Masalah Kesehatan Mental Anak dan Kebodohan Orang-orang Tua
https://www.belajarsampaimati.com/2026/06/masalah-kesehatan-mental-anak-dan.html?m=0
![]() |
| Ilustrasi/antaranews.com |
Nilai matematikanya turun dari 92 jadi 68. Guru menulis catatan kecil di buku penghubung, "Kurang fokus di kelas."
Orang tuanya langsung punya diagnosis sendiri. Kebanyakan main HP. Kurang disiplin. Kurang bersyukur. Kurang niat belajar.
Daftar tuduhan itu sering keluar lebih cepat daripada pertanyaan paling sederhana; sebenarnya apa yang sedang terjadi pada anak ini?
Di Indonesia, gangguan kesehatan mental pada anak sering datang tanpa suara. Tidak ada sirene atau demam tinggi. Tidak ada hasil rontgen yang bisa ditempel di dinding ruang tamu. Yang muncul justru gejala-gejala yang tampak biasa. Anak mendadak sulit bangun pagi. Nilai turun. Menarik diri dari teman-temannya. Lebih mudah marah. Lebih sering menangis. Lebih sering diam.
Kita hidup di masyarakat yang sangat pandai mengenali batuk, tetapi sering gagal mengenali keputusasaan.
Organisasi Kesehatan Dunia memperkirakan, satu dari tujuh remaja usia 10 hingga 19 tahun di dunia mengalami gangguan mental. Angka itu besar sekali. Bayangkan satu kelas SMP berisi 35 siswa. Secara statistik, sekitar lima anak di dalam ruangan itu sedang membawa sesuatu yang tidak terlihat oleh guru mereka.
Lima anak. Bukan satu. Bukan kasus langka. Lima.
Di Indonesia, gambaran lengkap memang belum tersedia, karena data nasional masih berkembang dan banyak kasus tidak pernah masuk sistem kesehatan. Survei dan laporan berbagai lembaga menunjukkan kecemasan, depresi, dan masalah kesehatan mental lainnya pada anak dan remaja meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Pandemi COVID-19 mempercepat banyak hal yang sebelumnya sudah retak. Sekolah tutup. Interaksi sosial menghilang. Layar ponsel menjadi jendela utama menuju dunia. Ketika sekolah dibuka kembali, sebagian anak memang kembali tertawa seperti biasa. Sebagian lainnya tidak pernah benar-benar kembali.
Kata "cemas" sering terdengar terlalu ringan. Padahal kecemasan berat bisa terasa sangat fisik. Tangan berkeringat. Perut melilit. Jantung berdegup cepat. Sulit bernapas. Sulit tidur. Sulit berpikir.
Seorang anak bisa duduk di bangku kelas sambil terlihat baik-baik saja, sementara pikirannya sedang memutar seratus skenario buruk sekaligus. Besok ada ujian. Kalau gagal, bagaimana? Kalau dimarahi, bagaimana? Kalau teman-teman mengejek, bagaimana? Kalau ayah kecewa, bagaimana?
Tubuh manusia tidak terlalu peduli apakah ancaman itu nyata atau hanya hidup di kepala. Sistem alarmnya tetap menyala. Ironisnya, banyak orang dewasa justru menertawakan alarm tersebut.
"Jangan lebay."
"Masalah begitu saja dipikirkan."
"Masih kecil kok stres."
Kalimat-kalimat semacam itu terdengar sepele, sampai kita membayangkan mengucapkannya kepada orang yang mengalami serangan asma. Bayangkan seseorang terengah-engah karena saluran napasnya menyempit, lalu diberi nasihat untuk "jangan lebay". Kedengarannya absurd.
Ketika gangguan terjadi di otak, absurditas yang sama sering dianggap normal. Depresi pada anak bahkan lebih mudah disalahpahami.
Masyarakat Indonesia memiliki hubungan yang aneh dengan kesedihan. Kesedihan dianggap sah selama penyebabnya jelas dan durasinya singkat. Kakek meninggal, wajar sedih. Putus cinta, wajar sedih beberapa hari. Gagal ujian, wajar kecewa. Begitu kesedihan bertahan terlalu lama, orang mulai gelisah melihatnya. Mereka ingin memperbaikinya. Mereka ingin menyuruhnya berhenti. Mereka ingin memberikan ceramah.
Anak yang mengalami depresi sering tidak terlihat sedih sepanjang waktu. Itu bagian yang jarang dipahami. Sebagian justru terlihat datar. Hampa. Tidak tertarik pada hal-hal yang dulu mereka sukai. Sepak bola tidak menarik lagi. Musik tidak menarik lagi. Game tidak menarik lagi. Teman tidak menarik lagi. Dunia kehilangan warna sedikit demi sedikit.
