Che Guevara, Wajah Revolusioner yang Dipisahkan dari Jiwanya

Ilustrasi/tempo.co
Che Guevara mungkin salah satu wajah yang paling dicetak dalam sejarah modern. Rambut berantakan, baret hitam dengan bintang kecil, tatapan jauh ke depan seperti seseorang yang baru selesai memikirkan revolusi atau puisi buruk. Foto karya Alberto Korda itu sekarang hidup di mana-mana; kaus distro, poster kamar kos, gantungan kunci, korek api, mural kampus seni, bahkan kadang dipakai anak-anak kaya yang mengeluh soal kapitalisme sambil minum kopi artisan seharga tujuh dolar.

Ironinya kasar sekali. Che Guevara berubah menjadi produk massal kapitalisme global.

Orang mengenalnya sebagai simbol pemberontakan romantis. Dokter muda Argentina yang naik motor melintasi Amerika Latin, melihat kemiskinan, lalu memutuskan dunia harus dibakar dan dibangun ulang. Film The Motorcycle Diaries membantu membentuk citra itu; Ernesto muda dengan wajah lelah, debu jalanan, penderita kusta, pegunungan Andes, percakapan tentang ketidakadilan sosial sambil merokok di malam dingin.

Kisah itu memang nyata, sampai titik tertentu. Che benar-benar terguncang oleh kemiskinan ekstrem yang ia lihat di Peru, Chile, Guatemala. Amerika Latin pertengahan abad ke-20 memang brutal. Perusahaan asing menguasai tanah. Diktator militer disokong Washington. Petani miskin hidup seperti bayangan samar di negeri mereka sendiri. Bau tanah basah, solar truk, keringat pekerja tambang, tubuh anak-anak kurang gizi—semua masuk ke kepala Che muda, dan tidak keluar lagi.

Lalu romantisme revolusioner bertemu senapan.

Che bertemu Fidel Castro di Meksiko. Mereka naik kapal Granma menuju Kuba, bersama kelompok kecil gerilyawan yang tampak lebih mirip rombongan bunuh diri daripada calon penguasa negara. Banyak yang mati cepat. Sisanya bertahan di Sierra Maestra, gunung yang lembap, penuh nyamuk, lumpur, dan paranoia.

Che ternyata bukan cuma dokter idealis. Ia cepat berubah jadi komandan yang keras.

Catatan hariannya menunjukkan disiplin revolusioner baginya bukan permainan moral setengah hati. Pengkhianat, informan, desertir—semuanya bisa ditembak. Dalam beberapa kesempatan, Che sendiri ikut mengeksekusi orang. Ia percaya kekerasan adalah alat sah untuk menghancurkan sistem lama. Tidak ada nada ragu-ragu liberal di sana.

Orang sering lupa, revolusi bersenjata tidak tumbuh dari poster merah hitam. Revolusi tumbuh dari darah, bau mesiu, tubuh pecah, dan keputusan-keputusan dingin di tengah malam.

Setelah Batista jatuh pada 1959, Havana berubah seperti pesta yang terlalu panjang. Musik, pidato, kerumunan manusia, cerutu, kemenangan. Foto-foto Che saat memasuki kota memperlihatkan aura rockstar revolusioner, bahkan sebelum istilah itu populer. Wajah tampan kurus dengan janggut dan mata yang terlihat lelah sekaligus puas. 

Lalu datang La CabaƱa. Benteng tua di Havana itu menjadi tempat pengadilan revolusioner terhadap pendukung rezim Batista. Che memimpin bagian dari proses itu. Eksekusi dilakukan terhadap orang-orang yang dianggap penyiksa, pembunuh, atau kolaborator rezim lama. Jumlah persis korban masih diperdebatkan, tetapi jelas ada banyak penembakan.

Sebagian warga Kuba waktu itu mendukung penuh. Rezim Batista memang korup dan brutal. Polisi rahasianya menyiksa lawan politik. Banyak keluarga korban Batista melihat pengadilan revolusioner sebagai bentuk keadilan yang terlambat. Masalahnya, revolusi jarang punya rem yang rapi.

Para pengkritik menyebut proses di La CabaƱa sering cepat, politis, dan jauh dari standar pengadilan adil. Eksekusi dilakukan dengan ritme yang membuat banyak orang ngeri. Che sendiri tidak tampak terlalu terganggu oleh kekerasan itu. Dalam tulisan dan pidatonya, ia berkali-kali berbicara tentang kebutuhan akan kebencian revolusioner. Ada kalimat terkenalnya tentang “mesin pembunuh yang dingin” demi perjuangan.

Kalimat seperti itu jarang dicetak di kaus. Budaya pop lebih suka versi Che yang melamun di atas motor daripada Che yang mendukung regu tembak.

