Proyek MBG, Urusan Duniawi, dan 13 Kiai yang Merasa Tertipu

Ilustrasi/nu.or.id
Uang ratusan juta berpindah tangan lewat janji dapur Makan Bergizi Gratis (MBG). Proposal dibawa. Nama program pemerintah disebut-sebut. Presentasi dibuat meyakinkan. Ada angka keuntungan. Ada peluang kerja sama. Ada aroma proyek besar yang sedang diburu banyak orang sejak program MBG menjadi salah satu agenda paling ramai dibicarakan di Indonesia.

Lalu 13 pengasuh pesantren di Jawa Barat sadar mereka diduga ditipu.

Beritanya muncul di NU Online. Para kiai dan pengelola pesantren itu akhirnya meminta pendampingan hukum ke LBH Ansor. Mereka mengaku mengalami kerugian besar setelah tergiur tawaran menjadi mitra dapur MBG. Nilainya tidak kecil. Ada yang setor puluhan juta, ada yang sampai ratusan juta rupiah.

Ketika membaca berita itu, saya langsung tertarik pada satu hal yang agak mengganggu kepala; ternyata kiai juga bisa sangat tergoda proyek.

Orang sering membayangkan kiai hidup di wilayah moral yang lebih tinggi dari manusia biasa. Sosok yang bicara akhirat tiap malam, mengajar kitab kuning, memimpin doa, memakai sarung, hidup sederhana, jauh dari urusan duniawi. Imajinasi itu sudah lama dipelihara masyarakat Indonesia. Kiai dianggap semacam benteng spiritual yang lebih tahan terhadap hal-hal duniawi.

Padahal kiai tetap manusia. Punya ambisi. Punya kebutuhan ekonomi. Punya hasrat memperbesar pesantren. Punya keinginan membangun asrama baru. Punya gengsi sosial di antara sesama pengasuh pesantren.

Kadang juga punya ketertarikan pada peluang uang cepat.

Mungkin publik sering terlalu romantis melihat dunia pesantren. Seolah semua yang berhubungan dengan agama otomatis steril dari urusan materi. Padahal pesantren juga institusi sosial dengan biaya operasional besar. Bayar listrik. Bangun kamar mandi. Beli beras untuk santri. Renovasi atap bocor. Tidak sedikit pesantren hidup pas-pasan sambil terus mencari sumber pemasukan.

Ketika program MBG muncul dengan bayangan anggaran negara yang besar sekali, banyak orang langsung melihat peluang. Pengusaha katering bergerak. Broker proyek mulai muncul. Orang-orang yang punya akses ke birokrasi mendadak penting. Bahasa baru lahir; “kemitraan dapur”, “vendor penyedia”, “jaringan distribusi.”

Indonesia memang cepat sekali mengubah program sosial menjadi ekosistem rebutan proyek.

Dalam kasus ini, menurut laporan NU Online, para pengasuh pesantren diduga diminta menyetor uang dengan iming-iming bisa mendapat proyek dapur MBG. Nilainya besar. Mereka percaya, karena pelaku disebut membawa atribut dan narasi yang meyakinkan. Nama lembaga disebut-sebut. Janji kerja sama diucapkan dengan lancar.

Model seperti itu sebenarnya klasik sekali di Indonesia. Skema kedekatan kekuasaan dijual sebagai komoditas. Orang tidak membeli produk. Orang membeli akses.

“Kalau ikut sekarang, nanti pesantren panjenengan bisa jadi dapur resmi.” Kalimat seperti itu sangat ampuh di lingkungan sosial yang hierarkis dan penuh jaringan informal.

Lucunya, banyak masyarakat awam mungkin akan bereaksi, “Lho, masa kiai bisa ketipu beginian?”

Kenapa tidak bisa?

Penipu justru paling suka mencari korban yang merasa dirinya aman dari tipu daya. Orang yang terlalu percaya diri biasanya lebih mudah dijerat. Apalagi kalau yang dijual bukan sekadar keuntungan pribadi, tapi peluang memperbesar lembaga, membantu santri, atau menaikkan posisi sosial pesantren.

Hasrat manusia sering tampil lebih sopan ketika dibungkus tujuan mulia.

Saya membayangkan ruang-ruang pertemuan kecil tempat proposal itu dibicarakan. Gelas teh manis. Asbak penuh puntung rokok. Kalender dinding bergambar Ka’bah. Percakapan setengah formal tentang peluang dapur MBG. Mungkin ada simulasi keuntungan. Mungkin ada bayangan pesantren berkembang pesat karena ikut proyek nasional.

