Kenapa Ada Orang yang Mudah Stres dan Ada yang Tidak?
https://www.belajarsampaimati.com/2026/05/kenapa-ada-orang-yang-mudah-stres-dan.html?m=0
![]() |
| Ilustrasi/kompas.com |
Stres mungkin keniscayaan dalam kehidupan sehari-hari. Yang membedakan adalah kadarnya, dan cara orang menghadapinya. Jika diperhatikan, ada orang-orang yang tampaknya mudah stres—hingga sering terdengar sambat—dan ada pula orang-orang yang sepertinya jarang stres; mereka selalu terlihat santai dan tampak tidak punya masalah apa pun. Mengapa ada orang yang mudah stres dan ada yang pula yang tidak?
Perbedaan tingkat stres orang per orang disebabkan oleh kombinasi faktor biologis, psikologis, sosial, dan lingkungan. Intinya, respons stres bukan sekadar reaksi otomatis; ia dipengaruhi oleh genetika, pengalaman hidup, cara berpikir, dan konteks sosial.
Terkait hormon stres, misalnya, sebagian orang memiliki kadar hormon kortisol yang lebih sensitif atau lebih tinggi secara alami, sehingga lebih cepat merespons stresor. Variasi genetik juga mempengaruhi bagaimana sistem saraf simpatik (fight-or-flight) merespons ancaman. Orang dengan sistem saraf yang lebih reaktif cenderung lebih mudah stres. Kemudian, ketidakseimbangan serotonin, dopamin, atau norepinefrin, dapat membuat seseorang lebih cemas atau mudah tertekan.
Pengalaman hidup dan lingkungan juga ikut mempengaruhi bagaimana orang mengalami stres. Pengalaman masa kecil, misalnya. Anak yang tumbuh dalam lingkungan penuh tekanan, kekerasan, atau ketidakpastian, lebih rentan mengalami stres di masa dewasanya.
Sementara pengalaman traumatis, seperti kecelakaan, kehilangan, atau pelecehan, dapat meningkatkan respons stres secara berlebihan, bahkan terhadap situasi ringan. Lalu tekanan pekerjaan, hubungan yang buruk, atau hidup di lingkungan yang tidak stabil, dapat membuat stres lebih mudah muncul.
Cara orang menghadapi stres juga berbeda-beda. Orang yang memiliki kemampuan problem solving, regulasi emosi, dan mindfulness, biasanya lebih tahan terhadap stres. Sementara orang yang menghindari masalah, menyalahkan diri sendiri, atau menyalahgunakan zat seperti alkohol, membuat stres lebih sulit dikendalikan.
Hal itu biasanya dipengaruhi oleh kepribadian dan pola pikir. Orang dengan neurotisisme tinggi cenderung lebih reaktif terhadap stres. Orang dengan ekstraversi dan optimisme tinggi lebih tahan terhadap tekanan. Orang yang menilai situasi sebagai ancaman besar juga akan lebih cepat stres dibanding yang melihatnya sebagai tantangan atau kesempatan belajar.
Apa yang kita butuhkan ketika stres? Masing-masing orang mungkin memiliki cara sendiri-sendiri dalam menghadapi stres yang datang. Namun, dukungan sosial seperti teman, keluarga, atau komunitas yang suportif, bisa menurunkan tingkat stres. Sebaliknya, orang yang kurang dukungan sosial lebih rentan terhadap stres karena tidak ada tempat untuk berbagi atau mencari bantuan.
Yang juga perlu diperhatikan, kekurangan tidur atau pola makan buruk memperburuk respons stres. Penyakit kronis atau kondisi medis tertentu juga dapat menyebabkan tubuh lebih rentan terhadap efek stres. Tidur yang cukup, nutrisi yang baik, dan fokus menjaga kesehatan, tampaknya menjadi nasihat yang tak pernah klise.
Jadi, sebagian orang bisa lebih mudah stres atau tahan terhadap stres karena kombinasi genetika, pengalaman hidup, cara berpikir, kepribadian, dukungan sosial, dan kondisi fisik. Orang yang tampak “tenang” mungkin memiliki sistem saraf yang lebih stabil, strategi coping yang efektif, pengalaman hidup yang mendukung, atau jaringan sosial yang kuat. Sebaliknya, orang yang mudah stres mungkin memiliki reaktivitas biologis lebih tinggi, pengalaman trauma, kurang strategi coping, atau tekanan lingkungan yang berat.
Dengan memahami faktor-faktor itu, kita bisa mengidentifikasi penyebab stres secara personal, mengembangkan strategi coping yang lebih efektif, dan menciptakan lingkungan yang mendukung ketahanan psikologis.
Hmm... ada yang mau menambahkan?


