Side Hustle, Gig Economy, Istilah Keren dalam Hidup yang Bingung

Ilustrasi/britannica.com
Pukul sebelas malam, seorang pengemudi ojek online berhenti di warung kopi. Jaket hijaunya basah oleh keringat yang sudah dingin. Ia memesan kopi sachet panas, dan duduk di trotoar sambil melihat layar ponsel yang retak di sudut kiri. Orderan sepi. Tarif turun. Bonus makin absurd syaratnya. Di grup Telegram driver, seseorang baru saja mengirim tangkapan layar pendapatan harian; Rp63 ribu setelah bensin.

Lalu, entah kenapa, muncul video di YouTube tentang “cara menghasilkan Rp100 juta dari AI affiliate marketing”.

Dunia sekarang memang seperti itu. Orang yang kelelahan selalu dibuai harapan oleh orang yang kelihatannya tidak pernah berkeringat.

Istilah “side hustle” terdengar keren di LinkedIn. Di kepala banyak orang Indonesia, kenyataannya jauh lebih kasar. Bukan tentang aktualisasi diri atau passion economy. Tapi tentang bertahan hidup tanpa terlalu bergantung pada satu pintu penghasilan yang bisa tertutup kapan saja. PHK massal di startup sejak 2023 belum benar-benar selesai efeknya. Orang-orang yang dulu bekerja di gedung kaca kawasan Kuningan mulai berjualan kelas online, buka jasa desain thumbnail, jadi admin TikTok Shop, bahkan menyewakan suara untuk dubbing AI.

Ekonomi digital sering dijual seperti surga demokratis; semua orang bisa sukses dari internet. Kalimat itu setengah benar. Internet memang membuka pintu. Masalahnya, jutaan orang masuk ke pintu yang sama sambil saling sikut.

Lihat saja ekosistem gig economy. Gojek, Grab, Upwork, Fiverr. Platform-platform itu sering dipresentasikan sebagai simbol fleksibilitas kerja modern. Kerja kapan saja, dari mana saja. Kalimat yang terdengar indah sampai seseorang sadar bahwa “fleksibel” sering berarti tidak punya kepastian.

Driver ojek online bekerja lebih lama dari pegawai kantor biasa. Freelancer desain berebut proyek logo seharga US$5 dengan orang dari Bangladesh, Vietnam, Filipina, Nigeria. Penulis konten dibayar Rp20 ribu per artikel oleh perusahaan yang memasang slogan “creative culture” di Instagram mereka.

Kita hidup di zaman ketika pekerjaan tetap terasa sampingan, sementara pekerjaan sampingan justru mulai diperlakukan serius.

Ironis.

Ada seorang pegawai bank menjalankan kanal YouTube review kipas angin dan rice cooker. Subscriber-nya cuma 18 ribu. Tidak viral. Tidak glamor. Tapi video tentang “Perbandingan Miyako dan Cosmos untuk kos tanpa AC” terus ditonton orang selama bertahun-tahun. Kolom komentarnya penuh ibu kos, mahasiswa, pasangan baru menikah. Pendapatan AdSense-nya mungkin tidak fantastis, tapi stabil. Ada sesuatu yang menarik dari model seperti itu; ia membangun aset digital yang pelan, membosankan, tapi tahan lama.

Sayangnya, internet terlalu dipenuhi obsesi terhadap ledakan cepat. Orang ingin viral sebelum punya kemampuan mempertahankan perhatian. Orang ingin monetisasi sebelum punya identitas. Akibatnya lucu sekaligus menyedihkan. Timeline penuh akun motivasi keuangan yang penghasilannya justru berasal dari menjual kelas motivasi keuangan.

Blog sebenarnya pernah menjadi bentuk perlawanan yang tenang terhadap ritme internet yang histeris. Awal 2000-an, orang seperti Raditya Dika membangun audiens dari tulisan personal yang terasa berantakan dan jujur. Forum seperti Kaskus dulu dipenuhi thread pengalaman manusia yang aneh-aneh tapi hidup. Sekarang semuanya dipaksa jadi konten pendek 30 detik dengan subtitle besar warna kuning.

Algoritma tidak suka kesabaran. Algoritma suka emosi cepat. Marah. Takut. Nafsu. Kejutan. Itu sebabnya banyak orang gagal membangun aset digital jangka panjang. Mereka terlalu sibuk mengejar sistem distribusi, tapi lupa membangun sesuatu yang layak didistribusikan.

Banyak kanal YouTube Indonesia terlihat identik sekarang. Thumbnail wajah melotot. Judul huruf kapital. Musik dramatis yang klise. Bahkan intonasi bicara kreatornya terasa seperti hasil cetakan pabrik yang sama. Saya kadang merasa internet sedang berubah menjadi pusat perbelanjaan besar yang menjual produk berbeda dengan suara kasir identik.

Lalu AI masuk. Situasinya makin brutal. Sekarang satu orang bisa membuat sepuluh video sehari memakai AI. Bisa membuat voice-over otomatis. Bisa menghasilkan ilustrasi tanpa menggambar. Dalam jangka pendek, itu tampak menguntungkan. Dalam jangka panjang, internet berpotensi dipenuhi sampah informasi yang volumenya jauh lebih besar dari sebelumnya.

