Bagaimana Sejarah dan Asal Usul Washington Post?

Ilustrasi/newyorker.com
Washington sering digambarkan sebagai kota marmer, kubah, dan kekuasaan. Orang mengingat Gedung Putih, Capitol, Pentagon. Mereka lupa bahwa salah satu institusi paling berpengaruh di kota itu selama puluhan tahun justru beroperasi dari ruang redaksi yang penuh kertas, asap rokok, kopi dingin, telepon berdering, dan wartawan yang pulang menjelang fajar. Nama institusi itu adalah Washington Post.

Banyak surat kabar lahir dengan ambisi besar lalu mati sebagai catatan kaki sejarah. Washington Post nyaris mengalami nasib seperti itu. Ketika Stilson Hutchins mendirikannya pada 1877, koran tersebut hanyalah satu pemain baru di kota yang sudah dipenuhi persaingan politik. Hutchins, mantan anggota legislatif Missouri yang kemudian menjadi pengusaha, membeli mesin cetak dan meluncurkan koran yang ditujukan untuk pembaca di ibu kota federal. Tidak ada tanda-tanda bahwa koran itu kelak akan membantu menjatuhkan seorang presiden Amerika Serikat.

Tahun-tahun awalnya tidak romantis. Sirkulasi naik turun. Kepemilikan berganti tangan. Uang sering jadi masalah. Koran-koran abad ke-19 bukanlah lembaga suci demokrasi seperti yang sering dibayangkan sekarang. Mereka adalah bisnis yang keras, partisan, kadang brutal. Banyak yang hidup dari patronase politik. Banyak pula yang mati diam-diam. Washington Post bertahan, meski lebih karena ketahanan daripada kehebatan.

Salah satu momen yang sering terlupakan terjadi pada 1889 ketika pemilik baru, Frank Hatton dan Beriah Wilkins, mencoba mengangkat profil koran tersebut. Mereka memesan sebuah mars untuk promosi surat kabar. Komposernya seorang pemimpin band militer terkenal bernama John Philip Sousa. Hasilnya adalah lagu berjudul The Washington Post March. Ironis sekali. Selama puluhan tahun, jauh lebih banyak orang mengenal mars itu dibanding membaca korannya.

Nasib Washington Post kemudian berubah drastis pada 1933. Tahun itu berada di tengah kehancuran ekonomi akibat Depresi Besar. Washington Post bangkrut dan dilelang. Seorang bankir, investor, dan mantan pejabat pemerintah bernama Eugene Meyer membeli perusahaan koran tersebut dalam lelang kebangkrutan. Harga yang ia bayarkan sekitar 825.000 dolar. Tidak sedikit orang menganggap pembelian itu hampir seperti tindakan sentimental. Surat kabar yang rugi bukan investasi yang menggoda.

Meyer membawa sesuatu yang tidak selalu dimiliki pemilik media: kesabaran. Ia menanamkan prinsip bahwa surat kabar harus mengejar fakta, bahkan ketika fakta itu tidak nyaman bagi pemilik kekuasaan. Kalimat yang sering dikaitkan dengannya berbicara tentang kewajiban koran kepada pembaca, bukan kepada pemilik atau pengiklan. Kedengarannya idealistis. Di dunia media, idealisme sering kalah oleh laporan keuangan.

Putrinya, Katharine Meyer, tumbuh dalam lingkungan itu. Ia menikah dengan Philip Graham, pria cerdas yang kemudian mengambil alih perusahaan keluarga. Philip memiliki karisma besar sekaligus pergulatan pribadi yang berat. Alkoholisme dan gangguan bipolar menghantuinya. Pada 1963, ia meninggal karena bunuh diri di peternakan keluarga di Virginia.

Kisah Washington Post bisa saja berhenti menjadi tragedi keluarga kaya Amerika. Yang terjadi justru sebaliknya. Katharine Graham mengambil alih perusahaan.

Pada saat itu, perempuan yang memimpin perusahaan media besar hampir tidak ada. Dunia surat kabar Amerika dipenuhi pria-pria yang berbicara keras, merokok tanpa henti, dan menganggap ruang rapat sebagai wilayah eksklusif mereka. Graham sendiri mengakui bahwa ia tidak merasa siap. Dalam memoarnya, ia menggambarkan rasa gugup ketika harus menghadapi dewan direksi dan investor.

Beberapa dekade kemudian, banyak orang melihatnya sebagai figur legendaris. Gambaran itu membuat orang lupa betapa rapuh posisinya pada awalnya.

Kebetulan sejarah terkadang bekerja dengan cara yang aneh. Ketika Graham masih berusaha menemukan pijakan sebagai penerbit, dua peristiwa besar datang hampir berurutan: Pentagon Papers dan Watergate.

Pentagon Papers adalah dokumen rahasia pemerintah mengenai keterlibatan Amerika Serikat dalam Perang Vietnam. Pada 1971, The New York Times mulai menerbitkan dokumen tersebut. Pemerintah Presiden Richard Nixon berusaha menghentikannya melalui pengadilan.

Washington Post menghadapi pilihan yang mengandung risiko luar biasa. Perusahaan mereka sedang dalam proses penawaran saham publik. Para pengacara memperingatkan konsekuensi hukum. Dewan direksi khawatir. Graham memutuskan tetap menerbitkan.

