Ulasan Novel If Tomorrow Comes Karya Sidney Sheldon

Ilustrasi/thefirstedition.com
Pintu sel itu tidak terlalu besar, tapi cukup untuk membuat dunia terasa menyempit jadi ukuran besi dan beton. Dari luar, hidup masih berjalan dengan logikanya sendiri—uang berpindah tangan, orang berbohong dengan cara yang elegan, kekuasaan tetap terlihat rapi. Dari dalam, semuanya berubah jadi satu hal yang lebih sederhana; bertahan.

Di situlah perjalanan Tracy Whitney benar-benar dimulai, meski cerita If Tomorrow Comes tidak berhenti pada satu ruang. Ia bergerak jauh, melintasi kota, negara, bahkan identitas. Tapi momen di dalam penjara itu seperti titik pecah. 

Sebelumnya, Tracy adalah seseorang yang hidupnya terasa terarah—cerdas, berpendidikan, dengan masa depan yang hampir bisa diprediksi. Setelahnya, dunia yang sama terlihat seperti sistem yang tidak pernah benar-benar netral.

Yang menjebaknya bukan kesalahan besar yang direncanakan dengan matang. Lebih seperti rangkaian peristiwa yang saling mengunci, didorong oleh orang-orang yang tahu bagaimana memanfaatkan celah hukum dan kelemahan manusia. Ia dipermainkan oleh jaringan yang lebih kuat, lebih berpengalaman, dan lebih dingin. Ketika semuanya runtuh, Tracy tidak hanya kehilangan kebebasan, tapi juga kehilangan keyakinan bahwa dunia bekerja berdasarkan keadilan.

Perubahan tidak datang sekaligus. Tidak ada satu adegan Tracy tiba-tiba menjadi sosok baru. Ia belajar, pelan-pelan, dengan cara yang tidak romantis. Penjara mengajarinya sesuatu yang tidak bisa diajarkan oleh pendidikan formal; bagaimana membaca orang, bagaimana bertahan di lingkungan yang tidak memberi ruang bagi kelemahan, bagaimana memanfaatkan apa pun yang tersedia.

Sidney Sheldon menulis bagian itu dengan kecepatan yang tetap terasa ringan, tapi di bawahnya ada tekanan yang konstan. Tidak ada usaha untuk membuat penderitaan itu terlalu puitis. Ia ditampilkan sebagai sesuatu yang harus dilewati, bukan direnungkan terlalu lama. Ritme seperti itu khas Sheldon—ia tidak memberi terlalu banyak waktu bagi pembaca untuk tenggelam dalam satu emosi.

Begitu Tracy keluar, dunia tidak jadi lebih ramah. Ia kembali ke masyarakat yang sama, tapi dengan posisi yang berbeda. Ia membawa label yang tidak mudah dihapus, dan dunia luar tidak terlalu peduli pada cerita di balik label yang ia bawa.

Di titik itu, cerita bisa saja bergerak ke arah rehabilitasi; seseorang yang berusaha membangun ulang hidupnya, mencari keadilan melalui jalur yang sah. Tapi Sheldon memilih jalan lain. Tracy tidak mencoba kembali ke sistem yang menjatuhkannya. Ia memilih bermain di luar sistem. Di situlah transformasi itu menjadi jelas. Ia tidak lagi menjadi korban yang bereaksi. Ia berubah menjadi pemain.

Namun permainan yang ia pilih bukan kekerasan. Tracy masuk ke dunia penipuan, pencurian, manipulasi—dunia yang membutuhkan kecerdasan lebih dari kekuatan. Tracy tidak merampok dengan senjata. Ia merancang skenario, membangun ilusi, membaca kelemahan targetnya, lalu masuk dan keluar tanpa meninggalkan jejak yang mudah dilacak. 

Saat membaca If Tomorrow Comes, saya merasakan sesuatu yang menyenangkan dalam cara Sheldon menggambarkan aksi-aksi itu. Setiap rencana seperti teka-teki yang dirakit dengan rapi. Pembaca diajak melihat bagaimana satu detail kecil bisa menentukan keberhasilan atau kegagalan. Itu bagian yang membuat novel ini terasa seperti permainan intelektual, bukan sekadar cerita kriminal.

Tapi kesenangan itu tidak sepenuhnya bersih. Ada ketegangan moral yang tidak selalu diselesaikan. Tracy mencuri, menipu, mempermainkan orang lain. Targetnya sering kali orang-orang kaya, korup, atau serakah—yang dalam logika cerita terasa “layak” menjadi korban. Namun pertanyaan tetap menggantung; apakah itu cukup untuk membenarkan tindakannya?

Sheldon tidak memaksa pembaca menjawab. Ia terus bergerak, seolah pertanyaan itu bisa ditunda.

