Apakah Kisah Reinkarnasi Shanti Devi Benar-benar Terjadi?
https://www.belajarsampaimati.com/2026/04/apakah-kisah-reinkarnasi-shanti-devi.html?m=0
![]() |
| Ilustrasi/reddit.com |
Pada tahun 1930-an, ada kisah yang menghebohkan India, bahkan negara-negara lain, terkait seorang anak kecil bernama Shanti Devi. Usianya belum lima tahun, tapi dia mengaku punya kehidupan sebelumnya, termasuk punya suami dan anak-anak. Dia juga bisa menyebutkan lokasi dia hidup sebelumnya, bahkan detail kehidupannya di masa lalu.
Shanti Devi menyatakan bahwa di masa kehidupan sebelumnya, ia hidup di tempat bernama Mathura, suatu lokasi yang cukup jauh jaraknya dari tempat tinggalnya sebagai balita. Dan ketika dibawa ke Mathura oleh orang tuanya, Shanti Devi bisa menyebutkan beberapa detail yang dianggap cocok. Karena detailnya cukup spesifik, banyak orang menganggap itu sebagai “bukti” reinkarnasi.
Kisah itu mendapat liputan luar biasa, bahkan sampai menarik perhatian Mahatma Gandhi, dan orang-orang pun [makin] percaya pada reinkarnasi.
Sekarang, menurut pandangan sains, apakah reinkarnasi benar-benar ada, merujuk pada kisah Shanti Devi?
Pertanyaan itu menarik, karena masuk ke wilayah yang sensitif, berada di perbatasan antara keyakinan, pengalaman, dan bukti ilmiah. Sayangnya, dari sudut pandang sains, tidak ada bukti ilmiah yang dapat memastikan bahwa reinkarnasi benar-benar ada. Terkait Shanti Devi, kisahnya memang “sulit dijelaskan secara sederhana”. Tapi bukan berarti tidak dapat dijelaskan.
Kisah terkait Shanti Devi dianggap sangat kuat sebagai bukti reinkarnasi, karena beberapa hal yang mungkin terlewat dari pandangan masyarakat awam. Kisah itu terjadi pada 1930-an, dan terjadi di India. Itu konteks yang sangat penting untuk memahami kisah Shanti Devi.
Pada era 1930-an, belum ada ponsel berkamera yang dapat merekam detik per detik kejadian. Artinya, kisah atau pengakuan Shanti Devi, yang kemudian dipercaya banyak orang, hanya mengandalkan ingatan dan komunikasi lisan orang per orang yang kebetulan tahu cerita itu. Kemudian, kisah Shanti Devi terjadi di India, tempat yang banyak masyarakatnya memang percaya konsep reinkarnasi.
Jika kita bertanya, apakah sains mempercayai reinkarnasi berdasarkan kisah Shanti Devi, jawabannya agak dingin. Karena sains memiliki standar pembuktian yang sangat ketat. Sains baru percaya sesuatu sebagai “benar”, jika bisa diuji ulang, bisa diverifikasi secara independen, dan bebas dari bias. Terkait kisah Shanti Devi, hal semacam itu tidak bisa diulang, bergantung pada kesaksian manusia, dan terjadi dalam konteks sosial tertentu.
Lalu apa yang terjadi pada Shanti Devi, jika itu bukan kasus reinkarnasi? Beberapa kemungkinan yang sering diajukan oleh ilmuwan yang mempelajari kasus itu di antaranya adalah informasi yang tidak disadari (cryptomnesia). Anak bisa mendengar cerita, menyerap informasi, lalu menganggap itu ingatannya sendiri. Kemudian, lingkungan sekitar bisa tanpa sadar memperkuat cerita dan mengarahkan pertanyaan. Hal itu bisa membuat cerita makin “detail”.
Hal lain yang patut diperhatikan, manusia cenderung fokus pada hal yang cocok dan
mengabaikan yang tidak cocok. Itu disebut confirmation bias. Jadi bisa saja Shanti Devi mengatakan banyak hal, lalu orang-orang—tanpa sadar—“menyaring” mana yang cocok dan mana yang tidak. Yang cocok, disebarkan ke orang lain. Yang tidak cocok, disimpan tanpa sadar. Seiring waktu, cerita juga bisa berubah, detail bisa “ditambahkan”, dan kisah itu pun makin terdengar meyakinkan.
Yang menarik, kisah seperti Shanti Devi sebenarnya cukup sering terjadi di India. Itu faktor penting yang harus diperhatikan karena, dalam budaya yang sudah mengenal Hinduism atau Buddhism seperti di India, konsep reinkarnasi sudah ada sejak awal. Akibatnya, pengalaman anak lebih mudah ditafsirkan sebagai “ingatan kehidupan masa lalu”, dan masyarakat lebih menerima serta memperkuat narasi itu.
Apakah ada penelitian serius terkait hal ini? Ada. Peneliti seperti Ian Stevenson, dari University of Virginia, mengumpulkan ratusan kasus “anak mengingat kehidupan sebelumnya”, dan mencoba mendokumentasikannya secara sistematis. Tapi hasilnya tetap kontroversial, dan belum dapat dianggap bukti konklusif oleh komunitas ilmiah.
Jadi, secara ilmiah, kisah Shanti Devi “tidak terbukti, tapi juga belum sepenuhnya dapat dijelaskan semua kasusnya”. Artinya, belum ada bukti kuat bahwa reinkarnasi itu nyata, tapi ada fenomena psikologis yang masih belum sepenuhnya dipahami.
Sebenarnya, yang paling menarik dari kisah Shanti Devi bukan apakah reinkarnasi itu ada atau tidak. Yang menarik justru kenyataan bahwa manusia di berbagai budaya punya ide tentang kehidupan setelah mati. Di India dan Asia, ada konsep reinkarnasi. Di Timur Tengah, ada konsep surga-neraka. Sementara di banyak budaya lain, ada konsep roh leluhur. Kenyataan itu menunjukkan bahwa manusia sangat sulit menerima konsep “kesadaran berakhir total”.
Hmm... ada yang mau menambahkan?


