Nasib Wanita Indonesia di Arab Saudi: Diperkosa 15 Laki-laki Setiap Hari
https://www.belajarsampaimati.com/2026/05/nasib-wanita-indonesia-di-arab-saudi.html
![]() |
| Ilustrasi/amirariau.com |
Di sebuah kamar di Arab Saudi, seorang perempuan dari Nusa Tenggara Timur menghitung hari bukan dengan kalender, tapi dengan tubuhnya sendiri. Satu laki-laki. Dua laki-laki. Lima belas laki-laki sehari. Kadang lebih. Ia menunggu malam selesai seperti orang menunggu demam turun; tanpa harapan besar, hanya ingin lewat saja.
Namanya tidak disebut penuh di banyak unggahan media sosial yang viral beberapa hari terakhir. Umurnya 22 tahun. Berasal dari Kabupaten Sikka. Dalam video pengakuannya yang beredar, suaranya pecah-patah. Bukan tangisan dramatis seperti sinetron televisi. Lebih mirip suara orang yang terlalu capek untuk panik. Ia mengaku dijual ke jaringan perdagangan orang di Arab Saudi setelah berangkat sebagai pekerja migran Indonesia. Janjinya pekerjaan. Yang datang malah penyekapan dan eksploitasi seksual.
Video itu menyebar cepat. Orang-orang menontonnya sambil rebahan, sambil makan gorengan, sambil mengetik, “ya Allah tega banget.” Lalu timeline bergerak lagi. Konten lain muncul. Skandal lain datang. Indonesia memang negeri yang sangat cepat mengubah tragedi menjadi lalu lintas digital.
Kementerian Luar Negeri RI kemudian bergerak. Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Jeddah ikut menangani. Polisi NTT menyebut ada dugaan tindak pidana perdagangan orang. Nama seorang perekrut mulai disebut. Jalurnya sedang ditelusuri. Frasa-frasa resmi bermunculan; “pendalaman kasus”, “koordinasi lintas instansi”, “perlindungan WNI”.
Bahasa birokrasi selalu terdengar steril bahkan ketika membahas tubuh perempuan yang dihancurkan bergiliran.
Saya membaca berita itu malam hari. Mata terasa pedih bukan karena sedih, tapi karena terlalu lama menatap layar ponsel dengan cahaya putih dingin. Di salah satu video, perempuan itu mengenakan jilbab hitam. Ada jeda-jeda aneh ketika ia bicara, seperti seseorang sedang memilah bagian mana dari penderitaan yang masih sanggup diucapkan.
Orang sering membayangkan korban perdagangan manusia akan bicara meledak-ledak, penuh histeria. Kenyataannya tidak selalu begitu. Banyak korban terdengar datar. Tubuh manusia punya cara sendiri untuk mematikan alarm ketika rasa sakit terlalu rutin.
Lima belas laki-laki sehari.
Angka itu sendiri sudah terasa seperti kekerasan. Bahkan sebelum kita membayangkan detail lain; bau kamar yang pengap, pendingin ruangan yang mungkin terlalu dingin, lantai yang lengket, suara pintu dibuka-tutup, rasa perih di tubuh yang tidak sempat pulih karena antrean berikutnya datang lagi.
Orang Indonesia punya hubungan yang aneh dengan pekerja migran. Kita menyebut mereka “pahlawan devisa” setiap kali negara membutuhkan narasi patriotik. Foto mereka dipasang di baliho kementerian. Kisah sukses mereka dipamerkan saat remitansi naik. Tapi ketika mereka pulang dalam peti mati, atau ketika mereka disiksa majikan, atau ketika mereka dijual ke jaringan prostitusi lintas negara, pemerintah kita sering terdengar seperti operator call center yang sedang membaca SOP.
Kasus-kasus seperti ini sebenarnya bukan kejadian baru. Hanya pola lamanya makin brutal. NTT sudah lama menjadi salah satu daerah paling rentan dalam perdagangan orang. Nama-nama kabupaten seperti Sikka, Kupang, Timor Tengah Selatan, Lombok Timur, sering muncul berulang dalam laporan-laporan migrasi ilegal. Agen perekrut datang membawa janji kerja ke desa-desa yang listriknya kadang masih mati-hidup. Mereka bicara soal gaji besar sambil duduk di ruang tamu rumah semen yang catnya mulai mengelupas. Orang tua mendengar dengan campuran harapan dan putus asa.
Karena apa pilihan lainnya?
