Dolar Naik, Rupiah Turun, Wisatawan Ramai, Omset Jeblok—Haduh!

Ilustrasi/hallo.id
Pantai penuh. Parkiran sesak. Orang antre beli tiket masuk, sementara petugasnya teriak serak karena barcode gagal dipindai. Anak-anak berlarian sambil membawa balon warna biru menyala. Speaker kafe di pantai memutar lagu remix koplo terlalu keras sampai suara ombak tenggelam.

Pemilik warung justru duduk murung sambil menghitung recehan.

Di media sosial, ada post yang viral tentang “wisatawan membeludak tapi omset turun”. Turunnya bahkan sampai 70 persen. Mata melihat keramaian, kasir melihat kekosongan. Dua kenyataan hidup berdampingan tanpa saling cocok. Indonesia belakangan terasa penuh adegan seperti ini; statistik makro bicara optimisme, grafik pertumbuhan naik sedikit, pejabat tersenyum di forum ekonomi, sementara pedagang kecil mulai menjual motor atau menggadaikan gelang kawin buat mutar modal.

Orang sering salah mengira keramaian sebagai tanda uang beredar. Tidak selalu. Banyak orang sekarang tetap pergi liburan sambil membawa kecemasan finansial di dalam tas.

Di Malioboro misalnya, malam tetap padat. Bau sate kere—kuliner khas Jawa Tengah—bercampur asap knalpot dan parfum menyengat. Toko kaos “Jogja Istimewa” terang benderang. Tapi beberapa pedagang mengeluh pengunjung sekarang lebih banyak foto daripada belanja. Mereka datang bergerombol, pesan satu es teh untuk dipakai duduk satu jam, bikin konten TikTok, lalu pergi.

“Ramai, tapi nggak ada yang beli,” kalimat itu mulai terdengar di mana-mana.

Angka penurunan omset sampai 70 persen memang terdengar brutal. Tapi kalau bicara langsung dengan pelaku UMKM, ceritanya bahkan lebih kusut dari sekadar “daya beli turun”. Harga bahan baku naik pelan-pelan seperti penyakit kronis. Tepung naik. Minyak naik. Cokelat impor naik karena dolar naik. Kemasan plastik ikut naik. Ongkir tidak pernah benar-benar turun meski bensin kadang stabil. Pemilik usaha kecil hidup dalam situasi absurd; jual mahal pelanggan kabur, jual murah modal habis.

Dollar Amerika selalu terasa jauh sampai tiba-tiba harga keju mozarella di freezer ikut naik.

Orang sering lupa betapa banyak barang sehari-hari Indonesia bergantung pada impor atau bahan baku yang terhubung ke kurs dollar. Bukan cuma elektronik atau mobil. Bahan bakery, mesin kopi, tinta printer, kedelai, pakan ternak, bahkan beberapa bahan kosmetik rumahan. Rupiah melemah sedikit, denyutnya terasa sampai kios kecil di gang sempit.

Di berita YouTube, seorang penjual dessert box di Bekasi pernah menghitung harga cream cheese hampir sambil marah. Tangannya lengket kena adonan, mukanya berkeringat karena dapur sempit tanpa ventilasi bagus. “Kalau naik seribu dua ribu masih oke. Ini naik terus. Orang kira kita sengaja mahalin.”

Pelanggan juga sedang capek.

Media sosial bikin ilusi konsumsi tetap hidup meski dompet banyak orang mulai megap-megap. Orang tetap nongkrong, karena nongkrong sekarang bagian dari eksistensi sosial. Feed Instagram harus tetap jalan. Story tetap harus update. Ada tekanan aneh untuk terlihat “masih hidup normal” walaupun cicilan mulai telat.

Kelas menengah Indonesia kelihatan masih bergerak, tapi sebagian bergerak dengan kartu kredit.

Mall tetap ramai karena AC gratis dan manusia butuh tempat lari dari panas. Food court penuh, karena rumah makin sempit dan kota makin melelahkan. Ramainya ruang publik tidak otomatis berarti transaksi sehat. Banyak orang sekarang berputar-putar di pusat belanja seperti turis ekonomi; melihat-lihat, menghitung harga diam-diam, lalu pulang.

Pedagang kecil bisa membaca suasana lebih cepat daripada ekonom televisi. Mereka melihat perubahan dari hal-hal kecil. Porsi makanan mulai dibagi dua orang. Pelanggan bertanya harga sebelum duduk. Orang minta sambal tambahan tapi batal pesan minuman. Anak muda datang ke coffee shop cuma beli americano paling murah lalu duduk empat jam sambil buka laptop.

Pemilik warung tidak bicara soal “perlambatan konsumsi domestik”. Mereka cuma bilang, “orang sekarang mikir banget kalau keluar uang.”

