Kebakaran Besar London Tahun 1212, Ribuan Orang Tewas

Ilustrasi/jawapos.com
Asap menekan rendah di atas jalan-jalan sempit London. Bukan asap tipis dari tungku roti atau perapian rumah tangga yang setiap hari menggelantung di udara kota abad pertengahan. Asap kali ini tebal, panas, dan bergerak cepat seperti makhluk hidup yang baru dilepaskan dari kandang. 

Orang-orang berlari sambil membawa apa saja yang sempat mereka raih: karung gandum, peti kayu, salib kecil dari ruang doa, seekor ayam yang meronta di bawah ketiak. Sebagian besar tidak membawa apa-apa. Ketika api mulai melompat dari atap ke atap, keputusan tentang benda apa yang layak diselamatkan jadi kemewahan yang sudah terlambat.

London pada awal abad ke-13 bukan kota batu yang dibayangkan banyak orang ketika mendengar nama itu. Memang berdiri bangunan-bangunan penting seperti St Paul's Cathedral lama dan Tower of London, tetapi sebagian besar kota dibangun dari bahan yang sangat mudah terbakar. 

Rumah-rumah kayu berdempetan rapat. Lantainya terbuat dari papan. Atapnya banyak yang menggunakan jerami. Bengkel pandai besi, toko roti, dapur umum, gudang penyimpanan, semuanya menyimpan bara dan api hampir sepanjang hari. London bukan sekadar rentan terhadap kebakaran. London praktis sedang menunggu kebakaran.

Pada musim panas 10 Juli 1212, penantian itu berakhir.

Sumber-sumber abad pertengahan tidak selalu sepakat mengenai rincian peristiwa. Kronik-kronik yang bertahan sering bercampur antara laporan, rumor, dan keyakinan religius. Beberapa catatan menyebut kebakaran bermula di Southwark, kawasan di selatan Sungai Thames. Kawasan itu padat, riuh, penuh penginapan, pasar, gudang, dan lalu lintas manusia yang datang dari berbagai penjuru Inggris. Api yang muncul di sana menemukan makanan yang sempurna: kayu kering, angin musim panas, dan kota yang dibangun tanpa konsep jarak aman.

Kebakaran besar London tahun 1212 sering tenggelam dalam bayang-bayang kebakaran yang lebih terkenal pada tahun 1666. Nama Great Fire of London begitu mendominasi ingatan sejarah, sehingga peristiwa 1212 nyaris seperti catatan kaki. Padahal, bagi warga yang hidup pada masa pemerintahan King John, kebakaran itu merupakan bencana yang sangat nyata dan sangat dekat. Tidak ada pemadam kebakaran profesional. Tidak ada mobil tangki. Tidak ada sistem komunikasi darurat. Ketika api datang, yang tersedia hanyalah ember, kapak, doa, dan kepanikan.

Sungai Thames biasanya menjadi jalur penyelamat. Air mengalir lebar di tengah kota. Naluri manusia sederhana: lari menuju air. Masalahnya, ribuan orang memiliki gagasan yang sama pada waktu yang sama.

Jembatan London lama, Old London Bridge, menjadi salah satu titik paling mengerikan dalam tragedi tersebut. Jembatan itu bukan sekadar jembatan. Di atasnya berdiri rumah-rumah, toko-toko, dan bangunan lain yang berdesakan. Lebarnya terbatas. Ketika warga berusaha menyeberang untuk menghindari kobaran api, arus manusia bertemu dengan arus api.

Beberapa kronik menyebut api menjalar ke jembatan dan menjebak orang-orang di atasnya. Mereka terperangkap di antara dinding api dan sungai di bawah. Catatan dari rahib kronikus Roger of Wendover menggambarkan kematian dalam jumlah besar. Angka korban yang ia tuliskan—hingga ribuan jiwa—sering diperdebatkan oleh sejarawan modern, tetapi inti ceritanya tetap mengerikan. Orang-orang yang berusaha menyelamatkan diri justru bergerak menuju perangkap.

Saya selalu menganggap bagian paling menakutkan dari kebakaran kota bukanlah nyalanya. Api terlihat jelas. Bahaya yang benar-benar mengacaukan manusia adalah kepadatan. Tubuh manusia berubah jadi hambatan bagi tubuh manusia lain. Seseorang tersandung, yang lain jatuh menimpanya. Napas jadi pendek. Tulang rusuk tertekan. Dalam banyak bencana besar sepanjang sejarah, orang tidak mati karena ancaman utama, tapi karena ribuan orang bereaksi terhadap ancaman itu secara bersamaan.