Banyak orang kota suka memberi nasihat moral dari jauh. “Kenapa mau berangkat ilegal?” Kalimat itu gampang diucapkan dari kamar ber-AC dengan koneksi WiFi stabil. Lebih susah diucapkan kalau setiap pagi melihat ibu menghitung utang warung sambil menanak nasi jagung.
Kemiskinan sering dibahas terlalu abstrak di Indonesia. Seolah ia cuma data statistik di layar presentasi kementerian. Padahal kemiskinan punya suara yang spesifik. Bunyi panci kosong di dapur. Bunyi sandal jepit anak kecil yang putus. Bunyi motor tua yang dipaksa hidup lagi untuk mengantar seseorang pergi ke bandara dan entah kapan kembali.
Jaringan perdagangan orang paham betul cara kerja keputusasaan. Mereka tidak perlu menculik dengan kekerasan seperti film-film thriller. Mereka cukup membawa mimpi kerja di luar negeri. Sisanya berjalan sendiri.
Arab Saudi sendiri punya sejarah panjang yang rumit dengan pekerja migran Indonesia. Sudah terlalu banyak cerita tentang TKW yang disiksa, dipukul, tidak digaji, diperkosa, dikurung. Nama-nama korban sempat jadi berita besar beberapa minggu lalu, lalu tenggelam lagi. Indonesia punya memori publik yang pendek untuk penderitaan kelas bawah. Terlalu pendek, malah.
Saya sempat membaca komentar-komentar netizen di media sosial. Sebagian marah. Sebagian iba. Sebagian lagi mulai menyalahkan korban secara halus. “Kenapa percaya begitu saja?”
Internet memang tempat yang sangat efisien untuk mengikis empati. Orang bisa menonton pengakuan korban perdagangan seksual sambil membuka aplikasi ojek online dan tertawa melihat meme lain lima detik kemudian.
Tubuh perempuan miskin selalu punya posisi paling rentan dalam pasar global. Kadang dijual sebagai tenaga kerja murah. Kadang dijual langsung sebagai tubuh. Bedanya tipis sekali. Bahkan industri kerja domestik di banyak negara Timur Tengah sering berdiri di atas relasi kuasa yang hampir feodal. Paspor ditahan. Jam kerja tidak manusiawi. Ruang gerak dibatasi. Ketika semua itu dibungkus istilah “penyalur tenaga kerja”, orang lupa betapa dekatnya sistem itu dengan perdagangan manusia modern.
Berita di Detik.Com menyebut korban akhirnya berhasil meminta bantuan setelah videonya viral. Bayangkan absurditas itu. Keselamatan seseorang sekarang kadang bergantung pada algoritma media sosial. Kalau videonya tidak ramai? Kalau tidak masuk FYP? Kalau sinyal internet di tempat penyekapan buruk?
Mungkin perempuan itu masih akan berada di kamar yang sama malam ini.
Ada detail kecil yang terus mengganggu saya sejak membaca kasus ini. Korban disebut sempat berpindah-pindah lokasi. Dipindahkan seperti barang. Kata “dipindahkan” terdengar administratif sekali, padahal yang dipindahkan adalah manusia hidup dengan rasa takut yang mungkin sudah menempel sampai ke tulang belakangnya.
Orang-orang yang memperdagangkan manusia sebenarnya tidak selalu terlihat seperti monster. Kadang mereka tampil sopan. Kadang religius. Kadang ikut pengajian. Kadang punya foto keluarga bahagia di Facebook. Itu bagian paling mengerikan dari perdagangan orang; pelakunya sering tampak biasa saja. Sistemnya juga biasa saja. Jalurnya melewati bandara biasa, formulir biasa, percakapan biasa.
Lalu tiba-tiba ada perempuan 22 tahun yang dipaksa melayani 15 laki-laki sehari di negeri orang.
Di Indonesia, berita seperti ini biasanya akan memunculkan ledakan emosi singkat lalu mereda. Pejabat bicara. Polisi konferensi pers. Media bergerak ke isu berikutnya. Tapi tubuh korban tidak ikut pindah bersama siklus berita. Tubuh itu tetap harus menanggung semuanya setelah kamera pergi.
Saya membayangkan suatu hari nanti perempuan itu pulang ke Sikka. Naik pesawat. Turun dengan langkah pelan. Disambut keluarga yang mungkin bingung harus memeluk atau menangis dulu. Orang kampung mungkin berbisik-bisik. Indonesia juga punya bakat kejam lain; korban sering dipaksa menanggung malu yang seharusnya menjadi milik pelaku.
Dan para perekrut itu biasanya masih bisa tidur nyenyak.

.png)

