Sopir Angkot Kencing di Botol, Lalu Harus Menjelaskan Pada Polisi

Ilustrasi/fimela.com
Ponsel itu merekam cukup stabil. Dua perempuan di pinggir jalan tampaknya sedang menyorot sesuatu yang menurut mereka menjijikkan, atau setidaknya mencurigakan. Kamera diarahkan ke sebuah angkot. Di dalamnya, seorang sopir laki-laki terlihat sedang memegang botol plastik bening. Kalimat-kalimat tuduhan mulai keluar. “Cabul.” “Eksibisionis.” Video itu lalu naik ke media sosial dan, seperti biasa, orang-orang langsung tahu harus marah ke mana.

Jakarta sudah terlalu lelah untuk memberi orang kesempatan menjelaskan diri.

Nama sopir itu disebut dengan inisial MI. Polisi dari Polsek Grogol Petamburan kemudian mengamankannya setelah video tersebut viral. Lokasinya di Jalan Tanjung Gedong, Tomang, Jakarta Barat. Polisi bergerak cepat karena tekanan publik sekarang datang dalam bentuk notifikasi. Kalau satu video sudah tembus ribuan share, aparat tahu ada yang harus segera direspons. Tidak penting dulu apakah orangnya benar bersalah atau tidak. Yang penting ada tindakan.

Lalu MI bicara. Ia bilang dirinya bukan eksibisionis. Ia sedang buang air kecil ke botol air mineral karena mengidap diabetes dan sulit menahan kencing. Istrinya membenarkan. Teman-teman sesama sopir juga membenarkan. Polisi kemudian bilang mereka masih menunggu keterangan dari pembuat video.

Semuanya jadi terasa ganjil sejak titik itu.

Karena publik sudah telanjur menonton video itu dengan emosi tertentu. Dan emosi yang sudah telanjur dipilih orang di internet biasanya sulit ditarik mundur. Orang lebih nyaman percaya bahwa mereka baru saja menangkap predator daripada mengakui bahwa mereka mungkin salah menuduh seorang sopir sakit yang cuma panik mencari botol kosong.

Saya terus kepikiran detail kecil yang sebenarnya tidak dramatis sama sekali; botol air mineral.

Benda itu sekarang jadi semacam barang bukti sosial. Murahan, penyok, transparan, biasa dilempar di kolong kursi angkot. Tapi di tangan MI, benda itu berubah jadi sumber masalah nasional. Kalau saja ia sempat menemukan toilet umum. Kalau saja ada rest area kecil. Kalau saja tubuhnya tidak rusak oleh diabetes. Kalau saja dua perempuan itu lewat tiga menit lebih lambat.

Internet penuh oleh hidup orang yang hancur karena “kalau saja”.

Masalahnya, masyarakat memang punya alasan untuk curiga. Orang tidak sedang paranoid tanpa sebab. Kita hidup di negara yang terlalu sering memperlihatkan kasus pelecehan seksual absurd di ruang publik. Lelaki membuka celana di transportasi umum. Kamera tersembunyi di toilet. Pengemudi ojek online yang merekam penumpang perempuan. Orang masturbasi di KRL. Semua itu nyata. Semua itu pernah viral. Masyarakat belajar waspada dengan cara yang keras dan memalukan.

Jadi ketika dua perempuan melihat seorang laki-laki di dalam angkot memegang botol di area sensitif tubuhnya, otak mereka langsung menghubungkan titik-titik yang sudah tersedia. Tidak perlu investigasi panjang. Ponsel tinggal diangkat. Rekam. Upload.

Jempol sekarang lebih cepat daripada klarifikasi.

Saya membayangkan suasana di dalam angkot itu. Siang Jakarta yang panasnya bikin dasbor mobil hampir meleleh. Bau jok sintetis yang sudah tua. Mungkin ada suara knalpot metromini dari belakang. Mungkin MI sudah menahan kencing terlalu lama. Pengidap diabetes memang bisa mengalami frekuensi buang air kecil tinggi, terutama kalau gula darah tidak terkontrol. Tubuh seperti dipaksa membuang cairan terus-menerus. Ada rasa mendesak yang datang tiba-tiba dan tidak sopan.

Tubuh sakit sering tidak punya etika sosial yang baik.

Masalah lain; kota ini tidak ramah terhadap orang yang perlu kencing cepat.

