Kemiskinan Terjadi Bukan karena Takdir, tapi karena Sistem
https://www.belajarsampaimati.com/2026/06/kemiskinan-terjadi-bukan-karena-takdir.html?m=0
![]() |
| Ilustrasi/republika.id |
Siapa pun yang pernah duduk di warung kopi pinggir jalan sambil mengaduk kopi sachet seharga tiga ribu rupiah, hampir pasti pernah mendengar kalimat yang sama, “Sudah, sabar saja. Rezeki tidak akan tertukar.”
Kalimat itu meluncur begitu ringan. Ringan sekali. Seolah orang yang mengucapkannya tidak perlu memikirkan uang kontrakan akhir bulan, biaya sekolah anak, atau harga minyak goreng yang naik lagi minggu depan.
Kalimat semacam itu terdengar menenangkan. Masalahnya, banyak hal yang terdengar menenangkan justru berfungsi seperti obat bius.
Seorang buruh pabrik yang bekerja dua belas jam sehari dan tetap tidak mampu membeli rumah akan diberi tahu bahwa kekayaan dan kemiskinan adalah takdir. Pedagang kaki lima yang dagangannya sepi karena pusat perbelanjaan modern menguasai arus konsumen akan diberi tahu bahwa setiap orang sudah memiliki bagian rezekinya masing-masing. Nelayan kecil di Pantura yang harus bersaing dengan kapal-kapal besar bermodal ratusan juta rupiah akan mendengar nasihat tentang kesabaran.
Aneh sekali. Ketika seseorang kaya karena warisan, koneksi keluarga, monopoli bisnis, kedekatan politik, atau kepemilikan aset yang diwariskan turun-temurun, orang jarang berkata, “Sistem ekonomi kita perlu diperiksa.” Ketika seseorang miskin, tiba-tiba pembicaraan bergeser ke takdir.
Di situlah kecurigaan muncul.
Kemiskinan bukan sekadar kondisi individu. Kemiskinan memiliki alamat. Kemiskinan memiliki sejarah, bahkan struktur. Nama-nama tempat sering kali sudah cukup menjelaskan semuanya. Lihat kawasan Kibera di Nairobi, salah satu permukiman kumuh terbesar di Afrika. Lihat kawasan Dharavi di Mumbai yang selama puluhan tahun menjadi simbol ketimpangan India. Lihat daerah-daerah bekas pertambangan di Appalachia, Amerika Serikat. Orang-orang di sana bukan bangun pagi lalu secara misterius ditunjuk langit untuk menjadi miskin.
Mereka hidup dalam sistem yang menghasilkan pemenang dan pecundang.
Ekonom Prancis, Thomas Piketty, menghabiskan ribuan halaman untuk menunjukkan bagaimana kekayaan cenderung terkonsentrasi pada mereka yang sudah memiliki modal. Kekayaan menghasilkan kekayaan baru lebih cepat daripada kerja menghasilkan kekayaan. Pemilik apartemen memperoleh pemasukan bahkan ketika tidur. Pemilik saham memperoleh dividen tanpa harus mengangkat karung semen. Buruh harus menjual waktu hidupnya setiap hari.
Banyak orang tidak suka mendengar fakta itu, karena fakta tersebut merusak cerita yang nyaman. Cerita yang nyaman mengatakan bahwa semua orang berada di garis start yang sama. Cerita yang nyaman mengatakan bahwa kerja keras akan selalu dibayar setimpal. Cerita yang nyaman mengatakan bahwa kegagalan adalah kesalahan pribadi.
Padahal garis start manusia bahkan tidak berada di stadion yang sama.
Seorang bayi yang lahir di Menteng dari keluarga kaya memasuki dunia dengan akses yang berbeda dibanding bayi yang lahir di gang sempit dekat bantaran Sungai Code di Yogyakarta. Mereka menghirup udara yang sama, tetapi peluang yang tersedia di depan mereka berbeda sejak hari pertama. Yang satu mungkin memiliki perpustakaan di rumah, les bahasa Inggris, sekolah mahal, jaringan keluarga profesional. Yang lain mungkin tumbuh di lingkungan dengan sekolah yang kekurangan guru dan fasilitas.
Takdir sering dipakai untuk menutupi kenyataan yang terlalu telanjang.
Kalimat “rezeki tidak akan tertukar” terdengar sangat indah sampai kita bertanya satu hal sederhana: kalau begitu mengapa perusahaan menghabiskan miliaran rupiah untuk melobi pemerintah? Mengapa konglomerat berlomba memperoleh konsesi tambang? Mengapa kelompok bisnis berusaha mendapatkan regulasi yang menguntungkan mereka? Mengapa orang yang duitnya sudah mblarah-mblarah masih juga rakus?
Kalau rezeki memang tidak akan tertukar, seharusnya mereka bisa santai.
Fakta bahwa orang-orang paling kaya di dunia terus berjuang mempertahankan posisi mereka menunjukkan bahwa mereka sendiri memahami betapa besar peran struktur ekonomi dan politik. Mereka tidak duduk tenang menunggu takdir. Mereka menyewa pengacara, konsultan, akuntan pajak, pelobi, analis pasar, dan staf hubungan pemerintah.
