Kisah Tragis Muhamad Rauf: Neraka di Bawah Telapak Kaki Ibu

Ilustrasi/narasi.tv
Berita itu membuat saya berhenti cukup lama sebelum membaca bagian akhirnya. Bukan karena detail pembunuhannya. Indonesia sudah terlalu sering dipenuhi berita pembunuhan. Yang membuat napas terasa berat justru kalimat pendek yang muncul di tengah laporan polisi: "Ma, sakit, Ma. Saya ngantuk, Ma. Capek, Ma."

Kalimat itu keluar dari mulut seorang anak berusia tiga belas tahun yang tubuhnya sudah penuh luka, tangannya terikat ke belakang, dan yang ia ajak bicara adalah ibunya sendiri.

Beberapa jam kemudian, tubuh Muhamad Rauf ditemukan di saluran irigasi di Blok Sukatani, Desa Bugis, Kecamatan Anjatan, Kabupaten Indramayu. Darah masih menempel di tubuhnya. Warga menemukan seorang anak. Polisi menemukan korban pembunuhan. Berkas perkara menemukan tersangka. Hukum menemukan pasal.

Saya terus terpaku pada satu hal lain: bahkan pada saat-saat terakhir hidupnya, Rauf masih memanggil "Mama". Tidak memanggil polisi. Tidak memanggil tetangga. Tidak berteriak meminta tolong kepada orang lain.

Anak-anak memang seperti itu. Naluri mereka sering lebih tua daripada logika mereka. Seorang anak yang ketakutan akan tetap mencari ibunya, bahkan ketika sumber ketakutan itu justru berdiri di depannya.

Kasus itu segera berubah menjadi berita kriminal. Nama para pelaku muncul. Nurhani, ibunya yang berusia empat puluh tahun. Seorang paman berinisial S yang berusia dua puluh empat tahun. Seorang kakek berinisial W yang berusia tujuh puluh tahun. Polisi menyusun kronologi. Wartawan mengumpulkan pernyataan. Publik marah. Siklus yang sudah sangat akrab.

Saya justru tertarik pada bagian yang nyaris selalu tenggelam di bawah sensasi pembunuhan: kehidupan Rauf sebelum ia mati.

Rauf bukan anak yang tiba-tiba muncul dari ruang kosong. Ia berasal dari Desa Parigimulya, Kecamatan Cipunagara, Kabupaten Subang. Orang tuanya bercerai. Ayahnya bernama Dirno, berusia lima puluh dua tahun. Setelah perceraian itu, kehidupan Rauf perlahan bergeser ke pinggir.

Anak-anak biasanya hidup di rumah. Rauf lebih sering hidup di sela-sela rumah. Kadang di rumah kakeknya. Kadang di pos ronda. Kadang di tempat-tempat umum. Keterangan warga menyebut ia bahkan harus meminta-minta untuk makan. Ia putus sekolah. Ia pernah mencuri makanan dari warung.

Bagian itu penting. Banyak orang membaca kalimat "pernah mencuri" lalu berhenti di sana. Pikiran langsung membuat kategori. Anak nakal. Anak bermasalah. Anak susah diatur. Tapi saya lebih tertarik pada kata "makanan". Ia tidak mencuri sepeda motor. Tidak mencuri perhiasan. Tidak membobol rekening. Ia mencuri makanan.

Ada perbedaan besar antara pencuri yang ingin kaya dan anak yang lapar. Perbedaan itu sering hilang dalam laporan-laporan singkat.

Warga sekitar tampaknya memahami perbedaan tersebut. Tidak ada cerita tentang kemarahan kolektif terhadap Rauf. Tidak ada kisah warga yang menyimpan dendam. Banyak yang justru mengenalnya sebagai anak yang suka membantu. Ia ikut gotong royong. Ia terlibat dalam kegiatan lingkungan. Orang-orang tahu ia hidup dalam keadaan yang tidak normal.

Itu bagian yang membuat saya agak marah ketika membaca kasus semacam ini. Rauf tidak jatuh dari langit langsung ke saluran irigasi di Indramayu. Ia melewati banyak tahapan sebelumnya. Seorang anak putus sekolah. Seorang anak yang hidup berpindah-pindah. Seorang anak meminta-minta untuk makan. Seorang anak tidur di pos ronda. Setiap tahap sebenarnya merupakan sinyal bahaya yang terlihat jelas.

Sangat jelas. Terlalu jelas.

