Telaga Biru di Bengkulu Disangka Obat Keramat, Ternyata Zat Berbahaya
https://www.belajarsampaimati.com/2026/06/telaga-biru-di-bengkulu-disangka-obat.html?m=0
![]() |
| Ilustrasi/zonamahasiswa.id |
Sebuah telaga mendadak berwarna biru di tengah kebun sawit. Orang-orang datang berbondong-bondong. Mereka mengambil airnya dengan botol plastik. Mereka membasuh muka. Sebagian membawa pulang airnya. Seorang perempuan bernama Sumiarti datang dengan harapan sederhana: gatal-gatal di kakinya sembuh setelah dicuci menggunakan air dari telaga itu.
Beberapa minggu kemudian, hasil laboratorium keluar. Air itu tidak layak diminum.
Warna birunya bukan tanda keajaiban. Bukan pula pesan gaib yang muncul dari perut bumi. Penyebabnya jauh lebih biasa, jauh lebih membosankan, dan justru karena itulah lebih penting untuk dipahami: fosfat berlebih dari pupuk sawit, alga yang berkembang akibat limpahan nutrisi, dan senyawa kimia yang dilepaskan organisme mikroskopis tersebut ke dalam air.
Kisah Telaga Biru di Desa Talang Boseng, Kecamatan Pondok Kelapa, Bengkulu Tengah, sebenarnya bukan cerita tentang air. Itu adalah cerita tentang cara manusia bereaksi terhadap keanehan.
Manusia memiliki hubungan yang aneh dengan hal-hal yang tidak biasa. Seekor kambing lahir dengan bentuk tubuh berbeda, orang berdatangan. Pohon yang batangnya menyerupai wajah manusia, mendadak jadi tempat ziarah. Batu yang mengeluarkan warna tertentu dianggap memiliki kekuatan khusus. Air telaga berubah biru, lalu puluhan orang datang membawa jeriken.
Padahal, jika dipikir-pikir, perubahan warna adalah salah satu hal paling umum dalam dunia alam. Daun berubah warna. Sungai berubah warna. Laut berubah warna. Danau berubah warna. Mikroorganisme terus-menerus melakukan hal-hal aneh yang tidak pernah kita lihat. Dunia biologis penuh dengan proses yang jauh lebih ganjil daripada cerita-cerita mistis yang sering beredar.
Yang membuat saya gelisah bukan karena warga Talang Boseng atau Sidodadi datang melihat telaga tersebut. Rasa ingin tahu adalah hal yang sehat. Saya mungkin juga akan datang jika tinggal di sekitar sana. Air berwarna biru terang di tengah perkebunan sawit memang mengundang perhatian. Mata manusia memang dirancang untuk tertarik pada sesuatu yang menyimpang dari pola normal.
Kegelisahan saya muncul ketika rasa ingin tahu melompat terlalu cepat menjadi keyakinan.
Jarak antara "aneh" dan "ajaib" ternyata sangat pendek. Jarak antara "belum tahu penyebabnya" dan "pasti ada kekuatan khusus" bahkan lebih pendek lagi.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Bengkulu Tengah, Mahendra Gustian, menjelaskan bahwa hasil uji laboratorium menemukan kadar BOD, COD, dan fosfat yang melebihi baku mutu. Telaga tersebut berada di tengah perkebunan sawit. Sebagian pupuk tidak terserap tanaman. Nutrien berlebih masuk ke badan air. Alga berkembang. Alga menghasilkan senyawa tertentu. Air berubah warna.
Penjelasan itu sebenarnya menarik. Sangat menarik. Masalahnya, penjelasan ilmiah sering kalah pamor dibanding cerita ajaib. Alga tidak punya karisma. Fosfat tidak terdengar romantis. BOD dan COD tidak membuat orang berdebar-debar.
Bandingkan dengan narasi yang muncul ketika sebuah fenomena belum dijelaskan. Air keramat. Telaga penyembuh. Pertanda alam. Tempat berkah. Dalam hitungan jam, imajinasi kolektif manusia mampu menghasilkan cerita yang jauh lebih memikat daripada laporan laboratorium.
Saya teringat betapa sering pola itu muncul di Indonesia. Hampir setiap tahun muncul fenomena serupa. Mata air yang dianggap menyembuhkan penyakit. Pohon yang dianggap menangis. Batu yang dianggap keramat. Cahaya tertentu yang dianggap penampakan. Sebagian menghilang setelah penjelasan ilmiah muncul. Sebagian tetap bertahan meskipun penjelasannya sudah tersedia.
