, orang mulai menganggapnya biasa.
Di kota-kota besar, rasa takut punya geografi sendiri. Orang Jakarta hafal titik-titik yang bikin waswas; underpass sepi, jalan panjang dekat rawa, tikungan minim lampu di sekitar Cakung atau Daan Mogot. Di Makassar, cerita begal kadang muncul dari jalan poros yang siang hari ramai, malam hari berubah seperti wilayah tanpa hukum. Di Lampung, video CCTV pembegalan tersebar hampir rutin. Di Depok, Bekasi, Palembang, bahkan kota-kota yang dulu dianggap “tenang”, pola yang sama muncul lagi dan lagi.
Orang mulai punya ritual bertahan hidup sendiri. Tidak pulang terlalu malam. Tidak memakai ponsel di lampu merah. Tidak lewat jalan tertentu setelah pukul 11 malam. Tas dipeluk lebih rapat. Helm full-face dipakai bahkan untuk jarak dekat karena takut wajah dikenali atau disabet. Rasa takut berubah jadi kebiasaan tubuh.
Ironisnya, banyak pelaku begal masih sangat muda. Belasan tahun. Umur yang mestinya masih sibuk soal ujian sekolah atau sepak bola sore. Polisi sering merilis foto tersangka dengan wajah kurus, kumis tipis belum tumbuh penuh, celana jeans murahan, tato seadanya. Kadang saat ditangkap mereka masih tinggal dengan orang tua di rumah sempit gang padat penduduk.
Lalu publik marah. Sangat marah.
Di banyak kasus, massa tidak lagi menunggu proses hukum. Pelaku begal dibakar hidup-hidup, dipukuli sampai tewas, diseret ramai-ramai sambil direkam ponsel. Video-video semacam itu beredar di TikTok dan WhatsApp keluarga seperti potongan hiburan gelap nasional. Orang menonton sambil makan gorengan.
Indonesia punya hubungan yang rumit dengan kekerasan jalanan. Kita sering pura-pura lembut sebagai bangsa, padahal amuk massa begitu gampang meledak. Ada kepuasan primitif saat warga merasa hukum formal terlalu lambat atau terlalu mudah dibeli.
Di beberapa daerah, polisi bahkan terang-terangan memakai istilah “tembak di tempat”. Kalimat itu sudah seperti slogan.
Begal tentu bukan fenomena yang lahir dari satu sebab tunggal. Orang terlalu malas kalau menjelaskan semuanya hanya dengan “ekonomi susah”. Banyak orang miskin tidak membegal siapa-siapa. Banyak buruh dengan gaji kecil tetap bangun subuh, kerja sampai malam, pulang dengan tubuh remuk tanpa merampas motor orang lain.
Tetap saja, sulit mengabaikan lanskap sosial yang melatarinya.
Lihat kawasan-kawasan urban pinggiran; kontrakan sempit, anak muda putus sekolah, pekerjaan informal yang rapuh, pinjaman online, judi online, motor kredit, media sosial penuh flexing. Seseorang membuka Instagram lalu melihat anak seusianya pamer iPhone, nongkrong di rooftop café, touring pakai motor mahal. Di kamar sempit yang kipas anginnya bunyi berisik, rasa gagal bisa tumbuh cepat.
Lalu ada budaya tongkrongan laki-laki muda yang kadang beracun. Balap liar, mabuk, senjata tajam rakitan, obsesi terlihat sangar. Banyak begal bergerak berkelompok karena keberanian kolektif bekerja seperti alkohol. Sendirian, mereka mungkin cuma anak penakut. Bergerombol di atas motor, sambil membawa celurit, mereka merasa seperti pasukan kecil.
Senjata tajam sudah jadi bagian visual kota-kota tertentu. Polisi sering memamerkan barang bukti; celurit panjang, samurai murah, parang karatan, gir motor yang diikat tali. Ada estetika kekerasan jalanan yang khas Indonesia. Sangat lokal. Sangat dekat.
Media sosial memperburuk semuanya. Video pembegalan kini punya fungsi ganda; peringatan sekaligus tontonan. Rekaman CCTV orang diseret motor diputar berulang-ulang dengan musik dramatis. Komentar penuh sumpah serapah, doa, candaan, kadang pujian untuk pelaku yang “berani”.
