Kongres Wina, Akhir Era Napoleon, dan Sejarah yang Keliru

Ilustrasi/thecollector.com
Di Wina, orang-orang menari sementara peta Eropa dibedah di meja kayu. Itu detail yang sering hilang ketika Kongres Wina dibicarakan di buku sekolah. Seolah semua berlangsung seperti seminar diplomatik yang rapi; para negarawan duduk tenang, menggeser batas negara dengan pena bulu angsa, lalu pulang membawa perdamaian. Kenyataannya jauh lebih aneh. Lebih manusia. Lebih licik.

Musim gugur 1814 membuat kota Wina penuh kereta kuda, parfum mahal, lumpur jalanan, pelayan yang mondar-mandir membawa anggur Hungaria, dan bangsawan yang tidur menjelang subuh karena terlalu lama berdansa. Putri-putri aristokrat berputar di ruang dansa Istana Hofburg, sementara ribuan veteran perang Napoleon masih pincang di desa-desa Eropa. Banyak yang belum punya kaki utuh. Banyak yang belum tahu harus pulang ke mana.

Kongres Wina bahkan sempat diejek sebagai “kongres yang menari”. Kalimat itu muncul dari Pangeran Charles Joseph de Ligne, diplomat Belgia yang melihat sendiri bagaimana pesta dan negosiasi bercampur jadi satu. “Le congrès danse beaucoup, mais il ne marche pas,” katanya. Kongres banyak menari, tetapi tidak bergerak.

Omong kosong. Mereka bergerak sangat jauh. Hanya saja gerakannya tidak selalu terlihat dari ruang dansa.

Nama yang paling sering muncul tentu Klemens von Metternich, menteri luar negeri Austria. Rambutnya selalu rapi. Ia menyukai pakaian gelap dengan potongan presisi, wajahnya tenang seperti orang yang tidak pernah benar-benar panik bahkan ketika Eropa terbakar. Metternich bukan idealis. Ia tidak peduli soal kebebasan, nasionalisme, atau hak rakyat menentukan nasib sendiri. Kata-kata semacam itu baginya cuma bahan bakar revolusi. Dan revolusi, menurut pengalaman generasinya, selalu berakhir dengan kepala terpenggal atau kota terbakar.

Ia tumbuh di bawah bayang-bayang Revolusi Prancis. Orang-orang seusianya melihat langsung bagaimana slogan tentang “rakyat” bisa berubah menjadi guillotine, teror, dan perang tanpa akhir. Mereka muak pada kekacauan. Itu penting dipahami karena, tanpa rasa lelah kolektif setelah dua dekade perang Napoleon, Kongres Wina tidak akan lahir seperti bentuknya yang kita kenal.

Napoleon sendiri belum lama jatuh ketika kongres dimulai. Ia dibuang ke Pulau Elba pada Mei 1814. Banyak diplomat mengira masalah selesai. Mereka salah menghitung ego seorang Korsika yang pernah membuat raja-raja Eropa gemetar hanya dengan gerakan pasukan.

Di Wina, pesta tetap berjalan. Tsar Alexander I dari Rusia datang dengan aura setengah mesianik. Tingginya hampir 190 centimeter, wajah tampan, mata biru pucat, dan kebiasaan berbicara tentang moralitas Kristen sambil tetap mengincar Polandia untuk Rusia. Ia suka membuat orang bingung; kadang terdengar tulus, kadang seperti aktor yang terlalu menikmati dirinya sendiri.

Lalu Talleyrand. Sulit menemukan manusia yang lebih licin daripada Charles-Maurice de Talleyrand-Périgord. Kakinya pincang sejak kecil. Jalannya pelan. Suaranya lembut. Orang ini berhasil selamat dari monarki Bourbon, Revolusi Prancis, pemerintahan Napoleon, lalu kembali bekerja untuk raja setelah Napoleon jatuh. Ia seperti kecoak politik dengan parfum mahal.

Prancis kalah perang, tetapi Talleyrand berhasil membuat negaranya tetap duduk sebagai pemain utama di meja negosiasi. Itu pencapaian yang nyaris absurd. Negara-negara pemenang—Austria, Rusia, Prusia, Inggris—seharusnya bisa saja memperlakukan Prancis seperti bangkai yang dipreteli bersama-sama. Talleyrand mengubah situasi. Ia memanfaatkan ketakutan mereka satu sama lain.

Rusia ingin Polandia. Prusia ingin Saxony. Austria takut keduanya jadi terlalu kuat. Inggris takut keseimbangan Eropa runtuh. Di sela semua itu, Talleyrand masuk seperti pencuri yang tahu pintu mana tidak terkunci.

