Tiga Santri Dibakar di Pesantren, Satu Meninggal—Videonya Viral
https://www.belajarsampaimati.com/2026/07/tiga-santri-dibakar-di-pesantren-satu.html?m=0
![]() |
| Ilustrasi/cnnindonesia.com |
Jeritan seorang anak laki-laki yang tubuhnya dibalut perban selalu terdengar lebih keras daripada angka statistik mana pun.
Video itu beredar berbulan-bulan setelah peristiwa terjadi. Seorang santri di Lombok Tengah menangis kesakitan di rumah sakit. Kulitnya terbakar. Bagian tubuhnya dibungkus perban putih. Suara anggota keluarga berusaha menenangkan dari samping ranjang. Tidak banyak yang perlu dijelaskan. Tubuh manusia yang terbakar memiliki bahasa sendiri. Bahkan tanpa suara, orang yang melihatnya bisa merasakan panas imajiner menjalar ke kulit mereka sendiri. Telapak tangan berkeringat. Tenggorokan mengering. Mata sulit bertahan menatap terlalu lama.
Kasus tersebut, menurut informasi yang muncul ke publik, terjadi di sebuah pondok pesantren di Kecamatan Batukliang, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Tiga santri diduga disiram bahan bakar, lalu dibakar oleh sesama santri. Satu meninggal dunia. Dua lainnya mengalami luka bakar serius. Peristiwanya terjadi pada November 2025, tetapi baru memperoleh perhatian luas setelah videonya beredar di media sosial beberapa bulan kemudian.
Orang sering menganggap kekerasan sebagai ledakan emosi sesaat. Kemarahan, dendam, kehilangan kontrol. Penjelasan semacam itu terasa masuk akal ketika seseorang menampar, memukul, atau melempar benda. Membakar manusia adalah kategori yang berbeda. Prosesnya terlalu panjang untuk disebut sekadar kehilangan kendali.
Seseorang harus mengambil bahan bakar. Seseorang harus menyiramkannya. Seseorang harus menyalakan api. Seseorang harus melihat api mulai bekerja.
Tubuh manusia tidak langsung menjadi abu. Kulit melepuh. Rambut terbakar lebih dulu. Bau daging yang terkena api muncul. Jeritan muncul.
Setiap detik memberi kesempatan untuk berhenti. Peristiwa tetap berlangsung.
Bagian yang mengganggu dari kasus semacam itu bukan hanya kebrutalannya. Kekerasan brutal telah menyertai sejarah manusia sejak lama. Yang mengganggu adalah lokasinya. Pesantren, bagi banyak orang Indonesia, bukan sekadar institusi pendidikan. Kata "santri" membawa asosiasi tertentu: kitab kuning, suara mengaji selepas magrib, sandal berjajar di depan masjid, lampu asrama yang masih menyala menjelang tengah malam saat anak-anak menghafal pelajaran.
Kekerasan tetap bisa terjadi di tempat yang dipenuhi doa.
Kalimat itu sebenarnya tidak mengejutkan jika dipikirkan lebih lama. Hampir semua institusi yang dibangun manusia mengandung potensi yang sama. Sekolah umum. Asrama militer. Kampus. Gereja. Kuil. Biara. Pondok pesantren. Tempat-tempat tersebut sering diperlakukan seolah memiliki kekebalan moral hanya karena tujuan resminya mulia.
Sejarah tidak mendukung keyakinan semacam itu. Beberapa kasus perundungan paling kejam justru lahir di lingkungan yang tertutup dan hierarkis. Lingkungan yang memiliki senior dan junior. Lingkungan yang menuntut kepatuhan. Lingkungan yang menganggap urusan internal lebih penting daripada transparansi.
Batukliang bukan nama yang sering muncul dalam berita nasional. Kecamatan itu terletak di bagian tengah Pulau Lombok, di kaki kawasan Gunung Rinjani. Sawah membentang di berbagai titik. Desa-desa tumbuh di antara jalan-jalan yang tidak terlalu ramai. Banyak keluarga mengirim anak-anak mereka ke pesantren dengan harapan sederhana: memperoleh pendidikan agama, disiplin hidup, dan masa depan yang lebih baik.
Orang tua biasanya melepas anak ke pesantren dengan keyakinan bahwa mereka sedang menitipkan sesuatu yang paling berharga. Anak.
Bukan koper. Bukan sepeda motor. Bukan uang. Anak.
Perbedaan antara kehilangan barang dan kehilangan anak terlalu besar untuk dijelaskan dengan bahasa administratif.
