Evanescence, Amy Lee, dan Lagu yang Datang dari Masa Lalu

Ilustrasi/loudersound.com
Piano “My Immortal” masuk pelan seperti gerimis, lalu gitar Evanescence datang membawa sesuatu yang lebih berat. Bukan sekadar rock. Bukan sekadar metal. Ada rasa gereja tua, drama gothic, soundtrack film vampir murahan awal 2000-an, dan kemarahan remaja yang belum tahu harus ditumpahkan ke mana.

Lalu suara Amy Lee muncul. Selesai sudah. Lagu itu langsung punya identitas.

Sulit menjelaskan ke orang yang tidak hidup di awal 2000-an betapa besar Evanescence saat “Bring Me to Life” meledak. Video musiknya diputar terus-menerus di MTV. Amy Lee memanjat gedung dengan gaun tidur. Rambut hitam panjang. Eyeliner tebal. Wajah pucat seperti tokoh komik goth yang mendadak hidup. Anak-anak warnet mengunduh lagunya pelan-pelan lewat LimeWire atau 4shared dengan koneksi yang membuat satu MP3 terasa seperti hasil perjuangan. Dan lagu itu terdengar berbeda dibanding band lain saat itu.

Nu metal sedang besar, waktu itu. Linkin Park ada di mana-mana. Korn, Limp Bizkit, Papa Roach. Dunia rock penuh gitar tebal dan laki-laki berteriak memakai cargo pants longgar. Evanescence masuk dari arah berbeda. Mereka membawa piano. Itu penting.

Orang sering membicarakan Amy Lee seolah dia sendirian penyebab ledakan Evanescence. Memang suaranya luar biasa. Bahkan terlalu khas. Vibrato-nya dramatis. Kadang terdengar seperti penyanyi opera yang dilempar ke dunia alternative metal. Tetapi kalau hanya suara Amy Lee tanpa Evanescence, hasilnya mungkin tidak akan sebesar itu.

Mungkin akan jadi penyanyi soundtrack. Mungkin seperti Ruelle yang suaranya sering dipakai trailer film dan serial TV; indah, emosional, atmosferik, lalu lewat begitu saja di kepala publik. Atau seperti Avril Lavigne di jalur pop-rock yang lebih ringan, lebih mudah dikonsumsi, lebih aman. Amy Lee membutuhkan tembok suara di belakangnya.

Gitar Ben Moody di era awal Evanescence sangat menentukan. Kadang orang meremehkannya karena fokus ke Amy Lee, padahal riff-riff sederhana tapi berat dari “Going Under” atau “Bring Me to Life” memberi fondasi yang membuat vokal Amy Lee tidak melayang jadi sekadar teatrikal. Drumnya juga penting. Bass-nya. Bahkan cara mixing album Fallen dibuat terasa seperti gabungan gereja gothic dan radio rock mainstream.

Kalau Amy Lee dilepas dari Evanescence lalu disuruh bernyanyi di atas musik yang terlalu bersih, hasilnya bisa terlalu melodramatis. Sedikit berlebihan, malah. Evanescence memberi gesekan kasar yang dibutuhkan suara Amy Lee.

Sebaliknya, kalau Amy Lee keluar dan band itu diteruskan tanpa dia, mungkin memang nasibnya akan seperti banyak band alternative metal awal 2000-an lain; lumayan dikenal penggemar genre, lalu perlahan tenggelam di bawah bayangan Metallica, Disturbed, atau Breaking Benjamin.

Suara Amy Lee membuat Evanescence langsung dikenali dalam tiga detik pertama. Itu kekuatan langka.

Saya bahkan kadang merasa banyak orang tidak benar-benar menyukai musik Evanescence secara utuh. Mereka menyukai sensasi Amy Lee berada di atas musik keras. Kontras itu yang bikin candu. Suara perempuan yang terdengar rapuh sekaligus mengintimidasi, berdiri di atas gitar distorsi berat.

