Penjual Es Gerobak Viral: Sebatangkara, 20 Tahun Tak Dijenguk Anak


Gerobak es itu bukan miliknya, dan itu detail paling mengganggu dari kisah Abah Mamad. Lelaki tua yang hidup sendirian, tidak dijenguk anak selama dua puluh tahun, harus menjual es milik orang lain untuk bertahan hidup. Bahkan alat untuk mencari uang pun bukan punya sendiri. Bayangkan membawa gerobak panggul itu di jalan yang retak, tangan tua menggenggam kayu yang mulai kusam karena matahari dan hujan. 

Abah Mamad viral. Lalu orang-orang membaca tentangnya di media sosial sambil rebahan di kamar ber-AC.

Mengetahui "anak yang tidak menjenguk sampai 20 tahun", reaksi publik biasanya bergerak cepat ke arah moral; “anak durhaka,” “zaman sekarang memang rusak,” hingga “anak harus ingat jasa orang tua.” Semua itu mungkin benar sebagian. Tapi tetap saja, saya merasa ada lapisan lain yang lebih besar dan lebih tua dibanding sekadar drama keluarga.

Kita hidup di reruntuhan sebuah keyakinan kuno yang masih dipromosikan seolah hukum alam; punya anak berarti ada jaminan masa tua.

Keyakinan itu sangat tua. Bahkan lebih tua daripada negara modern. Dalam masyarakat agraris, anak memang bagian dari sistem bertahan hidup. Sawah perlu tenaga. Orang tua tidak punya dana pensiun. Tidak ada BPJS, tidak ada panti lansia, tidak ada tabungan investasi. Anak adalah “asuransi biologis”. Semakin banyak anak, semakin besar kemungkinan ada yang merawat ketika tubuh mulai rusak.

Logika itu masuk akal di desa-desa lama.

Masalahnya, dunia berubah brutal dalam seratus tahun terakhir, sementara mentalitas keluarga banyak orang tidak berubah secepat itu.

Globalisasi mengubah anak menjadi individu bergerak, bukan anggota permanen unit keluarga. Orang pindah kota. Pindah negara. Kerja kontrak. Menikah lintas budaya. Hubungan keluarga makin renggang oleh ritme ekonomi modern yang melelahkan. Anak sekarang tumbuh dalam budaya yang menekankan kemandirian personal, bukan loyalitas keluarga multigenerasi seperti dulu.

Tapi tetap saja orang tua masih sering membesarkan anak dengan imajinasi lama; nanti kalau tua akan ada yang merawat. Mungkin itu sebabnya banyak orang sangat emosional terhadap kisah seperti Abah Mamad. Mereka tidak cuma melihat seorang lelaki tua yang kesepian. Mereka melihat retaknya kontrak psikologis yang diwariskan turun-temurun.

“Kami membesarkanmu, nanti kamu merawat kami.” Kontrak itu ternyata tidak punya meterai hukum.

Saya pernah mendengar seseorang berkata dengan santai, “Punya anak itu investasi akhirat sekaligus investasi masa tua.” Kalimat itu terdengar biasa di Indonesia. Orang mengucapkannya sambil tertawa kecil di acara keluarga. Padahal kalau dipikir lebih lama, ada sesuatu yang dingin di dalamnya. Anak diperlakukan seperti deposito emosional jangka panjang.

Lalu anak-anak tumbuh menjadi manusia nyata, bukan konsep keluarga ideal. Sebagian gagal secara ekonomi. Sebagian pindah jauh. Sebagian punya trauma dengan orang tuanya sendiri. Sebagian memang egois. Sebagian sibuk bertahan hidup di kota yang membuat biaya sewa kos terasa seperti hukuman bulanan.

Hubungan keluarga modern jauh lebih rapuh dibanding narasi budaya yang terus dijual di sinetron dan ceramah.

Media sosial suka menyederhanakan cerita seperti itu menjadi melodrama hitam-putih. Orang tua suci, anak jahat. Padahal kenyataan keluarga sering lebih kotor dan rumit. Kita tidak tahu sepenuhnya hubungan orang tua dengan anaknya. Bisa jadi anaknya memang kejam. Bisa jadi ada sejarah luka panjang yang tidak muncul di unggahan viral.

Tetap saja, satu hal terasa jelas; terlalu banyak orang tua menggantungkan masa tua mereka hampir sepenuhnya pada anak. Itu perjudian.