Coba hitung toilet publik layak di Jakarta yang benar-benar bisa diakses sopir angkot kapan saja. Tidak banyak. Sopir angkot hidup dalam ritme yang aneh. Mereka menunggu penumpang, mengejar setoran, makan cepat, tidur kurang, duduk berjam-jam. Banyak yang menahan buang air kecil terlalu lama karena takut kehilangan penumpang atau kehilangan giliran narik. Orang sering membahas kemacetan Jakarta, tapi jarang membahas kandung kemih para pengemudinya.

Tubuh pekerja sektor informal dipaksa menyesuaikan diri dengan kota yang tidak pernah dirancang untuk mereka.

Tetap saja, saya juga tidak bisa sepenuhnya menyalahkan perekam video itu. Dan bagian itulah yang bikin kasus seperti ini tidak nyaman. Orang-orang ingin semua masalah punya penjahat yang jelas, supaya emosi bisa disalurkan rapi. Kenyataannya sering berantakan.

Kalau perempuan merasa tidak aman di jalan, mereka diajari untuk waspada terhadap gestur sekecil apa pun. Kalau mereka diam dan ternyata benar ada pelaku cabul, publik akan bertanya kenapa tidak direkam. Kenapa tidak diviralkan. Kenapa tidak speak up. Jadi sekarang semua orang merekam dulu, berpikir belakangan.

Ruang publik berubah jadi ruang sidang spontan.

Video viral bekerja seperti kerumunan pasar. Tidak peduli konteks. Orang yang lewat langsung ikut melihat, ikut menunjuk, ikut berkomentar. Beberapa akun mungkin bahkan sudah menambahkan musik atau caption provokatif sebelum fakta lengkap keluar. Ada kenikmatan aneh ketika merasa sedang menjadi bagian dari pembongkaran moral. Rasanya seperti ikut patroli sosial tanpa harus meninggalkan kursi.

Yang bikin saya agak ngeri justru bukan videonya, tapi kecepatan orang merasa yakin.

Yakin bahwa mereka tahu isi kepala orang lain hanya dari potongan beberapa detik. Yakin bahwa tubuh orang lain pasti sedang melakukan niat tertentu. Yakin bahwa rasa jijik mereka otomatis identik dengan kebenaran. Padahal kadang seseorang cuma sedang sakit dan panik.

Kasus ini juga memperlihatkan sesuatu yang makin sering muncul; kamera ponsel sudah menggantikan proses berpikir. Dulu orang mungkin melihat kejadian aneh lalu mendekat, bertanya, atau minimal mengamati beberapa menit. Sekarang refleks pertama adalah mengeluarkan ponsel karena momen bisa hilang. Dunia digital menghargai kecepatan, bukan ketelitian. Orang yang paling dulu upload biasanya dianggap paling berjasa.

Dan algoritma memang menyukai kemarahan. Video orang diduga cabul jauh lebih menarik daripada video sopir diabetes kesulitan menahan kencing. Satu terdengar seperti skandal. Satu lagi terdengar seperti problem medis dan buruknya fasilitas kota. Internet tahu mana yang lebih menghasilkan klik.

Di kantor polisi, MI mungkin duduk sambil menjelaskan hal yang sangat memalukan kepada orang-orang asing. Menjelaskan penyakitnya. Menjelaskan kenapa ia buang air kecil di botol. Menjelaskan tubuhnya sendiri seperti terdakwa yang harus membuktikan bahwa kandung kemihnya bukan ancaman publik.

Itu bagian yang paling pahit. Orang miskin sering tidak punya privasi bahkan untuk sakit.

Kalau seorang eksekutif penderita diabetes berhenti di toilet hotel untuk buang air kecil, tidak ada yang merekam. Kalau sopir angkot melakukannya di kendaraan kosong karena tidak sempat menemukan toilet, videonya bisa menyebar ke seluruh Indonesia dalam beberapa jam.

Lalu publik mulai berdebat. Sebagian bilang masyarakat memang harus waspada. Sebagian bilang pembuat video terlalu gegabah. Sebagian lagi sibuk bercanda. Selalu ada orang yang bercanda di tengah situasi seperti itu. Timeline Indonesia tidak pernah benar-benar serius; bahkan rasa malu orang lain bisa berubah jadi konten receh sebelum malam tiba.

Polisi mengatakan mereka masih menunggu keterangan pembuat video.

Saya membayangkan botol plastik itu mungkin sekarang sudah dibuang entah ke mana. Penyok sedikit di bagian tengah. Tutupnya warna biru. Tidak ada yang istimewa. Tidak ada yang layak viral.

Tapi hidup orang kadang memang bisa berubah cuma karena satu botol murah dan kamera yang keburu aktif.

Related

Hoeda's Note 7935828437687334559

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

item