George Blake, Pengkhianat Terbesar dalam Sejarah Inggris yang Kabur dari Penjara
https://www.belajarsampaimati.com/2026/08/george-blake-pengkhianat-terbesar-dalam.html
![]() |
| Ilustrasi/nytimes.com |
Seutas tali turun dari jendela penjara Wormwood Scrubs pada malam yang dingin di London Barat. Tidak dramatis seperti film. Talinya bahkan tampak murahan. Ada pria tua berjaga di luar dengan walkie-talkie kecil. Mobil camper van diparkir tidak terlalu jauh. Seorang narapidana memanjat turun pelan-pelan dari dinding penjara setinggi hampir enam meter, sambil menahan tubuhnya agar tidak jatuh ke beton.
Kalau terpeleset sedikit saja, mungkin tengkoraknya pecah di halaman penjara.
Pria itu bernama George Blake. Salah satu pengkhianat terbesar dalam sejarah Inggris yang kabur dari penjara dengan cara yang terdengar seperti cerita stensilan yang dijual di kios stasiun kereta tahun 1970-an. Padahal itu nyata. Sangat nyata.
Wajah Blake sendiri selalu terasa aneh untuk sosok yang menghancurkan begitu banyak operasi Barat. Tidak tampak seperti monster. Tidak tampak seperti pria haus darah. Dalam banyak foto, ia justru terlihat seperti dosen bahasa asing yang sedikit membosankan. Berkacamata. Rambut rapi. Senyum kecil. Orang seperti itu ternyata membocorkan ratusan agen Barat ke Soviet.
Blake lahir bukan sebagai “orang Inggris murni”. Hidupnya sejak awal sudah campuran aneh Eropa abad ke-20. Ia lahir di Rotterdam pada 1922 dengan nama George Behar. Ayahnya Yahudi Sephardic asal Konstantinopel yang pernah bertempur untuk Inggris di Perang Dunia I. Ibunya orang Belanda. Masa mudanya dipenuhi perpindahan identitas, bahasa, dan perang.
Pendudukan Nazi di Belanda membuat hidupnya berubah cepat. Ia ikut gerakan perlawanan, menjadi kurir, lalu melarikan diri ke Inggris lewat rute panjang yang melewati Prancis, Spanyol, sampai Gibraltar. Kisahnya sebelum masuk MI6 saja sebenarnya sudah cukup untuk satu novel.
Inggris menyukainya. Ia cerdas, berani, bisa berbicara dalam banyak bahasa. MI6 merekrutnya. Blake lalu menjadi bagian dari generasi awal intelijen Barat pasca-Perang Dunia II, masa ketika dunia baru saja selesai melawan Hitler lalu langsung masuk paranoia baru melawan Stalin.
Banyak agen MI6 waktu itu masih membawa aura gentleman lama Inggris; jas wol, klub minum, dokumen rahasia dibawa dalam tas kulit. Dunia yang tampak elegan di luar tetapi penuh kebohongan di bawah meja.
Blake awalnya loyal. Tidak ada indikasi besar bahwa ia akan berbalik arah. Lalu Perang Korea menghantam hidupnya.
Tahun 1950, ia ditempatkan di Seoul. Ketika Korea Utara menyerbu Selatan, Blake tertangkap pasukan komunis dan menjadi tawanan perang selama hampir tiga tahun. Di sanalah versi hidupnya mulai terasa kabur antara transformasi ideologis tulus dan proses psikologis yang lebih rumit.
Blake kemudian mengaku bahwa pengeboman brutal Amerika terhadap Korea Utara membuatnya muak pada Barat. Kota-kota hancur. Warga sipil mati. Ia membaca Marx di kamp tahanan. Ia mulai percaya komunisme menawarkan dunia yang lebih adil.
Banyak mantan rekannya menganggap pengakuan itu omong kosong romantis untuk menutupi pengkhianatan. Sulit memastikan mana yang benar. Manusia sering memberi alasan ideologis megah untuk keputusan yang sebenarnya lebih kacau dan personal.
Yang jelas, saat kembali ke Inggris pada 1953 sebagai mantan tawanan perang yang tampak loyal, Blake diam-diam sudah menjadi agen Soviet.
Kerusakan yang ia sebabkan luar biasa besar. Ia membocorkan identitas agen-agen Barat di Eropa Timur. Operasi rahasia. Jaringan penyusupan. Nama-nama manusia berubah menjadi daftar untuk KGB. Beberapa ditangkap. Sebagian dieksekusi. Sebagian hilang begitu saja ke penjara Soviet.
Lalu ada Operation Gold. CIA dan MI6 menggali terowongan rahasia di Berlin untuk menyadap kabel komunikasi Soviet. Proyeknya mahal, rumit, dan mengesankan secara teknik. Orang-orang Barat bekerja berbulan-bulan di bawah tanah penuh lumpur dan kabel, merasa sedang menjalankan operasi paling cerdas dalam Perang Dingin.
