Biksu Vietnam Membakar Diri di Saigon, Abad 20 Terguncang

Ilustrasi/kyotoreview.org
Mobil Austin berwarna biru muda berhenti pelan di persimpangan jalan Saigon. Pagi masih lembap. Udara Juni menempel di kulit seperti kain basah. Para biksu turun satu per satu dengan jubah saffron yang bergerak pelan tertiup angin tipis. Orang-orang mengira itu hanya demonstrasi lagi. Saigon tahun 1963 sudah terlalu penuh demonstrasi.

Lalu seorang biksu tua duduk bersila di aspal.

Namanya Thích Quảng Đức. Usianya sekitar 66 tahun. Tubuhnya kurus. Wajahnya tenang dengan lipatan kulit yang tampak lelah, seperti wajah petani yang terlalu lama hidup di bawah matahari tropis. Salah satu biksu lain membuka bagasi mobil dan mengeluarkan jerigen bensin. Cairan itu disiramkan ke kepala dan jubahnya sampai aspal di bawah tubuhnya ikut mengilap.

Tidak semua orang langsung mengerti apa yang akan terjadi.

Malcolm Browne, wartawan Associated Press, berdiri di sana dengan kamera Leica. Ia mendapat bocoran malam sebelumnya bahwa para biksu akan melakukan “sesuatu yang penting”. Banyak jurnalis asing sebenarnya sudah mulai frustrasi terhadap Vietnam Selatan. Pemerintahan Ngô Đình Diệm terlalu sering menyangkal kekerasan terhadap kelompok Buddha, sementara di jalanan ketegangan terasa nyata.

Browne kemudian bercerita bahwa sebelum api muncul, ia mencium bau bensin begitu kuat sampai membuat tenggorokannya perih.

Quảng Đức menyalakan korek. Api langsung membesar.

Foto, yang kemudian terkenal ke seluruh dunia, membekukan momen itu dalam satu bingkai; tubuh manusia terbakar dengan posisi tetap duduk tegak. Tidak berteriak. Tidak berlari. Tidak menggeliat. Di sekelilingnya, para biksu lain membentuk lingkaran agar polisi tidak mendekat. Asap hitam naik ke langit Saigon yang pucat.

Pada 11 Juni 1963, saat peritiwa itu terjadi, David Halberstam dari The New York Times ada di lokasi. Ia menulis bahwa ia melihat daging manusia terbakar perlahan. Bau itu tidak bisa dilupakan. Orang-orang muntah. Polisi kebingungan. Seorang perempuan Vietnam menangis histeris di pinggir jalan sambil menutupi mulutnya.

Quảng Đức tidak bergerak.

Saya selalu curiga pada kalimat-kalimat yang terlalu cepat mengubah peristiwa itu menjadi simbol spiritual murni. Banyak tulisan Barat memotret Quảng Đức seperti sosok mistik yang melayang di atas realitas politik. Padahal yang terbakar di jalan Saigon pagi itu bukan hanya tubuh seorang biksu. Itu ledakan kemarahan politik yang sudah lama dipendam.

Vietnam Selatan di bawah Ngô Đình Diệm punya obsesi aneh terhadap identitas Katolik. Diệm sendiri Katolik taat di negara yang mayoritas penduduknya Buddha. Saudaranya, Ngô Đình Nhu, menjalankan jaringan politik dan intelijen yang brutal. Istri Nhu, Trần Lệ Xuân—lebih dikenal sebagai Madame Nhu—bicara kepada pers dengan nada dingin yang nyaris sadis.

Pemerintahan Diệm memberi banyak privilese kepada minoritas Katolik; akses jabatan, tanah, bantuan, bahkan perlindungan militer di desa-desa tertentu. Banyak warga Buddha merasa diperlakukan seperti warga kelas dua di negeri mereka sendiri.

Lalu datang insiden Huế pada Mei 1963. Pemerintah melarang pengibaran bendera Buddha saat perayaan Vesak, hari kelahiran Buddha. Beberapa hari sebelumnya, bendera Vatikan justru bebas dikibarkan untuk perayaan Katolik. Orang-orang protes di Huế. Pasukan pemerintah melepaskan tembakan. Sembilan warga sipil tewas, termasuk anak-anak.

Diệm menyangkal tanggung jawab.

Propaganda resmi menyalahkan Viet Cong. Masalahnya, terlalu banyak orang melihat sendiri apa yang terjadi.


Krisis Buddha meledak setelah itu. Para biksu turun ke jalan. Demonstrasi berlangsung hampir setiap hari. Saigon jadi kota yang aneh; kafe-kafe Prancis masih buka, tentara Amerika mondar-mandir dengan jip militer, musik Barat terdengar dari radio, sementara para biksu berpuasa dan dipukuli polisi, beberapa kilometer dari hotel tempat wartawan asing minum wiski.