Masyarakat melihatnya. Tetangga melihatnya. Keluarga melihatnya. Negara mungkin melihatnya dalam statistik yang jauh dan dingin.

Namun kehidupan sering berjalan dengan cara yang aneh. Orang bisa terbiasa melihat penderitaan yang berlangsung lama. Ketika sesuatu berlangsung setiap hari, otak manusia berhenti menganggapnya darurat.

Seorang anak tidur di pos ronda selama satu malam akan membuat warga heboh. Seorang anak tidur di pos ronda selama berbulan-bulan perlahan jadi pemandangan biasa. Mata manusia beradaptasi terlalu cepat.

Ada sesuatu yang mengganggu dalam banyak kasus kekerasan terhadap anak. Pelakunya sering kali bukan monster yang bersembunyi di hutan atau orang asing yang muncul dari kegelapan. Pelakunya sering kali justru orang-orang yang namanya tercatat dalam kartu keluarga.

Masyarakat lebih mudah memahami kejahatan yang datang dari luar. Seorang perampok bersenjata masuk ke rumah. Seorang penculik membawa kabur anak. Otak manusia siap menerima pola itu.

Seorang ibu menganiaya anaknya sendiri jauh lebih sulit diproses. Karena seluruh gagasan tentang keluarga dibangun di atas asumsi perlindungan. Begitu asumsi itu runtuh, muncul kekosongan yang tidak nyaman.

Berita-berita semacam itu sering membuat orang buru-buru mencari penjelasan. Gangguan mental. Kemiskinan. Konflik keluarga. Tekanan ekonomi. Pengaruh lingkungan. Semua faktor itu mungkin relevan. Semua mungkin berperan. Tetapi kadang saya merasa penjelasan juga memiliki fungsi lain: membuat kita merasa aman.

Jika kita berhasil menemukan satu penyebab yang rapi, dunia terasa lebih terkendali. Kita bisa berkata, "Oh, ini terjadi karena faktor A." Atau faktor B. Atau faktor C. Padahal kehidupan nyata sering lebih kacau dari itu.

Kemiskinan tidak otomatis membuat orang membunuh anaknya. Perceraian tidak otomatis menghasilkan tragedi seperti itu. Konflik keluarga tidak otomatis berakhir di saluran irigasi. Jutaan keluarga miskin hidup tanpa melakukan hal-hal semacam itu. Ratusan ribu anak mengalami perceraian orang tua tanpa berakhir seperti Rauf.

Kekerasan sering lahir dari percampuran banyak hal yang saling menumpuk sampai akhirnya pecah. Kemarahan. Kelelahan. Frustrasi. Relasi yang rusak. Lingkungan yang gagal menolong. Keputusan-keputusan buruk yang terus bertambah. Tumpukan itu kemudian bertemu dengan seorang anak berusia tiga belas tahun yang kebetulan berada di posisi paling lemah.

Tubuh anak memang selalu berada di posisi paling lemah. Mereka tidak punya uang. Tidak punya kekuasaan. Tidak punya kemampuan melawan orang dewasa. Ketika orang dewasa di sekelilingnya gagal menjalankan fungsi perlindungan, ruang geraknya sangat sempit.

Saya terus kembali pada detail-detail kecil yang terserak dalam berita itu. Pos ronda. Warung. Gotong royong. Saluran irigasi. Desa Parigimulya. Desa Bugis. Nama-nama tempat yang biasanya muncul dalam berita panen, jalan rusak, atau acara tujuh belasan.

Kemudian muncul seorang anak bernama Muhamad Rauf. Tiga belas tahun. Usia ketika sebagian anak sedang memikirkan permainan, teman sekolah, atau sepeda yang ingin dibeli. Rauf memikirkan makan hari ini dari mana.

Ketika laporan polisi selesai ditulis, ketika persidangan selesai, ketika berita-berita baru mulai menggantikan kasus ini dari halaman depan, kehidupan di desa-desa itu akan kembali berjalan seperti biasa. Orang pergi ke sawah. Orang membuka warung. Orang menghadiri pengajian. Orang memperbaiki saluran air.

Nama Rauf perlahan akan menghilang dari percakapan nasional. Yang tersisa mungkin hanya beberapa orang yang masih mengingat seorang anak kurus yang kadang tidur di pos ronda, kadang membantu gotong royong, kadang meminta makan, dan suatu hari tidak pernah terlihat lagi.

Di sebuah saluran irigasi yang terus mengalir, airnya tidak peduli siapa yang pernah dibuang ke dalamnya.

Related

Indonesia 7941075623606784242

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item