Pemerintah sering memakai angka makro sebagai semacam obat penenang nasional. Pertumbuhan ekonomi sekian persen. Inflasi terkendali. Neraca perdagangan surplus. Wisatawan naik. Data-data itu memang penting. Masalahnya, data makro punya kebiasaan menyamarkan rasa sakit individual.

Tubuh ekonomi nasional bisa terlihat sehat, sementara jutaan unit kecil di dalamnya mulai kejang.

Saya teringat suasana di kawasan Braga, Bandung, sekian waktu lalu. Jalanan penuh wisatawan. Kafe vintage penuh suara gelas dan kamera. Tapi seorang penjual roti bakar kecil dekat persimpangan berkata omsetnya turun hampir separuh dibanding dua tahun lalu. Ia menunjuk keramaian sambil ketawa pendek, tawa yang terdengar lebih seperti batuk.

“Orang sekarang jalan-jalan doang.” Kalimat itu terdengar pahit karena ada benarnya.

Ekonomi digital ikut mengubah perilaku konsumsi dengan cara yang tidak selalu disadari. Orang sekarang lebih rela menghabiskan uang untuk pengalaman visual dibanding barang fisik dari UMKM lokal. Tiket konser Coldplay ludes miliaran rupiah. Merchandise artis. Skin game. Subscription streaming. Kopi viral dengan kemasan lucu. Uang tetap keluar, hanya arah alirannya berubah.

UMKM tradisional sering kalah bukan karena produknya jelek, tapi karena mereka bertarung di ekonomi perhatian. Produk bagus tidak cukup kalau tidak muncul di algoritma.

Seorang pengrajin sandal kulit di Cibaduyut mungkin membuat barang lebih awet daripada sepatu fast fashion impor. Masalahnya, sepatu impor datang bersama influencer, iklan, musik trend TikTok, dan aura status sosial. Orang membeli cerita, bukan cuma barang.

Kurs dollar naik sebenarnya juga punya lapisan psikologis. Begitu berita “rupiah melemah” muncul terus menerus, publik mulai defensif. Orang menunda belanja besar. Menahan pengeluaran. Pemilik usaha ikut takut stok banyak. Distributor berhitung ulang. Semua orang mengerem dalam waktu bersamaan. Ekonomi melambat bukan cuma karena angka, tapi karena suasana hati kolektif berubah jadi waspada. Suasana hati ekonomi sulit diukur spreadsheet.

Kota wisata sekarang penuh paradoks. Hotel mungkin penuh saat libur panjang, tapi warung sekitar belum tentu kecipratan. Orang booking promo online, makan di franchise besar, bayar cashless lewat aplikasi yang potong margin kecil-kecil, lalu pulang tanpa benar-benar meninggalkan uang banyak di ekonomi lokal. Pariwisata modern kadang terlihat ramai dari drone, tapi bocor dari bawah.

Di Bali, misalnya, keluhan tentang turis “murah” mulai sering terdengar. Turis datang lebih lama tapi hemat ekstrem. Belanja minim. Sewa vila patungan ramai-ramai. Makan cari promo. Sementara harga tanah, listrik, dan bahan makanan lokal terus naik mengikuti ekonomi global dan spekulasi properti.

Pelayan restoran tetap tersenyum sambil membawa makanan ke meja turis asing yang sibuk memotret smoothie bowl. Di dapur, pemilik usaha menghitung tagihan supplier dengan kepala pening.

Lucu juga melihat bagaimana negara modern memuja angka besar sambil mengabaikan denyut kecil. Grafik wisatawan naik langsung jadi headline optimistis. Tidak ada grafik nasional untuk rasa panik pemilik laundry kecil yang omsetnya turun tapi tagihan token listrik naik terus.

Bau minyak goreng bekas di kios gorengan dekat terminal kadang lebih jujur daripada konferensi pers kementerian.

Sebagian ekonom mungkin akan bilang ini siklus biasa. Penyesuaian pasar. Konsumsi melemah sementara. Dunia memang sedang tidak stabil. Kalimat-kalimat itu benar dalam level tertentu. Tapi tetap sulit untuk terdengar menenangkan bagi orang yang tiap malam mengecek mobile banking sambil menghitung apakah uang cukup buat beli stok besok pagi. Keramaian hari ini sering terasa seperti pesta yang dibayar pakai utang kecil-kecil.

Malam makin larut di kawasan alun-alun kota. Lampu wahana odong-odong masih berkedip warna merah-hijau. Anak-anak tertawa. Pembeli cilok meniup kuah panas dari mangkuk plastik tipis. Seorang ibu menawar gantungan kunci sambil membuka dompet yang isinya penuh recehan kusut.

Di layar televisi restoran cepat saji dekat situ, presenter ekonomi bicara tentang “resiliensi domestik” dengan jas rapi dan senyum stabil.

Suara blender jus keras sekali sampai kalimat terakhirnya tak terdengar.

Related

Hoeda's Note 2770204657795742439

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

item