Kronik abad pertengahan menyebut beberapa korban melompat ke Thames. Air yang biasanya menjadi sumber kehidupan berubah jadi kuburan. Sebagian tenggelam karena tidak bisa berenang. Sebagian lagi mungkin mengenakan pakaian berat yang menyerap air. Sulit membayangkan sensasi saat itu: panas membakar wajah dari satu arah, air sungai yang dingin menghantam tubuh dari arah lain, paru-paru bekerja keras menghirup udara yang penuh jelaga.

Mata pasti perih luar biasa. Telinga mungkin dipenuhi suara yang tidak lagi bisa dibedakan: kayu runtuh, hewan melenguh, lonceng gereja, teriakan nama anggota keluarga.

Sejarah sering menyederhanakan tragedi menjadi satu kalimat. "Kebakaran besar melanda London." Kalimat itu terlalu bersih. Terlalu rapi. Yang hilang adalah detail-detail kecil yang sebenarnya membentuk pengalaman manusia. Seorang tukang sepatu yang kehilangan seluruh persediaan kulitnya. Seorang ibu yang berhasil menyelamatkan anaknya tetapi kehilangan rumahnya. Seorang pedagang yang menyaksikan hasil kerja dua puluh tahun berubah menjadi abu dalam satu sore.

Abad pertengahan sangat menyukai penjelasan moral. Banyak orang pada masa itu tidak melihat kebakaran sebagai kecelakaan teknis. Mereka melihatnya sebagai hukuman ilahi. London pada awal abad ke-13 sedang mengalami berbagai ketegangan. Raja John sedang berselisih dengan Paus. Inggris menghadapi konflik politik yang akan meledak menjadi krisis beberapa tahun kemudian dan melahirkan Magna Carta. Dalam suasana seperti itu, api mudah dibaca sebagai pesan dari langit.

Saya tidak terlalu tertarik pada penjelasan tersebut. Yang lebih menarik justru bagaimana manusia selalu mencari makna ketika berhadapan dengan kehancuran besar. Rumah terbakar karena kayu terbakar. Kota terbakar karena kota dibangun dari bahan yang mudah terbakar. Tetapi manusia jarang puas dengan penjelasan sesederhana itu. Kita ingin alasan yang lebih besar. Kita ingin drama kosmik.

Beberapa abad kemudian, London akan terbakar lagi. Kota-kota lain juga terbakar. Chicago terbakar. Hamburg terbakar. Tokyo terbakar. Polanya berulang dengan kostum berbeda. Kepadatan penduduk, bahan bangunan yang salah, cuaca buruk, kelalaian, perang. Peradaban manusia memiliki bakat aneh untuk membangun sesuatu yang rumit di atas fondasi yang rentan.

Kebakaran 1212 juga menunjukkan sesuatu yang jarang dibicarakan ketika orang memuja kota-kota abad pertengahan. Banyak gambaran populer tentang masa itu dipenuhi kastel, katedral, dan pasar yang romantis. Kenyataannya jauh lebih rapuh. Sedikit percikan bisa menghapus satu lingkungan. Sedikit penyakit bisa mengurangi populasi secara drastis. Sedikit gagal panen bisa mengubah kehidupan ribuan orang.

Kita sering membayangkan kemajuan teknologi sebagai kumpulan penemuan besar: mesin uap, listrik, komputer. Sebagian kemajuan yang paling penting justru membosankan. Kode bangunan. Standar konstruksi. Jarak antarbangunan. Sistem pemadam kebakaran. Regulasi penyimpanan bahan bakar. Hal-hal yang jarang muncul dalam film sejarah.

Sore hari setelah kebakaran mereda, London masih berdiri. Sebagian kota menjadi arang. Sebagian lain selamat. Orang-orang menghitung kerugian, mencari keluarga, mengais barang dari puing yang masih hangat. Bau kayu terbakar mungkin bertahan berhari-hari. Mungkin berminggu-minggu.

Beberapa orang pasti berjalan melewati lokasi rumah mereka sendiri dan berhenti karena tidak yakin sedang melihat tempat yang benar. Semua penanda hilang. Tidak ada pintu. Tidak ada pagar. Tidak ada bengkel. Tidak ada warung. Hanya lapisan hitam dan abu.

Seekor anjing mengendus sesuatu di dekat reruntuhan.

Seseorang mungkin masih mencari namanya dipanggil dari seberang asap.

Related

Sejarah 7399154915931674143

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item