Invasi Teluk Babi, Kegagalan Operasi CIA yang Paling Memalukan

Ilustrasi/liputan6.com
Asap mesiu bercampur bau garam laut di Playa Girón. Pasukan Kuba menembak dari posisi rendah, dekat semak bakau dan jalan berlumpur. Seorang pilot pesawat B-26 buatan Amerika jatuh di dekat pantai setelah dihantam tembakan anti-pesawat. Di Havana, Fidel Castro muncul dengan seragam hijau zaitun dan teropong tergantung di dada, wajahnya tampak seperti orang yang akhirnya mendapat pembenaran atas semua pidatonya tentang ancaman Amerika.

Washington panik. CIA lebih panik lagi.

Ada sesuatu yang nyaris memalukan dalam Invasi Teluk Babi tahun 1961. Bukan sekadar militer gagal. Bau kegagalannya terasa seperti ruang rapat penuh laki-laki berjas mahal yang terlalu lama percaya bahwa dunia bisa diatur lewat memo rahasia dan operasi intelijen murahan. 

Amerika Serikat waktu itu sedang mabuk kepercayaan diri. Mereka baru saja melewati Perang Dunia II sebagai raksasa global. CIA tumbuh menjadi organisasi yang merasa mampu menggulingkan siapa saja. Pada 1953, mereka membantu menjatuhkan Mohammad Mossadegh di Iran. Tahun berikutnya, Jacobo Árbenz di Guatemala disingkirkan lewat operasi yang juga melibatkan CIA. Di Washington, kesuksesan-kesuksesan itu menciptakan ilusi berbahaya; revolusi bisa dipatahkan seperti mematikan lampu kamar.

Lalu muncul Fidel Castro. Castro bukan birokrat abu-abu. Ia punya janggut tebal, suara berat, pidato yang bisa berlangsung berjam-jam, dan kemampuan langka membuat rakyat miskin Kuba merasa sedang hidup di tengah sejarah besar. Ketika ia memasuki Havana pada Januari 1959 setelah menggulingkan Fulgencio Batista, banyak wartawan Amerika justru terpikat. Herbert Matthews dari The New York Times pernah menulis tentang Castro dengan nada nyaris romantis.

Washington belum langsung panik saat itu. Pemerintahan Dwight Eisenhower awalnya masih mencoba membaca arah Castro. Apakah ia nasionalis biasa? Reformis agraria? Komunis? Masalahnya, Castro mulai menyita aset perusahaan-perusahaan Amerika di Kuba; perkebunan tebu, kilang minyak, jaringan utilitas. Nama-nama seperti United Fruit Company dan Texaco mendadak ikut masuk ke pusaran revolusi.

Orang-orang di CIA mulai berbicara tentang Kuba seperti dokter berbicara tentang infeksi yang harus segera diamputasi sebelum menyebar ke Amerika Latin.

Allen Dulles, Direktur CIA waktu itu, termasuk yang paling yakin Castro harus dijatuhkan. Di markas CIA di Langley dan kantor-kantor rahasia di Miami, operasi mulai dirancang. Para eksil Kuba direkrut. Banyak dari mereka berasal dari keluarga kaya Havana yang kehilangan rumah, bisnis, atau posisi sosial setelah revolusi. Sebagian benar-benar anti-komunis. Sebagian lain tampak seperti orang yang marah karena pelayan mereka kini mendukung Castro.

Mereka dilatih di Guatemala, dekat Retalhuleu. Kamp pelatihan itu panas dan penuh debu. Senapan M1 Garand dibagikan. Instruktur CIA mengajarkan sabotase, komunikasi radio, pendaratan amfibi. Brigade 2506 lahir dari situ—nama yang terdengar seperti kode gudang logistik, padahal kelak menjadi simbol salah satu kegagalan intelijen paling terkenal abad ke-20.

Presiden muda baru, bernama John F. Kennedy, masuk ke Gedung Putih pada Januari 1961. Umurnya 43 tahun. Rambut rapi. Wajah tampan khas keluarga kaya Boston. Ia tampak seperti tokoh utama film Hollywood tentang demokrasi Amerika. Di belakang citra glamor itu, Kennedy mewarisi rencana invasi yang sudah disusun sejak era Eisenhower.

Banyak orang di sekeliling Kennedy sebenarnya meragukan operasi tersebut. Senator J. William Fulbright mengingatkan bahwa invasi itu bisa menjadi bencana moral dan diplomatik. Tapi ruang kekuasaan punya atmosfer aneh; keraguan sering terdengar seperti kelemahan.

CIA menjual mimpi yang terlalu sempurna. Mereka bilang rakyat Kuba akan bangkit melawan Castro begitu pasukan eksil mendarat. Mereka bilang rezim Havana rapuh. Mereka bilang invasi bisa tampak seperti pemberontakan internal, bukan intervensi Amerika. Hampir semua asumsi itu salah.

