Pada Hilal Tipis di Langit, Spiritualisme Miliaran Orang Tergantung
https://www.belajarsampaimati.com/2026/06/pada-hilal-tipis-di-langit.html?m=0
![]() |
| Ilustrasi/penerbitdeepublih.com |
Di atap Masjid Istiqlal malam itu, seorang petugas rukyat memicingkan mata terlalu lama ke arah langit barat. Kamera teleskop diarahkan rendah, hampir sejajar garis gedung-gedung Jakarta yang masih menyisakan asap dan cahaya kuning. Udara lembap. Orang-orang di bawah mulai gelisah karena ponsel mereka sudah lebih cepat daripada mata manusia. Grup WhatsApp keluarga penuh pertanyaan sejak magrib; “Sudah kelihatan?”, “Arab Saudi besok lebaran.”, “Muhammadiyah Jumat.”, “Pemerintah gimana?”
Lalu muncul kalimat yang hampir selalu terdengar sama setiap tahun; hilal terlihat.
Kalimat itu sederhana, pendek, nyaris administratif. Tapi setelah itu jutaan rumah berubah ritmenya dalam beberapa menit. Takbir mulai terdengar dari speaker masjid dan musala. Jalanan yang semula macet oleh pekerja pulang kantor berubah jadi arus motor membawa kardus kue dan sirup Marjan rasa cocopandan. Anak-anak kecil mulai menyalakan petasan yang suaranya seperti seng dilempar ke aspal.
Tanggal 14 Juni 2018 jatuh pada malam menjelang Idulfitri di banyak negara. Orang sering menuliskannya sebagai peristiwa astronomi; bulan sabit muda terlihat setelah matahari terbenam. Padahal yang berubah bukan cuma posisi bulan terhadap bumi. Yang berubah adalah denyut miliaran manusia secara serentak.
Saya selalu merasa aneh memikirkan hal itu. Di zaman ketika manusia bisa melihat badai Jupiter dengan teleskop luar angkasa, ketika citra permukaan Mars dikirim dalam resolusi tinggi ke komputer murah di warnet-warnet kecil Indonesia, penentuan hari besar agama terbesar kedua di dunia masih bergantung pada garis tipis cahaya yang kadang bahkan tidak terlihat jelas oleh mata telanjang.
Dan orang memperdebatkannya dengan serius.
Tahun itu, seperti biasa, Indonesia kembali terbelah metode. Muhammadiyah menetapkan Idulfitri pada Jumat, 15 Juni, menggunakan hisab. Nahdlatul Ulama menunggu rukyat. Kementerian Agama menggelar sidang isbat di kantor Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat. Para ulama, astronom, pejabat, duduk dalam ruangan berpendingin udara sambil menerima laporan dari berbagai titik pemantauan; Pelabuhan Ratu, Cakung, Bukit Condrodipo di Gresik, Pantai Kartini Jepara.
Orang luar mungkin menganggap semua itu absurd. Bulan tetap bulan. Orbit tetap orbit. Tinggal hitung saja secara matematis.
Tapi manusia jarang hidup hanya dari matematika.
Di Maroko, malam penentuan Idulfitri sering terasa seperti ketegangan menjelang pertandingan sepak bola. Keluarga-keluarga menunggu pengumuman resmi kerajaan. Di Pakistan, perbedaan rukyat kadang membuat satu kota sudah shalat Id, kota lain masih puasa. Tahun 2018, sebagian warga Peshawar bahkan lebih percaya pada kesaksian lokal daripada keputusan pemerintah pusat. Orang bisa bertengkar soal lengkung cahaya setipis kuku.
Sementara di Indonesia, sebagian besar orang sebenarnya tidak peduli metode mana yang “paling benar”. Mereka cuma ingin kepastian kapan harus menikmati opor.
Saya ingat malam itu televisi menayangkan siaran langsung sidang isbat dengan visual yang membosankan; meja panjang, mikrofon, wajah-wajah serius. Di sudut layar, running text berita lain lewat tanpa dosa; kurs rupiah melemah, kecelakaan di tol Cipali, hasil pertandingan Piala Dunia. Lalu Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengumumkan Idulfitri jatuh pada 15 Juni 2018.
Di luar gedung, wartawan berlari kecil mengejar narasumber sambil memegang tripod.
Tak lama setelah itu, suara takbir mulai menggema dari masjid-masjid Jakarta. Tidak langsung serempak. Pelan dulu. Seperti mesin tua dipanaskan.
