Nazi Membakar Buku, Mahasiswa Meludahi Nalar Intelektual
https://www.belajarsampaimati.com/2026/05/nazi-membakar-buku-mahasiswa-meludahi.html
![]() |
| Ilustrasi/spiegel.de |
Malam 10 Mei 1933 di Berlin tidak dimulai sebagai peristiwa besar. Ia tumbuh perlahan, seperti kerumunan yang awalnya tidak tahu sedang menuju ke mana. Di Opernplatz—lapangan yang hari ini dikenal sebagai Bebelplatz—mahasiswa, dosen, anggota organisasi pemuda, dan aparat, berkumpul membawa sesuatu yang aneh untuk sebuah demonstrasi; buku.
Bukan satu dua. Ribuan.
Judul-judulnya beragam. Dari filsafat, sastra, ilmu sosial, hingga teori politik. Nama-nama penulis yang hari itu diseret keluar dari rak perpustakaan bukan nama kecil. Ada Karl Marx, ada Sigmund Freud, ada Erich Maria Remarque. Mereka tidak hadir secara fisik, tentu saja. Yang hadir adalah ide-ide mereka, dalam bentuk kertas, tinta, dan halaman-halaman yang sebelumnya dibaca dalam diam.
Malam itu, halaman-halaman buku tidak lagi dibaca. Tapi dilempar ke dalam api.
Api biasanya punya makna sederhana; menghancurkan. Tapi saat itu, api dipanggil untuk tujuan yang lebih rumit. Ia dijadikan alat penyucian.
Rezim Adolf Hitler baru saja berkuasa beberapa bulan. Kekuasaan yang masih muda cenderung gelisah; belum punya bentuk yang mapan, tapi sudah ingin terlihat pasti. Salah satu cara paling cepat untuk memberi bentuk adalah dengan menentukan apa yang harus disingkirkan.
Buku menjadi target yang ideal. Benda itu diam, tidak melawan. Tapi buku menyimpan sesuatu yang berbahaya bagi kekuasaan; kemungkinan.
Yang dibakar malam itu bukan sekadar teks yang dianggap “tidak Jerman”. Label itu bahkan sebenarnya kabur. Apa yang dimaksud dengan “Jerman”? Bahasa? Ras? Cara berpikir? Semua bisa ditarik ke arah yang diinginkan oleh mereka yang sedang berkuasa.
Kriteria itu berubah-ubah, tapi satu hal tetap; apa pun yang tidak sejalan, harus disingkirkan.
Peristiwa itu sering disebut sebagai bagian dari “Aksi Melawan Semangat Tidak Jerman” (Aktion wider den undeutschen Geist), sebuah kampanye yang dipelopori organisasi mahasiswa. Itu fakta penting. Bukan tentara yang memulai. Bukan birokrat tua yang menjaga status quo. Anak-anak muda—yang seharusnya menjadi ruang paling terbuka bagi pertanyaan—justru berdiri di garis depan, melemparkan buku ke kobaran api.
Ada sesuatu yang mengganggu di sana. Semacam pembalikan fungsi. Pendidikan, yang biasanya diasosiasikan dengan perluasan pikiran, berubah menjadi alat penyempitan. Mahasiswa yang biasanya membaca, justru memilah mana yang layak dibaca oleh orang lain.
Api di Opernplatz bukan satu-satunya. Malam itu, pembakaran terjadi di berbagai kota di Jerman; Munich, Frankfurt, Bonn, Göttingen. Sebuah koordinasi nasional yang menunjukkan bahwa itu bukan ledakan spontan—tapi ritual.
Ritual membutuhkan simbol. Buku menjadi simbol yang sempurna karena ia mewakili sesuatu yang tidak bisa disentuh secara langsung; ide.
Ketika buku dibakar, yang sebenarnya ingin dimusnahkan adalah kemungkinan berpikir di luar garis yang sudah ditentukan.
Namun ada ironi yang tidak bisa sepenuhnya dikendalikan oleh mereka yang menyalakan api. Buku memang bisa dibakar, tapi ide tidak selalu tinggal di dalam buku. Ia sudah berpindah, menyebar, mengendap di kepala orang-orang yang pernah membacanya.
Pembakaran itu lebih mirip pertunjukan kekuasaan daripada penghancuran total.
Di tengah kerumunan malam itu, ada pidato-pidato yang dibacakan. Kata-kata yang disusun untuk memberi legitimasi pada tindakan tersebut. Kalimat-kalimat yang terdengar tegas, penuh keyakinan, seolah tidak ada ruang untuk ragu.