Tahun-tahun setelah Fallen, industri musik langsung kebanjiran band rock dengan vokalis perempuan. Within Temptation mulai lebih luas dikenal. Nightwish makin sering dibicarakan. Flyleaf muncul dengan Lacey Sturm yang sama-sama punya energi emosional meledak-ledak. Belakangan muncul Halestorm dengan Lzzy Hale. Tetapi Evanescence tetap duduk di tempat khusus.

Mungkin karena mereka datang tepat di momen budaya yang pas. Anak-anak remaja awal 2000-an sedang mabuk nuansa gelap. Film seperti Underworld dan The Matrix membuat estetika hitam-kelam terasa keren. Forum internet penuh avatar malaikat patah sayap dan quote sedih warna merah darah. Wallpaper desktop dipenuhi gambar bulan dan mawar hitam murahan. Evanescence terdengar seperti soundtrack sempurna untuk masa itu.

Dan Amy Lee sangat fotogenik untuk estetika tersebut. Itu fakta yang kadang pura-pura diabaikan orang saat membahas musik. Wajah, penampilan, aura visual—semua ikut bekerja. Amy Lee di video klip awal Evanescence tampak seperti karakter yang memang lahir dari internet era DeviantArt dan forum gothic.

Saya masih ingat sensasi mendengar “Bring Me to Life” pertama kali lewat speaker komputer tabung yang suaranya sedikit pecah. Ada bagian rap Paul McCoy dari 12 Stones yang sekarang terdengar agak lucu dan terlalu “2003”; tetapi ketika reff Amy Lee masuk, lagu itu seperti membuka pintu besar.

“Wake me up inside…” 

Selesai. Kepala langsung penuh.

Orang-orang sekarang sering menganggap Evanescence terlalu emo atau terlalu teatrikal. Memang iya. Tetapi justru itu yang membuat mereka hidup. Mereka tidak malu terdengar besar, gelap, emosional, bahkan sedikit norak. Musik modern sekarang sering terlalu takut terdengar tulus. Semua dibungkus ironi atau dibuat minimalis supaya tampak dingin dan pintar.

Evanescence justru menabrak dengan emosi penuh. Kadang berlebihan? Tentu. Tetapi lebih baik berlebihan daripada steril.

Amy Lee sendiri, setelah era kejayaan awal, tampak makin menjauh dari citra “goth queen” yang dulu dilekatkan media kepadanya. Dia berkembang jadi musisi yang lebih matang, lebih tenang. Bahkan ketika mendengarkan wawancaranya sekarang, ada kesan bahwa dia sendiri mungkin agak heran kenapa Evanescence bisa meledak sedahsyat itu.

Karena memang kombinasi mereka agak mustahil. Vokal klasik bercampur alternative metal radio-friendly. Piano gelap bercampur riff yang cukup sederhana untuk diputar di MTV terus-menerus. Nuansa religius samar bercampur drama patah hati remaja. Semua elemen itu seharusnya terdengar kacau. Tetapi malah menyatu.

Dan mungkin itu alasan Evanescence bertahan di kepala banyak orang lebih lama dibanding sebagian besar band sezamannya. Mereka punya identitas terlalu kuat untuk tertukar. Bahkan orang yang tidak mengikuti rock pun biasanya langsung tahu ketika mendengar suara Amy Lee.

Mereka mungkin lupa nama albumnya. Lupa nama personel lain. Lupa lirik lengkapnya. Tetapi begitu piano “My Immortal” mulai berbunyi, atau gitar “Going Under” menghantam speaker mobil tua, tubuh langsung mengenali.

Saya juga tidak sepenuhnya setuju ketika orang menyebut Evanescence sebagai band metal besar. Mereka terlalu melodramatis untuk metal puritan. Terlalu pop untuk sebagian penggemar metal garis keras. Tetapi justru posisi setengah tanggung itu yang membuat mereka besar secara komersial.

Metallica terdengar seperti dunia laki-laki penuh bir, amarah, dan riff baja. Evanescence terdengar seperti kamar remaja gelap dengan poster malaikat rusak ditempel miring di dinding.

Dan jutaan orang masuk ke kamar itu.

Related

Entertainment 7927986836205278317

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item