Sisi Gelap Isaac Newton yang Tidak Pernah Diajarkan di Sekolah

Ilustrasi milik BSM
Ruang kuliah, buku pelajaran, film dokumenter, dan patung-patung marmer, telah melakukan pekerjaan yang sangat efektif selama berabad-abad: mereka mengubah Isaac Newton menjadi semacam mesin berpikir yang nyaris tidak memiliki sifat manusia. Nama Newton muncul bersama apel, gravitasi, prisma, hukum gerak, dan matematika. Wajahnya muncul dengan rambut panjang berwarna kelabu yang tertata rapi. Sosoknya tampak tenang, nyaris suci, seperti seseorang yang menghabiskan hidup dalam keadaan kontemplasi yang luhur.

Versi Newton semacam itu nyaman diajarkan kepada anak sekolah. Versi itu juga sangat jauh dari manusia yang sebenarnya.

Newton adalah orang yang bisa menyimpan dendam selama puluhan tahun. Ia sangat sensitif terhadap kritik. Ia mudah merasa diserang. Ia mampu mengubah perbedaan pendapat ilmiah menjadi perang pribadi yang menghancurkan karier orang lain. Banyak ilmuwan besar memiliki ego besar. Newton memiliki sesuatu yang lebih rumit. Ada campuran antara rasa tidak aman, kebutuhan akan pengakuan, kesulitan mempercayai orang lain, dan keyakinan mutlak bahwa dirinya benar.

Kombinasi semacam itu tidak selalu menghasilkan orang yang menyenangkan. Mungkin memang tidak perlu menyenangkan.

Ketika wabah pes melanda Inggris pada pertengahan 1660-an dan Universitas Cambridge ditutup, Newton kembali ke Woolsthorpe Manor di Lincolnshire. Banyak kisah populer menggambarkan periode itu sebagai masa keemasan seorang jenius muda. Ia memikirkan gravitasi. Ia mengembangkan kalkulus. Ia melakukan eksperimen optik. Gambaran tersebut benar secara umum. Yang sering hilang adalah suasana psikologisnya.

Newton bekerja sendirian. Sangat sendirian. Ia tidak membangun jaringan intelektual yang hangat. Ia tidak terkenal sebagai kolaborator ulung. Banyak ide terbesarnya lahir dalam kesunyian yang hampir obsesif. Kesunyian memiliki efek berbeda pada setiap orang. Pada Newton, kesunyian tampaknya memperkuat keyakinan bahwa pikirannya bergerak lebih cepat daripada orang-orang di sekitarnya.

Ketika seseorang memiliki keyakinan seperti itu selama puluhan tahun, kritik kecil pun bisa terasa seperti penghinaan besar. Robert Hooke mengalami langsung akibatnya.

Nama Hooke saat ini jauh lebih kecil dibanding Newton, padahal pada abad ke-17 ia merupakan salah satu ilmuwan paling penting di Inggris. Hooke melakukan penelitian tentang mikroskop, fosil, elastisitas, astronomi, dan banyak bidang lainnya. Buku Micrographia yang diterbitkan pada 1665 membuat pembaca London terpesona oleh gambar-gambar kutu, lalat, dan struktur gabus yang diperbesar melalui lensa.

Hooke memiliki satu sifat yang sering memancing konflik: ia suka mengklaim prioritas atas ide-ide tertentu.

Newton memiliki sifat yang lebih berbahaya: ia tidak suka klaim semacam itu.

Ketika Newton menerbitkan teori tentang cahaya dan warna, Hooke mengkritiknya. Kritik itu tidak luar biasa keras menurut standar ilmiah modern. Tapi Newton menerimanya seolah menerima serangan pribadi. Reaksinya begitu kuat sehingga selama bertahun-tahun ia mengurangi keterlibatannya dalam debat publik.

Mata Newton mungkin menatap prisma dan spektrum warna. Pikirannya tampaknya terus mengingat siapa saja yang pernah meragukannya. Hubungan mereka memburuk semakin jauh.

Hooke kemudian mengisyaratkan bahwa gagasannya tentang gaya tarik dan gerak planet telah membantu menginspirasi Newton. Secara historis, persoalannya memang rumit. Hooke memang pernah membahas kemungkinan bahwa planet bergerak melalui kombinasi gerak lurus dan gaya tarik menuju Matahari. Newton mengembangkan matematika yang menjelaskan mekanisme tersebut secara jauh lebih lengkap.

Perdebatan mengenai siapa yang lebih dulu memperoleh ide tertentu berubah menjadi medan tempur ego.

Ketika membaca surat-surat mereka, kadang terasa seperti menyaksikan dua ilmuwan besar yang saling menggaruk luka lama dengan sengaja.

Kisah ini memiliki bagian yang agak gelap. Pada 1703, Hooke meninggal. Tahun yang sama, Newton menjadi presiden Royal Society. Potret resmi Hooke kemudian menghilang. Tidak ada bukti mutlak bahwa Newton sengaja menghancurkannya. Kecurigaan itu bertahan hingga sekarang karena sangat cocok dengan reputasinya.

Masalahnya, banyak cerita tentang Newton memang terdengar seperti teori konspirasi, sampai kita menyadari bahwa ia benar-benar mampu melakukan hal-hal semacam itu.