Ia juga mendukung kamp kerja paksa untuk “mendidik” orang-orang yang dianggap menyimpang dari moral revolusi baru Kuba. Homoseksual, pembangkang, atau mereka yang dianggap tidak cukup revolusioner, sering mendapat perlakuan keras dalam sistem Kuba awal. Tidak semuanya dirancang langsung oleh Che, tetapi ia bagian dari kultur revolusi yang memandang oposisi sebagai penyakit politik.

Romantisme ideologis sering punya kebiasaan aneh; manusia konkret berubah menjadi hambatan statistik.

Che sebenarnya bukan birokrat yang nyaman duduk lama di kantor. Setelah revolusi, ia memegang jabatan penting; Menteri Industri, Presiden Bank Nasional Kuba. Ada foto lucu sekaligus absurd tentang dirinya menandatangani uang Kuba hanya dengan tulisan “Che”. Ekonomi bukan bakat utamanya. Ia lebih cocok jadi simbol atau kombatan daripada administrator negara.

Eksperimen ekonominya banyak yang gagal. Produksi turun. Sistem kacau. Kuba makin bergantung pada Uni Soviet. Tetapi kegagalan teknokratis tidak merusak auranya di mata anak muda global. Justru sebaliknya, kegagalan membuatnya tampak lebih “murni”, lebih idealis dibanding politisi biasa yang tenggelam dalam kompromi.

Lalu ia pergi lagi mencari revolusi baru. Kongo dulu, lalu Bolivia. Hampir ada sesuatu yang fanatik di situ. Seolah hidup normal setelah kemenangan revolusi terasa terlalu membosankan baginya. Che tampak seperti lelaki yang tidak bisa hidup tanpa proyek sejarah besar. Ia membawa asma kronis, buku, senapan, dan keyakinan bahwa api revolusi bisa diekspor ke mana-mana.

Bolivia menghancurkannya. Hutan Bolivia tidak romantis. Lumpur, serangga, paranoia, kelaparan. Penduduk lokal banyak yang tidak tertarik pada revolusi internasional gaya Havana. CIA membantu tentara Bolivia memburunya. Che makin kurus, makin sakit, makin terisolasi.

Ketika akhirnya tertangkap di desa kecil La Higuera pada 1967, revolusi tampak jauh sekali dari poster-poster heroik yang kelak lahir setelah kematiannya. Foto tubuh matinya bahkan punya aura religius aneh. Mata setengah terbuka, rambut panjang, tubuh terbujur di ruang laundry rumah sakit Vallegrande. Banyak orang membandingkannya dengan lukisan Yesus setelah penyaliban.

Martir selalu lebih mudah dijual daripada pejabat negara.

Setelah mati, Che berubah jadi mitologi internasional. Mahasiswa Paris tahun 1968 mengangkat wajahnya. Aktivis anti-perang Vietnam memakai posternya. Band punk, sutradara film, toko fashion, semua mengambil sedikit bagian dari auranya. Bahkan orang yang tidak pernah membaca satu halaman pun tulisan Che Guevara merasa mengenalnya.

Tulisan-tulisan aslinya sebenarnya jauh lebih keras daripada citra popnya. Ia tidak percaya perubahan sosial lembut dan gradual akan cukup. Ia percaya senjata diperlukan. Ia percaya revolusi membutuhkan disiplin tanpa sentimentalitas. Dalam banyak bagian, Che terdengar seperti seseorang yang rela menghancurkan ribuan hidup demi kemungkinan masyarakat baru.

Orang modern sering menikmati simbol revolusioner tanpa benar-benar tahan terhadap revolusi nyata. Mereka suka estetika gerilya, tetapi tidak suka regu tembak, sensor politik, atau kamp kerja paksa. Wajah Che akhirnya dipisahkan dari isi pikirannya sendiri.

Di Havana hari ini, wajah Che masih terpampang besar di Plaza de la Revolución. Tulisan “Hasta la victoria siempre” berdiri di bawahnya. Turis mengambil selfie sambil berkeringat di bawah matahari Kuba yang keras. Pedagang menjual magnet kulkas dan kaus Che beberapa meter dari mobil Chevrolet tua warna pastel yang dipakai wisata nostalgia.

Lalu di Miami, komunitas pengungsi Kuba tua masih membenci namanya dengan intensitas yang nyaris biologis. Sebagian dari mereka kehilangan keluarga, rumah, atau teman dalam revolusi dan eksodus setelahnya. Nama Che bagi mereka bukan simbol keren. Nama itu berbau penjara, interogasi, ketakutan.

Di toko suvenir Havana, wajah Che dicetak di cangkir kopi murah buatan pabrik. Tatapannya masih diarahkan ke kejauhan, masih tampak keras kepala, masih tampak yakin dunia bisa dipaksa berubah lewat laras senapan.

Kasir toko menerima pembayaran kartu Visa turis Kanada, sementara kipas angin tua berdecit di atas kepalanya.

Related

Tokoh 375528332159330623

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item