Pada 15 April 1961, pesawat-pesawat B-26 menyamar sebagai milik angkatan udara Kuba, menyerang beberapa lapangan udara Kuba. Operasi penyamaran itu kikuk. Bahkan wartawan biasa bisa mencium keterlibatan Amerika. Di Perserikatan Bangsa-Bangsa, duta besar AS, Adlai Stevenson, dipermalukan setelah tanpa sadar membela kebohongan CIA di depan dunia.

Castro langsung tahu apa yang datang. Dua hari kemudian, Brigade 2506 mendarat di Bahía de Cochinos—Teluk Babi—di pantai selatan Kuba. Nama tempatnya terdengar seperti lelucon buruk. Playa Larga. Playa Girón. Daerah rawa, nyamuk, jalan sempit. Tempat yang secara militer tidak ideal untuk invasi besar. Lautnya dangkal. Kendaraan berat sulit bergerak.

Pasukan Castro bergerak cepat. Jauh lebih cepat dari perkiraan CIA.

Radio Havana memompa propaganda tanpa henti. Milisi sipil dipersenjatai. Petani-petani lokal, yang oleh CIA diasumsikan akan membantu pemberontak, justru banyak yang melaporkan posisi pasukan invasi. Itulah bagian yang sering diabaikan di banyak film Amerika; revolusi Kuba waktu itu masih punya dukungan nyata dari rakyat miskin.

Washington gagal memahami itu karena terlalu lama melihat Amerika Latin lewat peta ideologi, bukan kehidupan sehari-hari.

Kennedy mulai goyah di tengah operasi. Ia takut keterlibatan AS terlihat terlalu terang-terangan dan memicu konflik langsung dengan Uni Soviet. Dukungan udara tambahan dibatalkan. Keputusan itu membuat Brigade 2506 praktis setengah lumpuh. Pesawat-pesawat Castro yang tersisa menyerang kapal suplai pasukan invasi. Salah satu kapal, Houston, tenggelam.

Bayangkan situasi para eksil Kuba itu. Mereka mendarat dengan keyakinan bahwa Amerika akan menopang mereka sepenuhnya. Lalu perlahan mereka sadar bahwa Washington sedang menjaga jarak sambil melihat operasi berantakan dari jauh. Rasa dikhianati itu sangat terasa dalam memoar-memoar para veteran Brigade 2506.

Di Havana, Castro justru tampak makin besar. Ia turun langsung ke garis depan, mengendarai tank Soviet T-34. Fotografer menangkap gambarnya saat ia memegang cerutu dan teropong. Visual itu penting. Sangat penting. Revolusi hidup dari gambar-gambar seperti itu.

Kurang dari tiga hari, invasi runtuh. Sekitar 114 pasukan invasi tewas. Lebih dari 1.100 ditangkap. Banyak yang kemudian dipertontonkan di televisi Kuba dengan wajah lelah, pakaian kotor, mata kosong. Castro akhirnya menukar tahanan-tahanan itu dengan bantuan makanan dan obat-obatan senilai sekitar 53 juta dolar dari Amerika Serikat.

Ironis sekali. Operasi rahasia untuk menghancurkan Castro malah memperkuatnya.

Kegagalan Teluk Babi punya efek psikologis besar. Kennedy merasa dipermalukan. Hubungannya dengan CIA memburuk tajam. Ia memecat Allen Dulles beberapa bulan kemudian. Kalimat Kennedy yang terkenal setelah kegagalan itu terdengar seperti kemarahan yang belum selesai; ia ingin “memecah CIA menjadi seribu keping dan menyebarkannya ke angin”.

Castro mengambil pelajaran berbeda. Ia makin dekat dengan Nikita Khrushchev dan Uni Soviet. Tahun berikutnya, dunia nyaris masuk perang nuklir dalam Krisis Rudal Kuba.

Begitulah kadang sejarah bergerak; satu operasi gagal di rawa panas penuh nyamuk bisa membawa dunia nyaris kiamat.

Ada detail kecil yang selalu mengganggu saat membaca kisah ini. Banyak anggota Brigade 2506 sebenarnya masih sangat muda. Sebagian berusia awal dua puluhan. Mereka dibesarkan di Kuba pra-revolusi yang penuh kasino mafia Amerika, mobil Cadillac mengilap di Havana, hotel-hotel mewah seperti Hotel Nacional. Mereka dibentuk oleh nostalgia kelas sosial yang runtuh.

Sementara para petani Kuba yang mendukung Castro hidup di dunia berbeda sama sekali. Gubuk reyot. Akses kesehatan minim. Buta huruf tinggi. Revolusi memberi mereka sesuatu yang sederhana tapi kuat; rasa dianggap ada. CIA tampaknya tidak pernah benar-benar mengerti soal itu.

Di museum Playa Girón hari ini, bangkai pesawat dan serpihan invasi masih dipajang. Mata pengunjung sering langsung tertuju pada tank, senapan, foto-foto hitam putih. Saya justru terpaku pada sepatu bot tua di salah satu sudut ruangan. Kulitnya retak. Warnanya kusam karena udara laut. Sulit membayangkan berapa banyak lumpur rawa yang menempel di sana saat semua orang masih yakin operasi itu akan mengubah sejarah Kuba hanya dalam hitungan jam.

Related

Sejarah 8048912904903234337

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item