Skandal Kiai di Pati, Retaknya Topeng Agama untuk Kesekian Kali

Ilustrasi/kompas.com
Pondok pesantren biasanya dibayangkan lewat suara. Bukan lewat gambar. Suara sandal yang diseret ke masjid sebelum subuh. Suara hafalan yang diulang pelan dari balik jendela asrama. Suara sendok aluminium beradu dengan piring seng saat makan malam. Kadang suara kipas tua yang berdecit terus sampai orang lupa itu bunyi apa. Di banyak kampung Jawa, pesantren masih dianggap ruang yang lebih aman daripada dunia luar. Orang tua menitipkan anak perempuan mereka ke sana dengan keyakinan yang hampir religius; kalau sudah di bawah asuhan kiai, anak akan dijaga.

Lalu berita dari Pati itu muncul, dan semuanya langsung terasa busuk.

Seorang pria yang disebut kiai ditangkap polisi atas dugaan pencabulan terhadap puluhan santriwati. Jumlah korban yang disebut media bukan satu atau dua. Sekitar 50 santriwati. Lima puluh. Angka sebesar itu membuat kasus ini berhenti menjadi “penyimpangan individu”. Ada sesuatu yang rusak dalam waktu lama sampai seorang laki-laki bisa bergerak sejauh itu tanpa dihentikan.

Kasus itu terjadi di sebuah pondok pesantren di Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Polisi menetapkan pria yang disebut “kiai” sebagai tersangka. Ia disebut sebagai pengasuh pondok. Sosok yang sehari-hari kemungkinan dipanggil “abah”, “yai”, atau “pak kiai” oleh para santri. Gelar-gelar yang di desa tidak sekadar sapaan. Ada aura kekuasaan di sana. Orang mencium tangan mereka. Orang meminta doa mereka sebelum berangkat haji, sebelum buka usaha, sebelum menikah.

Dan sekarang polisi menangkapnya karena dugaan pencabulan terhadap anak-anak perempuan yang tinggal di bawah otoritasnya.

Saya selalu merasa ada sesuatu yang mengerikan dari cara masyarakat Indonesia memperlakukan figur agama. Kita tidak sekadar menghormati mereka; kita sering mematikan alarm logika kita sendiri di depan mereka. Kiai bisa bicara omong kosong medis, politik, bahkan bisnis, lalu tetap dipercaya karena sorban dan reputasi kesalehan menciptakan semacam efek hipnosis sosial.

Orang desa sering lebih takut durhaka kepada kiai daripada takut dibohongi.

Dalam kasus seperti di Pati, saya tidak terlalu tertarik pada detail kriminalitasnya. Polisi akan mengurus pasal, pemeriksaan, visum, saksi. Yang lebih mengganggu justru atmosfer yang memungkinkan semua itu berlangsung. Lima puluh korban tidak muncul dalam satu malam. Itu berarti ada rentang waktu panjang. Bertahun-tahun, mungkin. Ada kamar. Ada jadwal mengaji. Ada rutinitas harian. Ada santri yang mungkin ketakutan tapi bingung harus cerita ke siapa.

Lalu hidup terus berjalan seperti biasa. Orang-orang masih datang sowan. Masih meminta doa. Masih mengirim anak ke pondok.

Kasus kekerasan seksual oleh tokoh agama selalu punya pola yang mirip; pelaku hidup dalam struktur yang membuatnya hampir tak tersentuh. Ia dihormati sekaligus ditakuti. Korban merasa bersalah bahkan saat mereka dilecehkan. Lingkungan sekitar lebih sibuk menjaga nama baik lembaga daripada melindungi anak-anaknya.

Saya pernah mendengar cerita dari seorang mantan santri putri di Jawa Timur. Ia bilang ada aturan tak tertulis di banyak pesantren tradisional; jangan macam-macam bicara soal kiai. Jangan membuat fitnah. Jangan melawan dawuh. Kata “fitnah” di lingkungan seperti itu berat sekali. Anak-anak perempuan bisa dibuat merasa bahwa melapor sama saja menghancurkan nama pondok dan mencoreng agama.

Pelaku tidak perlu mengancam terlalu keras kalau sistem sosial sudah bekerja untuknya.

Orang sering membayangkan predator seksual sebagai sosok liar yang bergerak sembunyi-sembunyi di gang gelap. Kenyataannya kadang jauh lebih banal. Mereka duduk di kursi terhormat. Memimpin doa. Memberi ceramah soal akhlak. Difoto bersama pejabat lokal. Wajahnya mungkin terpampang di spanduk pengajian Maulid Nabi.

