Jean-Paul Marat Ditikam di Bak Mandi, Revolusi Prancis Kian Berdarah
https://www.belajarsampaimati.com/2026/07/jean-paul-marat-ditikam-di-bak-mandi.html?m=0
![]() |
| Ilustrasi/aventurasnahistoria.com.br |
Kulit Jean-Paul Marat terasa terbakar oleh penyakit yang tidak kunjung pergi. Gatal yang nyaris tidak tertahankan. Luka-luka yang membuatnya sulit duduk, sulit tidur, sulit menjalani hari seperti manusia normal. Selama berbulan-bulan, bak mandi menjadi kantornya. Tempat kerja seorang revolusioner paling ditakuti di Prancis ternyata bukan mimbar, bukan gedung parlemen, bukan markas militer, tapi sebuah bak berisi air obat.
Di sanalah ia menulis. Di sanalah ia membaca laporan. Di sanalah ia menyusun daftar nama. Di sanalah seorang perempuan datang untuk membunuhnya.
Gambar yang tersisa dari peristiwa itu begitu terkenal hingga sering mengaburkan kenyataan yang jauh lebih aneh. Banyak orang mengenal Marat bukan melalui tulisan-tulisannya yang meledak-ledak, tetapi melalui lukisan karya Jacques-Louis David: tubuh pucat setengah telanjang, kepala terkulai, tangan masih menggenggam surat. Lukisan itu nyaris terlihat seperti gambar seorang santo. Marat sendiri mungkin akan tertawa sinis melihatnya.
Sebelum menjadi ikon Revolusi Prancis, ia adalah sosok yang sulit dikategorikan. Lahir di Boudry, wilayah yang kini berada di Swiss, pada 1743. Ia pernah menjadi dokter. Pernah menulis tentang listrik. Pernah menulis teori ilmiah yang dianggap aneh oleh kalangan akademik. Pernah tinggal di Inggris. Pernah mencoba menjadi intelektual yang dihormati.
Dunia tidak memberinya penghormatan yang ia inginkan. Revolusi memberinya sesuatu yang lebih berbahaya: audiens.
Saat Bastille jatuh pada 1789 dan Prancis mulai berguncang, Marat menemukan perannya. Surat kabarnya, L'Ami du Peuple—"Sahabat Rakyat"—menjadi salah satu media paling berpengaruh sekaligus paling ditakuti di Paris. Ia menulis seperti orang yang sedang bertengkar, bukan seperti orang yang sedang menjelaskan sesuatu. Kalimat-kalimatnya penuh tuduhan. Penuh amarah. Penuh nama-nama spesifik.
Politikus tertentu harus ditangkap. Pejabat tertentu harus dihukum. Pengkhianat tertentu harus disingkirkan.
Pembaca modern kadang terkejut saat menemukan betapa kasarnya bahasa politik pada masa itu. Marat bukan komentator netral yang menjaga jarak dari peristiwa. Ia berada di tengah arena sambil melempar batu ke segala arah.
Paris pada 1793 juga bukan kota yang tenang. Revolusi telah memakan banyak anaknya sendiri. Raja Louis XVI sudah dipenggal beberapa bulan sebelumnya. Guillotine bekerja hampir setiap hari. Ketakutan menyebar lebih cepat daripada berita. Kecurigaan menjadi mata uang politik. Sebuah kata yang salah bisa membuat seseorang kehilangan kepala.
Kelompok Jacobin yang radikal sedang naik daun. Kelompok Girondin sedang tersingkir. Persaingan politik tidak lagi diselesaikan dengan pidato. Penjara penuh. Pengadilan revolusioner sibuk. Marat menjadi salah satu simbol kubu Jacobin.
Charlotte Corday membencinya.
Corday lahir di Saint-Saturnin-des-Ligneries, Normandia. Ia berasal dari keluarga bangsawan kecil yang kehidupannya tidak terlalu istimewa. Ia membaca Voltaire. Membaca Rousseau. Mengikuti perkembangan revolusi dengan penuh perhatian. Ketika tokoh-tokoh Girondin mulai ditangkap dan disingkirkan dari panggung politik, Corday sampai pada kesimpulan yang menurutnya masuk akal: beberapa orang harus disingkirkan agar Prancis bisa diselamatkan. Marat berada di urutan atas daftar itu.
Banyak pembunuh politik dalam sejarah bertindak karena kemarahan mendadak. Corday tidak. Ia membeli pisau dapur dengan bilah sekitar lima inci di Palais-Royal. Ia naik kereta menuju Paris. Ia mempersiapkan alasan untuk menemui targetnya. Ketenangan semacam itu justru membuat kisah ini terasa lebih dingin.
Tanggal 13 Juli 1793, cuaca Paris cukup panas. Marat berada di rumahnya di Rue des Cordeliers. Penyakit kulitnya sedang kambuh. Ia menghabiskan waktu di bak mandi yang dilapisi papan kayu agar bisa digunakan sebagai meja kerja.