Fakta ternyata tidak selalu mengalahkan cerita. Kadang cerita menang telak.
Ironisnya, banyak orang menganggap sains itu dingin dan tidak menarik. Padahal kenyataan yang ditemukan sains sering jauh lebih liar daripada versi mistisnya. Bayangkan sebuah telaga yang berubah warna karena miliaran organisme mikroskopis bereaksi terhadap limpahan nutrisi dari aktivitas manusia di sekitarnya. Benda-benda yang tidak terlihat mata sedang mengubah seluruh penampilan sebuah lanskap. Bukankah itu luar biasa?
Telinga kita hanya sudah terbiasa mendengar kata "alga", sehingga keajaibannya menguap. Sementara kata "keajaiban" selalu terdengar segar.
Fenomena Bengkulu Tengah juga memperlihatkan persoalan yang lebih praktis. Ketika sesuatu dipercaya memiliki khasiat tanpa dasar yang jelas, tubuh manusia menjadi tempat eksperimen.
Sumiarti mencuci kaki yang gatal dengan air telaga, karena berharap sembuh. Orang lain mengambil air untuk dibawa pulang. Puluhan orang datang setiap hari. Tidak ada yang benar-benar tahu kandungan air tersebut saat itu. Tidak ada yang tahu apakah aman untuk kulit. Tidak ada yang tahu apakah terdapat mikroorganisme tertentu. Tidak ada yang tahu apa konsekuensinya jika dikonsumsi.
Ketidaktahuan berubah menjadi tindakan.
Di titik tertentu, ini bukan lagi persoalan kepercayaan pribadi. Ini sudah masuk wilayah kesehatan masyarakat.
Saya sering merasa masyarakat kita memiliki hubungan yang timpang dengan konsep bukti. Banyak orang menuntut bukti yang sangat tinggi untuk hal-hal yang tidak mereka sukai, tetapi hampir tidak membutuhkan bukti sama sekali untuk hal-hal yang ingin mereka percayai.
Jika seseorang mengatakan vaksin bermanfaat, sebagian orang meminta data puluhan tahun. Jika seseorang mengatakan air biru bisa menyembuhkan penyakit, cukup satu cerita dari tetangga. Struktur psikologisnya aneh.
Manusia tidak selalu mencari kebenaran. Sering kali manusia mencari cerita yang ingin mereka dengar.
Perkembangan media sosial mempercepat semuanya. Dulu, sebuah telaga aneh mungkin hanya jadi pembicaraan satu desa. Sekarang foto berwarna mencolok dapat beredar ke seluruh Indonesia dalam beberapa jam. Sebelum peneliti datang, sebelum laboratorium bekerja, sebelum sampel dianalisis, kesimpulan sudah telanjur diproduksi massal.
Foto bergerak lebih cepat daripada verifikasi. Video berdurasi tiga puluh detik lebih cepat daripada laporan ilmiah setebal puluhan halaman.
Banyak orang mengeluh bahwa masyarakat kurang literasi sains. Saya kira masalahnya sedikit berbeda. Sebagian besar orang sebenarnya mampu memahami penjelasan ilmiah sederhana. Penjelasan Mahendra Gustian tidak rumit. Fosfat tinggi. Alga berkembang. Warna berubah. Itu bukan konsep yang mustahil dipahami.
Persoalannya terletak pada selera. Cerita ilmiah sering datang terlambat. Ketika cerita ilmiah tiba, panggung sudah dipenuhi narasi yang lebih memuaskan secara emosional.
Sore hari di Telaga Biru Talang Boseng mungkin terlihat sangat indah. Air berwarna biru memantulkan cahaya. Kebun sawit mengelilinginya. Orang-orang berdiri di tepiannya sambil mengambil foto. Saya bisa memahami kenapa tempat itu menarik perhatian. Mata manusia memang mudah jatuh cinta pada warna yang tidak biasa.
Yang lebih menarik justru respons manusianya. Sebuah perubahan kimia di air mampu mengundang harapan, keyakinan, spekulasi, dan kunjungan banyak orang. Telaga itu sebenarnya sedang memperlihatkan sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri. Bukan tentang alga. Bukan tentang fosfat. Bukan pula tentang perkebunan sawit.
Yang terlihat adalah betapa cepatnya manusia mengisi ruang kosong pengetahuan dengan cerita yang terasa nyaman. Sampel air bahkan belum selesai diuji ketika sebagian orang sudah memasukkan airnya ke dalam botol dan membawanya pulang.
Laboratorium bekerja beberapa minggu. Keyakinan hanya butuh beberapa menit.

.png)

