Kekerasan Seksual di Lingkungan Religius: Pahit, Brutal, tapi Nyata

Ilustrasi/voaindonesia.com
Lampu asrama putri biasanya padam lebih cepat. Setelah Isya, lorong-lorong mulai sepi. Tinggal suara sandal diseret pelan ke kamar mandi, bisik-bisik kecil di balik pintu tripleks, kipas angin tua yang bunyinya patah-patah. Banyak orang tua membayangkan tempat seperti itu sebagai ruang paling aman untuk anak perempuan mereka. Tempat belajar agama. Tempat membentuk akhlak. Tempat menitipkan masa depan.

Lalu berita demi berita muncul.

Kiai mencabuli santriwati di Pati. Pimpinan pondok di Bandung memperkosa belasan murid. Pengasuh pesantren di Jombang. Di Ogan Ilir. Di Batang. Nama tempat berganti-ganti, pola kasusnya terasa sama. Anak-anak perempuan. Relasi kuasa yang timpang. Ancaman. Diam. Takut. Lalu ledakan kasus setelah semuanya terlalu lama dipendam.

Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia tahun 2022 mencatat sekitar 41 persen kasus kekerasan seksual terhadap anak terjadi di lingkungan pesantren. Angka itu seharusnya menghantam keras kesadaran publik. Tapi Indonesia punya kebiasaan aneh; kita lebih cepat sibuk menjaga citra lembaga dibanding menjaga anak yang tubuhnya dirusak di dalam lembaga itu.

Kalau kasus semacam itu muncul sekali dua kali, orang mungkin masih bisa menyebutnya penyimpangan individual. Masalahnya, itu terus berulang. Seperti ada pola yang sengaja tidak mau dibicarakan secara jujur.

Pesantren sebenarnya punya sejarah panjang dan kompleks di Indonesia. Banyak pondok lahir dari kesederhanaan yang keras. Bangunan kayu, tikar pandan, kamar sempit dengan dinding lembap. Anak-anak tidur berdempetan. Sebagian mencuci baju sendiri di sumur. Sebagian lagi makan nasi dengan sayur bening dan tempe tipis sambil jongkok di lantai.

Banyak pesantren benar-benar menjadi tempat pendidikan yang tulus. Itu fakta.

Masalahnya, lingkungan yang sangat hierarkis sering menciptakan ruang gelap yang nyaris tak tersentuh pengawasan. Kiai bukan sekadar guru. Dalam banyak kultur pesantren tradisional, posisi kiai bisa mendekati figur absolut. Ucapannya dianggap berkah. Kemarahannya dianggap kutukan. Ada santri yang bahkan mencium tangan kiai sambil menundukkan kepala sangat dalam, nyaris seperti ritual feodal.

Anak umur 13 atau 14 tahun hidup jauh dari orang tua, berada di lingkungan tertutup, lalu diajar bahwa melawan guru adalah dosa besar. Itu kombinasi yang berbahaya sekali.

Pelaku kekerasan seksual sangat memahami struktur semacam itu. Mereka jarang terlihat seperti monster. Banyak justru tampil alim. Bicara halus. Memimpin doa. Mengisi ceramah tentang akhlak. Sebagian hafal kitab klasik berbahasa Arab. Ada yang suaranya lembut ketika membaca ayat Quran. Wajahnya muncul di baliho pengajian.

Tubuh manusia memang bisa menyimpan kontradiksi menjijikkan.

Kasus di Bandung beberapa tahun lalu memperlihatkan bagaimana seorang pimpinan pondok pesantren memperkosa belasan santriwati selama bertahun-tahun. Sebagian korban bahkan melahirkan anak. Bayangkan situasinya; anak perempuan hidup di bawah otoritas penuh seorang pemimpin agama, lalu dipaksa masuk ke relasi seksual yang dibungkus manipulasi spiritual.

Beberapa korban mengaku takut masuk neraka jika melawan.

Kalimat seperti itu bikin tenggorokan terasa pahit.

Kekerasan seksual di lingkungan religius sering punya lapisan psikologis yang lebih rumit dibanding kekerasan biasa. Pelaku tidak hanya menguasai tubuh korban, tapi juga kesadaran moral korban. Anak dibuat percaya bahwa dirinya berdosa, kotor, atau justru “dipilih” untuk sesuatu yang suci.

Manipulasi semacam itu kejam sekali, karena merusak bahasa di kepala korban. Bahkan setelah bertahun-tahun, sebagian korban masih bingung membedakan mana ajaran agama, mana eksploitasi predator.

Indonesia sering gagal membaca persoalan ini karena terlalu cepat defensif. Setiap kali kasus di pesantren muncul, respons yang keluar hampir otomatis; “Jangan generalisasi.” “Ini oknum.” “Pesantren banyak jasanya.”

Kalimat-kalimat itu mungkin benar sebagian. Tapi sering dipakai seperti karpet untuk menutup bau bangkai.