Lalu uang ditransfer.

Beberapa orang mungkin terganggu dengan nada tulisan seperti ini karena dianggap “menghakimi kiai”. Saya justru merasa masalahnya ada pada budaya kita sendiri yang terlalu suka menyucikan figur agama sampai lupa mereka tetap manusia biasa. Ketika seorang ustaz atau kiai dianggap otomatis saleh dalam semua aspek, kemampuan kritis masyarakat ikut mati. Orang jadi gampang percaya.

Di Indonesia, aura religius masih sangat laku sebagai alat membangun kredibilitas. Pakai peci, kutip ayat, bicara santun sedikit, banyak orang langsung lengah. Itu sebabnya kasus investasi bodong berbasis agama selalu punya korban. Umrah bodong. Sedekah investasi. Koperasi syariah palsu. Robot trading islami. Polanya berulang terus.

Agama sering dipakai seperti stempel moral instan.

Saya malah tidak terlalu heran para kiai itu bisa tertarik pada proyek MBG. Program Makan Bergizi Gratis sekarang memang seperti ladang emas baru. Nilai anggarannya luar biasa besar. Orang-orang mulai mencium peluang dari jauh. Setiap proyek negara bernilai jumbo selalu melahirkan ekosistem pemburu rente di sekitarnya. Indonesia punya sejarah panjang soal itu.

Yang menarik justru betapa cepatnya bahasa kesejahteraan sosial berubah menjadi bahasa komisi.

Mungkin beberapa pengasuh pesantren awalnya memang berpikir praktis; kalau bisa ikut proyek ini, santri terbantu, ekonomi pesantren jalan, dapur aktif, warga sekitar dapat kerja. Motif manusia jarang tunggal. Tidak semua harus dibaca sebagai keserakahan vulgar.

Tapi tetap saja ada sesuatu yang ironis ketika institusi agama ikut terseret dalam logika proyek seperti itu.

Dapur MBG sendiri sebenarnya ide yang secara politik sangat kuat. Anak-anak makan gratis. Gizi diperbaiki. Negara hadir. Kalimat-kalimatnya enak didengar. Masalah mulai muncul ketika proyek sebesar itu bertemu kultur birokrasi Indonesia yang sejak lama dipenuhi makelar, orang dalam, pemain proyek bayangan, dan jaringan informal yang bekerja lewat bisik-bisik.

Di titik tertentu, program sosial berubah jadi pasar.

Saya sempat membaca beberapa komentar netizen yang mengejek para kiai itu habis-habisan. “Katanya mikirin akhirat.” “Ternyata sama aja.” Reaksi seperti itu agak terlalu gampang. Orang-orang suka sekali melihat tokoh agama jatuh karena ada semacam kepuasan tersembunyi ketika simbol moral ternyata rapuh juga.

Padahal yang terjadi lebih rumit.

Kita hidup di negara yang makin lama makin memuja uang sambil tetap pura-pura religius. Semua orang bicara keberkahan, tapi timeline penuh flexing. Semua orang bicara kesederhanaan, tapi ukuran sukses tetap mobil, proyek, tanah, koneksi kekuasaan.

Kiai hidup di masyarakat yang sama. Mereka menghirup udara sosial yang sama.

Di berita, LBH Ansor disebut turun mendampingi para korban. Artinya, persoalan ini sudah cukup serius. Ada dugaan penipuan. Ada kerugian nyata. Saya penasaran juga bagaimana percakapan para kiai itu ketika mulai sadar uang mereka tidak kembali. Sunyi macam apa yang muncul setelah transfer besar berubah jadi rasa malu. 

Karena korban penipuan biasanya tidak hanya kehilangan uang. Mereka juga kehilangan muka. Apalagi di lingkungan pesantren yang relasi sosialnya rapat. Orang saling kenal. Reputasi penting. Seorang pengasuh pesantren yang ternyata ikut “proyek bodong” pasti jadi bahan bisik-bisik.

Indonesia memang negeri yang unik. Bahkan program makan anak sekolah pun bisa melahirkan drama tipu-tipu berjubah moral.

Di salah satu foto berita, ada lelaki-lelaki bersarung duduk bersama membawa map dokumen. Wajah mereka terlihat lelah. Bukan lelah spiritual seperti bahasa ceramah motivasi religius. Lebih dekat ke wajah orang yang sadar dirinya baru saja dibohongi, lalu harus menjelaskan semuanya ke banyak orang.

Related

Hoeda's Note 809376335886344475

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

item