Seorang Anak Sekolah Meninggal karena Sepatu yang Kekecilan

Ilustrasi/msn.com
Di Indonesia, sepasang sepatu sekolah bisa membunuh seseorang pelan-pelan. 

Kalimat itu terdengar berlebihan, sampai muncul berita dari Samarinda tentang seorang siswa SMK yang meninggal setelah mengalami luka parah di kaki. Penyebab awal yang disebut keluarga dan warga terdengar nyaris absurd; sepatu sekolahnya kekecilan. Sepatu itu terus dipakai sampai kakinya lecet, bernanah, membengkak, lalu infeksi memburuk. Tubuh remaja itu akhirnya menyerah.

Namanya MF. Siswa SMK di Samarinda, Kalimantan Timur. Dalam laporan Kompas.com, keluarganya menceritakan bagaimana luka di kaki MF bermula dari sepatu yang terlalu sempit. Ia tetap sekolah memakai sepatu itu karena tidak punya pengganti.

Lalu semuanya memburuk dengan cara yang sangat Indonesia. Lukanya makin parah. Infeksi menyebar. Ia sempat dirawat. Kondisinya menurun. Akhirnya meninggal dunia.

Orang mungkin membaca berita itu sambil mengernyit. Apa iya sepatu bisa sampai bikin mati?

Bisa. Kalau kemiskinan ikut bekerja di belakangnya.

Kita terlalu sering membayangkan kemiskinan sebagai sesuatu yang besar dan dramatis; rumah roboh, kelaparan ekstrem, anak putus sekolah. Padahal kemiskinan di Indonesia modern sering hadir dalam bentuk kecil yang memalukan. Sandal jepit putus lalu dipakai lagi setelah dikasih peniti. Gigi sakit yang dibiarkan berbulan-bulan karena tak ada biaya dokter. Seragam sekolah yang sempit karena badan anak tumbuh lebih cepat daripada kemampuan orang tua membeli yang baru.

Sepatu kekecilan termasuk di situ. Hal-hal kecil yang terlihat remeh bagi kelas menengah sering menjadi jebakan panjang bagi orang miskin.

Saya membaca kronologi kasus itu malam hari. Ada bagian yang bikin dada terasa tidak nyaman; MF disebut tetap memaksakan sekolah meski kakinya sakit. Saya langsung membayangkan rasa sepatu sempit di kulit yang lecet. Tekanan keras di jempol kaki. Gesekan tiap langkah. Keringat bercampur kain kaus kaki yang lembap seharian. Bau obat merah. Nyeri yang mungkin awalnya dianggap “nanti juga sembuh sendiri”.

Banyak keluarga miskin memang terbiasa menunda rasa sakit. Karena rasa sakit sering lebih murah daripada berobat.

Di Indonesia, anak-anak sekolah diajari disiplin lewat seragam dan atribut. Sepatu hitam harus standar. Kaus kaki harus warna tertentu. Rambut harus dengan potongan tertentu. Semua rapi. Semua tertib. Tapi sistem pendidikan kita jarang benar-benar bertanya apakah semua murid mampu memenuhi standar itu tanpa menyiksa diri mereka sendiri.

Orang miskin sering dipaksa tampil “normal” dengan biaya yang tidak kecil. Saya ingat dulu, ada teman sekolah yang sepatunya bolong di bagian depan sampai jempolnya sedikit keluar. Tiap hujan, kaus kakinya basah dan bau. Anak-anak lain menertawakan diam-diam. Guru tidak terlalu peduli. Sekolah kita memang sering lebih sibuk mengurus atribut daripada kondisi hidup murid.

MF meninggal bukan hanya karena sepatu. Sepatu itu cuma pintu masuk. Yang benar-benar bekerja di belakang tragedi itu adalah rantai panjang; kemiskinan, akses kesehatan yang terlambat, rasa malu untuk mengeluh, dan budaya bertahan hidup yang terlalu dipaksa.

Keluarganya disebut berasal dari kondisi ekonomi sederhana. Detail seperti itu sering muncul sekilas di berita, lalu hilang begitu saja. Padahal itu inti ceritanya.

Kalau keluarganya mampu, sepatu baru tinggal beli. Kalau akses medis cepat dan murah, luka kecil mungkin selesai dalam sehari. Kalau rasa sakit tidak selalu dinegosiasikan dengan uang, anak itu mungkin masih hidup.

