Archduke Franz Ferdinand Tewas di Sarajevo, Perang Dunia I Meletus
https://www.belajarsampaimati.com/2026/06/archduke-franz-ferdinand-dibunuh-di.html?m=0
![]() |
| Ilustrasi/thecollector.com |
Sarajevo cukup cerah pada pagi 28 Juni 1914. Matahari musim panas memantul di Sungai Miljacka yang mengalir malas di tengah kota. Orang-orang keluar rumah memakai pakaian terbaik mereka, karena pewaris takhta Kekaisaran Austria-Hungaria sedang berkunjung. Bendera dipasang. Polisi berjaga. Anak-anak berdiri di trotoar sambil menunggu iring-iringan mobil lewat.
Lalu seseorang melempar bom.
Bom itu memantul dari mobil terbuka Archduke Franz Ferdinand dan meledak di belakangnya, melukai beberapa perwira dan warga sipil. Salah satu mobil rusak parah. Potongan logam beterbangan. Darah tercecer di jalan. Asap tipis. Teriakan. Percobaan pembunuhan gagal.
Orang yang melempar bom, Nedeljko Čabrinović, langsung menelan sianida lalu melompat ke sungai. Sianidanya kedaluwarsa. Sungainya terlalu dangkal. Polisi menangkapnya dalam keadaan muntah-muntah dan basah kuyup seperti badut revolusi yang gagal total.
Begitulah awal salah satu hari paling mematikan dalam sejarah modern; kacau, kikuk, nyaris absurd.
Franz Ferdinand tetap melanjutkan agenda resmi sesudah ledakan itu. Ada sesuatu yang aneh pada cara aristokrasi Eropa zaman itu memperlakukan bahaya. Mereka hidup di dunia seragam militer mengilap, opera, etiket makan malam, dan keyakinan bahwa kekaisaran akan terus berdiri selamanya. Bahkan setelah bom meledak beberapa meter dari wajahnya, Franz Ferdinand masih menghadiri resepsi di balai kota Sarajevo.
Wali kota mulai membacakan pidato formal yang sudah disiapkan. Franz Ferdinand memotongnya dengan marah, “Saya datang ke sini disambut bom!”
Kalimat itu terdengar manusiawi. Kesal. Capek. Tidak agung.
Archduke Franz Ferdinand sebenarnya bukan sosok yang terlalu dicintai. Di Wina, banyak bangsawan menganggapnya kasar dan keras kepala. Kumisnya tebal. Wajahnya berat. Ia punya kebiasaan berburu berlebihan; ribuan hewan ditembaknya sepanjang hidup. Foto-fotonya sering memperlihatkan tumpukan bangkai rusa dan burung hasil buruannya. Ia juga menikahi Sophie Chotek, perempuan bangsawan tingkat rendah yang dianggap tidak pantas oleh keluarga kerajaan Habsburg.
Sophie sering dipermalukan di acara resmi. Dalam banyak upacara kerajaan, ia bahkan tidak boleh duduk sejajar dengan suaminya. Kekaisaran sebesar Austria-Hungaria masih sibuk mengatur kursi berdasarkan darah ningrat, sementara Eropa sudah dipenuhi bom, nasionalisme, dan buruh lapar.
Kota Sarajevo sendiri waktu itu seperti simpul kabel kusut Balkan. Bosnia baru beberapa tahun dianeksasi Austria-Hungaria. Orang Serbia membenci pemerintahan Wina. Nasionalisme Slavia Selatan sedang mendidih. Organisasi-organisasi rahasia tumbuh di bawah tanah, salah satunya Black Hand, kelompok ultranasionalis Serbia dengan jaringan militer dan operasi pembunuhan politik.
Anak-anak muda Balkan awal abad ke-20 tumbuh dalam suasana yang nyaris demam. Mereka membaca puisi nasionalis, bermimpi tentang revolusi, membawa pistol Belgia FN Model 1910 di saku jas tipis mereka. Banyak yang kurus, sakit-sakitan, dan miskin. Termasuk Gavrilo Princip.
Princip baru 19 tahun. Tubuhnya kecil, wajahnya cekung, mengidap tuberkulosis. Dalam beberapa foto, ia lebih tampak seperti mahasiswa lapar daripada calon pembunuh pewaris kerajaan terbesar Eropa. Ia lahir di desa Obljaj, Bosnia, dari keluarga petani miskin Serbia. Ayahnya tukang pos desa.
Orang sering membayangkan pembunuh dalam sejarah sebagai monster besar dengan mata liar. Princip justru terlihat seperti anak muda yang kurang makan.
