Indonesia Terpanggang Cuaca: Orang Kaya Beli AC, Orang Miskin Minum Es Batu

Ilustrasi/sulselsatu.com
Kipas angin di warung makan itu berputar seperti orang yang sudah menyerah. Suaranya keras, anginnya kecil. Seorang pengemudi ojek online membuka jaket hijaunya, kaus di punggungnya basah gelap oleh keringat. Di meja sebelah, bongkahan es dalam gelas teh sudah lama mencair. Mata terasa pedih hanya karena duduk diam pukul dua siang.

Orang-orang mulai sering berkata, “Panasnya beda.”

Kalimat sederhana, hampir remeh. Diulang di halte, di grup WhatsApp keluarga, di pasar, di ruang guru sekolah. Lalu BMKG merilis laporan suhu ekstrem awal Mei 2026; beberapa wilayah seperti Ciputat dan sebagian kawasan di Kalimantan menyentuh sekitar 37 derajat Celsius. Angka itu terdengar biasa kalau dibaca cepat di layar ponsel. Tubuh manusia merasakannya secara berbeda.

Tiga puluh tujuh derajat di negara lembap seperti Indonesia bukan panas yang “kering” dan ringan. Udara terasa menempel di kulit. Baju seperti tidak pernah benar-benar kering. Tidur malam berubah jadi aktivitas yang menjengkelkan karena punggung lengket ke kasur. Orang bangun dalam keadaan lelah meski sudah tidur tujuh jam.

Saya mulai memperhatikan satu hal kecil beberapa minggu terakhir; wajah orang lebih cepat terlihat marah saat cuaca sangat panas. Suara klakson cepat menjerit di lampu merah. Kasir minimarket lebih ketus. Anak-anak lebih gampang menangis. Bahkan suara orang bercakap di jalan terasa sedikit lebih tinggi. Panas ekstrem pelan-pelan mengubah temperamen sosial.

Itu yang sering hilang dari pembicaraan soal cuaca. Orang menganggap suhu cuma urusan meteorologi, padahal suhu ikut membentuk psikologi publik.

Di pinggir jalan yang berdebu, tukang gorengan berdiri di depan wajan mendidih. Ia bekerja di antara dua lapis panas sekaligus; matahari dan minyak. Penjualnya, lelaki sekitar empat puluhan, terus mengelap wajah dengan handuk kecil abu-abu yang sudah basah. Ia tetap bekerja, karena berhenti berarti tidak ada uang hari itu.

Orang kelas menengah sering membicarakan cuaca ekstrem sambil duduk di ruangan ber-AC. Mereka membuka aplikasi prakiraan cuaca, mengeluh sebentar di media sosial, lalu kembali bekerja dengan suhu ruangan 22 derajat. Ada jurang yang sangat nyata antara orang yang mengalami panas sebagai ketidaknyamanan dan orang yang mengalami panas sebagai ancaman fisik harian.

Udara dingin sekarang terasa seperti fasilitas kelas sosial.

Masuklah ke mal di Jakarta Selatan pukul satu siang. Aroma parfum, pendingin udara sentral, lantai mengilap, musik pelan dari toko pakaian. Tubuh langsung rileks beberapa detik setelah melewati pintu otomatis. Di luar gedung, petugas parkir berdiri di bawah pantulan panas aspal yang rasanya seperti keluar dari knalpot raksasa.

Kota modern ternyata membagi suhu berdasarkan daya beli.

Saat menulis catatan ini, saya teringat cerita gelombang panas di India beberapa waktu lalu. Sekolah-sekolah tutup. Rumah sakit penuh. Jalanan sepi siang hari. Pekerja konstruksi pingsan. Temperatur ekstrem membunuh pelan-pelan tanpa dramatisasi seperti banjir atau gempa. Orang cuma kelelahan, dehidrasi, jantung bekerja terlalu keras, lalu tubuh kolaps.

Indonesia mungkin belum sampai titik itu secara masif. Tetapi arah perubahannya terasa jelas. Musim kemarau sekarang sering terasa lebih agresif. Kota-kota makin penuh beton. Pohon dipotong untuk pelebaran jalan dan proyek komersial. Atap seng di permukiman padat menyimpan panas seperti oven. Malam hari pun suhu kadang tidak benar-benar turun.

Ada ironi kecil yang pahit di sini. Negara tropis seperti Indonesia dulu sering menjual citra “hangat” sebagai sesuatu yang eksotis dan menyenangkan. Pantai, matahari, langit cerah. Brosur pariwisata penuh warna biru dan kuning terang.

