The Great Game, Pertarungan Mata-mata Inggris dan Rusia di Zaman Kuno
https://www.belajarsampaimati.com/2026/07/the-great-game-pertarungan-mata-mata.html?m=0
![]() |
| Ilustrasi/rbth.com |
Seorang perwira Inggris duduk di sebuah ruangan pengap di Kabul, sambil mencoba menebak niat Rusia dari potongan-potongan informasi yang datang terlambat berminggu-minggu. Di tempat lain, seorang pejabat Rusia di St. Petersburg menatap peta Asia Tengah yang dipenuhi ruang kosong dan nama-nama asing; Khiva, Bukhara, Kokand, Herat.
Tidak ada satelit. Tidak ada foto udara. Tidak ada internet.
Kekaisaran-kekaisaran terbesar di dunia sedang memainkan permainan strategi dengan informasi yang sering kali lebih buruk daripada yang dimiliki seorang manajer supermarket modern. Kesalahan perhitungan bisa memicu perang. Seorang agen yang hilang di pegunungan bisa mengubah kebijakan luar negeri.
Banyak orang membayangkan sejarah ditentukan oleh pertempuran besar yang namanya masuk buku pelajaran. Sebagian sejarah justru dibentuk oleh orang-orang yang mati sendirian di jalan-jalan berdebu Asia Tengah dan tidak pernah diketahui publik.
Istilah "The Great Game" terdengar romantis. Terlalu romantis. Istilah itu dipopulerkan oleh penulis Inggris seperti Rudyard Kipling, dan kemudian melekat dalam imajinasi populer sebagai semacam duel catur antara mata-mata berjubah panjang yang berkuda melintasi gurun. Kenyataannya jauh lebih kacau.
Pada abad ke-19, Kekaisaran Rusia sedang bergerak ke selatan dengan kecepatan yang membuat London gelisah. Dalam beberapa dekade, Rusia menaklukkan wilayah demi wilayah di Asia Tengah. Tashkent jatuh pada 1865. Samarkand menyusul. Emirat Bukhara dipaksa tunduk. Khanat Khiva dikalahkan. Di peta Eropa, garis perbatasan Rusia terus merayap ke arah selatan seperti noda tinta yang meluas di atas kertas.
Masalah bagi Inggris bukanlah Asia Tengah itu sendiri. Yang membuat mereka sulit tidur adalah India. Pada abad ke-19, India merupakan permata mahkota Imperium Britania. Kekayaan, perdagangan, pajak, prestise global, semuanya terhubung dengan wilayah yang diperintah dari Kalkuta dan kemudian New Delhi. Seorang politisi Inggris mungkin tidak peduli pada oasis di Turkestan, tetapi ia sangat peduli jika pasukan Rusia suatu hari menemukan jalan menuju Punjab.
Banyak ketakutan geopolitik lahir dari imajinasi. Ketakutan Inggris terhadap Rusia termasuk salah satu yang paling berpengaruh. Jenderal-jenderal Inggris berkali-kali menghitung kemungkinan invasi Rusia ke India, meskipun kenyataannya jalur logistik untuk operasi semacam itu sangat mengerikan. Pegunungan, gurun, cuaca ekstrem, dan jarak yang luar biasa jauh berdiri di antara Rusia dan India. Ketakutan itu tetap hidup.
Rusia memiliki ketakutannya sendiri. Banyak narasi populer menggambarkan Rusia sebagai agresor yang terus berekspansi, tetapi para pengambil keputusan di St. Petersburg sering melihat dunia dengan cara yang berbeda.
Kekaisaran Rusia tidak memiliki pelindung geografis yang nyaman seperti Inggris yang dikelilingi laut. Dari perspektif Rusia, sejarah mereka dipenuhi invasi. Bangsa Mongol datang dari timur. Napoleon datang dari barat. Setelah itu muncul kekhawatiran bahwa Inggris akan menggunakan Persia, Afghanistan, atau Kesultanan Utsmaniyah, sebagai alat untuk membatasi pengaruh Rusia.
Kecurigaan jadi kebiasaan. Kecurigaan yang dipelihara selama puluhan tahun sering berubah menjadi cara berpikir permanen.
Afghanistan menjadi titik temu dari seluruh kecemasan itu. Banyak negara memiliki nasib buruk. Afghanistan memiliki nasib geopolitik. Letaknya membuat negara tersebut berkali-kali menjadi arena persaingan kekuatan yang lebih besar. Ketika perwira Inggris, Alexander Burnes, melakukan perjalanan ke Kabul pada 1830-an, ia datang sebagai penjelajah, diplomat, pengumpul informasi, dan, dalam arti tertentu, mata-mata.
Burnes berbicara berbagai bahasa lokal, mengumpulkan data perdagangan, dan mencoba memahami dinamika politik kawasan.
Rusia mengirim tokohnya sendiri. Nama seperti Jan Prosper Witkiewicz muncul dari kabut sejarah sebagai agen yang bergerak melalui jaringan politik Afghanistan. Burnes dan Witkiewicz pada dasarnya memainkan permainan yang sama untuk dua kekaisaran berbeda.
