Flea, Bassist Red Hot Chili Peppers, Sangat Tidak Suka Diajak Selfie

Ilustrasi/latimes.com
Sebuah foto bisa membunuh percakapan dalam waktu kurang dari lima detik. Kalimat itu terdengar berlebihan sampai membaca komentar Flea, bassist Red Hot Chili Peppers. 

Ketika seorang penggemar bernama Luke Vesely menceritakan pertemuannya dengan Flea dan Anthony Kiedis menjelang konser di Seattle, ia mengatakan bahwa mereka sempat berhenti dan mengobrol. Tidak ada permintaan foto. Tidak ada tanda tangan. Tidak ada ritual khas pertemuan antara selebritas dan penggemar. Hanya percakapan.

Flea kemudian menjelaskan sesuatu yang membuat banyak orang bingung. Ia mengatakan bahwa ia senang berhenti dan berbicara dengan penggemar, tetapi permintaan foto bersama "menghancurkan semuanya secara instan". Kata yang dipilihnya menarik: menghancurkan. Bukan mengganggu. Bukan mengurangi. Menghancurkan.

Reaksi publik bisa ditebak. Banyak orang menganggap Flea aneh. Apa salahnya foto bersama? Bukankah itu bentuk penghargaan? Bukankah seorang penggemar berhak mengabadikan momen yang mungkin hanya terjadi sekali seumur hidup?

Pertanyaan itu masuk akal. Jawaban Flea juga masuk akal. Justru karena keduanya masuk akal, perdebatan ini menarik.

Saya membaca ulang komentarnya beberapa kali. Flea menyebut foto bersama sebagai sesuatu yang terasa seperti transaksi. Kata itu mungkin lebih penting daripada seluruh perdebatan mengenai selfie. Transaksi. Sebuah hubungan yang tadinya spontan berubah jadi pertukaran. Saya memberimu beberapa menit perhatian. Sebagai gantinya, saya mendapatkan bukti digital bahwa saya pernah bertemu kamu.

Percakapan selesai. Hubungan manusia berubah jadi dokumen.

Banyak orang mungkin tidak akan setuju dengan Flea. Saya pun tidak sepenuhnya setuju. Jika suatu hari bertemu dengan artis terkenal, apalagi yang kamu puja, kemungkinan besar kamu juga tergoda meminta foto. Reaksi itu sangat manusiawi. Kita ingin menyimpan sesuatu. Kita ingin membawa pulang bukti bahwa peristiwa tersebut benar-benar terjadi.

Masalahnya, budaya digital telah mengubah makna foto secara drastis. 

Dua puluh tahun lalu, foto adalah kenang-kenangan. Hari ini, foto sering menjadi sertifikat sosial. Lihat, saya pernah bertemu orang ini. Lihat, saya pernah berada di tempat ini. Lihat, saya memiliki akses ke pengalaman yang tidak dimiliki orang lain. Foto tidak lagi sekadar menyimpan memori. Foto sering berfungsi sebagai pengumuman publik.

Saya membayangkan situasi yang diceritakan Luke Vesely. Mungkin mereka berdiri di trotoar dekat arena konser. Udara Seattle yang dingin. Orang-orang lalu-lalang. Flea dan Anthony Kiedis mungkin sedang menuju suatu tempat. Percakapan terjadi. Beberapa kalimat bertukar. Tidak ada telepon yang langsung terangkat ke udara.

Coba ubah satu detail saja. Seseorang mengeluarkan ponsel. Seketika seluruh dinamika berubah.

Orang mulai mengatur posisi badan. Wajah berubah menjadi ekspresi foto. Percakapan berhenti. Fokus berpindah dari manusia ke kamera. Yang semula merupakan interaksi menjadi produksi gambar.

Saya mulai memahami maksud Flea. Ia tampaknya lebih tertarik pada pertemuan daripada dokumentasi pertemuan. Kebanyakan dari kita justru kebalikannya.