Perseteruan dengan Gottfried Wilhelm Leibniz bahkan lebih brutal. Di sinilah kisahnya berubah dari pertengkaran ilmiah menjadi perang.

Newton mengembangkan kalkulus pada pertengahan 1660-an. Ia menyimpan banyak hasil kerjanya dalam catatan pribadi. Leibniz, filsuf dan matematikawan Jerman yang luar biasa produktif, mengembangkan versinya sendiri pada dekade berikutnya dan menerbitkannya terlebih dulu.

Bagian pentingnya terletak pada kata "menerbitkan". Dalam sains, ide yang disimpan di laci memiliki status yang berbeda dengan ide yang dipublikasikan.

Leibniz memperkenalkan notasi matematika yang hingga hari ini masih digunakan di seluruh dunia. Simbol ∫ untuk integral berasal darinya. Simbol dx juga berasal darinya. Banyak mahasiswa yang berkeringat di ruang ujian kalkulus tanpa sadar masih menggunakan bahasa matematika yang dirancang Leibniz lebih dari tiga abad lalu.

Newton melihat situasi itu dengan cara berbeda. Menurutnya, ia menemukan kalkulus lebih dulu. Klaim tersebut kemungkinan benar. Masalahnya bukan pada prioritas. Masalahnya muncul ketika sengketa berubah menjadi kampanye politik.

Royal Society kemudian membentuk komite untuk menyelidiki siapa penemu kalkulus yang sebenarnya. Kedengarannya netral.

Newton mengendalikan Royal Society. Newton mempengaruhi proses penyelidikan. Newton ikut menyusun laporan. Newton bahkan membantu menulis sebagian hasil akhir yang kemudian menyatakan bahwa Newton adalah penemu asli kalkulus.

Sulit membaca episode itu tanpa mengangkat alis. Bayangkan seorang hakim yang juga menjadi jaksa, juri, saksi ahli, dan penulis putusan.

Leibniz marah. Pendukung Leibniz marah. Pendukung Newton marah.

Surat kabar, pamflet, dan korespondensi pribadi, dipenuhi tuduhan pencurian intelektual. Perselisihan tersebut merusak hubungan ilmiah antara Inggris dan Eropa selama bertahun-tahun. Matematikawan Inggris terjebak terlalu lama dalam tradisi Newtonian, sementara matematikawan di benua Eropa mengembangkan pendekatan Leibniz yang lebih fleksibel. Korban sengketa itu bukan hanya reputasi pribadi. Perkembangan matematika ikut terkena dampaknya.

Bagian yang membuat saya terus kembali pada Newton bukanlah fakta bahwa ia pendendam. Banyak orang pendendam. Bukan pula fakta bahwa ia haus pengakuan. Sejarah penuh dengan tokoh seperti itu. Yang mengganggu adalah kenyataan bahwa sifat-sifat tersebut hidup berdampingan dengan kecerdasan yang hampir tidak masuk akal. 

Orang yang sama yang mampu menyusun Principia Mathematica juga mampu menghabiskan energi besar untuk menghancurkan lawan-lawannya.

Orang yang sama yang menjelaskan gerak planet juga menghabiskan bertahun-tahun meneliti alkimia. Ia menyalin resep-resep kuno. Ia memanaskan logam. Ia menghirup uap bahan kimia beracun. Analisis modern terhadap rambut Newton menunjukkan kadar merkuri yang sangat tinggi.

Kadang saya membayangkan ruang kerjanya. Bau logam panas. Cahaya lilin yang berkedip. Tinta mengering di atas meja kayu. Mata perih karena kurang tidur. Tumpukan manuskrip alkimia berada tidak jauh dari perhitungan matematis yang akan mengubah sejarah sains.

Potret ilmuwan rasional yang sepenuhnya modern runtuh cukup cepat ketika berhadapan dengan Newton yang nyata. Ia religius secara ekstrem. Ia menulis lebih banyak tentang teologi daripada fisika. Ia menghitung kronologi Alkitab. Ia mencoba mengungkap makna tersembunyi Kitab Daniel dan Wahyu. Ia meyakini bahwa alam semesta adalah karya Tuhan yang dapat dibaca seperti kode.

Gambaran manusia semacam itu terasa berantakan. Jenius. Pendendam. Paranoid dalam beberapa periode hidupnya. Brilian. Sering kali kejam.

Ketika Newton meninggal pada 1727, ia dimakamkan di Westminster Abbey dengan kehormatan luar biasa. Bangsa Inggris merayakannya sebagai pahlawan intelektual. Patung-patung didirikan. Nama besarnya tumbuh semakin besar dari abad ke abad.

Sementara itu, di balik lapisan marmer dan pujian, tetap ada sosok yang pernah menulis surat-surat penuh kemarahan, menyimpan dendam yang tidak pernah mati, dan mengawasi lawan-lawannya dengan perhatian yang nyaris obsesif.

Beberapa orang berhasil menemukan hukum yang mengatur gerak benda langit. Newton tampaknya tidak pernah menemukan hukum yang mengatur emosinya sendiri. Di mejanya masih tergeletak surat-surat lama dari Leibniz, dan tinta pada beberapa bagian tampak ditekan terlalu keras hingga nyaris menembus kertas.


Related

Tokoh 1900418810871813927

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item