Satu santri meninggal dunia dalam kasus ini. Kalimat tersebut hanya terdiri dari lima kata inti. Membacanya membutuhkan kurang dari dua detik. Menjalani kenyataannya membutuhkan sisa hidup.
Saya sering merasa berita kriminal modern memiliki kemampuan aneh untuk membuat pembaca kehilangan sensitivitas. Setiap hari muncul kasus pembunuhan, penganiayaan, pemerkosaan, kecelakaan, korupsi. Satu berita mendorong berita lain. Algoritma bergerak cepat. Perhatian berpindah.
Tubuh manusia tidak bergerak secepat algoritma. Korban luka bakar bisa menjalani operasi berkali-kali. Kulit yang rusak harus dicangkok. Infeksi jadi ancaman konstan. Rasa nyeri dapat bertahan bertahun-tahun. Banyak penyintas luka bakar berat mengaku masih merasakan sensasi terbakar meskipun luka fisik telah sembuh.
Membaca laporan medis tentang luka bakar selalu terasa lebih mengerikan dibanding membaca laporan tentang luka akibat benda tajam. Api memiliki sifat merampas lapisan demi lapisan. Ia tidak hanya melukai. Ia mengubah bentuk tubuh.
Foto-foto korban luka bakar sering membuat mata spontan berpaling. Tubuh manusia sebenarnya sangat rapuh terhadap panas.
Secangkir kopi terlalu panas sudah cukup membuat lidah kita kesakitan. Panas knalpot motor bisa meninggalkan bekas luka yang bertahan bertahun-tahun. Api yang menyelimuti tubuh manusia merupakan pengalaman yang hampir mustahil dibayangkan secara utuh oleh orang yang belum pernah mengalaminya. Kepala kita menolak membayangkannya terlalu lama.
Media sosial memainkan peran yang aneh dalam kasus Lombok Tengah ini. Peristiwa terjadi pada November 2025. Perhatian publik baru datang setelah video korban beredar luas. Situasi semacam itu semakin sering muncul di Indonesia. Kadang keadilan bergerak lambat sampai kamera ikut campur. Kadang sebuah kasus lokal berubah menjadi isu nasional hanya karena seseorang mengunggah video berdurasi beberapa puluh detik.
Banyak orang mengeluh bahwa media sosial merusak masyarakat. Sebagian benar. Media sosial juga sering menjadi pengeras suara bagi korban yang sebelumnya tidak didengar. Dua kenyataan tersebut hidup berdampingan tanpa saling menghapus.
Perhatian publik biasanya tertarik pada pelaku. Siapa dia? Mengapa melakukannya? Apa motifnya? Pertanyaan itu penting. Pertanyaan lain terasa lebih berat. Apa yang terjadi di lingkungan yang memungkinkan kebrutalan seperti itu tumbuh?
Kekerasan antar-remaja jarang muncul dari ruang kosong. Biasanya terdapat budaya yang lebih luas di belakangnya. Budaya intimidasi. Budaya penghinaan. Budaya senioritas. Budaya pembiaran. Kadang hanya berupa candaan yang dibiarkan berkembang terlalu lama. Kadang berupa ritual yang dianggap normal karena sudah berlangsung bertahun-tahun. Api yang terlihat dalam satu malam sering memiliki sejarah yang jauh lebih panjang.
Lembaga Perlindungan Anak Kota Mataram ikut menyoroti kasus ini. Aparat melakukan pendalaman. Klarifikasi berlangsung. Proses hukum berjalan.
Semua itu penting. Tapi tetap saja ada sesuatu yang tidak bisa diperbaiki oleh proses apa pun. Seorang anak berangkat ke pesantren dalam keadaan sehat. Beberapa bulan kemudian keluarganya menerima kabar bahwa tubuhnya terbakar.
Bagi keluarga korban yang meninggal, waktu berhenti pada titik tertentu. Kalender terus bergerak. Musim hujan datang dan pergi. Tahun ajaran berganti. Berita baru muncul setiap hari. Kursi kosong di rumah tetap berada di tempat yang sama. Pakaian lama mungkin masih tersimpan di lemari. Foto-foto masih berada di telepon genggam.
Nama korban perlahan menghilang dari linimasa publik.
Perban-perban dalam video itu pada akhirnya akan dilepas. Luka mungkin mengering. Berita akan tenggelam di bawah berita lain yang lebih baru.
Kamar asrama tetap berdiri. Lapangan tetap digunakan. Anak-anak lain tetap belajar.
Seseorang suatu hari akan melewati koridor tempat semuanya pernah bermula, tanpa mengetahui apa yang pernah terjadi di sana.