Orang bisa kehilangan sensitivitas setelah terlalu sering melihat kekerasan dalam format vertikal 30 detik.
Pemerintah biasanya merespons dengan patroli tambahan, operasi kepolisian, konferensi pers penangkapan pelaku. Kamera menyorot tersangka jongkok dengan kepala tertunduk. Barang bukti dipajang di meja. Kapolres bicara tegas. Wartawan mencatat.
Beberapa minggu tenang. Lalu muncul lagi kasus baru.
Begal punya efek psikologis yang lebih besar dibanding angka statistik kriminal biasa. Ia membuat ruang publik terasa rapuh. Orang jadi takut pada jalan yang sebenarnya milik bersama. Malam berubah terasa lebih pendek. Jalan sepi bukan lagi ruang sunyi, tapi ruang ancaman.
Kota yang sehat seharusnya memungkinkan perempuan pulang malam tanpa deg-degan tiap mendengar motor mendekat dari belakang. Indonesia belum sampai situ.
Kadang kasusnya sangat kecil, dan justru karena itu terasa mengerikan. Seorang kurir makanan di Surabaya kehilangan motor satu-satunya. Seorang mahasiswa di Yogyakarta dibacok karena mempertahankan ponsel. Seorang ibu di Bekasi terseret beberapa meter karena tasnya dipertahankan secara refleks. Motor di Indonesia bukan barang mewah. Itu alat hidup. Kehilangan motor bisa berarti kehilangan pekerjaan.
Orang yang tinggal di luar Indonesia sering tidak paham betapa sentralnya motor dalam kehidupan sehari-hari di sini. Motor membawa anak sekolah, galon air, tabung gas, ayam hidup, sampai jenazah. Motor adalah infrastruktur sosial kecil. Merampas motor seseorang kadang seperti memotong urat hidupnya secara langsung.
Begal juga memperlihatkan sesuatu yang lebih suram tentang ketimpangan rasa aman. Orang kaya bisa menghindar dengan mobil, sopir, jalan tol, kompleks berpagar, CCTV, satpam. Orang biasa tetap harus lewat jalan gelap naik motor karena besok pagi harus kerja. Ada lapisan kelas yang sangat terasa dalam urusan keamanan.
Dan publik tahu banyak begal tidak bekerja sendirian. Ada penadah motor curian. Ada jaringan jual beli onderdil. Ada bengkel-bengkel tertentu yang pura-pura tidak tahu asal barang. Kejahatan jalanan selalu punya ekosistem. Motor curian tidak menguap begitu saja.
Kadang yang paling menyedihkan justru cara korban bercerita setelah selamat. Mereka sering tidak terdengar marah besar. Lebih terdengar lelah. Seperti orang yang baru menerima bahwa hidup di Indonesia memang harus menyisakan ruang untuk kemungkinan dirampok di jalan.
“Yang penting masih hidup.” Kalimat itu terlalu sering muncul.
Anak-anak tumbuh dengan berita begal sebagai latar sehari-hari. Mereka melihat video pembacokan bahkan sebelum cukup umur memahami kematian. Mereka mendengar orang tua berkata jangan pulang malam, jangan lewat situ, jangan pakai HP di jalan. Ketakutan diwariskan seperti nasihat rumah tangga biasa.
Ada sesuatu yang rusak ketika masyarakat mulai menganggap kewaspadaan ekstrem sebagai bentuk normal kehidupan kota.
Lalu muncul ironi lain; sebagian pelaku begal kadang mati muda di jalan, ditembak polisi, dihajar massa, atau dibunuh kelompok lain. Siklusnya kasar dan pendek. Kota-kota Indonesia seperti memproduksi kemarahan kecil terus-menerus, lalu membiarkannya saling memangsa di aspal.
Malam tetap turun seperti biasa setelah berita pembegalan selesai tayang di televisi. Warung kopi masih buka. Ojol masih narik order. Remaja masih nongkrong di pinggir jalan sambil tertawa keras. Lampu minimarket tetap terang.
Di suatu tikungan yang lampunya redup, seseorang mungkin sedang memperlambat motor sambil memperhatikan pengendara lain yang pulang sendirian.

.png)