Corday datang. Pelayan menolaknya. Ia kembali. Ditolak lagi. Ia mengirim pesan bahwa dirinya membawa informasi penting mengenai para pengkhianat Girondin di Caen. Informasi semacam itu hampir mustahil diabaikan oleh Marat. Ia akhirnya diterima.
Ruangan peristiwa itu tidak besar. Tidak megah. Tidak cocok untuk adegan yang nantinya akan masuk buku sejarah dunia. Marat duduk di dalam bak. Kertas-kertas berserakan di dekatnya. Pena dan tinta berada dalam jangkauan tangannya.
Corday mulai berbicara. Marat mendengarkan. Ia mencatat beberapa nama. Pada satu titik, menurut laporan yang kemudian beredar, Marat mengatakan bahwa orang-orang yang disebutkan Corday akan segera dikirim ke guillotine.
Corday mengeluarkan pisaunya. Satu tikaman. Hanya satu. Pisau menembus bagian atas dada dan merusak arteri utama dekat jantung. Luka itu fatal. Darah segera memenuhi air bak mandi.
Marat sempat berteriak meminta bantuan. Beberapa detik kemudian semuanya selesai.
Yang sering membuat saya berhenti saat membaca kisah ini bukan pembunuhannya sendiri, tapi kecepatan perubahan identitas setelah kematian. Marat hidup sebagai figur yang sangat kontroversial. Banyak orang membencinya. Banyak yang menganggapnya berbahaya. Banyak pula yang memujanya.
Beberapa jam setelah mati, ia mulai berubah menjadi martir. Revolusi sangat pandai menciptakan simbol.
Jacques-Louis David datang untuk melihat jenazahnya. David bukan sekadar pelukis terkenal. Ia juga anggota Konvensi Nasional dan sekutu politik Marat. Keduanya berada di kubu yang sama. David melihat peluang yang jauh lebih besar daripada dokumentasi kematian. Ia melihat kesempatan untuk menciptakan ikon.
Lukisan The Death of Marat yang lahir dari peristiwa itu sangat cerdas secara politik. Luka yang sebenarnya tampak mengerikan disederhanakan. Penyakit kulit Marat hampir dihapus. Ruangan kumuh dipoles menjadi ruang yang nyaris suci. Wajahnya dibuat tenang.
Tubuh yang dalam kenyataan sedang membusuk akibat penyakit diubah menjadi tubuh yang hampir sempurna.
Propaganda sering bekerja seperti itu. Bukan dengan berbohong sepenuhnya, tetapi dengan memilih apa yang akan ditampilkan dan apa yang akan disembunyikan.
Saat melihat lukisan tersebut secara langsung, banyak pengunjung museum mengaku terkejut oleh ukurannya. Reproduksi di buku membuatnya tampak biasa. Versi aslinya memiliki kehadiran fisik yang sulit diabaikan. Sosok Marat terasa hampir melayang keluar dari kanvas.
Corday sendiri tidak mencoba melarikan diri. Ia ditangkap di tempat. Diinterogasi. Diadili. Ketika ditanya mengapa ia membunuh Marat, jawabannya terkenal: ia membunuh satu orang untuk menyelamatkan seratus ribu.
Jawaban itu tidak menyelamatkannya. Empat hari kemudian, Charlotte Corday naik kereta menuju Place de la Révolution. Guillotine menunggu. Algojo Charles-Henri Sanson menjalankan tugasnya seperti biasa. Kepala Corday dipisahkan dari tubuhnya. Seorang asisten algojo kemudian menampar kepala yang baru dipenggal itu.
Laporan saksi mata menyebut pipi Corday tampak memerah sesaat. Sejarah Revolusi Prancis dipenuhi detail-detail ganjil yang terasa terlalu liar untuk dimasukkan ke novel.
Pembunuhan Marat tidak menghentikan Masa Teror. Justru memperkuatnya. Tokoh-tokoh Jacobin menggunakan kematiannya sebagai bahan bakar politik. Potret Marat dipajang. Patung dibuat. Upacara penghormatan digelar. Namanya diteriakkan dalam rapat-rapat.
Corday membayangkan satu tikaman akan mengubah arah revolusi. Revolusi malah menelan kematian itu dan menggunakannya sebagai mesin propaganda baru.
Beberapa bulan kemudian, guillotine bekerja lebih cepat daripada sebelumnya. Nama-nama terus bertambah. Kereta-kereta terus bergerak menuju tempat eksekusi. Udara Paris dipenuhi bau keringat, lumpur, kuda, dan ketakutan.
Pisau yang dibeli Corday di Palais-Royal sudah lama disita sebagai barang bukti. Bak mandi Marat masih berlumuran noda yang sulit dibersihkan.
David terus melukis.