Saya agak terganggu melihat sebagian komentar netizen yang sibuk memperdebatkan “apakah benar hanya karena sepatu”. Orang Indonesia suka sekali mencari penyebab tunggal yang rapi. Seolah tragedi harus punya satu tombol utama. Padahal hidup nyata lebih berantakan. Tubuh orang miskin biasanya sudah kelelahan, bahkan sebelum sakit datang.

Mungkin gizi kurang baik. Mungkin daya tahan tubuh rendah. Mungkin luka kecil tidak ditangani dengan benar. Mungkin infeksi menyebar cepat karena telat dibawa ke rumah sakit. Kemiskinan bekerja secara akumulatif, diam-diam, lalu tiba-tiba meledak dalam bentuk tragedi yang terdengar absurd. Anak mati karena sepatu sekolah.

Di Samarinda, kota yang juga dipenuhi proyek tambang dan lalu lintas uang besar, ada remaja yang tidak punya sepatu ukuran pas. Kontras seperti itu terasa kasar sekali kalau dipikir terlalu lama. Truk-truk batu bara lewat dengan ban raksasa, sementara seorang anak sekolah kesakitan berjalan memakai sepatu sempit.

Indonesia memang ahli menciptakan dua dunia yang hidup berdampingan tanpa benar-benar saling menyentuh.

Di satu sisi ada mal terang benderang menjual sneakers jutaan rupiah. Orang antre beli sepatu limited edition sambil bikin konten unboxing. Di sisi lain ada anak SMK memakai sepatu kekecilan sampai kakinya rusak.

Saya pernah melihat sepatu-sepatu sekolah murah di pasar tradisional. Bau karetnya tajam. Solnya keras. Kalau dipakai lama, tumit terasa panas. Banyak keluarga membeli sepatu bukan berdasarkan kenyamanan, tapi berdasarkan harga paling rendah yang masih terlihat “layak sekolah”. Karena sekolah juga bisa sangat kejam soal penampilan murid miskin.

Anak-anak tahu itu. Mereka tahu, diejek karena sepatu jelek rasanya lebih menyakitkan daripada memaksakan kaki masuk ke ukuran yang terlalu sempit.

Berita tentang MF sebenarnya membuka sesuatu yang lebih luas; betapa banyak penderitaan kecil di Indonesia yang tidak pernah tercatat sampai berubah jadi kematian. Orang bertahan dengan kondisi yang mestinya tidak normal selama bertahun-tahun. Menahan sakit gigi. Menahan penglihatan kabur. Menahan luka. Menahan lapar. Tubuh orang miskin sering diperlakukan seperti benda yang harus tahan apa saja.

Saya juga memikirkan ibunya. Dalam berita, keluarga tampak syok dan terpukul. Sulit membayangkan rasa bersalah macam apa yang menghantam orang tua ketika anak meninggal karena sesuatu sesederhana sepatu. Hal-hal kecil justru paling menghancurkan karena terasa begitu dekat untuk dicegah. Bukan kecelakaan besar. Bukan bencana alam. Bukan perang. Sepatu sekolah.

Negara kita suka sekali membicarakan bonus demografi, Indonesia emas, generasi masa depan. Kata-katanya megah. PowerPoint kementerian penuh grafik optimistis. Tapi di bawah semua slogan itu, masih ada anak sekolah yang tubuhnya kalah melawan luka kaki karena tidak mampu membeli sepatu baru.

Kadang saya merasa kemiskinan di Indonesia terlalu sering disamarkan dengan bahasa sopan. “Kurang mampu”. “Prasejahtera”. “Masyarakat rentan”. Frasa-frasa halus itu membuat semuanya terdengar administratif, padahal kenyataannya sering brutal dan memalukan.

Anak sekolah meninggal karena sepatu yang terlalu kecil seharusnya menjadi aib nasional. Bukan sekadar berita regional yang lewat sehari lalu hilang.

Di kamar rumah sakit, menjelang kondisinya memburuk, mungkin ada bau cairan antiseptik yang menusuk hidung. Mungkin ada suara sandal perawat di lorong. Mungkin ibunya memegang kaki anaknya pelan-pelan sambil berharap luka itu berhenti membesar.

Lalu monitor berbunyi panjang.

Related

Indonesia 748615821601155243

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

item