Nasihat tentang takdir hampir selalu bergerak ke satu arah; ke wajah orang-orang miskin! Orang miskin diminta menerima takdir, seolah tidak ada pilihan yang lebih baik.
Di banyak negara, ketimpangan ekonomi bukan sekadar hasil kompetisi pasar. Ia lahir dari keputusan politik yang sangat konkret. Tarif pajak ditentukan manusia. Upah minimum ditentukan manusia. Regulasi tenaga kerja ditentukan manusia. Hak kepemilikan tanah ditentukan manusia. Subsidi ditentukan manusia. Semua itu keputusan politik—sistem yang dibuat manusia.
Siapa pun yang cukup waras pasti akan melihat ketidakberesan ketika gaji seorang pekerja habis untuk kebutuhan dasar, sementara perusahaan tempatnya bekerja membukukan keuntungan triliunan rupiah. Angka-angka itu berdiri berdampingan dalam halaman yang sama. Satu orang menghitung sisa uang makan sampai akhir minggu. Sekelompok pemegang saham merayakan kenaikan dividen.
Lalu seseorang datang membawa kalimat tentang takdir. Sulit untuk tidak merasa ada sesuatu yang sedang disembunyikan.
Bahkan dalam sejarah Islam sendiri, persoalan ini tidak sesederhana slogan yang sering dilemparkan. Banyak pemikir Muslim klasik berdebat keras mengenai hubungan antara kehendak Tuhan, tindakan manusia, keadilan sosial, dan tanggung jawab penguasa. Kemiskinan tidak otomatis dianggap sebagai keadaan yang harus diterima tanpa kritik. Khalifah bisa diprotes. Gubernur bisa dikritik. Pajak bisa dipersoalkan. Korupsi bisa dikecam.
Beberapa kelompok teolog bahkan berdebat berabad-abad mengenai sejauh mana manusia bertanggung jawab atas kondisi sosial yang mereka ciptakan. Perdebatan itu tidak lahir dari ruang hampa. Tapi pergulatan intelektual yang panjang itu lalu disimpulkan seenak jidat, “Tak perlu khawatir soal rezeki.”
Kita pasti sering melihat foto-foto pekerja migran yang tidur berdesakan di asrama sempit, atau membaca berita petani yang menjual hasil panen dengan harga rendah sementara rantai distribusi mengambil keuntungan jauh lebih besar. Foto-foto atau berita semacam itu memiliki detail yang mengganggu. Sandal yang sudah aus. Cat tembok yang mengelupas. Wajah yang tampak jauh lebih tua daripada usia sebenarnya.
Takdir menjadi kata yang sangat murah ketika diucapkan dari ruangan berpendingin udara.
Saya tidak mengatakan bahwa keberuntungan tidak ada. Keberuntungan jelas ada. Kecelakaan hidup juga ada. Penyakit, bencana, perang, lokasi kelahiran—semuanya mempengaruhi nasib manusia. Dunia memang tidak sepenuhnya adil.
Masalah muncul ketika kata “takdir” berubah menjadi alat politik. Saat takdir dipakai untuk menghentikan pertanyaan. Saat takdir dipakai untuk menghindari pembahasan tentang upah. Saat takdir dipakai untuk menghindari pembahasan tentang monopoli. Saat takdir dipakai untuk menghindari pembahasan tentang korupsi. Saat takdir dipakai untuk menghindari pembahasan tentang pendidikan yang timpang. Saat takdir dipakai untuk menghindari pembahasan tentang siapa yang menguasai sistem, modal, dan akses kekuasaan.
Kata takdir jadi berubah fungsi. Ia tidak lagi menjelaskan kenyataan, tapi dipakai untuk menjaga kenyataan tetap bobrok seperti sekarang.
Tentu tidak semua orang yang mengucapkan kalimat-kalimat tersebut memiliki niat buruk. Banyak yang tulus. Banyak yang benar-benar ingin menghibur. Banyak yang mengulang nasihat yang mereka dengar sejak kecil tanpa pernah memikirkan konsekuensinya.
Tetapi sebuah gagasan tidak menjadi benar hanya karena diucapkan dengan niat baik. Seseorang bisa sangat tulus dan tetap membantu mempertahankan kebohongan.
Di sebuah gang sempit, seorang ibu mungkin sedang menghitung uang receh untuk membeli beras. Di tempat lain, beberapa orang sedang membahas investasi baru sambil memandangi grafik keuntungan yang terus naik. Jarak antara keduanya tidak tercipta karena kalimat-kalimat metafisik. Jarak itu dibangun oleh kepemilikan aset, akses pendidikan, jaringan sosial, kebijakan ekonomi, sejarah keluarga, dan distribusi kekuasaan yang sangat nyata.
Kalimat tentang takdir terdengar jauh lebih indah daripada laporan anggaran negara. Mungkin karena laporan anggaran negara bisa menunjukkan nama-nama yang bertanggung jawab.

.png)