Topeng agama itu bukan sekadar alat penyamaran. Kadang ia berubah jadi tameng aktif. Karena masyarakat kita punya kebiasaan aneh; semakin religius penampilan seseorang, semakin malas kita curiga. Jenggot, peci, gamis putih, istilah Arab, cara bicara lembut—semua itu sering dianggap bukti moralitas. Padahal manusia tidak berubah suci hanya karena sering mengutip hadis.

Orang cabul juga bisa hafal kitab.

Saya membaca komentar-komentar di media sosial soal kasus ini. Sebagian langsung marah pada pesantren secara umum. Sebagian buru-buru defensif; “jangan generalisasi.” Pola itu terus berulang setiap ada kasus tokoh agama. Seolah publik dipaksa memilih antara menutup mata atau membenci seluruh institusi.

Yang jarang dibicarakan adalah budaya feodal di banyak lembaga keagamaan kita memang nyata. Tidak semua pesantren begitu, jelas tidak. Banyak pesantren justru jadi tempat pendidikan yang baik dan keras terhadap kekerasan seksual. Tapi kita juga tidak bisa pura-pura bahwa struktur kuasa di beberapa pondok sering terlalu absolut.

Kiai adalah pemilik otoritas spiritual sekaligus sosial. Kadang ekonomi juga. Santri bergantung. Orang tua segan. Warga sekitar hormat. Kombinasi itu bisa sangat berbahaya ketika jatuh ke tangan orang yang busuk.

Dan manusia busuk sering pandai memainkan simbol kesalehan.

Kasus di Pati terasa lebih pahit karena korbannya santriwati. Anak-anak yang kemungkinan dikirim keluarga dengan harapan jadi pribadi salehah. Saya membayangkan koper-koper mereka saat pertama datang ke pondok. Isi pakaian, mukena, kitab kecil, mungkin sebungkus rengginan dari rumah. Orang tua mereka mungkin menangis haru ketika melepas anak di gerbang pondok.

Lalu bertahun-tahun kemudian, nama pondok itu muncul di berita kriminal.

Bau cat tembok asrama, lantai dingin mushala selepas subuh, suara ngaji habis magrib—semua detail keseharian pesantren mendadak terasa lain ketika kasus semacam itu pecah. Ruang yang seharusnya mendidik justru menyimpan ketakutan yang tidak kelihatan.

Saya juga terganggu oleh satu hal lain; betapa sering masyarakat lebih sibuk menjaga citra agama daripada menjaga korban. Setiap kali kasus seperti ini muncul, selalu ada suara yang khawatir “nanti orang jadi benci ulama”. Kalimat itu terdengar sopan, tapi kadang menjijikkan juga kalau dipikir-pikir. Anak-anak dilecehkan, lalu perhatian pertama sebagian orang justru reputasi institusi.

Refleks perlindungan terhadap simbol kadang lebih cepat daripada empati terhadap manusia.

Di media sosial X, akun-akun mengunggah ulang berita itu dengan nada marah, sinis, bahkan putus asa. Orang sudah terlalu sering mendengar cerita tokoh agama yang ternyata predator. Nama berbeda, kota berbeda, modus berbeda sedikit, pola kuasanya mirip.

Dan setiap kali kasus muncul, publik selalu kaget dengan cara yang sama. Seolah masyarakat masih memegang fantasi bahwa gelar agama otomatis membersihkan hasrat buruk manusia. Padahal sejarah penuh oleh orang saleh palsu. Dari pastor, biksu, ustaz, guru spiritual, sampai televangelist. Institusi agama tidak kebal dari predator; justru kadang jadi tempat ideal karena di sana kepatuhan dianggap kebajikan.

Anak kecil diajari taat sebelum diajari curiga. Mungkin itu bagian yang paling menyeramkan.

Polisi sekarang memproses kasusnya. Berita akan terus bergerak. Akan ada konferensi pers, pemeriksaan tambahan, mungkin pengacara, mungkin pembelaan dari sebagian pengikut. Siklus biasa. Beberapa minggu lagi timeline mungkin pindah ke skandal lain.

Di salah satu kamar pondok itu mungkin masih ada lemari warna cokelat milik santri. Masih ada mukena tergantung. Masih ada kitab dengan nama pemilik, ditulis pakai spidol hitam di halaman depan.

Dan seseorang pernah masuk ke ruang hidup anak-anak itu sambil membawa status “kiai”.

Related

Hoeda's Note 769604679836084758

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

item