Kebakaran di Tambora, Masalah Jakarta yang Tersimpan dalam Bara
https://www.belajarsampaimati.com/2026/05/kebakaran-di-tambora-masalah-jakarta.html?m=0
![]() |
| Ilustrasi/detik.com |
Asap selalu terlihat lebih tebal kalau muncul dari permukiman miskin. Bukan karena apinya berbeda atau kayunya lebih banyak. Ada sesuatu pada cara rumah-rumah rapat terbakar yang membuat langit seperti ikut sesak. Di video yang beredar dari Krendang, Tambora, Jakarta Barat, warna hitam itu naik seperti tembok. Orang-orang berlari sambil menengadah. Kabel listrik menggantung rendah. Atap seng memantulkan cahaya oranye yang bergerak liar. Mata terasa pedih hanya dari menonton layar.
Kebakaran yang melanda kawasan Jalan Krendang Barat menghanguskan sedikitnya 27 rumah. Api dilaporkan mulai muncul sekitar pukul 19.47 WIB. Ketika petugas datang, api sudah bergerak cepat di antara rumah-rumah yang nyaris saling menempel. Suku Dinas Gulkarmat Jakarta Barat akhirnya mengerahkan 21 unit mobil pemadam dan lebih dari seratus personel. Api baru dapat dipadamkan mendekati tengah malam. Sekitar 115 kepala keluarga terdampak. Jumlah pengungsi mencapai sekitar 250 jiwa.
Krendang bukan wilayah yang dibuat untuk menahan api. Orang yang pernah masuk ke gang-gangnya tahu bentuk ruang di sana. Motor lewat harus pelan karena bahu jalan nyaris tidak ada. Jemuran menggantung rendah. Dinding rumah kadang hanya dipisahkan beberapa puluh centimeter. Sebagian rumah berdiri dari hasil tambal-sulam bertahun-tahun; bata, tripleks, seng, eternit, kayu. Jakarta memiliki banyak tempat seperti itu. Kota yang harga tanahnya gila membuat orang membangun rumah dengan logika bertahan hidup, bukan logika keselamatan.
Pernah ada kebiasaan aneh dalam pemberitaan kebakaran di Jakarta. Kalimatnya hampir selalu sama. "Korsleting listrik diduga menjadi penyebab."
Kalimat itu muncul lagi sekarang. Dugaan awal mengarah ke hubungan arus pendek di salah satu kontrakan. Penyelidikan masih berlangsung.
Hubungan arus pendek. Istilah yang terdengar teknis, padahal di belakangnya sering tersembunyi cerita yang sangat biasa; kabel murah, sambungan bertumpuk, colokan bercabang lima, kipas angin tua, kulkas bekas, meteran yang dipaksa bekerja melebihi batas. Kemiskinan sering terlihat seperti masalah ekonomi sampai suatu malam berubah menjadi api.
Orang Jakarta sudah terlalu biasa dengan berita semacam itu. Tambora terbakar. Kemayoran terbakar. Angke terbakar. Taman Sari terbakar. Nama wilayah berganti, pola ceritanya nyaris identik. Beberapa rumah hangus. Ratusan warga mengungsi. Bantuan datang. Tenda berdiri. Wartawan mengambil gambar anak-anak yang duduk di tikar. Pejabat meninjau lokasi. Seminggu kemudian, publik lupa.
Pemilik rumah tidak lupa.
Ada foto dari lokasi, dengan garis polisi membentang di antara puing-puing. Besi-besi melengkung seperti ranting gosong. Sebagian tembok masih berdiri tanpa atap, seperti potongan panggung teater yang kehilangan cerita.
Yang selalu membuat saya terganggu dari kebakaran bukan kobaran apinya. Kebanyakan orang fokus pada saat rumah terbakar. Saya justru sering memikirkan hari ketiga setelahnya.