Banyak tulisan tentang Ramadan dan Idulfitri terdengar terlalu bersih. Terlalu religius dengan cara yang steril. Padahal malam-malam menjelang Lebaran di Indonesia sering berisik, lengket, dan melelahkan. Mata pedih kena asap knalpot. Karpet masjid mulai bau campuran parfum murah dan kaki basah. Anak kecil muntah di mobil karena perjalanan mudik delapan jam dari Bekasi ke Kebumen.
Orang-orang tetap menyebutnya momen suci.
Di Stasiun Pasar Senen, H-1 Lebaran 2018, petugas keamanan sampai harus mengatur antrean dengan pengeras suara karena penumpang membludak. Tiket tambahan PT KAI ludes. Bandara Soekarno-Hatta dipenuhi koper yang dibungkus plastik biru. Seorang pria tidur di lantai terminal sambil memeluk kardus berisi dua toples nastar.
Bulan sabit kecil di langit ternyata bisa menggerakkan jutaan tubuh sekaligus. Itu yang sering luput ketika agama dibahas cuma sebagai doktrin.
Saya pernah membaca wawancara seorang astronom Indonesia, Thomas Djamaluddin, yang menjelaskan soal visibilitas hilal dengan sangat teknis; elongasi bulan, tinggi ufuk, sudut cahaya. Penjelasannya akurat, dingin, rapi. Tapi di luar observatorium, hilal sudah berubah jadi sesuatu yang jauh lebih liar. Ia menentukan kapan mantan pacar akhirnya pulang kampung dan bertemu keluarga. Menentukan kapan seorang buruh pabrik di Karawang menerima THR. Menentukan kapan jalan Pantura berubah jadi lautan bus malam dan truk berterpal.
Sebuah fenomena astronomi kecil menyeret begitu banyak urusan manusia.
Arab Saudi menetapkan Idulfitri lebih dulu tahun itu. Seperti biasa, keputusan mereka langsung menyebar ke seluruh dunia Islam lewat Twitter dan siaran televisi. Sebagian orang Indonesia mulai ribut lagi; kenapa beda? Kenapa negara lain bisa cepat?
Lucu juga melihat manusia modern begitu terobsesi pada keseragaman kalender, padahal langit sendiri tidak pernah terlihat sama dari tiap tempat. Hilal di Rabat tidak otomatis identik dengan hilal di Surabaya.
Di media sosial, orang saling mengoreksi dalil. Screenshot kitab disebar. Meme soal “lebaran dua kali” muncul lagi. Sementara itu, pedagang kulit ketupat di Pasar Beringharjo cuma sibuk memastikan dagangannya habis sebelum subuh.
Tahun 2018 sebenarnya juga tahun yang berat di Indonesia. Gempa Lombok belum terjadi, tsunami Palu belum datang, tapi suasana politik sudah panas menjelang pemilu. Media dipenuhi pertengkaran identitas. Orang mudah marah bahkan sebelum membaca berita sampai selesai.
Lalu malam Idulfitri datang seperti jeda pendek yang aneh.
Masjid-masjid penuh lagi oleh orang yang muncul setahun sekali. Jalanan kota besar mendadak lengang pada pagi hari Lebaran. Jakarta terasa seperti kota yang ditinggalkan. Satpam kompleks duduk sendirian sambil memainkan ponsel. Bunyi sendok mengenai piring opor terdengar lebih jelas karena suara kendaraan hilang.
Pukul empat pagi di sebuah gang kecil di Kudus, seorang ibu masih menyetrika baju koko anaknya yang belum kering sempurna. Di Makassar, sop konro mulai dipanaskan sejak dini hari. Di Banda Aceh, takbir berkumandang lebih lama dari biasanya karena pengeras suara masjid terlalu keras dan tak ada yang protes.
Semua bergerak karena satu garis cahaya tipis yang bahkan tidak semua orang sempat lihat langsung.
Agak aneh, kalau dipikir-pikir. Manusia menciptakan superkomputer, kecerdasan buatan, roket yang bisa mendarat ulang, tapi setiap tahun miliaran orang masih menunggu langit sesaat setelah matahari tenggelam. Seolah-olah tanpa itu kalender terasa belum sah.
Dan di banyak tempat malam itu, setelah pengumuman resmi selesai, setelah takbir mulai memenuhi udara, setelah orang-orang yakin besok bukan lagi Ramadan, seseorang tetap duduk sendirian di teras rumah sambil menikmati udud, memandang langit yang sebenarnya biasa saja.

.png)