Setelah ledakan bom pertama gagal, sebagian besar konspirator mulai panik dan tercerai-berai. Princip sendiri sempat mengira operasi sudah gagal total. Ia berjalan ke dekat Jembatan Latin, dan berhenti di depan toko makanan Moritz Schiller. Ada versi yang mengatakan ia sedang membeli sandwich. Sejarawan masih memperdebatkan detail itu, tetapi justru ketidakjelasan kecil semacam itu yang membuat sejarah terasa nyata. Hidup memang jarang bergerak seperti skenario film yang rapi.
Lalu terjadi kesalahan bodoh. Mobil Franz Ferdinand salah belok.
Pengemudi Archduke, Leopold Lojka, seharusnya mengikuti rute baru menuju rumah sakit untuk menjenguk korban bom sebelumnya. Ia malah masuk ke Franz Josef Street, persis dekat tempat Princip berdiri. Salah satu perwira berteriak bahwa jalannya salah. Mobil berhenti. Mesin mundur perlahan.
Princip mendadak berada beberapa langkah dari targetnya.
Beberapa detik yang aneh sekali. Orang-orang di trotoar mungkin belum benar-benar sadar apa yang sedang terjadi. Udara musim panas. Bau knalpot mobil Gräf & Stift. Keringat di leher. Sungai Miljacka mengalir di dekat situ.
Princip mengeluarkan pistol. Dua tembakan.
Peluru pertama mengenai Sophie di perut. Peluru kedua menembus leher Franz Ferdinand. Darah mulai mengalir deras di seragam birunya. Franz Ferdinand sempat berkata pada istrinya, “Sopherl, jangan mati. Hiduplah untuk anak-anak kita.”
Kalimat terakhir manusia sering terdengar kecil dibanding peristiwa besar yang mengelilinginya.
Sophie meninggal lebih dulu. Franz Ferdinand menyusul beberapa menit kemudian.
Dua peluru dari pistol kecil buatan Belgia kemudian membunuh sekitar 20 juta orang dalam beberapa tahun berikutnya. Kalimat itu sering diulang dalam buku sejarah, dan memang terdengar dramatis. Masalahnya, perang dunia sebenarnya sudah lama menunggu alasan untuk meledak.
Eropa sebelum 1914 seperti ruangan penuh gas bocor. Aliansi militer saling terkait; Triple Alliance, Triple Entente. Perlombaan senjata antara Inggris dan Jerman makin gila. Nasionalisme menyebar seperti demam. Surat kabar haus perang. Para jenderal percaya perang besar akan cepat selesai dan memberi kejayaan nasional.
Mereka salah total.
Austria-Hungaria mengirim ultimatum keras kepada Serbia. Jerman mendukung Austria. Rusia membela Serbia. Prancis terikat pada Rusia. Inggris masuk setelah Jerman menyerbu Belgia. Dalam hitungan minggu, seluruh benua berubah menjadi rumah jagal manusia.
Anak-anak muda, yang sebelumnya berbaris sambil memainkan musik patriotik, akhirnya membusuk di lumpur parit Somme dan Verdun. Gas mustard membakar paru-paru. Tikus memakan mayat. Mesin-mesin perang modern bekerja tanpa emosi. Kekaisaran Rusia runtuh. Kekaisaran Ottoman runtuh. Austria-Hungaria sendiri hancur menjadi pecahan negara kecil.
Semua itu sering dilacak kembali ke Sarajevo.
Kadang saya merasa, orang terlalu menyederhanakan sejarah dengan mencari satu tombol penyebab untuk bencana sebesar Perang Dunia I. Seolah-olah tanpa Princip, Eropa akan baik-baik saja. Padahal benua itu sudah lama mabuk senjata dan supremasi imperium. Pembunuhan di Sarajevo lebih mirip percikan di gudang amunisi yang memang sudah bocor di mana-mana.
Princip ditangkap di tempat. Warga memukulinya sebelum polisi menyeret tubuh kecilnya keluar kerumunan. Karena usianya belum 20 tahun, ia tidak bisa dihukum mati menurut hukum Austria-Hungaria. Ia dipenjara di benteng Theresienstadt.
Tuberkulosis menggerogoti tubuhnya pelan-pelan. Lengannya sampai harus diamputasi karena infeksi tulang. Ia meninggal tahun 1918 dengan berat badan tinggal sekitar 40 kilogram. Kurus. Sakit. Hampir habis.
Di Sarajevo sekarang, wisatawan masih berdiri di dekat Jembatan Latin sambil memotret lokasi penembakan itu. Mobil lewat. Orang minum kopi. Burung merpati turun ke trotoar.
Titik tempat Princip berdiri sebenarnya tidak terlalu istimewa kalau dilihat langsung. Trotoarnya biasa saja. Bangunannya juga tidak megah. Ada sesuatu yang mengganggu ketika sadar jutaan orang mati sesudah beberapa detik kebetulan dan sopir yang salah belok.

.png)