Hari ketiga adalah saat wartawan sudah pergi. Hari ketiga adalah saat orang mulai sadar bahwa ijazah anaknya hilang. Buku nikah hilang. Sertifikat motor hilang. Foto ayah yang meninggal sepuluh tahun lalu hilang. Baju sekolah tinggal abu. Obat darah tinggi lenyap bersama lemari.
Negara punya mekanisme untuk menghitung rumah yang terbakar. Dua puluh tujuh rumah. Seratus lima belas kepala keluarga. Dua ratus lima puluh jiwa. Semuanya masuk tabel.
Tidak ada kolom untuk menghitung rasa panik ketika seseorang sadar akta kelahiran anaknya ikut terbakar. Tidak ada formulir yang mencatat berapa banyak kenangan yang berubah menjadi debu hitam.
Video dari lokasi menunjukkan warga berdiri sangat dekat dengan api. Sebagian hanya mengenakan kaus rumah. Sebagian lagi memegang ember. Wajah mereka memantulkan cahaya merah. Suara teriakan saling tumpang tindih. Ada yang memanggil nama orang. Ada yang menyuruh mundur. Ada yang hanya berdiri memandangi rumahnya sendiri.
Tubuh manusia sering bertindak aneh saat kehilangan sesuatu secara mendadak. Sebagian menangis. Sebagian justru diam. Sebagian sibuk menyelamatkan benda-benda yang sebenarnya tidak terlalu penting. Rice cooker. Galon kosong. Kursi plastik. Karung pakaian. Otak kadang tidak mampu langsung menerima skala kerusakan yang sedang terjadi.
Jakarta punya hubungan yang ganjil dengan kebakaran. Kota ini membangun gedung-gedung kaca bernilai triliunan rupiah sambil tetap menyimpan kantong-kantong permukiman yang jika satu rumah terbakar, seluruh blok bisa ikut hilang dalam hitungan menit.
Lihat peta satelit kawasan padat seperti Krendang. Rumah-rumahnya terlihat seperti potongan puzzle yang dipaksa masuk ke ruang yang terlalu sempit. Hampir tidak ada celah. Hampir tidak ada ruang bernapas.
Setiap kali kebakaran besar terjadi, selalu muncul pembicaraan soal relokasi, penataan kawasan, normalisasi permukiman, penertiban bangunan. Pembicaraan yang sama. Kalimat yang sama. Presentasi PowerPoint yang mungkin juga sama.
Orang-orang yang tinggal di sana sering mendengar semua itu seperti mendengar suara kereta dari kejauhan. Ada, tapi terasa jauh dari kehidupan sehari-hari.
Sementara itu, kabel-kabel tetap menggantung. Atap-atap tetap berimpitan. Kontrakan-kontrakan tetap penuh.
Di Krendang, api kabarnya sempat muncul lagi setelah kebakaran utama dapat dipadamkan. Delapan unit damkar kembali dikerahkan. Bara yang tersisa ternyata masih hidup di bawah puing.
Saya memperhatikan detail itu, karena terasa sangat Jakarta. Api sudah padam. Ternyata belum. Masalah sudah selesai. Ternyata belum. Kota ini seperti punya kebiasaan menyimpan bara di bawah permukaan.
Malam ketika kebakaran terjadi, sebagian warga mengungsi ke mushala dan tenda bantuan. Orang tidur berdesakan. Anak-anak mungkin masih terjaga karena suara kendaraan dan percakapan orang dewasa. Bau asap biasanya menempel lama di rambut. Bahkan setelah mandi, kadang masih tertinggal samar di hidung.
Pagi datang. Orang mulai memilah puing. Mencari sendok. Mencari charger. Mencari cincin. Mencari apa saja yang belum berubah bentuk.
Seorang petugas berdiri dekat garis polisi. Di belakangnya ada sisa dinding yang menghitam. Di titik tertentu, warna hitam bekas kebakaran terlihat lebih jujur daripada banyak pidato tentang kota modern.
Jakarta terus tumbuh ke atas. Krendang dalam kebakaran tumbuh ke udara dalam bentuk asap.

.png)

