Apa yang Mungkin Sebenarnya Terjadi Pada Kasus Shanti Devi?

Ilustrasi/disway.id
Catatan ini masih melanjutkan dua catatan sebelumnya, menyangkut kisah luar biasa seorang anak kecil di India bernama Shanti Devi. Dia, dalam usianya yang masih balita, mengaku pernah punya kehidupan sebelumnya, pernah punya suami dan anak-anak, dan bisa menjelaskan hal itu secara detail. Karenanya, orang-orang menganggap kisah itu sebagai bukti reinkarnasi. Penjelasan awalnya bisa dibaca di sini: Apakah Kisah Reinkarnasi Shanti Devi Benar-benar Terjadi?

Tetapi, meski kisah itu menggemparkan India, bahkan negara-negara lain pada zamannya (era 1930-an) dan diyakini banyak orang sebagai bukti reinkarnasi, para ilmuwan masih skeptis dengan kisah tersebut, dan belum menganggap kisah Shanti Devi sebagai sesuatu yang ilmiah. Penjelasan selengkapnya bisa dibaca di sini: Mengapa Kasus Reinkarnasi Shanti Devi Tidak Dianggap Ilmiah?

Sekarang, kita akan memperkirakan, apa yang sebenarnya terjadi pada kasus Shanti Devi, sehingga anak itu bisa menyatakan “punya kehidupan sebelumnya”, lalu ucapan-ucapannya dianggap tepat, bahkan detail-detailnya dianggap sesuai kenyataan? Catatan ini tidak dimaksudkan untuk membuktikan benar atau salah, tapi untuk melihat mana yang benar-benar kuat dari kisah Shanti Devi, dan mana yang tampak kuat tapi sebenarnya rapuh.

Dari kisah Shanti Devi, ada bagian yang dianggap kuat, yang jadi alasan kenapa kasus itu sering disebut “meyakinkan”. Pertama, detail yang spesifik. Shanti Devi, sejak kecil, menyebut nama suami di kehidupan sebelumnya, menyebut kota (Mathura) sebagai tempat ia hidup di kehidupan sebelumnya, dan menceritakan rumah, kehidupan, bahkan proses kematiannya sendiri. Itu membuat kasusnya terasa berbeda dari sekadar imajinasi umum.

Kedua, saat dibawa ke Mathura, Shanti Devi disebut mengenali suaminya di “masa lalu” (yang waktu itu masih hidup), mengetahui detail rumah tempat ia hidup dulu, dan mengenali beberapa lokasi di sekitar rumah itu. Detail-detail itu makin menguatkan kisah Shanti Devi.

Ketiga, kasus Shanti Devi bukan hanya cerita keluarga, karena ada investigasi publik. Kasus itu diselidiki oleh komite, bahkan menarik perhatian tokoh seperti Mahatma Gandhi. Fakta itu memberi kesan, “Ini sudah diperiksa secara serius.”

Sekarang, mari kita kritisi satu per satu. Pertama, masalah dokumentasi awal. Apakah semua pernyataan Shanti Devi dicatat sebelum diverifikasi? Yang terjadi, dan yang membuatnya bermasalah, banyak catatan dibuat setelah kasus terkenal, dan tidak semua klaim awal terdokumentasi secara ketat. Hal itu membuka kemungkinan detail bisa “disesuaikan” setelah fakta diketahui.

Kedua, kebocoran informasi. Ini salah satu titik paling krusial. Sebelum perjalanan ke Mathura (tempat yang disebut-sebut Shanti Devi sebagai tempat kehidupannya di masa lalu), keluarganya sudah berkomunikasi dengan pihak yang disebut “suami Shanti Devi di masa lalu”, dan informasi bisa saja tersebar tanpa disadari. Bahkan tanpa niat menipu, orang dewasa bisa memberi petunjuk halus, dan anak bisa menyerapnya.

Ketiga, pengenalan yang tidak benar-benar “blind test”. Idealnya, untuk membuktikan kisah itu, Shanti Devi harus mengenali tanpa petunjuk sama sekali. Namun dalam kasusnya, situasi sosial tidak benar-benar netral, orang-orang tahu siapa yang diuji, dan reaksi lingkungan bisa memberi “clue”. Hal itu membuat hasilnya kurang objektif.