Amerika Serikat sebenarnya mendukung Diệm karena menganggapnya benteng antikomunis. Presiden John F. Kennedy takut Vietnam jatuh ke tangan Ho Chi Minh. Teori domino sedang populer waktu itu; satu negara jadi komunis, negara lain ikut jatuh. Washington menoleransi banyak hal selama Diệm masih bisa melawan Viet Cong.

Foto Quảng Đức mengacaukan semuanya.

Ketika gambar itu dikirim melalui kabel berita internasional, dunia mendadak melihat sekutu Amerika dengan cara berbeda. Kennedy sendiri kabarnya berkata, “No news picture in history has generated so much emotion around the world as that one.”

Dan memang begitu rasanya ketika melihat foto Quảng Đức pertama kali. Mata otomatis menolak. Tubuh manusia terbakar biasanya identik dengan gerakan panik. Quảng Đức justru diam. Itu yang membuat gambar tersebut terasa tidak masuk akal. Otak seperti terlambat menerima bahwa api benar-benar sedang memakan tubuh hidup. 

Saya pernah memperbesar foto itu lama sekali di layar komputer. Ada detail-detail kecil yang bikin tidak nyaman; sandal di dekat tubuhnya, ekspresi polisi di latar belakang, lipatan jubah yang mulai berubah bentuk karena panas. Mata jadi pedih sendiri, bukan karena asap sungguhan, tapi karena tubuh tahu sedang melihat sesuatu yang seharusnya tidak dilihat terlalu lama.

Madame Nhu merespons dengan komentar yang luar biasa kejam. Ia menyebut aksi itu sebagai “barbecue”. Kalimat itu menghancurkan sisa simpati publik internasional terhadap rezim Diệm. Bahkan pejabat Amerika mulai jijik.

Diam-diam, CIA mulai menghitung kemungkinan menggulingkan Diệm.

Peristiwa itu cepat berubah dari tragedi moral menjadi manuver geopolitik. Begitulah perang bekerja. Tubuh manusia yang terbakar belum dingin sepenuhnya, tetapi rapat-rapat kekuasaan sudah berjalan.

Quảng Đức sendiri sebenarnya bukan biksu anonim yang tiba-tiba muncul dari kekosongan. Ia lahir dengan nama Lâm Văn Túc di Khánh Hòa, Vietnam tengah. Menjadi biksu sejak usia sangat muda. Bertahun-tahun hidup berpindah dari pagoda ke pagoda. Ia dikenal disiplin dan sederhana. Sebelum aksi bakar diri, ia bahkan meninggalkan surat yang meminta Presiden Diệm menunjukkan belas kasih kepada umat Buddha.

Kata “belas kasih” terasa nyaris absurd ketika dibaca berdampingan dengan tubuh terbakar.

Aksi Quảng Đức memicu gelombang bakar diri lain. Beberapa biksu dan biksuni mengikuti jejaknya dalam bulan-bulan berikutnya. Pemerintah Vietnam Selatan makin represif. Pagoda-pagoda diserbu pasukan khusus loyalis Ngô Đình Nhu pada Agustus 1963. Biksu dipukul dan ditangkap tengah malam. Patung Buddha dihancurkan.

Empat bulan setelah Quảng Đức terbakar di jalan Saigon, Ngô Đình Diệm digulingkan dalam kudeta militer yang didukung diam-diam oleh Amerika Serikat. Diệm dan saudaranya dibunuh di belakang kendaraan lapis baja. Tubuh mereka ditemukan penuh darah.

Vietnam tidak jadi lebih tenang setelah itu. Justru sebaliknya. Amerika masuk lebih dalam ke perang. Napalm datang. Desa-desa dibakar. Helikopter Huey memenuhi langit. Anak-anak lari telanjang di jalanan akibat bom kimia. Generasi muda Amerika mulai pulang dalam peti mati.

Saigon sendiri berubah nama jadi Ho Chi Minh City setelah Vietnam Utara menang tahun 1975.

Tubuh Quảng Đức dikremasi setelah kematiannya. Ada cerita terkenal bahwa jantungnya tidak terbakar sempurna meski bagian tubuh lain menjadi abu. Relik itu kemudian dianggap suci oleh banyak umat Buddha Vietnam. Pemerintah Vietnam Selatan sempat mencoba menyita relik tersebut. Bahkan setelah kematian, tubuh seorang biksu masih diperebutkan politik.

Foto Malcolm Browne memenangkan Pulitzer Prize.

Kadang saya membayangkan Browne berdiri di kamar hotel malam itu, setelah semua selesai. Bau asap mungkin masih menempel di bajunya. Kamera logam terasa berat di tangan. Film negatif harus dicuci. Telegram dikirim ke kantor berita. Dunia akan melihat gambar itu keesokan harinya sambil sarapan atau membuka koran pagi.

Di jalan tempat Quảng Đức terbakar, lalu lintas akhirnya bergerak lagi. Orang-orang pulang. Pedagang membuka kios. Debu tetap beterbangan di bawah matahari Saigon.

Aspalnya masih hitam.

Related

Sejarah 5031735087014213449

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item