Guru melihat siswa yang tidak bersemangat. Orang tua melihat anak yang malas. Lingkungan melihat anak yang kurang motivasi. Depresi memiliki bakat luar biasa untuk menyamar sebagai kemalasan.
Saya sering merasa istilah "malas" digunakan terlalu murah dalam budaya kita. Anak tidak mau belajar, malas. Anak sulit bangun pagi, malas. Anak mengurung diri di kamar, malas. Anak nilainya turun, malas. Label itu bekerja seperti lakban. Cepat. Praktis. Tidak perlu berpikir terlalu jauh. Padahal manusia jauh lebih rumit daripada satu kata.
Seorang psikolog anak di Jakarta pernah menggambarkan fenomena yang menarik. Banyak keluarga baru datang mencari bantuan ketika situasinya sudah sangat buruk. Anak sudah berhenti sekolah. Anak sudah menyakiti diri sendiri. Anak sudah mengalami serangan panik berulang.
Tahap awal sering terlewat. Karena stigma. Karena malu. Karena takut tetangga bicara macam-macam. Karena khawatir dianggap gagal menjadi orang tua. Karena kata "psikolog" masih terdengar menakutkan bagi sebagian keluarga.
Padahal tidak ada yang panik ketika membawa anak ke dokter gigi. Tidak ada yang malu membawa anak ke dokter mata. Begitu organ yang membutuhkan bantuan adalah otak, suasananya berubah total.
Saya membaca kisah seorang siswi SMA di Yogyakarta yang mengalami kecemasan berat saat presentasi. Setiap kali dipanggil ke depan kelas, tangannya gemetar hebat sampai kertas yang dipegang ikut bergetar. Suaranya mengecil. Napasnya pendek-pendek.
Teman-temannya menganggapnya pemalu. Gurunya menganggapnya kurang percaya diri. Ia sendiri mengira dirinya aneh. Bertahun-tahun kemudian, ia baru mengetahui bahwa apa yang dialaminya memiliki nama; gangguan kecemasan sosial.
Memiliki nama tidak otomatis menyelesaikan masalah. Tetapi setidaknya monster yang dihadapi tidak lagi tanpa wajah.
Media sosial menambah lapisan kerumitan baru. Generasi sebelumnya mungkin membandingkan diri dengan tetangga. Anak-anak hari ini membandingkan diri dengan ribuan orang sekaligus. Tubuh lebih bagus. Nilai lebih bagus. Liburan lebih bagus. Wajah lebih bagus. Kamar lebih bagus. Hidup lebih bagus. Algoritma tidak pernah tidur.
Anak usia tiga belas tahun bisa menghabiskan berjam-jam melihat kehidupan yang tampak sempurna dari layar berukuran enam inci. Tidak semua anak terpengaruh dengan cara yang sama. Sebagian kuat. Sebagian rapuh. Sebagian sedang berada di masa hidup ketika satu komentar jahat terasa seperti palu.
Masalah kesehatan mental anak sering dibahas seolah-olah hanya urusan individu. Menurut saya, itu terlalu sempit. Lihat jadwal sebagian siswa Indonesia. Sekolah. Les. PR. Try out. Bimbingan belajar. Kursus bahasa. Kursus musik. Latihan olahraga. Target ranking. Target masuk sekolah favorit. Target masuk universitas favorit. Target-target itu bertumpuk seperti koper di bagasi yang sudah penuh.
Orang dewasa sering lupa bahwa anak-anak juga memiliki batas kapasitas emosional. Mereka bukan proyek investasi. Mereka bukan mesin pencetak prestasi. Mereka juga bisa lelah. Mereka juga bisa takut. Mereka juga bisa hancur.
Sebagian anak yang mengalami depresi tetap mendapatkan nilai tinggi. Sebagian anak yang mengalami kecemasan tetap tersenyum di foto keluarga. Sebagian anak yang sedang berjuang keras masih mengucapkan "aku baik-baik saja" setiap hari. Kita terlalu percaya pada penampilan luar. Mungkin karena lebih nyaman begitu.
Seorang anak duduk di ruang kelas. Guru sedang menjelaskan pecahan desimal. Kipas angin berputar pelan di langit-langit. Teman-temannya mencatat.
Dari luar tidak ada yang berbeda. Anak itu bahkan mungkin terlihat tenang. Pensilnya bergerak di atas buku tulis. Tak seorang pun di ruangan tahu ia sudah tiga malam sulit tidur. Tak seorang pun tahu ia menangis di kamar mandi sebelum berangkat sekolah.
Bel istirahat berbunyi. Buku-buku ditutup. Kursi bergeser. Anak-anak berhamburan keluar menuju kantin. Ia tetap duduk beberapa detik lebih lama sambil menatap meja.

.png)