Keputusan itu bukan tindakan romantis seorang pejuang kebebasan pers yang sudah yakin akan kemenangan. Banyak kesaksian menunjukkan suasananya jauh lebih tegang. Telepon berdering tanpa henti. Kekhawatiran finansial nyata. Kesalahan bisa menghancurkan perusahaan.

Setahun kemudian, muncul sebuah pencurian kecil di kompleks perkantoran Watergate. Lima orang ditangkap.

Kisah itu mula-mula tampak seperti berita kriminal biasa. Tidak ada yang terlihat monumental. Di ruang redaksi Washington Post, dua reporter muda bernama Bob Woodward dan Carl Bernstein terus menggali detail yang tampaknya tidak masuk akal. Mengapa para pencuri memiliki hubungan dengan orang-orang dekat Presiden? Mengapa uang kampanye muncul dalam jejak transaksi?

Mereka membuat panggilan telepon tanpa henti. Mengetuk pintu rumah narasumber. Menunggu di lorong apartemen. Mendengarkan kebohongan yang saling bertabrakan.

Kita sering mengingat Watergate sebagai kisah heroik. Gambaran yang lebih akurat mungkin jauh lebih membosankan. Dua wartawan yang kelelahan mengumpulkan potongan-potongan informasi yang tampaknya tidak penting. Lembar memo. Nama rekening. Catatan pertemuan. Berhari-hari tanpa hasil besar.

Pekerjaan investigatif sering terlihat glamor setelah berhasil. Saat sedang berlangsung, rasanya lebih dekat kepada pekerjaan akuntan yang kurang tidur.

Sumber misterius mereka, yang selama puluhan tahun dikenal sebagai Deep Throat, akhirnya terungkap sebagai Mark Felt, pejabat tinggi FBI. Pertemuan rahasia terjadi di garasi parkir Rosslyn, Virginia. Tempat itu kini hampir menjadi situs ziarah jurnalisme modern.

Watergate mengubah Washington Post secara permanen. Koran itu bukan lagi surat kabar regional yang kuat. Ia menjadi simbol. Itu keuntungan sekaligus beban. Ketika sebuah media berubah menjadi simbol moral, publik mulai mengharapkan mukjizat dari setiap liputannya.

Beberapa dekade berikutnya menunjukkan bahwa kenyataan lebih rumit. Washington Post menghasilkan banyak karya jurnalistik hebat. Mereka juga pernah membuat kesalahan serius. Pada 1981, misalnya, mereka memenangkan Pulitzer untuk kisah seorang pecandu heroin berusia delapan tahun bernama Jimmy. Cerita itu ternyata palsu. Wartawannya, Janet Cooke, mengarang seluruh tokoh utama. Pulitzer dikembalikan. Reputasi koran terguncang.

Kasus itu jarang disebut ketika orang merayakan kejayaan Washington Post. Padahal justru di sana terlihat wajah sebenarnya dari institusi pers: manusia membuat berita, dan manusia bisa berbohong.

Memasuki abad ke-21, ancaman terbesar tidak datang dari Gedung Putih. Ancaman datang dari internet. Iklan baris yang dulu menjadi tambang emas surat kabar berpindah ke platform digital. Pembaca muda berhenti berlangganan koran cetak. Banyak surat kabar Amerika runtuh satu demi satu. Ruang redaksi menyusut. Wartawan kehilangan pekerjaan.

Washington Post ikut tertekan.

Tahun 2013, seorang miliarder teknologi muncul sebagai penyelamat yang tidak diduga banyak orang. Jeff Bezos membeli Washington Post seharga 250 juta dolar melalui perusahaan pribadinya.

Transaksi itu terasa seperti pertemuan dua zaman. Di satu sisi berdiri institusi pers yang lahir ketika kuda masih memenuhi jalanan Washington. Di sisi lain berdiri pendiri perusahaan teknologi yang membangun kerajaan bisnis dari gudang buku daring di Seattle. Sebagian orang takut. Sebagian optimistis.

Bezos tidak datang membawa revolusi ideologi. Ia membawa obsesi terhadap teknologi, distribusi, data, dan pertumbuhan audiens. Washington Post mengembangkan sistem penerbitan digital bernama Arc XP. Mereka memperluas jangkauan nasional dan internasional. Jumlah pelanggan digital melonjak.

Di ruang redaksi modern, suara mesin tik sudah lama hilang. Bau tinta koran semakin jarang tercium. Reporter kini bekerja dengan layar, analitik pembaca, dan notifikasi real-time. Meski begitu, beberapa hal terasa anehnya tetap sama. Masih ada wartawan yang duduk berjam-jam mengejar satu fakta kecil. Masih ada editor yang bertengkar soal satu kalimat. Masih ada politisi yang berharap sebuah dokumen tidak pernah sampai ke meja redaksi.

Di Washington, hanya beberapa blok dari Gedung Putih, kantor Washington Post berdiri dengan slogan yang kini melekat setelah dipasang pada era Trump: “Democracy Dies in Darkness”.

Kalimat itu dicetak besar di dinding. Sebagian orang menganggapnya pernyataan prinsip. Sebagian lain menganggapnya slogan pemasaran yang sangat efektif.

Pintu lift terbuka. Reporter keluar masuk. Notifikasi berita terus berdenting di telepon genggam. Di luar gedung, lalu lintas ibu kota bergerak seperti biasa. Tidak banyak yang berubah dari fakta paling sederhana: sebuah surat kabar masih mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, sementara orang-orang yang berkuasa tetap berharap beberapa hal tidak pernah ditulis.

Related

Umum 3987907901887813604

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item