Menikah di Zaman Sekarang Lebih Sulit daripada Sepuluh Tahun Lalu

Ilustrasi/baznasdepok.id
Lampu studio menyala terlalu putih. Kulit manusia jadi tampak seperti plastik. Di depan kamera, seorang influencer hubungan rumah tangga menangis sambil menjelaskan kenapa ia menceraikan suaminya, “Aku capek jadi perempuan yang harus menurunkan standar.” 

Kalimat itu dipotong jadi reels 47 detik, diberi musik piano, lalu dibanjiri komentar; “queen energy”, “know your worth”, “healing dulu sis”.

Sementara itu, di kota-kota kecil, laki-laki pulang kerja dengan bau matahari dan asap motor di jaketnya, membuka Instagram, lalu melihat standar hidup yang terasa seperti selebaran dunia paralel. Ada apartemen di Kuningan dengan kitchen set marmer putih, ada suami yang tiap bulan memberi bunga Lily Casablanca, ada video “couple goals” di Kyoto dengan kamera Sony A7C dan color grading lembut seperti iklan parfum.

Orang mulai menikah bukan dengan manusia, tapi dengan feed. Itu yang rasanya berubah brutal dalam sepuluh tahun terakhir. Dulu orang jatuh cinta sambil duduk di teras rumah, sambil dengar suara sendok di gelas teh. Sekarang hubungan diuji algoritma. Seorang suami bukan cuma dibandingkan dengan tetangga atau mantan pacar. Ia dibandingkan dengan jutaan laki-laki yang muncul di layar setiap hari, hasil kurasi paling glamor dari internet global. Lelaki biasa kalah bahkan sebelum masuk arena.

Beberapa bulan lalu, ada unggahan di media sosial yang viral di Indonesia. Seorang perempuan menggugat cerai suaminya, karena dianggap tidak memenuhi “standar”. Standar itu kabur sekaligus sangat spesifik; tidak romantis, tidak ambisius, tidak mampu memberi gaya hidup yang ia lihat setiap hari di media sosial. Orang-orang langsung terbelah. Sebagian menyebut si perempuan materialistis. Sebagian lagi membela hak perempuan untuk punya ekspektasi tinggi. Aneh melihat betapa cepatnya perceraian berubah jadi konten debat publik, seperti pertandingan UFC.

Padahal yang lebih mengganggu justru hal kecil di baliknya; kata “standar”. Kata itu sekarang dipakai seperti sertifikat moral. Orang tidak lagi berkata “aku ingin hidup nyaman”. Mereka berkata “aku tahu value-ku”. Bahasa terapi bercampur bahasa marketing. Hubungan berubah seperti proses rekrutmen HRD startup Jakarta Selatan.

CV pasangan diperiksa. Emotional intelligence. Financial stability. Love language. Attachment style. Growth mindset. Kadang tinggal tunggu KPI dan evaluasi kuartalan.

Saya pernah membaca komentar seorang perempuan di TikTok yang menulis, “Kalau cowok belum bisa ngajak dinner minimal di Oyster Dealer atau Namaaz Dining, ngapain serius?” Komentar itu mendapat ribuan likes. Mungkin sebagian bercanda. Tapi internet punya kebiasaan buruk; bercanda terlalu lama sampai berubah jadi standar psikologis. Nama restoran ikut masuk ke struktur hasrat.

Di Jakarta, tempat seperti Henshin, SKYE, atau Lucy in The Sky bukan lagi sekadar tempat makan. Ia menjadi simbol kelas emosional. Orang datang bukan hanya untuk makan wagyu atau minum cocktail, tapi untuk membuktikan bahwa hidup mereka layak diunggah. Hubungan yang tidak fotogenik mulai terasa seperti hubungan gagal. Foto pasangan di warteg tidak punya masa depan di Explore Page.

Lalu muncul fenomena yang lebih absurd; orang-orang mulai belajar cinta dari konten pendek. Seorang pria membuka TikTok dan melihat video berjudul “5 Signs He’s a Low Value Man”. Video berikutnya; “Kalau dia masih naik motor Beat tahun 2017 di usia 30, run.” Di sisi lain, laki-laki dicekoki konten “high value male” yang isinya campuran Andrew Tate, gym culture, jam tangan Rolex, dan podcast penuh kemarahan pada perempuan. Dua kubu saling membangun monster masing-masing.