Indonesia belum siap menghadapi krisis lansia yang sebenarnya sudah mulai muncul pelan-pelan. Kota-kota dipenuhi orang tua yang hidup sendiri. Anak-anak mereka bekerja di Jakarta, Batam, Dubai, Kuala Lumpur, atau bahkan tidak pernah pulang lagi kecuali Lebaran. Rumah-rumah tua di kampung mulai dihuni satu orang lanjut usia dengan televisi menyala keras hampir sepanjang hari.

Coba perhatikan desa-desa sekarang. Banyak yang sunyi di siang hari. Anak mudanya pergi. Yang tertinggal suara ayam, motor lewat sesekali, dan orang tua yang duduk terlalu lama di teras.

Budaya Asia sebenarnya sering membanggakan “nilai ketimuran” soal bakti kepada orang tua. Jepang punya konsep oyakoko. Tiongkok punya filial piety Konfusianisme. Indonesia juga penuh slogan serupa. Ironisnya, negara-negara Asia modern justru mengalami epidemi kesepian lansia yang parah.

Jepang bahkan punya istilah kodokushi—mati sendirian tanpa diketahui siapa pun selama berhari-hari atau berminggu-minggu. Petugas kebersihan menemukan tubuh setelah bau menyebar ke lorong apartemen. 

Modernitas membuat manusia makin terhubung secara digital sambil makin terpisah secara fisik.

Saya kadang merasa, banyak pasangan muda sebenarnya belum siap menerima kenyataan itu. Mereka masih membayangkan keluarga dengan template lama; anak tumbuh, sukses, lalu pulang merawat orang tua. Padahal dunia kerja sekarang membuat orang bahkan sulit merawat dirinya sendiri. Jam kerja panjang, kontrak tidak pasti, biaya hidup naik terus.

Anak zaman sekarang sering hidup dalam mode survival, dalam arti harfiah.

Kenyataan itu terdengar kejam karena bertabrakan dengan naluri emosional manusia. Orang tua tentu ingin dicintai dan ditemani saat tua. Itu wajar. Yang terasa problematis adalah ketika harapan itu berubah menjadi fondasi utama hidup.

Sistem sosial Indonesia juga memperparah situasi. Negara terlalu sering menyerahkan urusan lansia kepada keluarga. Seolah keluarga pasti harmonis dan mampu merawat. Padahal banyak keluarga sendiri sudah kelelahan secara ekonomi dan mental. Panti jompo masih dianggap memalukan oleh sebagian masyarakat, seakan menitipkan orang tua berarti otomatis anak durhaka.

Akibatnya, banyak lansia terjebak di ruang limbo; tidak benar-benar dirawat negara, tidak benar-benar dirawat keluarga.

Kisah Abah Mamad viral karena orang merasa takut diam-diam. Takut mengalami nasib serupa.

Bayangkan malam di rumah kecil yang mulai lembap. Suara televisi pelan. Dinding kusam. Mungkin ada kalender lama tergantung miring. Tubuh tua mulai susah tidur. Besok tetap harus bangun dan memanggul gerobak es yang bahkan bukan miliknya.

Dua puluh tahun tidak dijenguk anak bukan cuma soal kesepian. Itu seperti perlahan menghilang dari kehidupan orang lain, sementara tubuh sendiri masih hidup.

Saya sudah tidak percaya pada slogan keluarga yang terlalu manis. Dunia sudah berubah terlalu jauh untuk ditenangkan dengan nasihat lama. Orang masih bicara tentang anak sebagai “penyelamat masa tua”, padahal statistik kehidupan modern bergerak ke arah berbeda. Urbanisasi, individualisme, migrasi kerja, tekanan ekonomi—semua itu menggerus struktur keluarga tradisional sedikit demi sedikit.

Tetap saja banyak orang menikah sambil membawa fantasi lama dalam kepala. “Saat tua nanti ada yang merawat.” Kalimat itu terdengar semakin rapuh sekarang. Seperti rumah kayu tua yang masih berdiri karena belum disentuh angin besar.

Gerobak es terus dibawa, dijajakan. Orang-orang membeli, minum sebentar, lalu pergi. Abah Mamad sendirian lagi.

___________________

Catatan: Saat ini sudah ada penggalangan dana bantuan untuk Abah Mamad, dan jumlah yang telah terkumpul sudah cukup besar. Semoga pihak penggalang dana benar-benar bertanggung jawab dan segera menyerahkan bantuan tersebut pada yang bersangkutan.

Related

Hoeda's Note 2892350250327878979

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

item