Di tengah perjalanan, muncul Jeff Stevens, seorang penipu lain yang beroperasi dengan gaya berbeda. Hubungan antara Tracy dan Jeff tidak langsung stabil. Ada ketertarikan, ada kecurigaan, ada permainan kecil yang terus berlangsung. Mereka seperti dua pemain catur yang sama-sama tahu aturan, sama-sama mencoba membaca langkah lawan.

Interaksi mereka memberi dimensi lain pada cerita. Tracy tidak lagi bergerak sendirian. Ada seseorang yang bisa menantangnya, bukan sebagai musuh, tapi sebagai cermin. Dalam beberapa momen, Jeff terlihat seperti versi alternatif dari Tracy—apa yang bisa terjadi jika pilihan-pilihan diambil dengan sedikit perbedaan.

Cerita kemudian bergerak dari satu skema ke skema lain, dari satu kota ke kota lain. Paris, London, New York—latar berubah, tapi pola tetap; rencana, eksekusi, pelarian. Sheldon menjaga ritme tetap cepat, hampir seperti serial adegan yang saling terhubung longgar tapi tetap berada dalam satu garis besar. Di situ terasa kelebihan sekaligus keterbatasannya.

Kelebihannya jelas; cerita tidak pernah terasa lambat. Selalu ada sesuatu yang terjadi, sesuatu yang bergerak. Pembaca tidak dibiarkan berhenti terlalu lama. Setiap bab seperti dorongan kecil ke depan.

Keterbatasannya muncul ketika kedalaman emosional terasa sedikit tertinggal. Tracy berkembang sebagai karakter, tapi tidak selalu diberi ruang untuk sepenuhnya direnungkan. Perubahan yang ia alami lebih terlihat melalui tindakan daripada melalui eksplorasi batin yang panjang.

Mungkin itu memang pilihan. Novel ini, seperti novel-novel Sheldon yang lain, lebih tertarik pada gerak daripada diam.

Ada satu hal yang terus muncul sepanjang cerita; konsep kendali. Di awal, Tracy kehilangan kendali atas hidupnya. Ia menjadi objek dari permainan orang lain. Sepanjang novel, ia berusaha merebut kembali kendali itu, membuktikan bahwa ia tidak lagi mudah dimanipulasi. Setiap rencana yang berhasil menjadi bukti kecil bahwa ia telah berubah posisi. Dari yang dimainkan menjadi yang memainkan.

Tapi kendali semacam itu tidak pernah sepenuhnya stabil. Selalu ada risiko, selalu ada kemungkinan bahwa satu kesalahan bisa meruntuhkan semuanya. Dan Sheldon cukup cerdas untuk tidak membuat semuanya terlalu mudah. Ada momen ketika rencana hampir gagal, ketika situasi tidak berjalan sesuai perkiraan. Ketegangan itu menjaga cerita tetap hidup.

Ketika novel mendekati bagian akhir, fokus mulai bergeser. Bukan lagi hanya tentang permainan intelektual atau balas dendam terhadap sistem. Ada pertanyaan yang lebih personal; apa yang sebenarnya dicari Tracy? Apakah semua itu hanya tentang membalas masa lalu, atau ada sesuatu yang ingin ia bangun di masa depan?

Jawaban yang diberikan tidak sepenuhnya rapi. Tidak semua benang diikat dengan simpul yang kuat. Ada ruang yang dibiarkan terbuka, seperti kehidupan yang tidak selalu mengikuti struktur cerita.

Sebagai karya Sidney Sheldon, novel ini memperlihatkan kemampuan bercerita yang sangat efektif. Ia tahu bagaimana menjaga perhatian pembaca, bagaimana menyusun kejutan, bagaimana membuat karakter tetap menarik tanpa harus terlalu kompleks.

Namun, jika dilihat lebih dalam, ada lapisan lain yang bisa dibaca. Tentang bagaimana seseorang berubah ketika kepercayaan terhadap sistem runtuh. Tentang bagaimana kecerdasan bisa menjadi alat untuk bertahan, bukan hanya untuk memahami. Tentang bagaimana identitas bisa dibentuk ulang, bukan dari awal yang bersih, tapi dari reruntuhan sesuatu yang pernah ada.

Tracy Whitney tidak kembali menjadi dirinya yang lama. Ia juga tidak sepenuhnya menjadi sesuatu yang baru. Ia berada di antara, bergerak, menyesuaikan, memilih. Dan mungkin itu yang membuat ceritanya terasa lebih dekat dari yang terlihat. Karena tidak semua perubahan datang dengan deklarasi. Beberapa terjadi diam-diam, lalu suatu hari kita menyadari bahwa cara kita melihat dunia sudah berbeda.

Sisanya tinggal bagaimana seseorang memilih untuk hidup dengan perubahan itu—atau berpura-pura tidak pernah terjadi. 

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Related

Buku 5563806314164076772

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

item