Sebab persoalannya bukan cuma soal individu bejat. Ada struktur yang membuat korban sulit bicara dan pelaku mudah dilindungi.

Beberapa pondok menolak laporan dibawa ke polisi karena takut nama pesantren rusak. Orang tua korban dibujuk damai. Santri diminta diam demi menjaga marwah lembaga. Bahkan di media sosial, ada netizen yang lebih sibuk membela institusi daripada bertanya apa yang dialami anak-anak itu setiap malam di kamar asrama mereka.

Kita hidup di negara yang sering memperlakukan reputasi lembaga agama lebih suci daripada tubuh anak.

Bagian paling mengganggu justru muncul setelah kasus meledak. Banyak pelaku tetap punya pembela fanatik. Ada jamaah yang menangis membela kiai pelaku pencabulan. Ada yang percaya itu fitnah. Ada yang menuduh korban sengaja menjatuhkan ulama.

Kultus terhadap figur agama di Indonesia kadang sudah melewati batas sehat. Orang berhenti melihat manusia sebagai manusia. Kiai berubah menjadi simbol sakral yang dianggap nyaris tak mungkin salah.

Padahal sejarah agama mana pun penuh dengan manusia yang memakai simbol kesalehan untuk menutupi kerakusan seksual. Gereja Katolik punya skandal besar. Ashram Hindu punya kasus serupa. Komunitas Buddhis juga tidak steril. Tempat yang memberi otoritas moral tinggi kepada seseorang selalu punya risiko melahirkan predator yang bersembunyi di balik kehormatan itu.

Tubuh anak-anak menjadi medan kekuasaan.

Saya sering terganggu oleh detail-detail kecil dalam berita semacam itu. Misalnya ketika membaca korban tidak berani tidur sendirian setelah kejadian. Ada yang berhenti sekolah. Ada yang muntah setiap mendengar suara motor pelaku. Ada yang tetap harus melihat wajah pelaku setiap hari sebelum kasus terbongkar.

Trauma tidak selalu dramatis seperti film. Kadang bentuknya sederhana dan menyiksa; sulit tidur, gemetar saat mendengar langkah kaki tertentu, atau mendadak diam ketika seseorang menyebut kata “ustaz”.

Lalu masyarakat datang membawa tuntutan moral tambahan kepada korban. Kenapa baru bicara sekarang? Kenapa tidak melawan? Kenapa mau diajak masuk kamar?

Pertanyaan-pertanyaan itu sering keluar dari orang dewasa yang lupa seperti apa rasanya menjadi anak kecil di bawah tekanan figur otoritas.

Anak-anak bukan mesin logika.

Mereka takut. Bingung. Bergantung secara emosional pada lingkungan tempat mereka hidup. Banyak santriwati bahkan tidak punya akses mudah keluar pondok atau menghubungi keluarga. Beberapa pondok membatasi penggunaan ponsel. Dunia mereka kecil dan tertutup.

Predator suka ruang semacam itu.

Kita juga perlu jujur membicarakan bagaimana seksualitas masih dianggap topik tabu di banyak keluarga Muslim Indonesia. Anak perempuan sering dibesarkan dengan pendidikan kepatuhan, bukan pendidikan tentang batas tubuh dan consent. Mereka diajari menjaga kehormatan keluarga, menjaga aurat, menjaga sopan santun—tapi tidak diajar cukup jelas bahwa bahkan seorang kiai pun tidak berhak menyentuh tubuh mereka tanpa persetujuan.

Akibatnya, banyak korban baru sadar dirinya dilecehkan setelah semuanya berlangsung lama.

Di beberapa kasus, pelaku memakai dalih absurd; ritual pengobatan, transfer ilmu, baiat spiritual, doa khusus. Kedengarannya gila. Tapi relasi kuasa bisa membuat manusia percaya hal-hal yang dari luar tampak mustahil.

Agama memang bisa menjadi sumber ketenangan dan moral. Tapi ketika agama menyatu dengan kekuasaan tanpa pengawasan, hasilnya sering mengerikan. Orang yang dianggap paling dekat dengan Tuhan kadang justru menjadi sosok yang paling sulit disentuh hukum.

Lihat saja bagaimana beberapa kasus baru bergerak serius setelah viral. Setelah media ramai. Setelah tekanan publik datang bertubi-tubi. Seolah tubuh anak-anak belum cukup penting sebelum menjadi trending topic.

Pesantren tidak akan hancur karena kritik. Yang menghancurkan justru kebiasaan menutup borok sambil terus bicara soal akhlak.

Di layar televisi, para pejabat masih suka memuji pesantren sebagai benteng moral bangsa. Kalimat itu terus diulang dalam seminar dan pidato resmi. Sementara di tempat lain, seorang santriwati mungkin sedang duduk diam di pojok kamar asrama, menahan mual setiap mendengar langkah kaki di depan pintu kamarnya.

Related

Indonesia 1473051412851576349

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item