Media sosial memperparah kecenderungan itu. Banyak orang tidak lagi mengalami sesuatu secara penuh, sebelum memikirkan bagaimana pengalaman tersebut akan terlihat di layar orang lain. Konser belum selesai, video sudah diunggah. Makanan belum dicicipi, foto sudah diposting. Mata bahkan belum sempat menikmati pemandangan karena sibuk mencari sudut terbaik untuk diabadikan.

Kadang saya melihat lautan ponsel saat konser, dan merasa sedikit aneh. Ribuan orang membayar tiket untuk melihat musisi secara langsung. Ketika musisi itu akhirnya muncul di atas panggung, mereka justru melihatnya melalui layar berukuran enam inci yang sedang mereka pegang sendiri.

Tubuh hadir. Perhatian tidak.

Flea mungkin termasuk generasi yang tumbuh sebelum semua itu menjadi normal. Ia lahir pada 1962. Masa mudanya berlangsung jauh sebelum Instagram, TikTok, atau kamera depan. Ketika seseorang bertemu idola pada era itu, pertemuan tersebut sering berakhir sebagai cerita. Cerita yang diceritakan berulang kali kepada teman-teman.

Sekarang cerita dianggap kurang cukup. Harus ada bukti. Tanpa bukti visual, sebagian orang merasa pengalaman tersebut hampir tidak sah.

Komentar netizen, yang mengatakan bahwa foto bersama idola akan bernilai selamanya, juga menarik. Secara emosional, saya memahami maksudnya. Foto memang bisa menjadi benda yang sangat berharga. Kita membuka album lama dan mendadak terlempar puluhan tahun ke masa lalu. Bau ruangan seakan kembali. Suara-suara lama terasa muncul lagi.

Tetapi jawaban Flea juga membuat saya berhenti sejenak. "Aku sama sekali tak pernah meminta orang berfoto denganku, seumur hidupku."

Kalimat itu terdengar seperti datang dari planet lain. Bukan karena mustahil. Tapi karena semakin sedikit orang yang hidup seperti itu sekarang.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Flea memandang pertemuan dengan orang yang ia kagumi secara berbeda. Ia tampaknya tidak membutuhkan bukti visual untuk memvalidasi pengalaman tersebut. Memori sudah cukup. Percakapan sudah cukup. Kehadiran sudah cukup. Pandangan semacam itu terasa hampir kuno. Mungkin bahkan sedikit asing.

Ada bagian lain yang sering luput dari diskusi. Selebritas menghabiskan sebagian besar hidup mereka menjadi objek. Mereka difoto, direkam, diamati, dianalisis, dikomentari. Hampir setiap hari. Hampir setiap saat. Bagi banyak orang, satu foto dengan musisi favorit adalah peristiwa luar biasa. Bagi seorang musisi terkenal, itu bisa menjadi permintaan ke-200 pada minggu yang sama.

Perbedaan perspektif itu penting. Penggemar mengalami peristiwa tersebut sekali. Artis mengalaminya ribuan kali.

Maka ketika Flea mengatakan bahwa foto menghancurkan keintiman percakapan, saya tidak mendengar kesombongan di sana. Saya mendengar kelelahan tertentu. Keinginan untuk mengalami pertemuan sebagai manusia biasa, bukan sebagai objek yang sedang dipindai kamera.

Lucunya, kisah yang membuat Luke Vesely begitu bahagia justru terjadi karena tidak ada foto. Yang ia dapatkan adalah sesuatu yang lebih langka: beberapa menit percakapan yang tidak diarahkan ke layar, tidak diubah menjadi konten, tidak dibingkai untuk unggahan.

Kita hidup di masa ketika hampir semua pengalaman bisa direkam. Ironisnya, kemampuan merekam segalanya kadang membuat kita lebih sulit mengalami sesuatu secara utuh. Tangan sibuk memegang ponsel. Mata sibuk memeriksa hasil gambar. Pikiran sudah melompat ke unggahan berikutnya.

Sementara itu, di suatu sudut Seattle sebelum konser dimulai, seorang penggemar pulang tanpa foto bersama Flea dan Anthony Kiedis. Ia pulang membawa percakapan. Flea tampaknya menganggap itu hadiah yang lebih besar.

Related

Entertainment 60254797305857213

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item