Bencana Kelaparan Bengal 1943, Kejahatan Kolonial Inggris di India

Ilustrasi/reddit.com
Kalkuta waktu itu dipenuhi tubuh yang makin ringan. Orang-orang jatuh di trotoar dekat tram, dekat pasar, dekat gedung kolonial Inggris yang masih berdiri angkuh dengan pilar putihnya. Anak-anak kurus dengan perut membengkak tidur di pinggir jalan sambil dikerubungi lalat. Bau kotoran, keringat, mayat, nasi basi, bercampur dengan udara lembap Bengal yang lengket di kulit. Wartawan Inggris, fotografer, pegawai kolonial—semuanya melihat. Banyak yang tetap makan malam dengan tenang.

Kelaparan Bengal 1943 sering dibicarakan dalam angka. Dua juta. Tiga juta. Kadang lebih. Angka-angka itu membuat tragedi terasa seperti statistik perang biasa. Padahal yang mati bukan angka. Tukang perahu di Midnapore. Gadis kecil di Tamluk. Petani padi di distrik Noakhali. Buruh pelabuhan di Chittagong. Orang-orang yang sebelumnya hidup miskin tapi masih hidup, lalu perlahan berubah jadi bayangan tulang di tengah salah satu imperium terbesar di dunia.

Ironinya kasar sekali; Bengal sebenarnya wilayah subur. Sawah hijau, sungai besar, delta luas. Daerah itu sejak lama dikenal sebagai penghasil beras penting di India Britania. Inggris mengambil banyak keuntungan dari sana selama berabad-abad—jute, teh, pajak tanah, tenaga kerja murah. Kalkuta bahkan pernah menjadi ibu kota Raj Britania sebelum pindah ke Delhi.

Lalu Perang Dunia II datang, dan seluruh mesin kolonial berubah semakin brutal.

Jepang menduduki Burma pada 1942. Itu pukulan besar, karena Burma adalah pemasok beras utama bagi India Britania. Ketakutan Inggris terhadap invasi Jepang membuat kebijakan yang hampir gila diterapkan di Bengal pesisir. “Denial policy”. Perahu-perahu disita atau dihancurkan agar tidak bisa dipakai pasukan Jepang jika mendarat.

Bengal adalah negeri sungai. Mengambil perahu dari rakyat Bengal hampir seperti mencabut kaki mereka.

Puluhan ribu perahu kecil dimusnahkan. Transportasi pangan terganggu parah. Nelayan kehilangan kerja. Distribusi beras kacau. Pemerintah kolonial sibuk bicara strategi perang, sementara struktur ekonomi lokal mulai retak dari bawah.

Lalu harga beras meledak. Pedagang menimbun. Spekulasi naik liar. Orang kaya masih bisa membeli makanan. Orang miskin mulai menjual apa saja; alat masak, tanah, perhiasan kawin, bahkan pintu rumah. Di desa-desa tertentu, keluarga memakan rumput, daun liar, air rebusan tipis tanpa nasi.

Banyak orang Bengal kemudian berjalan ke Kalkuta, karena percaya kota besar pasti punya makanan. Yang mereka temukan sering cuma kematian lebih lambat.

Foto-foto karya fotografer seperti Sunil Janah masih terasa menampar sampai sekarang. Tubuh kurus tergeletak di jalan. Mata cekung. Anak kecil yang terlihat terlalu lelah bahkan untuk menangis. Janah memotret bukan dengan estetika heroik perang, tetapi dengan rasa marah yang hampir terasa di komposisi fotonya.

Majalah kolonial Inggris awalnya cenderung menahan penyebaran gambar-gambar itu. Imperium selalu takut pada visual kelaparan. Tulang rusuk lebih sulit dipropagandakan daripada pidato.

Nama Winston Churchill muncul terus dalam perdebatan soal Bengal 1943. Churchill sedang fokus penuh pada perang melawan Nazi Jerman, dan bagi banyak orang Inggris ia tetap pahlawan besar abad ke-20. Masalahnya, komentar-komentarnya soal India sering sangat kasar. Ia menyalahkan rakyat India karena “berkembang biak seperti kelinci”. Ketika pejabat kolonial meminta bantuan pangan lebih besar untuk Bengal, respons pemerintah perang Inggris lambat dan penuh alasan birokratis.

Kapal gandum tersedia untuk kebutuhan perang lain. Australia punya stok gandum. Pengiriman ke India tertunda atau ditolak. Orang-orang Bengal mati, sementara kapal-kapal penuh bahan pangan tetap bergerak dalam jalur imperium.

Sebagian sejarawan memperingatkan agar tragedi ini tidak disederhanakan jadi “Churchill sengaja membunuh jutaan orang”. Situasinya memang kompleks; perang global, gangguan logistik, inflasi, kepanikan pasar, gagal panen lokal akibat jamur cokelat pada padi, sampai badai siklon di Bengal pada 1942.