Blake membocorkan hal itu ke KGB hampir sejak awal. Soviet memilih diam dan membiarkan Barat terus menggali. Ada sesuatu yang hampir sadis dalam keputusan itu. Bayangkan pejabat KGB yang membaca detail operasi sambil membiarkan lawannya bekerja keras di bawah tanah seperti tikus laboratorium.
Blake terus bekerja di MI6 selama bertahun-tahun tanpa ketahuan. Ironisnya, ia bukan tipe mata-mata glamor. Tidak hidup mewah. Tidak berjudi. Tidak mabuk-mabukan seperti Guy Burgess. Ia tampak disiplin dan tenang. Fanatik ideologis sering lebih sulit dideteksi karena mereka tidak selalu meninggalkan jejak finansial mencolok.
Kejatuhannya datang dari pembelot Polandia, Michael Goleniewski, yang memberi informasi kepada Barat tentang adanya penyusup besar di MI6. Blake akhirnya diinterogasi pada 1961. Ia mengaku.
Pengadilan Inggris murka. Hakim menjatuhkan hukuman 42 tahun penjara—hukuman yang terasa hampir personal. Sangat panjang untuk standar Inggris saat itu. Publik melihat Blake sebagai simbol pengkhianatan tingkat tinggi di tengah ketegangan nuklir Perang Dingin.
Wormwood Scrubs bukan penjara yang romantis. Dinding kusam. Lorong dingin. Bau kain lembap dan logam tua. Blake menjalani tahun-tahun awal hukumannya sambil membaca dan menjaga rutinitas. Lalu muncul bagian cerita yang terasa terlalu liar untuk nyata.
Beberapa aktivis anti-nuklir dan aktivis kiri radikal Inggris mulai bersimpati padanya. Salah satunya Michael Randle, aktivis perdamaian. Ada juga Pat Pottle. Mereka tidak semuanya pro-Soviet garis keras. Sebagian cuma menganggap hukuman 42 tahun terlalu kejam. Mereka memutuskan untuk membantu Blake kabur.
Rencananya hampir konyol dalam kesederhanaannya. Seorang tahanan Irlandia bernama Sean Bourke menyelundupkan walkie-talkie ke dalam penjara setelah bebas. Blake dan Bourke berkomunikasi lewat alat kecil itu dari balik tembok penjara. Kadang seperti anak remaja bermain radio amatir, hanya saja taruhannya mata-mata internasional.
Pada malam pelarian 1966, Blake memanjat keluar lewat jendela menggunakan tangga tali darurat. Ia jatuh dan melukai pergelangan tangannya, tetapi berhasil kabur. Mobil pelarian membawanya pergi melewati jalan-jalan London yang basah hujan.
Inggris tampak sangat bodoh setelah itu.
Beberapa bulan Blake disembunyikan di rumah aman. Ia bahkan pernah tinggal diam-diam bersama keluarga biasa di pinggiran kota Inggris, sementara koran nasional terus memburu beritanya. Bayangan tentang salah satu pengkhianat terbesar Inggris duduk minum teh di ruang tamu suburban terasa absurd.
Pelarian terakhirnya menuju Soviet lebih aneh lagi. Ia diselundupkan dalam kompartemen rahasia di camper van melintasi Eropa menuju Jerman Timur. Bayangkan perjalanan panjang itu; udara pengap dalam ruang sempit, suara mesin van, rasa takut setiap kali melewati pos pemeriksaan perbatasan.
Lalu ia tiba di Moskow. Soviet menyambutnya sebagai pahlawan. Ia diberi apartemen, pangkat kolonel KGB kehormatan, medali, kehidupan nyaman. Di Rusia, ia menikah lagi, menulis memoar, memberi wawancara dengan nada tenang yang kadang terasa mengganggu karena minim penyesalan.
Blake hidup sangat lama. Ia meninggal di Moskow tahun 2020 pada usia 98 tahun. Hampir seabad hidup di antara perang, ideologi, pengkhianatan, dan negara-negara yang saling membenci.
Foto-fotonya di masa tua terlihat ganjil. Kakek tua dengan wajah lembut dan rambut putih tipis. Sulit menghubungkan lelaki renta itu dengan begitu banyak agen Barat yang hancur karena informasi yang ia bocorkan.
Di London, Wormwood Scrubs masih berdiri. Temboknya tetap kusam. Mobil lewat di jalan dekat penjara seperti biasa. Orang-orang jogging. Anak-anak sekolah lewat sambil membawa tas.
Lalu malam turun, dan kadang cerita tentang tali yang menjuntai dari jendela penjara itu muncul lagi seperti rumor lama yang menolak mati.
Catatan terkait: Edward Snowden dan Kebocoran Intelijen Terbesar di Zaman Digital


