R. L. Stine, Penulis Humor yang Jadi Raja Kisah Horor Anak-anak

Ilustrasi/kqed.org
Bau kertas, lem yang belum benar-benar kering, sampul mengilap dengan tengkorak tersenyum atau boneka ventriloquist bermata liar. Jutaan anak di seluruh dunia mengenal sensasi itu. Mereka masuk ke perpustakaan sekolah atau toko buku kecil, mengambil satu buku karya R. L. Stine, lalu pulang membawa sesuatu yang aneh: rasa takut yang justru membuat ketagihan.

Di balik rak-rak penuh monster, topeng terkutuk, manusia serigala, dan boneka hidup itu, berdiri seorang pria yang produktivitasnya terasa hampir tidak masuk akal. Nama lengkapnya Robert Lawrence Stine. Lahir di Columbus, Ohio, tahun 1943. Jumlah buku yang ditulisnya mendekati 500 judul. Beberapa perhitungan bahkan menempatkannya lebih tinggi jika memasukkan berbagai seri, spin-off, dan karya anak-anak lain yang ia hasilkan selama puluhan tahun.

Angka 500 saja sudah cukup membuat kepala sedikit pening. Coba bayangkan seorang penulis yang menerbitkan satu buku setiap tahun. Ia membutuhkan lima abad untuk mencapai angka itu. Stine melakukannya dalam satu kehidupan.

Keanehan pertama muncul ketika melihat masa kecilnya. Banyak penulis besar memiliki kisah romantis tentang petualangan alam, perjalanan jauh, atau masa muda yang penuh tragedi. Stine justru menemukan mesin ketiknya ketika berusia sembilan tahun di loteng rumah keluarganya. Mesin ketik tua itu mengubah hidupnya. Anak-anak lain bermain bisbol di halaman. Stine duduk mengetik cerita dan lelucon.

Ia pernah mengatakan bahwa sejak menemukan mesin tik tersebut, ia menghabiskan sebagian besar waktunya untuk menulis. Kalimat itu terdengar sederhana sampai kita melihat hasil akhirnya.

Sebelum menjadi raja horor anak-anak, Stine sebenarnya bukan penulis horor. Selama bertahun-tahun ia dikenal sebagai penulis humor. Ia membuat majalah humor remaja berjudul Bananas pada 1970-an dan 1980-an. Di sana ia menulis lelucon, permainan kata, artikel ringan, bahkan wawancara konyol dengan selebritas muda. Sulit membayangkan bahwa orang yang kelak menulis ratusan cerita tentang zombie dan hantu justru memulai karier dengan membuat pembaca tertawa.

Perubahan arah itu terjadi perlahan. Industri penerbitan anak-anak Amerika sedang berubah. Horor untuk pembaca muda mulai menemukan pasar. Stine melihat peluang yang tidak dilihat banyak orang. Ia mulai menulis cerita yang menakutkan, tetapi tidak terlalu menakutkan. Horor yang bisa dibaca anak usia sebelas tahun tanpa membuat mereka mimpi buruk selama seminggu.

Formula itu tampak sederhana setelah berhasil. Sebelum berhasil, tak seorang pun tahu apakah itu akan berhasil.

Tahun 1986 muncul novel Blind Date. Lalu datang seri Fear Street. Penjualannya meledak. Remaja Amerika membeli buku-buku itu dalam jumlah luar biasa. Lorong toko buku dipenuhi sampul gelap dengan bayangan rumah kosong atau jalanan berkabut.

Belum cukup. Pada 1992, Stine meluncurkan sesuatu yang jauh lebih besar: seri Goosebumps. Dunia penerbitan anak-anak pun berubah total.

Di banyak sekolah Amerika, guru menghadapi masalah yang biasanya dianggap mustahil. Anak-anak yang sebelumnya malas membaca tiba-tiba berebut buku. Mereka saling meminjam, menukar, mengoleksi. Buku-buku seperti Welcome to Dead House, Night of the Living Dummy, The Haunted Mask, dan Monster Blood, menjadi semacam mata uang sosial di kalangan murid SD.

Pemandangan itu menarik. Banyak penulis bermimpi menciptakan karya yang dianggap sastra tinggi. Stine menciptakan sesuatu yang lebih sulit diukur: kebiasaan membaca.

Seorang anak yang tadinya tidak pernah membuka buku bisa menghabiskan sore dengan membaca kisah boneka ventriloquist bernama Slappy.

Produktivitas Stine tidak bisa dipisahkan dari metode kerjanya yang hampir industrial. Ia sering menjelaskan bahwa dirinya menulis setiap hari dengan disiplin ketat. Ia membuat garis besar cerita terlebih dulu secara rinci. Ketika mulai mengetik naskah, ia sudah mengetahui sebagian besar alur.

