Mengapa Banyak Tokoh Besar Islam Justru Berasal dari Persia?

Ilustrasi/surau.co
Daftar itu tampak mencolok ketika dibaca berurutan. Al-Bukhari dari Bukhara. Muslim dari Naisabur. Abu Dawud dari Sijistan. At-Tirmidzi dari Tirmidz. An-Nasa'i dari Nasa. Ibnu Majah dari Qazvin. Abu Hanifah keturunan Persia. Al-Ghazali dari Thus. Fakhr al-Razi dari Rayy. Al-Baihaqi dari Baihaq. Al-Hakim dari Naisabur. At-Tabari dari Amol di Tabaristan. Az-Zamakhsyari dari Khwarazm.

Nama-nama tempat itu membentuk sebuah peta yang panjang membentang dari Khurasan hingga Transoxiana. Ketika seseorang pertama kali menyadari hal tersebut, muncul godaan untuk mengatakan, "Lihat? Islam sebenarnya dibangun oleh Persia."

Godaan itu bisa dimengerti. Masalahnya, kalimat tersebut sekaligus mengandung kebenaran dan penyederhanaan yang berlebihan.

Fakta dasarnya tidak dapat disangkal. Banyak tokoh terbesar dalam sejarah intelektual Islam memang lahir di wilayah yang sekarang berada di Iran, Afghanistan, Uzbekistan, Turkmenistan, atau kawasan budaya Persia yang lebih luas. Ketika seseorang membuka kitab hadis, kitab tafsir, kitab kalam, kitab usul fikih, atau karya filsafat Islam klasik, sangat sering ia sedang membaca hasil kerja orang-orang dari dunia Persia.

Bahkan angka-angka kadang terasa hampir tidak masuk akal. Dua kitab hadis paling berpengaruh dalam Islam Sunni ditulis oleh Al-Bukhari dan Muslim. Keduanya berasal dari Khurasan Raya. Abu Hanifah, pendiri mazhab terbesar dalam Islam Sunni, lahir di Kufah tetapi berasal dari keluarga Persia. Al-Ghazali mungkin pemikir Muslim paling berpengaruh setelah para pendiri agama itu sendiri. Ia berasal dari Thus. Fakhr al-Razi, salah satu raksasa teologi Islam, juga berasal dari wilayah Persia. Ketika seseorang membaca tafsir monumental At-Tabari, ia sedang membaca karya seorang lelaki dari Amol dekat pesisir Laut Kaspia.

Daftar tersebut terus memanjang sampai mata mulai lelah. Kebetulan sejarah biasanya tidak menghasilkan pola setajam itu. Sebuah pertanyaan pun muncul. Mengapa justru kawasan Persia yang melahirkan begitu banyak raksasa intelektual Islam?

Jawabannya tidak dimulai dari Islam. Jawabannya dimulai jauh sebelum Islam lahir.

Berabad-abad sebelum Nabi Muhammad berkhotbah di Mekah, Kekaisaran Akhemeniyah, Parthia, dan Sasaniyah sudah membangun tradisi administrasi, perpajakan, birokrasi, pendidikan elite, dan budaya literasi yang jauh lebih kompleks daripada yang ditemukan di sebagian besar Jazirah Arab. Kota-kota seperti Ctesiphon, Nishapur, dan Merv bukanlah daerah pinggiran dunia. Mereka merupakan pusat peradaban besar.

Ketika pasukan Arab menaklukkan Persia pada abad ke-7, mereka tidak hanya memperoleh wilayah. Mereka mewarisi mesin peradaban.

Para penakluk sering menang di medan perang. Para birokrat menentukan apa yang terjadi setelah perang selesai.

Dinasti Umayyah sempat mempertahankan dominasi elite Arab yang cukup kuat. Situasi berubah drastis pada masa Abbasiyah. Baghdad didirikan pada tahun 762. Lokasinya sendiri sudah menunjukkan arah sejarah. Baghdad jauh lebih dekat ke jantung dunia Persia dibandingkan ke Mekah atau Madinah.

Bau tinta mulai mengalahkan bau pasir. Bahasa Arab tetap menjadi bahasa ilmu. Kitab-kitab ditulis dalam bahasa Arab. Tafsir ditulis dalam bahasa Arab. Hadis ditulis dalam bahasa Arab. Fikih ditulis dalam bahasa Arab. Namun sangat banyak orang yang menulisnya bukan orang Arab secara etnis. Fenomena itu kadang membuat perdebatan identitas menjadi kacau.

Orang modern sering berpikir dalam kategori negara-bangsa. Arab. Iran. Turki. Indonesia. Abad ke-9 tidak bekerja seperti itu.

Al-Bukhari mungkin lahir di Bukhara, tetapi ia menulis dalam bahasa Arab. Ia belajar di Mekah, Madinah, Basrah, Kufah, Baghdad, Mesir, dan Suriah. Dunia intelektualnya tidak dibatasi paspor. Identitasnya lebih dekat kepada jaringan ulama internasional daripada konsep kebangsaan modern.