Nasib keduanya tidak berakhir bahagia. Burnes dibunuh di Kabul pada 1841, ketika pemberontakan meletus terhadap pendudukan Inggris. Witkiewicz meninggal dalam keadaan misterius di St. Petersburg beberapa tahun sebelumnya. Banyak tokoh Great Game berakhir seperti itu; mati muda, mati jauh dari rumah, atau mati sebelum sempat memahami apakah pekerjaan mereka menghasilkan sesuatu.
Kegagalan Inggris di Afghanistan pada Perang Anglo-Afghanistan Pertama masih terasa hampir tidak masuk akal. Pada Januari 1842, sekitar 16.000 orang yang terdiri atas tentara, keluarga, pelayan, dan pengikut kamp, meninggalkan Kabul dalam proses evakuasi yang kacau. Mereka bergerak melewati salju dan celah pegunungan sambil diserang pasukan Afghanistan. Hanya segelintir yang berhasil mencapai Jalalabad.
Nama Dr. William Brydon jadi terkenal karena ia muncul dalam kondisi nyaris mati setelah perjalanan itu. Lukisan "Remnants of an Army" karya Elizabeth Thompson kemudian mengabadikan gambaran seorang penunggang kuda yang tersisa dari bencana tersebut. Banyak pejabat Inggris yang tadinya yakin mereka memahami Afghanistan tiba-tiba menyadari bahwa mereka sebenarnya tidak memahami banyak hal.
Keanehan Great Game terletak pada kenyataan bahwa sebagian besar pesertanya tidak pernah benar-benar bertemu musuh yang mereka takuti. Inggris menghabiskan puluhan tahun mengkhawatirkan invasi Rusia ke India yang tidak pernah terjadi. Rusia menghabiskan puluhan tahun mencurigai upaya pengepungan Inggris yang juga tidak pernah mencapai bentuk yang dibayangkan.
Energi politik yang luar biasa besar dikeluarkan untuk menghadapi kemungkinan. Geopolitik sering bekerja seperti itu. Negara-negara tidak hanya bereaksi terhadap ancaman nyata. Mereka bereaksi terhadap ancaman yang mereka bayangkan akan muncul di masa depan.
Sisa-sisa pola pikir tersebut masih bisa ditemukan hingga sekarang. Ketika membaca pidato pejabat Rusia modern atau doktrin keamanan Rusia, muncul tema yang terasa akrab; pengepungan, infiltrasi, ancaman eksternal, kebutuhan zona penyangga, ketidakpercayaan terhadap kekuatan maritim Barat.
Nama Inggris tidak lagi mendominasi seperti abad ke-19. Posisi itu kini lebih sering ditempati Amerika Serikat dan NATO. Struktur emosionalnya sering terasa serupa. Sebuah negara yang selama berabad-abad membiasakan diri berpikir bahwa musuh berada di luar perbatasan, akan terus mencari musuh di luar perbatasan bahkan ketika dunia sudah berubah.
Inggris sendiri memiliki warisan psikologis yang tidak kalah menarik. Sebagai kekuatan maritim global, mereka terbiasa melihat dunia melalui jalur perdagangan, pelabuhan, chokepoint, dan keseimbangan kekuatan. Selat Bosporus, Teluk Persia, Terusan Suez, Gibraltar, semuanya jadi bagian dari cara berpikir strategis yang bertahan jauh melampaui masa kejayaan imperium. Banyak negara mewariskan bangunan atau monumen. Kekaisaran sering mewariskan kebiasaan berpikir.
Peta Asia Tengah modern masih menyimpan bekas luka Great Game. Kazakhstan, Uzbekistan, Turkmenistan, Tajikistan, dan Kirgizstan, muncul sebagai negara merdeka setelah runtuhnya Uni Soviet, tetapi banyak batas wilayah mereka berasal dari proses yang dipengaruhi oleh perebutan kekuasaan berabad-abad sebelumnya.
Di beberapa kota tua seperti Samarkand atau Bukhara, wisatawan hari ini mengambil foto kubah biru dan pasar bersejarah tanpa memikirkan bahwa kota-kota tersebut pernah menjadi objek obsesi para diplomat yang berdebat ribuan kilometer jauhnya di London dan St. Petersburg.
Ada sesuatu yang ironis dalam seluruh kisah ini. Banyak agen, penjelajah, tentara, dan diplomat Great Game bekerja dengan keyakinan bahwa mereka sedang menentukan masa depan dunia. Sebagian memang mempengaruhinya. Sebagian lainnya hanya meninggalkan catatan perjalanan yang berdebu di arsip.
Ketika membaca surat-surat mereka sekarang, terasa betapa sempitnya pengetahuan yang mereka miliki, dan betapa besarnya keputusan yang dibuat berdasarkan pengetahuan tersebut.
Peta terbentang di atas meja. Cangkir teh mendingin. Laporan intelijen datang terlambat dua bulan. Seseorang di St. Petersburg mencoret garis pensil. Seseorang di London mengirim telegram. Di luar jendela, salju turun di Rusia dan debu berputar di jalanan Kabul.