Sekarang, coba berdiri pukul dua belas siang di terminal tanpa pohon di Bekasi saat suhu mendekati 37 derajat. Romantisme tropis cepat hilang.

Produktivitas kerja juga mulai berubah diam-diam. Orang lebih cepat lelah. Konsentrasi buyar. Pekerja lapangan memperlambat ritme karena tubuh mereka memang tidak sanggup dipaksa terus. Penelitian tentang panas dan produktivitas sebenarnya sudah lama ada; suhu tinggi menurunkan fokus, meningkatkan kesalahan kerja, memperburuk kualitas tidur.

Tetapi ekonomi modern tetap berpura-pura tubuh manusia bisa bekerja stabil sepanjang waktu.

Kurir tetap harus mengantar paket tepat waktu meski jalanan terasa seperti memantulkan api. Buruh bangunan tetap naik scaffolding logam panas. Petani tetap turun ke sawah. Bahkan siswa sekolah sekarang sering belajar di ruang kelas dengan kipas kecil yang cuma memindahkan udara panas dari satu sudut ke sudut lain.

Siang bolong, di sebuah ruang kelas sekolah negeri di pinggiran kota, tiga puluh lebih murid duduk di ruangan dengan ventilasi buruk. Bau keringat, buku lembap, seragam yang belum kering sempurna setelah dicuci. Guru terus mengajar sambil sesekali mengipas wajah memakai buku absen. Lalu orang bertanya kenapa anak-anak sulit fokus.

Panas ekstrem mulai memperlihatkan sesuatu yang sebenarnya sudah lama ada; ketimpangan akses terhadap kenyamanan dasar.

Dulu, pendingin udara dianggap barang mewah. Sekarang, perlahan berubah menjadi alat bertahan hidup di kota tertentu. Orang kaya bisa membeli udara dingin. Orang miskin membeli es batu.

Bahkan pola konsumsi listrik jadi makin politis. Ketika suhu naik, penggunaan AC melonjak. Tagihan listrik membengkak. Keluarga berpenghasilan rendah akhirnya memilih; tahan panas atau bayar lebih mahal. Banyak yang akhirnya cuma menyalakan kipas angin dan membuka pintu rumah lebar-lebar malam hari.

Lucunya, kota-kota kita juga dibangun dengan cara yang memperburuk panas. Gedung kaca memantulkan cahaya. Aspal menyerap temperatur. Pohon kota kalah cepat dibanding pembangunan ruko dan apartemen. Orang bicara smart city sambil menghancurkan ruang teduh. Saya kadang merasa Indonesia membangun kota seolah matahari tidak pernah ada.

Media sosial ikut membuat semuanya terasa lebih aneh. Orang memotret termometer mobil, mengunggah tangkapan layar suhu, bercanda soal “matahari lagi dekat”. Meme beredar cepat. Humor jadi cara murah menghadapi rasa gerah kolektif.

Tetapi tubuh tidak bisa ditipu terlalu lama.

Lihat saja ekspresi pekerja SPBU siang hari. Mata sedikit kosong. Gerakan lebih lambat. Mereka berdiri berjam-jam di bawah atap sambil menghirup campuran panas dan uap bensin. Panas ekstrem bukan cuma fenomena cuaca. Ia pengalaman kelas.

Sementara itu, kompleks elite makin penuh pohon hias, taman kecil, pendingin udara sentral, mobil dengan kabin dingin. Dunia terasa terbalik; orang yang paling sedikit terpapar panas justru paling mampu menghindarinya. Saya bahkan belum menyentuh soal anak-anak di rumah petak sempit atau lansia yang tidur tanpa ventilasi memadai. 

Panas punya kemampuan aneh; membuat manusia cepat lelah sekaligus sulit tidur. Tubuh seperti dipaksa bekerja terus bahkan saat diam. Kepala berat. Emosi pendek. Pikiran kusut. Kadang orang tidak sadar mereka marah karena kepanasan.

Lalu berita cuaca muncul lagi di televisi; suhu diprediksi tetap tinggi hingga Juni seiring puncak musim kemarau. Presenter membacanya dengan nada datar seperti membaca skor olahraga.

Di luar studio, matahari jam tiga sore masih terasa seperti benda yang terlalu dekat ke kepala manusia.

Related

Indonesia 7725281206427770561

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

item