Keempat, adanya seleksi informasi (confirmation bias). Ini sangat penting, karena sering terjadi pada kasus-kasus “ajaib” seperti Shanti Devi. Yang sering terjadi, detail yang cocok akan diingat dan disorot, sementara detail yang tidak cocok akan diabaikan. Dalam banyak kasus, tidak semua klaim Shanti Devi akurat, tapi yang cocok saja yang dipopulerkan.

Kelima, rekonstruksi cerita seiring waktu. Kasus Shanti Devi jadi terkenal karena diceritakan ulang berkali-kali. Masalahnya, setiap pengulangan bisa memperhalus cerita, menghilangkan bagian yang meragukan, dan menambahkan detail dramatis. Kalau kita menceritakan sesuatu yang kita anggap ajaib, sering kali, tanpa sadar, kita akan melebih-lebihkannya, meski sebenarnya tidak bermaksud begitu.

Keenam, kita tidak bisa mengabaikan konteks bahwa India, tempat kisah Shanti Devi terjadi, memiliki tradisi/kepercayaan kuat tentang reinkarnasi, sehingga masyarakat sudah punya “kerangka cerita”. Akibatnya, pengalaman anak lebih mudah ditafsirkan sebagai reinkarnasi, dan orang dewasa cenderung memperkuat narasi itu. Ini tak jauh beda dengan fenomena kepercayaan “indigo” yang pernah populer beberapa waktu lalu. Hanya karena anak kecil ngoceh sesuatu, orang tuanya bisa menyimpulkan anaknya indigo.

Meski banyak kelemahan, kasus Shanti Devi tetap menarik karena manusia sulit menjelaskan, misalnya, bagaimana seorang anak bisa bicara detail yang tampak spesifik, dan kenapa beberapa di antaranya cocok? Itu menyentuh intuisi kita, “terlalu kebetulan kalau semuanya salah”.

Tetapi, di situ pula jebakan kognitifnya. Otak manusia sangat sensitif terhadap pola, dan mudah melihat “keanehan” sebagai makna. Padahal, kombinasi itu bisa terjadi karena kebetulan, sugesti, dan seleksi informasi.

Bagaimana peneliti melihat kasus seperti ini? Peneliti seperti Ian Stevenson menganggap kasus ini “menarik”, tapi tetap tidak bisa menyimpulkan sebagai bukti pasti. Sementara ilmuwan skeptis melihatnya sebagai contoh klasik; bias dokumentasi lemah, dan pengaruh sosial.

Jadi, apa yang sebenarnya [mungkin] terjadi pada kasus Shanti Devi? Kemungkinan yang paling mendekati rasional adalah... anak itu mendengar orang-orang dewasa di sekitarnya mengatakan sesuatu, dan dia mengingatnya. Kemudian, seiring banyak ingatan yang dimilikinya, ia berceloteh seperti layaknya anak kecil, tapi orang tuanya menangkap celotehnya dengan pemahaman orang dewasa. Ditunjang latar belakang India yang kental dengan kepercayaan reinkarnasi, bisa jadi orang tua Shanti Devi menghubungkan celoteh anaknya dengan [kemungkinan] reinkarnasi, lalu cerita itu dibagikan ke orang-orang terdekat, dan orang-orang terdekat menceritakannya kembali ke orang-orang lainnya, hingga menjadi berita besar.

Ketika satu cerita, apalagi yang dianggap luar biasa, dikisahkan dari mulut ke mulut, selalu ada kemungkinan cerita itu tidak utuh. Bisa ada bagian yang dikurangi, ditambahi, atau dilebih-lebihkan—meski mungkin tanpa sadar atau tanpa niat berbohong. Itu kecenderungan alami manusia. Kasus Shanti Devi jadi menarik karena menunjukkan bagaimana memori, budaya, dan persepsi, bisa saling berinteraksi, dan melahirkan sesuatu yang “luar biasa”—kombinasi antara detail nyata dan interpretasi manusia.

Hmm... ada yang mau menambahkan?

Related

Misteri 6165992911558112291

Posting Komentar

emo-but-icon

item