Lucunya, kondisi seperti itu justru membuat hal yang manusiawi menjadi mahal. Tulisan yang benar-benar dipikirkan. Video yang dibuat oleh orang yang benar-benar memahami topik. Suara yang tidak terdengar seperti template motivator bisnis. Nilainya naik.

Masalahnya, membangun sesuatu yang tahan lama sering terasa membosankan pada awalnya. Blog dengan seratus artikel pertama hampir pasti sepi. Kanal YouTube dengan dua puluh video pertama mungkin cuma ditonton 37 orang. Podcast sering terdengar memalukan di episode awal. Orang modern terlalu cepat menyerah karena terbiasa mengukur segalanya lewat grafik instan. Padahal aset digital bekerja secara aneh. Efeknya tidak linear.

Satu artikel bagus bisa mendatangkan pengunjung selama lima tahun. Satu video tutorial sederhana bisa terus menghasilkan uang saat pembuatnya tidur. Seorang guru matematika di Malang mungkin tidak pernah terkenal secara nasional, tapi video “cara cepat integral substitusi” buatannya terus diputar siswa SMA tiap musim ujian. Saya lebih percaya model seperti itu dibanding janji “financial freedom usia 25”.

Gig economy sering membuat orang salah paham tentang kebebasan. Mereka mengira kebebasan berarti tidak punya atasan. Kenyataannya, banyak pekerja digital sekarang justru punya ribuan atasan sekaligus; algoritma, rating pengguna, tren platform, advertiser, engagement rate.

Seorang penjual di TikTok Shop bisa kehilangan pendapatan dalam semalam hanya karena algoritma berubah. Seorang kreator Instagram bisa tenggelam karena reach turun tanpa penjelasan. Kehidupan ekonomi modern terasa seperti bekerja di kasino yang lampunya tidak pernah mati.

Makanya saya agak alergi pada nasihat bisnis yang terlalu optimistis. “Semua orang bisa sukses di internet” terdengar seperti slogan MLM versi digital.

Tidak semua orang punya waktu membangun kanal. Tidak semua orang punya energi setelah kerja sembilan jam. Tidak semua orang punya koneksi internet stabil atau laptop layak. Anak muda di Jakarta Selatan sering lupa bahwa banyak orang Indonesia masih mengetik CV di rental komputer dekat pasar.

Ketimpangan digital itu nyata. Sangat nyata.

Seseorang dengan kamera Sony dan ruangan estetik tentu lebih mudah menjual citra sukses dibanding buruh gudang yang merekam video pakai HP Android murah dengan kipas angin berisik di belakangnya.

Meski begitu, internet tetap memberi celah kecil yang dulu tidak ada. Itu yang membuat banyak orang bertahan. Seorang ibu rumah tangga di Banyuwangi bisa menjual pola rajut PDF ke pembeli di Kanada. Seorang guru honorer bisa membuka kelas sejarah privat lewat Zoom. Seorang tukang servis elektronik di Solo bisa mendapat pelanggan tetap karena video YouTube tentang memperbaiki mesin cuci Sharp. Celah-celah kecil itu penting.

Negara sering terlalu sibuk bicara hilirisasi besar, investasi jumbo, unicorn, AI nasional, data center. Sementara ekonomi riil sehari-hari bergerak lewat orang-orang biasa yang mencoba menambah Rp500 ribu atau Rp1 juta per bulan agar hidupnya tidak runtuh saat harga beras naik.

Kadang saya merasa istilah “side hustle” terlalu mewah untuk menggambarkan kenyataan di Indonesia. Kedengarannya seperti hobi produktif kelas menengah urban. Banyak orang sebenarnya sedang melakukan survival hustle. Mereka bekerja utama sambil bekerja lagi supaya tidak tenggelam.

Malam hari, setelah kota agak sepi, internet Indonesia berubah bentuk. Grup Facebook jual beli ramai. Orang menawarkan jasa edit CV, buka commission gambar anime, menjual preset Lightroom, menjual akun game, menjual template skripsi. Sebagian tampak menyedihkan. Sebagian kreatif. Sebagian absurd.

Lalu ada orang yang diam-diam terus menulis blog kecilnya sendiri selama enam tahun tanpa viral. Trafiknya naik perlahan. Artikel-artikelnya muncul di Google saat orang mencari sesuatu yang spesifik. Tidak glamor. Tidak punya seminar sukses. Tidak menjual mimpi Lamborghini. Penghasilannya cukup untuk membayar listrik rumah dan cicilan motor.

Saya lebih percaya masa depan ekonomi digital ada di tangan orang-orang seperti itu dibanding para penjual kelas “mindset miliarder” yang thumbnail videonya penuh uang palsu dan jas ketat warna marun.

Jam dua pagi. Driver ojek online tadi mungkin masih menunggu order sambil menonton video motivasi bisnis di YouTube Shorts. Lampu warung kopi memantul di aspal yang lengket oleh debu dan sisa hujan. Ponselnya berbunyi sekali. Order masuk. Rp11 ribu.

Related

Hoeda's Note 2201792879217134446

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

item