Tetap saja ada sesuatu yang sangat telanjang dalam prioritas imperium waktu itu. Nyawa rakyat kolonial berada jauh di bawah kebutuhan perang metropolitan.

Kalimat-kalimat internal pejabat kolonial sering terdengar mengerikan justru karena nadanya administratif. Persediaan. Distribusi. Transportasi. Kuota. Sementara di luar kantor pemerintahan, orang-orang mati di trotoar.

Penulis India, Mahasweta Devi, kemudian menggambarkan bagaimana kelaparan itu meninggalkan luka sosial panjang. Perempuan miskin dipaksa masuk prostitusi demi bertahan hidup. Anak-anak dijual. Desa-desa kosong. Orang-orang kehilangan rasa malu karena tubuh sudah terlalu lapar untuk mempertahankan martabat. Kelaparan besar sering menghancurkan struktur moral sehari-hari lebih cepat daripada perang.

Ada laporan tentang anjing dan burung pemakan bangkai berkeliaran dekat mayat di Kalkuta. Truk kota mengangkut tubuh pada pagi hari. Kadang tubuh terlalu ringan untuk diangkat dengan hati-hati.

Bengal saat itu juga sedang mendidih secara politik. Nasionalisme India makin kuat. Banyak orang India melihat kelaparan itu bukan sekadar bencana alam atau kegagalan administratif, tetapi bukti telanjang bahwa Raj Britania tidak benar-benar melihat rakyat India sebagai manusia setara.

Kalau jutaan orang kulit putih Inggris mati kelaparan di London, apakah responsnya akan selambat itu? Pertanyaan itu menghantui banyak tulisan pasca-kolonial India.

Ekonom Amartya Sen, yang masa kecilnya dilewati di Bengal saat kelaparan terjadi, kemudian menulis analisis penting soal famine. Ia menunjukkan bahwa kelaparan tidak selalu terjadi karena makanan benar-benar habis total. Masalah distribusi dan akses bisa lebih mematikan. Beras masih ada di beberapa tempat di Bengal. Tapi orang miskin tidak mampu membelinya. Kalimat itu terasa teknis, sampai melihat foto anak-anak tinggal kulit dan tulang.

Inggris selama ini punya narasi bahwa kolonialisme membawa rel kereta, administrasi modern, hukum, pendidikan. Bengal 1943 merobek sebagian klaim moral itu dengan brutal. Rel kereta memang ada. Tapi makanan tetap gagal mencapai orang yang sekarat.

Ada detail kecil yang mengganggu dalam memo-memo perang Inggris; kekhawatiran menjaga moral tentara dan suplai perang lebih besar daripada kekhawatiran soal desa-desa Bengal yang kolaps. Imperium modern sangat efisien ketika menyangkut kepentingannya sendiri.

Kelaparan itu juga tidak membunuh secara “dramatis” seperti perang biasa. Orang mati perlahan. Tubuh mengecil. Mata kosong. Tenaga hilang sedikit demi sedikit. Orang duduk di pinggir jalan lalu tidak bangun lagi. Jenis kematian seperti itu membuat publik internasional lebih mudah berpaling. Tidak ada ledakan besar. Tidak ada parade tank. Hanya tubuh kurus yang terlalu banyak.

Di Bengal sekarang, kehidupan terus berjalan. Pasar ramai. Kereta penuh sesak. Penjual chai berteriak di stasiun Howrah. Sungai Hooghly tetap bergerak lambat kecokelatan di bawah panas.

Kelaparan 1943 kadang terasa seperti hantu yang muncul sebentar dalam buku sejarah lalu menghilang lagi di balik cerita besar Perang Dunia II. Fokus dunia biasanya tertarik ke Eropa; Stalingrad, Normandy, Hitler, Holocaust. Sementara jutaan orang India mati dalam imperium sekutu yang mengklaim sedang menyelamatkan peradaban dari barbarisme. Kontras itu sulit dibaca tanpa rasa getir.

Beberapa pejabat kolonial Inggris di India sebenarnya panik dan mencoba mencari solusi. Sebagian mengirim memo mendesak London. Sebagian marah pada kelambanan pusat. Sejarah tidak pernah sesederhana satu penjahat tunggal berdiri di ruangan gelap.

Tetap saja tubuh-tubuh di Kalkuta tidak mati karena abstraksi. Mereka mati di bawah pemerintahan kolonial Inggris.

Foto-foto kelaparan Bengal yang dicetak dalam buku besar terasa berat di tangan. Kertas mengilap. Tulang rusuk anak-anak terlihat terlalu jelas. Mata bisa pedih menatap terlalu lama. Di beberapa gambar, orang masih mencoba menjaga rambut tetap rapi meski tubuh sudah hampir habis.

Related

Sejarah 6373542048661040755

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item