Mereka bicara tentang legitimasi. Tentang hak raja-raja lama untuk kembali berkuasa. Tentang stabilitas. Tentang keseimbangan kekuatan. Kata-kata itu terdengar mulia di dokumen resmi, tetapi praktiknya sering kasar sekali. Republik Genoa dihapus begitu saja dan diberikan ke Kerajaan Sardinia. Norwegia dipindahkan dari Denmark ke Swedia seperti barang barter. Polandia kembali dipotong-potong. Orang Polandia sudah terlalu sering mengalami itu sampai tragedinya terasa administratif.

Tidak semua orang menerima tatanan baru itu dengan tenang. Di jalanan Jerman dan Italia, bibit nasionalisme mulai tumbuh justru karena Kongres Wina mencoba membekukannya. Metternich mengira ia sedang mengawetkan Eropa seperti serangga dalam kaca. Ia tidak sadar bahwa tekanan berlebihan sering membuat sesuatu meledak lebih keras.


Kota Wina waktu itu seperti panggung teater yang terlalu penuh. Beethoven masih hidup dan tinggal di sana. Pendengarannya sudah hampir hilang total. Ia membenci Napoleon setelah sebelumnya mengaguminya. Konon, ketika mendengar Napoleon memahkotai dirinya sebagai kaisar, Beethoven marah besar dan mencoret dedikasi “Bonaparte” dari manuskrip Simfoni Ketiganya sampai kertasnya robek.

Sulit membayangkan suasana kota itu; kereta bangsawan lewat di jalan berbatu, bau kotoran kuda bercampur udara dingin Danube, pelayan membawa nampan porselen, para diplomat membahas nasib jutaan manusia sambil menyeruput cokelat panas. Jari-jari mereka mungkin masih lembut. Banyak keputusan mereka dikirim ke medan perang oleh orang lain.

Inggris datang dengan pendekatan berbeda. Robert Stewart, Viscount Castlereagh, lebih dingin daripada Alexander dan kurang flamboyan dibanding Metternich. Inggris tidak terlalu tertarik mencaplok wilayah besar di benua Eropa. Mereka lebih ingin keseimbangan yang memungkinkan perdagangan dan mencegah satu negara menjadi monster seperti Prancis era Napoleon. Inggris sudah terlalu lama perang. Utangnya menumpuk. Mereka tidak ingin ada lagi satu kekuatan dominan di daratan Eropa yang bisa mengancam jalur perdagangan laut mereka.

Dokumen akhir Kongres Wina ditandatangani pada 9 Juni 1815. Empat hari kemudian, Napoleon mendarat kembali di Prancis setelah kabur dari Elba.

Bayangkan ekspresi orang-orang di Wina saat kabar itu tiba. Semua negosiasi rumit, semua kompromi, semua pesta diplomatik—lalu pria kecil itu muncul lagi seperti karakter yang menolak keluar panggung. Perang Seratus Hari dimulai. Eropa belum selesai dengan Napoleon. Waterloo baru datang beberapa hari sesudahnya.

Kongres Wina sering dipuji karena berhasil menjaga perdamaian besar di Eropa hampir satu abad, setidaknya sampai 1914. Pujian itu tidak sepenuhnya salah. Setelah era Napoleon yang brutal, Eropa memang relatif stabil. Tidak ada perang kontinental sebesar sebelumnya selama puluhan tahun.

Tetapi “stabil” bagi siapa? Bagi bangsawan tua yang takut revolusi, iya. Bagi rakyat Polandia, Italia, Hungaria, atau Jerman yang ingin identitas nasional mereka diakui, Kongres Wina terasa seperti tutup panci yang ditekan terlalu kuat. Metternich membangun sistem sensor, mata-mata, pengawasan universitas, pembungkaman surat kabar. Ia takut mahasiswa yang membaca puisi romantik bisa berubah jadi revolusioner. Kadang ia benar.

Revolusi 1848 menghantam Eropa seperti pecahan kaca beterbangan. Wina sendiri meledak. Metternich kabur dari kota yang dulu ia kendalikan begitu percaya diri. Orang-orang yang pernah tunduk pada tatanannya mulai meneriakkan konstitusi dan kebebasan di jalanan.

Ada sesuatu yang ironis tentang Kongres Wina. Para diplomatnya menganggap diri mereka realistis, dewasa, dan waras dibanding generasi revolusioner Prancis yang dianggap mabuk ideologi. Padahal mereka juga sedang mabuk—hanya jenis mabuk yang berbeda. Mabuk keteraturan. Mabuk keyakinan bahwa manusia bisa diatur dari atas seperti bidak catur.

Mereka menggambar garis-garis baru di peta Eropa dengan tangan mantap. Garis-garis yang ditarik secara sewenang-wenang itu—seperti di Jerman dan Italia—menjadi bahan bakar utama bagi unifikasi nasional di akhir abad ke-19.

Lalu generasi sesudah mereka lahir di dalam garis itu, dan mulai membencinya.

Related

Sejarah 8523680224173180436

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item