Hubungan modern jadi melelahkan karena setiap orang datang membawa penonton virtual di belakang kepalanya. Saat bertengkar, orang tidak hanya berpikir tentang pasangan, tapi juga bagaimana konflik itu akan dinilai internet. Ada perempuan yang diam-diam kecewa karena ulang tahunnya tidak dirayakan seperti video-video TikTok. Ada laki-laki yang panik karena belum bisa membeli iPhone terbaru untuk pacarnya padahal cicilan motornya belum lunas.

Tekanan itu nyata. Sangat fisik. Dada sesak. Kepala panas. Jari gemetar waktu membuka mobile banking tanggal tua.

Di Semarang, seorang pengemudi ShopeeFood pernah bercerita sambil tertawa getir bahwa pacarnya marah karena mereka tidak pernah “date aesthetic”. Ia menyebut kata aesthetic dengan logat Jawa yang terdengar canggung, seolah sedang mengucapkan istilah impor yang belum sepenuhnya menempel di mulutnya. Mereka akhirnya putus. Pacarnya kemudian pacaran dengan pegawai bank yang sering mengajak brunch di Spiegel Bar & Bistro Kota Lama. Kisah seperti itu sekarang sangat biasa.

Media sosial memperbesar rasa malu menjadi industri. Dulu orang malu karena miskin di lingkungan sekitar. Sekarang orang malu karena miskin dibanding dunia. Itu jauh lebih kejam. Seorang buruh pabrik di Cikarang bisa melihat kehidupan selebgram Dubai sebelum berangkat shift pagi jam 06.30. Otak manusia tidak dirancang untuk menerima perbandingan sebesar itu setiap hari.

Makanya banyak hubungan sekarang terasa tegang bahkan sebelum masalah nyata muncul. Orang masuk ke relasi sambil membawa ekspektasi visual yang tidak masuk akal. Liburan harus estetik. Pasangan harus lucu di kamera. Anniversary harus punya dokumentasi drone. Kalau tidak, hubungan terasa “kurang”.

Lucunya, banyak pasangan yang terlihat sempurna di internet justru tampak kosong saat dilihat lebih dekat. Saya pernah duduk di sebuah kafe di kawasan Senopati. Meja sebelah diisi pasangan muda yang sangat rapi; parfum mahal, tas Polène, sepatu New Balance putih bersih. Mereka mengambil foto selama hampir dua puluh menit. Setelah selesai, keduanya diam total sambil main ponsel masing-masing. Bahkan suara es batu di gelas terdengar lebih hidup dibanding percakapan mereka.

Pelayan datang mengantar truffle fries. Tidak ada yang menyentuh.

Internet juga menciptakan ilusi bahwa cinta harus selalu memuaskan secara emosional setiap saat. Sedikit bosan dianggap red flag. Sedikit dingin dianggap toxic. Orang lupa bahwa hidup sehari-hari sebenarnya banyak diisi hal banal; menunggu laundry selesai, badan lengket karena panas, ngantuk, kesal karena gas habis. Hubungan nyata punya bau. Media sosial tidak.

Di TikTok, orang bisa menghapus bagian ketika mereka muntah karena asam lambung, bertengkar soal uang listrik, atau duduk diam karena sama-sama capek. Yang tampil hanya Maldives, candle light dinner, dan caption “through thick and thin” dengan font tipis warna putih.

Satu hal yang jarang dibahas; media sosial membuat banyak orang kehilangan kemampuan mencintai manusia yang biasa. Semua orang sekarang dilatih untuk mencari versi terbaik, tercantik, tersukses, terseksi, paling healing, paling mature. Padahal sebagian besar manusia ya biasa saja. Bangun kesiangan. Kadang egois. Kadang malas membalas chat. Kadang ngomong kasar saat stres.

Rata-rata orang tidak hidup seperti video Pinterest. Lalu orang heran kenapa hubungan cepat retak.

Pernikahan orang tua kita dulu juga banyak yang buruk, tentu saja. Banyak yang bertahan karena tekanan sosial atau ekonomi. Saya tidak sedang meromantisasi masa lalu. Tapi ada sesuatu yang dulu lebih realistis; orang tahu mereka menikah dengan manusia yang terbatas. Sekarang orang menikah sambil membawa trailer film romantis di kepala. Dan trailer selalu lebih indah daripada kehidupan setelah lampu bioskop menyala.

Related

Psikologi 6708525428315957620

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item