Apakah Waterboarding Benar-benar Digunakan di Dunia Nyata?
https://www.belajarsampaimati.com/2026/05/apakah-waterboarding-benar-benar.html
![]() |
| Ilustrasi/slashfilm.com |
Di film-film action, khususnya yang terkait dunia intelijen, kadang kita mendapati adegan seseorang yang berbaring, mukanya ditutup handuk, kemudian diguyur air. Tampak tidak menyiksa, tapi praktik itu masuk kategori penyiksaan, dan disebut waterboarding.
Waterboarding memang pernah dilakukan di dunia nyata, terutama dalam konteks tertentu seperti “perang melawan teror” awal 2000-an. Dari situ pula, teknik tersebut bocor hingga populer, dan sering digunakan dalam adegan film-film action. Tapi ada hal penting yang perlu diluruskan terkait waterboarding—teknik itu dilarang oleh hukum di banyak negara.
Seperti yang disebut tadi, waterboarding adalah menutup wajah seseorang dengan kain atau handuk, kemudian air dituangkan terus menerus ke handuk itu. Tampak tidak menyiksa, tapi sebenarnya sangat menyiksa karena tubuh orang yang diguyur air pada handuk di wajahnya itu akan merespons seolah-olah dia sedang tenggelam dalam air. Efeknya adalah panik ekstrem, refleks sesak napas, dan rasa “akan mati”.
Ketika Amerika diguncang peristiwa serangan 11 September, beberapa tahun lalu, CIA menggunakan teknik waterboarding untuk mengorek informasi dari orang-orang yang mereka tangkap—yang mereka tuduh sebagai “teroris”. Ketika praktik itu diketahui dunia luas, hasilnya sangat kontroversial dan banyak dikritik secara global.
Banyak pihak internasional menilai waterboarding sebagai bentuk penyiksaan, bahkan PBB menganggap praktik seperti itu melanggar konvensi anti-penyiksaan. Sementara banyak negara melarang waterboarding secara hukum, atau secara resmi menyatakan tidak menggunakannya.
Apakah teknik waterboarding memang efektif dalam mendapatkan informasi yang dibutuhkan? Di situlah masalahnya. Teknik waterboarding, meski dinilai sangat kejam, nyatanya tidak selalu menghasilkan informasi akurat, karena orang bisa mengatakan apa saja untuk menghentikan rasa sakit. Karenanya, banyak profesional intelijen modern yang lebih memilih metode psikologis (rapport, analisis, dll).
Dalam adegan di film, kita mungkin sering melihat orang langsung menyampaikan informasi tertentu setelah mengalami penyiksaan waterboarding. Tapi realitasnya, informasi yang dihasilkan dari tekanan ekstrem sering tidak bisa dipercaya, dan ada risiko besar kesalahan intelijen.
Dalam praktik intelijen modern, metode yang sering digunakan untuk mendapatkan informasi justru pendekatan yang lebih manusiawi, seperti wawancara berbasis psikologi, membangun kepercayaan, dan analisis konsistensi. Karena teknik itu lebih efektif dan lebih bisa dipertanggungjawabkan.
Jadi, ya, waterboarding memang pernah digunakan di dunia nyata, tapi berbeda dengan yang kita lihat di film-film. Adegan film menampilkan penyiksaan sebagai cara cepat mendapatkan jawaban, tetapi, di dunia nyata, cara seperti itu justru sering menghasilkan informasi yang meragukan dan berisiko besar secara hukum dan moral.
Hmm... ada yang mau menambahkan?