Metode itu terdengar membosankan dibandingkan gambaran romantis penulis yang menunggu ilham di kafe sambil menatap hujan.

Hasilnya jauh lebih mengesankan. Banyak penulis menghasilkan satu novel dalam dua atau tiga tahun. Pada masa puncaknya, Stine menghasilkan beberapa buku dalam satu tahun secara konsisten. Mesin itu terus berjalan. Tahun demi tahun.

Mata mulai lelah hanya dengan melihat bibliografinya. Satu rak. Dua rak. Lima rak. Puluhan rak. Jumlah bukunya jadi begitu banyak, hingga banyak pembaca bahkan tidak sadar mereka sedang membaca karya orang yang sama. Nama R. L. Stine berubah menjadi semacam merek. Anak-anak melihat namanya lebih dulu daripada judul bukunya. Fenomena itu jarang terjadi dalam sejarah sastra.

Hal lain yang membuat produktivitasnya unik adalah sifat karyanya sendiri. Menulis satu buku horor tidak mudah. Penulis harus membangun ketegangan, menciptakan misteri, merancang kejutan. Sekarang bayangkan mengulang proses itu ratusan kali tanpa membuat pembaca merasa sedang membaca cerita yang sama.

Tentu beberapa formula berulang. Pintu terlarang. Ruang bawah tanah misterius. Topeng aneh. Boneka hidup. Monster yang muncul dari tempat tak terduga. Tetapi pembaca anak-anak terus datang.

Mereka tidak peduli bahwa kritikus sastra mungkin menganggap struktur ceritanya sederhana. Mereka hanya ingin tahu apa yang bersembunyi di balik pintu berikutnya.

Sebagian akademisi memandang karya Stine sebagai produk massal yang formulaik. Kritik itu tidak sepenuhnya salah. Banyak bukunya memang ditulis untuk pasar yang sangat spesifik. Ia tidak mencoba menjadi Dostoevsky atau Proust.

Saya justru curiga banyak intelektual meremehkan betapa sulitnya membuat jutaan anak rela membaca.

Membuat seorang profesor membaca buku filsafat adalah pekerjaan mudah. Profesor memang sudah suka membaca. Tapi membuat anak berusia sepuluh tahun menutup televisi lalu memilih buku? Itu medan perang yang berbeda.

Data penjualan memberi gambaran tentang skalanya. Buku-buku Stine telah terjual lebih dari 400 juta kopi di seluruh dunia. Angka itu menempatkannya di antara penulis terlaris sepanjang sejarah. Karyanya diterjemahkan ke puluhan bahasa. Dari Ohio hingga Jakarta, dari Toronto hingga São Paulo, anak-anak mengalami ketakutan yang sama terhadap boneka Slappy.

Ada detail yang saya sukai. Ketika diwawancarai, Stine sering tampak seperti pria yang sangat biasa. Senyumnya ramah. Humornya ringan. Sulit menemukan aura "master horor" yang menyeramkan.

Stephen King kadang tampak seperti seseorang yang bisa menceritakan mimpi buruk selama berjam-jam. Stine lebih mirip guru yang diam-diam menyembunyikan seratus monster di lemari kelas.

Produktivitas sering dibicarakan sebagai soal disiplin, jadwal, atau teknik manajemen waktu. Pada Stine, saya melihat sesuatu yang sedikit berbeda. Ia tampaknya benar-benar menikmati proses menciptakan cerita. Mesin produksinya besar karena bahan bakarnya tidak pernah habis.

Banyak penulis kelelahan setelah sukses besar. Stine terus menulis. Banyak penulis berhenti ketika generasi pembacanya berganti. Stine tetap menulis. Banyak penulis menjadi tawanan karya terbaik mereka. Stine malah menambah daftar karya baru.

Sampai hari ini, seri-seri baru masih muncul. Adaptasi televisi terus dibuat. Nama R. L. Stine masih ditemukan di rak buku anak-anak yang bahkan lahir puluhan tahun setelah puncak kejayaan Goosebumps.

Kadang saya membayangkan tumpukan manuskrip yang pernah keluar dari tangannya. Kertas demi kertas. Ribuan halaman. Jutaan kata. Berat fisiknya mungkin mencapai ratusan kilogram jika semuanya dicetak dan ditumpuk dalam satu ruangan.

Mesin ketik tua yang ditemukan seorang anak sembilan tahun di loteng rumah keluarga Stine di Columbus tampaknya tidak pernah benar-benar berhenti berbunyi. Bahkan ketika dunia berubah, toko buku tutup, internet datang, layar mengambil alih perhatian manusia, gema ketukan tombol itu masih terdengar samar dari balik rak cerita horor anak-anak.

Di sampul sebuah buku, Slappy si boneka ventriloquist masih tersenyum. Matanya tetap terbuka.

Related

Tokoh 8495186056266588710

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item