Sayangnya, keyakinan sering terdengar paling keras ketika ia takut runtuh.
Kalau diperhatikan lebih dekat, pembakaran buku bukan langkah pertama dalam sejarah Nazi. Ia datang setelah serangkaian kebijakan yang lebih sistematis; pembatasan kebebasan pers, penyingkiran akademisi Yahudi dari universitas, hingga pengawasan terhadap penerbit.
Api hanyalah puncak yang terlihat.
Yang tidak terlihat adalah proses panjang yang membuat masyarakat menerima bahwa tindakan itu masuk akal. Tidak semua orang di Jerman saat itu bersorak. Ada yang diam. Ada yang tidak setuju. Ada yang takut. Tapi diam, dalam situasi seperti itu, sering kali berfungsi sebagai ruang kosong yang bisa diisi oleh kekuasaan.
Buku-buku yang dibakar malam itu memiliki kesamaan; mereka membuka kemungkinan berpikir yang tidak tunggal. Karya Sigmund Freud, misalnya, menggali lapisan bawah kesadaran manusia—wilayah yang tidak mudah dikendalikan oleh ideologi. Tulisan Karl Marx menawarkan kritik terhadap struktur kekuasaan dan ekonomi. Novel Erich Maria Remarque menggambarkan perang bukan sebagai kemuliaan, tapi sebagai kehancuran manusia.
Semua itu berbahaya bagi rezim yang membutuhkan narasi tunggal; bahwa negara kuat, bahwa perang mulia, bahwa identitas harus bersih dari “unsur asing”.
Api bekerja cepat. Dalam hitungan jam, ribuan buku berubah menjadi abu. Tapi efek dari peristiwa itu tidak selesai di malam yang sama. Ia meninggalkan jejak yang lebih panjang—bukan hanya pada sejarah Jerman, tapi juga pada cara kita memahami hubungan antara kekuasaan dan pengetahuan.
Ada kutipan yang sering dikaitkan dengan peristiwa semacam itu, dari Heinrich Heine, “Di tempat buku dibakar, manusia pun akan dibakar.” Kalimat itu ditulis jauh sebelum Nazi berkuasa, tapi terasa seperti bayangan yang datang lebih dulu.
Beberapa tahun setelah 1933, bayangan itu menjadi nyata.
Pembakaran buku sering dipandang sebagai simbol. Tapi simbol bukan sesuatu yang ringan. Ia adalah cara paling efisien untuk menyampaikan pesan tanpa harus menjelaskan panjang lebar. Pesan yang ingin disampaikan malam itu cukup jelas; ada batas yang tidak boleh dilanggar, dan batas itu ditentukan oleh kekuasaan.
Yang lebih sulit dipahami adalah mengapa begitu banyak orang bersedia ikut serta.
Jawabannya tidak tunggal. Ada yang percaya. Ada yang ikut karena tekanan sosial. Ada yang melihatnya sebagai bagian dari semangat zaman. Sejarah jarang memberi satu alasan yang rapi. Ia lebih sering berisi campuran motif yang saling bertabrakan.
Kalau kita berhenti di narasi bahwa itu hanyalah tentang “rezim jahat”, kita melewatkan sesuatu yang lebih tidak nyaman; bahwa tindakan seperti itu membutuhkan partisipasi luas, atau, setidaknya, penerimaan yang cukup.
Api di Berlin malam itu sudah padam sejak lama. Lapangan tempat peristiwa itu kini menjadi ruang publik yang tenang. Di bawah tanah, ada memorial berupa rak buku kosong—sebuah perpustakaan tanpa buku, terlihat melalui kaca. Kekosongan itu berbicara lebih keras daripada api. Ia tidak menunjukkan apa yang dihancurkan, tapi apa yang hilang.
Mungkin di situlah inti dari peristiwa 10 Mei 1933; kehilangan yang tidak selalu terasa seketika. Buku bisa diganti, dicetak ulang, diselundupkan ke tempat lain. Tapi iklim berpikir yang terbuka, ketika sudah disempitkan, tidak mudah kembali ke bentuk semula.
Dan api, rupanya, tidak pernah benar-benar padam. Ia hanya berubah bentuk, berpindah dari kayu dan kertas ke cara-cara lain yang lebih halus untuk menentukan apa yang boleh dibaca, dipikirkan, atau diingat.
Kadang tidak ada api. Hanya keheningan yang terlalu rapi.

.png)