Meski begitu, pengaruh Persia sangat nyata. Lihat saja gerakan penerjemahan besar-besaran pada masa Khalifah Al-Ma'mun. Banyak administrator, penerjemah, ilmuwan, dan patron ilmu berasal dari keluarga-keluarga Persia. Keluarga Barmakid menjadi contoh terkenal. Mereka membantu membangun lingkungan yang memungkinkan filsafat Yunani, astronomi India, dan tradisi intelektual Persia bertemu dalam satu ruang.

Islam berkembang dari agama menjadi peradaban. Kalimat itu terdengar sederhana. Kenyataannya rumit sekali.

Agama dapat lahir dari seorang nabi. Peradaban memerlukan ribuan orang yang mengarsipkan, menyalin, mengomentari, mengkritik, mengajar, menerjemahkan, memperdebatkan, dan mengembangkan gagasan selama berabad-abad. Khurasan memainkan peran yang sangat besar dalam proses tersebut.

Ketika membaca biografi Al-Bukhari, saya sering terhenti pada detail kecil yang terasa hampir absurd. Ia melakukan perjalanan ribuan kilometer untuk memverifikasi hadis. Debu jalanan Irak. Panas Hijaz. Penginapan sederhana. Bertahun-tahun mengumpulkan riwayat. Jari-jari yang mungkin pegal karena menulis terus-menerus. Mata yang lelah karena membaca sanad demi sanad.

Aktivitas seperti itu memerlukan ekosistem. Seorang genius sendirian tidak cukup. Puluhan kota di dunia Persia menyediakan ekosistem tersebut.

Bagian yang membuat saya gelisah adalah ketika fakta itu dipakai untuk mengatakan bahwa Islam tanpa Persia pasti akan menjadi agama lokal Arab yang kecil.

Kalimat itu terlalu percaya diri. Sejarah tidak pernah memberi kita laboratorium untuk menguji skenario alternatif.

Islam memang memperoleh dorongan intelektual luar biasa dari Persia. Pernyataan itu masuk akal. Tetapi Islam juga berkembang melalui Suriah, Mesir, Afrika Utara, Andalusia, Asia Tengah, Anatolia, India, dan kemudian Nusantara. Filsafat Islam dipengaruhi Yunani. Matematika Islam dipengaruhi India. Sistem administrasi dipengaruhi Persia. Tradisi hukum berkembang melalui interaksi banyak wilayah.

Peradaban besar biasanya lahir dari pencampuran yang rumit, bukan dari satu sumber tunggal.

Tetapi saya juga menganggap sebagian umat Islam modern terlalu defensif ketika membahas peran Persia. Seolah-olah mengakui kontribusi Persia akan mengurangi posisi Arab dalam sejarah Islam. Mengapa harus begitu? 

Nabi Muhammad lahir di Arab. Al-Qur'an turun dalam bahasa Arab. Mekah dan Madinah tetap pusat spiritual. Fakta-fakta tersebut tidak berubah meskipun sebagian besar penyusun hadis terbesar berasal dari Khurasan. Tidak ada kontradiksi yang perlu ditakuti.

Justru yang menarik adalah kenyataan bahwa sebuah agama yang lahir di Hijaz kemudian dibentuk ulang oleh begitu banyak tangan dari luar Hijaz. Agama tersebut bergerak ke utara, bertemu birokrat Persia, bertemu filsafat Yunani, bertemu astronom India, bertemu tradisi Suriah, lalu berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih besar daripada kondisi asalnya.

Ketika orang berkata "Islam dibangun oleh Persia", saya mengerti apa yang ingin mereka tunjukkan. Mereka sedang bereaksi terhadap narasi lama yang menggambarkan sejarah Islam, seolah semua pencapaian intelektualnya berasal dari Arab semata.

Reaksi itu kadang melampaui sasarannya. Baghdad tidak pernah menjadi kota Arab murni. Naisabur tidak pernah menjadi kota Persia murni. Bukhara tidak pernah menjadi kota yang hidup dalam ruang hampa. Orang-orang bergerak. Kitab bergerak. Ide bergerak. Guru berpindah kota. Murid menempuh perjalanan berbulan-bulan hanya untuk mendengar satu hadis.

Di rak-rak perpustakaan tua, nama Al-Bukhari berdampingan dengan nama Malik dari Madinah, Syafi'i dari Gaza, Ahmad bin Hanbal dari Baghdad, Al-Ghazali dari Thus, dan Ibn Rushd dari Cordoba.

Peta dunia Islam klasik terlihat seperti seseorang menumpahkan tinta ke tiga benua sekaligus, lalu membiarkannya menyebar ke mana-mana.

Related

Tokoh 6798146554025328621

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item